Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 13


__ADS_3

“Bi, tolong cek Shena deh, tanyain gimana keadaannya,”


“Siap, Bu,”


Ditengah kesibukan memasak makan siang, Ardina meminta tolong pada asisten rumah tangganya yang saat ini membantunya bekerja di dapur untuk melihat keadaan Shena.


“Shena kok tumben nggak turun-turun sama sekali ya dari pagi? Padahal dia biasanya walaupun sakit pasti turun ke bawah, nggak tahan di kamar. Apa makin parah ya sakitnya?”


Karena tahu bahwa menantunya itu bukan tipe orang yang betah lama-lama di kamar, makanya Ardina minta pada Bibi untuk melihat keadaan Shena di kamar. Khawatirnya, Shena semakin parah makanya sampai tidak keluar-keluar dari kamar.


*******


Bibi mengetuk pintu kamar tiga kali barulah dibuka oleh Shena yang tidak langsung sadar kalau pintu kamarnya diketuk karena sedang berada di kamar mandi.


“Mba Shena baik-baik aja? Kok agak lama buka pintu kamarnya?”


“Iya aku habis dari kamar mandi, Bi,”


“Gimana keadaan Mba? Ibu minta tolong ke saya untuk cek keadaan Mba. Apa udah mendingan, Mba?”


“Iya Alhamdulillah,”


Bibi langsung menyentuh lengan Shena untuk membuktikan benar atau tidak Shena sudah membaik keadaannya.


Tapi ternyata setelah Ia menyentuh lengan Shena, Ia masih merasakan panas. Artinya Shena belum baik-baik saja.


“Mba, masih demam tinggi nih. Apa nggak sebaiknya ke dokter aja, Mba?”


“Udah mendingan kok, Bi. Nanti ‘kan ke rumah sakit kalau aku emang nggak mendingan samlai Dio pulang,”


“Mas Dio nya belum pulang,”


“Iya nggak apa-apa, memang belum waktunya mungkin,”


“Ya udah kalau butuh apa-apa, jangan sungkan bilang ya, Mba. Oh iya, banyak istirahat, Mba,”

__ADS_1


Shena menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Bagaimana Ia tidak bersyukur tinggal di rumah keluarga yang baiknya luar biasa seperti ini. Tuan rumah dan asisten rumah tangga kompak perhatian kepadanya. Mereka selalu memintanya untuk istirahat.


“Mama lagi apa, Bi?”


“Ibu lagi masak, Mba,”


“Aku mau ke dapur deh, mau—“


“Eh jangan, Mba. Udah nggak usah. Nanti Ibu marah lho kalau Mba keluar dari kamar. Lebih baik Mba istirahat aja di kamar, nanti saya laporin ke Ibu soal keadaan Mba. Lagian, nanti Mas Dio juga kesal kalau istrinya malah turun ke dapur pas sakit gini. Mas Dio mau istrinya banyak istirahat,”


Shena tersenyum tipis. Dio kesal kalau Ia turun ke dapur karena Dio perhatian padanya, Dio ingin Ia istirahat? Memang iya? Shena tahu itu tidak mungkin. Dio berbeda dari orangtuanya. Mau Ia sakit parah sekalipun, sepertinya Dio tidak akan peduli.


“Udah, lebih baik Mba istirahat ya. Bibi pamit ke dapur lagi. Pokoknya Mba nggak usah kemana-mana, istirahat aja di kamar, okay Mba?”


“Iya makasih ya, Bi,”


“Nggak butuh apa-apa?”


Sebelum kembali ke dapur Bibi bertanya barangkali ada sesuatu yang dibutuhkan oleh istri dari anak majikannya itu.


“Okay kalau gitu Bibi tinggal ya, Mba,”


Shena menganggukkan kepalanya membiarkan Bibi kembali ke dapur sementara Ia kembali ke kamar. Setelah menutup pintu kamar, Ia memijat kepalanya yang terasa sangat pening. Sebenarnya untuk sekedar berdiri sebentar rasanya cukup sulit untuk dilakukan oleh Shena. Ia tahan-tahan supaya tadi ketika bicara dengan Bibi, Ia tidak tumbang ke lantai.


Shena buru-buru duduk di tempat tidur dan menghembuskan napas kasar sambil melenguh dan memijat pelipisnya.


