Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 39


__ADS_3

“Ya ampun kok lama banget ya? Nanti gimana kalau aku telat nih? Duh nggak enak sama dosen,”


Shena gelisah sendiri di halan depan rumah karena driver ojek online yang Ia tunggu sejak lima belas menit lalu belum juga datang.


“Ini di aplikasi drivernya kenapa nggak jalan-jalan coba? Apa lagi macet?”


Shena melihat arloji yang melingkar di tangan kanannya. Mepihat jarum sudah lewat dari angka tujuh, Shena jadi gelisah.


“Duh aku kayaknya telat nih. Belum macetnya nanti di jalan,” ujar Shena.


Tidak lama Shena mengeluh seperti itu tiba-tiba driver membatalkan orderan dengan alasan dihadang macet.


“Tuh ‘kan ditolak beneran karena macet,”


“Belum datang juga?”


Shena terkejut mendnegar suara berat dari arah belakangnya. Dio menghampiri Shena yang ternyata belum berangkat juga.


“Iya, kamu kok tau?”


“Gue liat dari balkon kamar masih ada lo. Jadi ya udah gue samperin. Ayo gue anterin,”


“Nggak usah deh ini aku mau order driver lain,”


“Sama gue, ayo buruan,”


“Lho, kamu udah bawa kunci motor?”

__ADS_1


Shena terkejut ketika suaminya mengeluarkan kunci motor dari saku celana jogernya. Shena baru sadar suaminya sudah mengganti pakaian tidur nya dengan kaos polos dan celana joger. Bahkan Dio juga sudah membawa kunci motornya.


“Iya gue udah bawa,”


“Ayo buruan naik motor gue,” ajak Dio pada Shena supaya mengikuti langkahnya menghampiri motor yang ada di garasi.


“Kamu nggak apa-apa kalau nganterin aku?” Tanya Shena yang berjalan di belakang suaminya.


“Ya nggak apa-apa lah,”


“Bakal marah sama aku nggak? Bakal bilang aku ngerepotin ya?”


“Nggak! Ya elah lo khawatir amat,” ujar Dio dengan kesal karena Shena seperti mengungkit.


“Iya aku takut kamu marah—“


“Makasih,” ujar Shena setelah Dio menyerahkan helm kepadanya.


“Sama-sama,”


“Pelan naiknya, hati-hati, lo nggak bakal dikeluarin dari kampus cuma karena telat. Orang cuma sesekali aja kok. Lo orangnya ‘kan kerajinan selama ini,” pesan sekaligus sindiran Dio berikan kepada istrinya yang saat ini akan menaiki jok motornya.


“Udah?” Tanya Dio pada Shena setelah Shena berhadil duduk dengan nyaman di belakang Dio.


“Udah, jalan yuk,”


Dio langsung tancap gas dengan kecepatan tinggi tanpa aba-aba dan itu membuat Shena terkejut sampai berteriak.

__ADS_1


“DIO PELAN AJA!“


“Hahahaha takut amat,”


“Ya takutlah, aku takut mati,”


“Mati ya mati aja, emang udah takdirnya begitu,”


“Ih kamu nyumpahin aku mati ya? Kamu kahat banget ngomongnya. Biar kamu jadi duda dan gampang cari—“


“Apaan sih? Kok lo ngomong gitu? Lo tau nggak tujuan gue ngebut tuh apa?”


“Apa? Kamu mau bikin aku mati kecelakaan atau mati jantungan ya pasti?”


“Mulut lo tuh gue sumpal pakai sepatu mau?!”


Shena mendengus kesal. Bagaimana Ia tidak berpikiran buruk kalau suaminya saja tiba-tiba tancap gas dengan kecepatan tinggi Ia sempat berpikiran negatif. Bayangan memakai kain kafan langsung terbesit di benaknya.


“Jangan aneh-aneh dong, aku takut. Kamu nggak ikhlas ya nganterin aku? Makanya tadi nggak usah nawarin harusnya,”


“Siapa yang bilang gue nggak ikhlas sih? Gue ikhlas kok,”


“Ah kamu bohong. Buktinya ngebut, berarti tandanya lagi emosi ‘kan?”


“Lo tau nggak tujuan gue ngebut apaan?”


“Apa? Biar cepat sampai kampus?”

__ADS_1


“Iya itu yang pertama dan yang kedua biar lo pegangan ke gue bukan ke besi di belakang lo tuh,”


__ADS_2