
"Ma, ini punya siapa ya? Ada di nakas samping tempat tidur,"
Pulang-pulang mendapati kotak perhiasan di nakas, siapa yang tidak bingung.
Kata Dio nanti ditanyakan pada mamanya kalau mereka sudah mandi. Dan benar, setelah Dio dan Shena tiba di rumah usai liburan di Singapura dan bergegas melakukan ritual mandi, keduanya menuruni anak tangga untuk ke lantai dasar dengan kotak perhiasan kecil yang belum dibuka ada di tangan Shena.
"Itu ada yang kirim buat kamu. Mama letakkin aja di nakas, biar kamu lihat,"
Rahang Dio mulai mengetat mendengar itu adalah kiriman. Dengan cepat Ia bertanya, "Dari siapa, Ma?"
"Mas A, seperti biasa,"
Dio segera merebut kotak perhiasan dari tangan istrinya kemudian dibukanya kotak tersebut.
Ada sebuah cincin berwarna silver dengan orchid sebagai hiasannya. Shena ngeri menatap suaminya yang dalam mode galak, kelihatan dari sorot matanya dan juga wajahnya.
"Dari Mas A lagi-lagi. Sebenarnya dia siapa sih?"
"Ak--ak--aku juga enggak tahu, Mas,"
Shena sampai tergagap, takut jawabannya diselak Dio dengan nyolot.
"Ya udah simpan aja, Shen. Barangkali ada yang datang ngambil itu dan bilang kalau itu salah kirim,"
"Iya, udah pasti aku simpan, Ma. Cuma kenapa pengirimnya Mas A terus ya? Bukan sekali aku dikirim-kirim begini. Nanti apalagi? Baju udah, kue juga udah, sekarang perhiasan,"
"Nanti hati dia dikasih buat kamu, Bee,"
Shena terkekeh padahal Dio sedang tidak bercanda. Ia berceletuk menyampaikan kekhawatirannya malah disambut tawa. Wajar kalau jengkel dengan Shena dan memilih untuk ke kolam renang..
Shena dan Ardina saling menatap satu sama lain. Mereka bingung kenapa tiba-tiba Dio pergi dengan wajah tersungut.
"Dio itu cemburunya kebangetan ya. Bener-bener enggak sanggup deh Mama. Ya Alhamdulillah artinya dia menganggap kamu itu berharga. Cuma jangan sampai sewot sama kamu harusnya. Nanti mama kasih tahu deh,"
"Aku ke kolam nyusul Mas ya, Ma?"
"Iya, Shen. Ngomong lah kalian berdua di sana. Bilang ke suami kamu itu kalau perhiasan yang kamu terima barusan enggak ada apa-apanya sama cincin nikah kalian,"
Shena tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dengan segera Ia melangkahkan kakinya ke arah kolam renang untuk menemui Dio yang ternyata dengan pintar sudah menghindar lagi darinya dengan cara membuka baju kemudian langsung menceburkan diri tanpa aba-aba begitu melihat Ia berjalan mendekat.
"Duh, Mas Dio kenapa sih? Cemburu ya? Tapi kok kayak kesal sama aku padahal 'kan bukan aku yang minta dikirimi perhiasan sama orang itu dan aku juga enggak tahu siapa pengirimnya. Erghh! Cari ribut aja sih orang itu,"
Shena duduk di tepi kolam mengamati Dio yang berenang sendirian. Mondar-mandir dari ujung ke ujung menghiraukan dirinya.
"Mas, biasanya ajak aku berenang. Kok sekarang enggak?"
Shena sengaja agak mengeraskan suara supaya Andra mendengar namun Dio yang Shena yakini sudah mendengar memilih untuk tetap fokus berenang saja. Bibir Shena melengkung ke bawah dan menghembuskan napasnya dengan kasar.
"Apa harus aku buang itu perhiasannya? Tapi bunda aja tadi suruh aku supaya simpan perhiasan itu barangkali ada yang cari,"
Shena sudah mulai jengah maka dari itu hanya bicara sendiri seraya mengamati Dio yang masih berenang.
"Mas, mau aku buatkan minuman enggak? Biar seger gitu, Mas,"
"Boleh,"
"Yes akhirnya dijawab sama si tukang cemburu," Shena berseru pelan seraya bangkit dari duduknya yang dilingkupi dengan payung di atas kepalanya.
"Mau minuman apa, Mas?"