“Duh, kenapa sakit banget ya,”


*****


“Eh lo ‘kan udah punya istri. Emang dibolehin istri lo nongkrong lama-lama gini? Udah tiga jam lebih kita di kafe gini, saking lamanya, udah banyak menu yang kita pesan,”


Dio menyeruput matcha latte nya kemudian meletakkan gelas di atas meja dan berdecak. Ia tidak senang mendengar perkataan Ryan, temannya yang sepulang dari kampus Ia ajak ke kafe dan benar kata Ryan, mereka sudah lebih dari tiga jam berada di kafe tersebut. Dan sudah beragam menu yang mereka nikmati sambil berbincang berdua.


“Nggak usah sebut-sebut istri deh. Gue males dengarnya, muak tau nggak?”

__ADS_1


“Emang kenapa? Lagi ada masalah?”


“Gue sama dia emang nggak pernah lepas dari masalah, njir. Dan dia penyebab masalah. Apapun itu masalahnya, pasti sumbernya dari dia,”


Ryan terkekeh pelan sambil geleng-geleng kepala. Baru sekarang Dio bicara soal istri, sejak tadi mereka membicarakan hal lain seperti otomotif, rencana touring dengan teman-teman mereka, dan topik yang lainnya.


“Pantesan lo betah di sini, ternyata lagi ada masalah. Jangan gitulah ngomongnya, setiap masalah itu pasti ada solusi, tinggal diomongin baik-baik aja,”


“Gue malas pulang ke rumah,” ujar Dio seraya meraih kotak rokok milik Ryan. Ia mengambil satu buah rokok dari dalam kotak, dan juga korek api, kemudian Ia selipkan rokok tersebut di antara kedua bibirnya, Ia nyalakan dengan rokok dan langsung Ia sesap.


“Emang kenapa? Kok malas?”


“Emang semenjak ada dia, gue malas sih pulang ke rumah karena ketemu nya dia lagi, dia lagi,”


“Eh, nikah itu ‘kan seumur hidup. Berhubung yang lo nikahin itu istri lo, ya berarti tiap hari lo bakal ketemu dia, ngeliat muka dia,”


“Lo tau nggak sih? Sebenarnya gue tuh nggak cinta sama Shena, gue nggak mau nikah sama dia,”


Ryan mengerjapkan matanya mendengar kejujuran Dio setelah dua bulan menikah dengan perempuan satu jurusan dengan mereka yang bernama Shena. Selama ini yang Ryan lihat, antara Dio dan Shena baik-baik saja.


Tapi ternyata ada rahasia yang disimpan oleh Dio, dan tanpa malu Dio ungkapkan kepada orang lain, yang tidak ada hak untuk tahu soal apapun dari rumah tangganya.


“Lo serius? Terus kenapa lo nikahin, njir?! Wah parah lo,”


“Ya karena nyokap bokap gue, mereka yang mau gue nikah sama Shena. Mereka juga yang bilang ke Amira mantan gue kalau gue sama Shena bakal nikah, ya akhirnya Amira mutusin gue lah. Terus nyokap bokap gue juga bilang kalau Amira itu nggak baik buat gue, mereka liat sendiri beberapa kali Amira jalans ama cowok lain, mereka tau kalau Amira itu selingkuh tapi gue nggak percaya sampai sekarang,”


“Eh, bro. Biasanya ya, omongan orangtua itu bener banget lho. Coba deh lo legowo aja, nerima takdir, mungkin ini emang jalan dari Tuhan supaya lo dijauhin dari cewek yang jahat sama lo, dan lo dideketin sama cewek yang baik, dan itu udah jadi istri lo. Gitu aja sih mikirnya, biar nggak uring-uringan mulu lo. Kalau lo nikahnya sama Shena ya berarti menurut Tuhan, Shena yang terbaik untuk lo,”


Ryan menepuk bahu Dio menasehati Dio supaya bisa menerima jalan hidupnya, tidak menyalahi siapapun. Menurutnya, dengan berakhirnya hubungan Dio dengan Amira kemudian Dio menikahi Shena, berarti Tuhan memang menghendaki Shena lah yang menjadi pasangan hidup Dio, dan tidak mungkin Tuhan menentukan jalan seperti itu kalau tak punya alasan.


“Amira bukan yang terbaik untuk lo, kata Tuhan gitu. Udahlah, terima aja Shena. Lagian gue liat, Shena emang baik kok orangnya, coba deh lo buka hati lo,”


“Nggak, lo aja sana buka hati buat dia. Lo mau gue jodohin sama dia?”


Ryan membelalakkan matanya kaget mendengar ucapan Dio. Baru kali ini Ia bertemu dengan sekarang suami yang menjodohkan istrinya dengan lelaki lain.

__ADS_1


“Wah bener-bener udah gila lo,”


__ADS_2