"Pisang goreng,"
"Hah? Minuman pisang goreng? Aku tanya minuman, bukan makanan, Mas,"
Karena kesal sama si pengirim perhiasan apakah Dio sampai susah membedakan mana makanan dan minuman? Jelas-jelas yang ditawarkan Shena adalah minuman. Kenapa malah jawab pisang goreng?
"Mas, kamu mau apa?"
"Iya minuman terserah kamu tapi aku mau pisang goreng untuk makanannya,"
"Iya, Mas. Nanti aku buatkan kalau kebetulan ada pisang yang bisa digoreng ya. Jadi minuman apa aja nih?"
"Ya, terimakasih ya,"
"Sama-sama, Mas,"
Shena pergi dari area kolam renang untuk membuatkan minuman serta pisang goreng yang diinginkan sang suami.
Ia ingin membuat pisang goreng lebih dulu, barulah nanti minuman menyusul.
Tepung, pisang, gula, Shena keluarkan satu persatu sebagai bahan untuk membuat pisang goreng.
"Eh pisangnya sisa tiga aja. Semoga cukup untuk Mas Dio,"
"Ehem bikin apa itu?"
Shena menoleh saat ada yang masuk ke dapur dan itu adalah Tania yang kebetulan sedang di rumah menunggu jemputan suaminya yang sedang bekerja. Tania sering datang ke rumah Ardina karena sangat dekat dengan Bibi dari suaminya itu, Ia diterima begitu baik begitupun anaknya.
“Bikin pisang goreng, Kak,"
__ADS_1
"Oh untuk Dio ya?"
"Iya untuk yang lagi berenang,”
"Kakak mau bikin apa?"
"Aku mah cuma mau teh hangat aja, Shen,"
Tania mengambil gelasnya, kantong teh, dan juga gula pasir. "Aku bikinin tehnya, Kak," kata Shena yang langsung ditolak Tania dengan gelengan kepala.
"Enggak usah, orang gampang tinggal celup-celup aja kok. Mending kamu perhatiin penggorengan aja, takutnya gosong, Shen. Nanti Dio enggak mau lagi,"
"Dilepehin langsung," sahut Shena seraya terkekeh membayangkan suaminya yang mungkin akan mual untuk menyantap pisang gorengnya bila gosong. Jangankan disantap, ditengok pun sudah bikin mual jangan-jangan.
"Cukup pisang cuma segitu?"
"Cukup, Kak. Kan masing-masing dibagi dua,"
"Dio doyan yang begitu, Shen. Sama kayak abangnya. Ubi rebus juga doyan ya mereka. Aku pikir cuma kenal makanan cepat saji aja pria-pria macam mereka yang kerjanya di kantoran,"
"Oh iya tadi ada kiriman lagi untuk kamu, Shen. Perhiasan kayaknya ya? Datang pas aku sampai sini,"
"Iya, Kak,"
"Sebenarnya dari siapa sih, Shen? Kamu punya penggemar rahasia ya?"
Tania duduk di kursi bar menatap kesibukan Shena yang tengah menggoreng satu persatu pisang yang telah dibaluri dengan tepung.
"Enggak ada, Kak. Aku bukan artis,"
"Terus itu dari siapa, Shen? Kok pakai inisial segala ya? Aku penasaran deh,"
"Kakak tanya ke aku, terus aku tanya ke siapa?" Shena terkekeh. Kalau Ia tahu jawabannya pasti tidak akan membuat Dio uring-uringan. Ia tinggal sebut nama, Dio akan mengusut kemudian masalah selesai.
"Dari mantan kamu mungkin ya?"
"Hah? Mantan? Aku enggak pernah pacaran 'kan, Kak. Kalau dekat aja sih pernah, sama beberapa orang aja. Tapi enggak pacaran, cuma jadi teman dekat aja. Enggak jodoh, malah Mas Dio yang jadi jodoh aku,"
"Langgeng terus ya, Shen,"
"Aamiin, semoga kakak sama abang juga ya," Shena menoleh dan tersenyum ketika mendoakan Tania juga.
"Kalau itu dari mantan teman dekat kamu gimana?"
Shena menggelengkan kepalanya. Ia bingung teman dekatnya yang mana. Seingatnya yang paling dekat dengannya di masa kuliah hanya Jerry. Kalau yang lain dekat tapi tidak sedekat dengan Jerry.
"Masa iya dari Jerry? Tapi inisial A kok. Aku harus tanya Jerry nih kayaknya,"
"Eh kenapa?"
Tania langsung beranjak mendengar ringisan Shena yang tak sengaja kena minyak panas.
"Maaf kalau lebay ya, Kak. Namanya juga enggak bisa masak jadi kena minyak panas dikit langsung aduh,"
Shena menertawakan dirinya sendiri yang telah membuat Tania khawatir sampai berjalan mendekat ke arahnya setelah mendengar Ia meringis.
"Enggak bisa masak darimana? Jelas-jelas udah jago. Pintar cari uang, bisa masak, mandiri, salut aku sama adik iparku yang satu ini. Hebat kamu, Shen,"
"Ya ampun, kakak lebih hebat. Cari uang sendiri jangan diragukan lagi karena kakak itu ibu guru, terus mandiri enggak perlu ditanyakan lagi karena kakak merantau. Kakak di kota orang, terus orangtua kakak di kampung halaman, masakan udah level chef. Aku pengin banget kayak kakak,"
"Halah bisa aja kamu nih. Sama-sama bungsu kayak Shen,"
Tania menyeruput teh buatannya yang perlahan mulai hangat. Setelah masuk melewati kerongkongan dan masuk ke perut, Tania menggelengkan kepalanya pelan. Rasanya benar-benar nikmat ketika menyeruput teh hangat disaat perut lagi kurang nyaman.
"Dio cemburu setelah kamu terima barang-barang dari fans?"
"Aku nggak punya fans, Kak. Fans darimana coba? Itu dari orang iseng kali ya,"
"Iya tapi Dio cemburu nggak?"
"Iya, Kak. Itu lagi uring-uringan gegara aku dapat perhiasan. Padahal bukan maunya aku dikirim perhiasan, Kak,"
"Ya namanya suami, Shen. Pasti enggak bisa diam aja setelah tau istrinya lagi dilirik-lirik apalagi sampai kirim barang begitu. Merasa insecure, itu pasti,"
"Padahal kayak gimana pun orang yang kirim barang-barang itu ke aku, mau seganteng dan setajir artis papan atas kek, aku nggak peduli dan nggak mau macam-macam. Satu macam aja udah cukup,"
Tania tertawa lepas mendengar penuturan Shena yang sedang melampiaskan unek-uneknya akibat kecemburuan Dio. Agatha kelihatannya heran dengan Dio yang bisa-bisanya merasa cemburu padahal sudah jelas Shena ingin bersamanya. Kalau Shena mau macam-macam, lebih baik di awal saja ketika kebahagiaan dalam pernikahan antara Shena dan Dio terasa mustahil.
"Sabar ya, Shen. Hadapi suami yang lagi cemburu itu ya harus dengan sabar, jangan malah kepancing nanti malah berantem. Jangan sampai orang yang udah bikin kekacauan senang karena lihat kalian berantem gara-gara dia,"
"Iya, Kak,"
Shena mengambil piring sebab pisang goreng buatannya sudah jadi. Tersisa dua lagi di dalam penggorengan. Sementara yang lainnya sudah Ia sajikan di dalam piring datar.
Ia meletakkan piring tersebut di hadapan Tania agar Tania bersedia mencicipinya.
"Cobain, Kak. Enak atau enggak,"
"Itu 'kan punya Dio, Shen,"
__ADS_1
"Enggak apa-apa, Kak. Ternyata banyak kok meskipun cuma tiga pisang aja. Karena aku belah-belah," ujarnya pada Tania yang sungkan mengambil sebab yang kepingin pisang goreng adalah adik iparnya.
"Ayo dicobain, Kak,"
"Ya udah kalau maksa, aku ambil ya. Alhamdulillah rezeki ibu baru,"
Shena terkekeh merasa gemas mendengar Tania bicara seperti. Selalu teringat dengan Shofea kalau sudah dengar kalimat itu.
“Kak sehat-sehat ya, Shofea juga,”
"Okay, Shen. Terimakasih udah perhatian ya. Aku berasa punya saudara perempuan karena ada kamu di sini,"
"Aku antar pisang ke goreng ke Mas Dio,”
"Iya, Shen. Ayo sama aku,"
Tania dan Shena berjalan berdampingan menuju kolam renang. Dari sliding door sudah terlihat jelas Dio dan Sehan sedang berenang bersama. Ternyata Sehan sudah datang dan Tania tidak sadar.
"Mereka lomba? Kencang banget renangnya,"
"Kayaknya iya, Kak,"
Shena dan Tania duduk dan setelah melihat Dio juga abangnya berhenti di salah satu ujung kolam, mereka segera memanggil.
"Ada pisang goreng,"
Dengan cepat kedua lelaki itu naik dari permukaan kolam. "Bee, minumannya mana?"
"Oh iya aku lupa. Sebentar, aku buat dulu ya. Teh hangat enggak apa-apa 'kan?"
"Enggak apa-apa,"
"Eh yang ditanya itu gue, Bang. Kenapa lo yang jawab?"
"Lah Agatha mau bikin buat gue juga. Dia baik, enggak kayak lo jahat,"
"Aku sekalian bikin punya abang. Tunggu sebentar,"
Shena pergi, Sehan langsung memasang tampang menyebalkan yang ingin sekali ditimpuk Dio.
"Gue gaplok juga nih lama-lama,"
"Mau dong digaplok,"
Dengan jahil Sehan mendekatkan pipinya ke arah Andra dan mengetuknya dengan jari.
"Abang, iseng banget," lerai Tania karena suaminya yang sudah keterlaluan usil dengan Dio.
Dio dan Sehan menyantap pisang goreng setelah mereka lomba renang berdua. Dingin-dingin makan pisang goreng yang masih panas. Benar-benar pas sekali.
Setelah masing-masing habis satu buah pisang goreng, Shena datang dengan satu baki di tangannya.
Ia segera meletakkan dua cangkir di depan Dio dan abangnya yang perlu teman untuk makan pisang goreng.
"Shena yang kepingin bikin pisang goreng atau Andra yang minta?"
"Dua-duanya, Bang. Mas Dio minta terus aku juga mau buatin. Jadi lah pisang goreng seadanya ini,"
"Gue jadi numpang makan deh. Ngomong-ngomong enak, Shen,"
"Iya lo mah ikutan makan aja. Padahal gue ajak juga nggak lo, Bang,"
"Tapi 'kan kalau udah di depan mata masa mau nolak. Iya enggak?"
"Mumpung ya, Bang," ledek Tania melihat Sehan yang lahap menyantap pisang goreng kedua.
"Eh kok kalian enggak makan juga? Cuma aku sama Dio aja masa?"
"Aku mah udah tadi dikasih Shena. Tapi Shena tuh yang belum. Makan, Shen. Kamu yang bikin kenapa enggak makan coba?"
"Aku masih kenyang, Kak,"
"Dia mah kenyang mulu,"
"Isi bayi kali," celetuk Sehan yang diamini dalam hati oleh Shena. Ia pun ingin perutnya diisi bayi. Tapi memang belum dikasih hingga saat ini.
"Di, aku cuma mau bilang, enggak usah cemburu karena ada yang cari perhatian ke Shena sampai kasih bingkisan. Shena 'kan udah aman sama kamu, Di. Udah ada hak paten dan digembok sama kamu. Jadi enggak usah khawatir. Jangan uring-uringan ya, Di,"
"Lah emang Dio cemburu karena apa?"
"Abang ketinggalan berita banget. Itu lho, soal orang yang suka ngirimin bingkisan ke Shena,"
"Oh itu, lo cemburu, Dio? Ngapain cemburu? Enggak ada yang berani macam-macam sama lo, Ndra. Karena lo itu pawangnya Shena,"
"Tetap aja enggak bisa, Bang. Masa iya gue diam-diam aja pas tau Shena dapat kue, baju, dan tadi perhiasan. Itu udah ngaco banget sih. Udah ketebak kalau dia itu suka sama Shena dan niat mau bikin hancur rumah tangga gue,"
"Eh ngomong yang baik-baik aja, bro!"
"Dugaan gue sih begitu. Dia niatnya mau bikin gue sama Shena pisah kali ya?"
__ADS_1
"Itu dari mantan lo kali, Dio. Sengaja pura-pura jadiin Shena inceran padahal aslinya pengin merusak hubungan kalian,"
Tadi Tania sempat berpikir kalau ada mantan Shena yang melakukannya. Tapi dugaan Sehan justru berbeda. Sehan berpikir ada kemungkinan mantan Dio entah siapapun itu punya niat mau merusak hubungan Dio dan Shena dengan sengaja mengirimkan bingkisan-bingkisan supaya kesannya Shena yang dikagumi dan Dio akan cemburu terus menerus yang akhirnya bisa membuat mereka bertengkar.