Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 22


__ADS_3

“Selamat pagi, gimana semalam? Bisa tidur nyenyak? Rasanya udah mendingan?”


Dokter datang ke ruang rawat inap Shena untuk memeriksa kondisi terbaru Shena yang sedang menikmati sarapannya.


“Tadi udah cek suhu sama Suster dan nggak begitu tinggi lagi, Dok. Tapi masih pusing,”


“Okay, gimana istirahatnya? Tidur baik ‘kan?”


“Tidur udah malam banget, Dok, terus tadi jam empat jebangun nggak bisa tidur lagi,”


“Waduh, jangan ya, harus istirahat yang cukup,”


“Iya, Dok,”


“Ada keluhan lainnya?”


“Nggak ada, Dokter,”


“Okay, obat tetap diminum, istirahat yang teratur dan cukup ya, makan juga dijaga, jangan kecapekan, obat masih sama nanti saya bilang ke perawatnya,”


Setelah Dokter memeriksa Shena, Dokter keluar dari ruangan. Kembali tersisa Shena dan suaminya yang sedang menonton televisi, dan Shena lanjut mengisi perut.


Shena belum nafsu untuk makan seperti biasanya, maka dari itu hanya lima suap sedikit-sedikit saja sudah cukup membuatnya meletakkan sendok di atas mangkuk bubur yang menjadi menu sarapannya pagi ini.


Dio langsung menoleh ketika Shena meletakkan mangkuk di atas nakas. Kening Dio mengernyit bingung.

__ADS_1


“Lho, kok udahan? Itu masih banyak bubur lo,”


“Aku udah kenyang,”


“Kenyang apaan? Orang itu masih banyak kok. Lo nggak dengar kata dokter tadi ya? Makan lo dijaga,”


“Ya emang udah dijaga kok, aku nggak jajan sembarangan,”


“Ya maksud dokter bukan itu aja, tapi lo harus makan yang bener, jangan makan dikit abis itu udah. Mana kenyang kalau cuma dikit kayak gitu?”


“Tapi yang penting aku udah makan,”


“Apaan sih? Kok lo kayak gitu? Lo mau sembuh nggak?”


“Mau,”


“Tapi yang penting aku udah makan, Dio, aku nggak kau banyak-banyak,”


“Terserah deh,”


Dio kesal melihat porsi bubur Shena yang masih banyak malah hampir sama porsinya ketika tadi baru diantar, benar-benar cuma sedikit saja yang masuk ke perut Shena.


“Kamu nggak sarapan?”


“Nanti tunggu Mama datang gue bakal cari sarapan,”

__ADS_1


“Emang Mama mau datang pagi ini?”


“Iya, Mama mau datang bawa sarapan. Gue nggak mungkin nyari sarapan sekarang, ntar lo sendirian,”


“Emang nggak bisa pesan lewat handphone aja gitu? ‘Kan ada tuh buku menu-menunya, Dio,” ujar Shena seraya menunjuk laci nakas yang bersebelahan dengan bangsalnya. Ada buku menu makanan yang bisa dipesan oleh keluarga pasien.


“Nggak mau, gue mau beli sendiri di luar,”


“Padahal di sini juga nggak kalah enak lho, kamu nggak harus keluar, tinggal bilang aja,”


“Cerewet banget lo,”


Shena langsung membungkam mulutnya setelah ditatap tajam oleh Dio. Ia hanya ingin suaminya sarapan tepat waktu dan tak perlu harus keluar untuk mencari makanan.


“Oh iya rencana kamu hari ini apa? Kayaknya aku belum bisa pulang hari ini,”


“Ya emang belum lah pasti, orang lo masih sakit,”


“Terus kamu gimana? Kamu nggak kuliah? Nggak ke kantor? Nggak pulang?”


“Lo mau gue ninggalin lo? Hmm?”


Kalau ditanya seperti itu, tentu saja jawaban Shena tidak mau. Tapi Shena tidak mau egois mempertahankan keberadaan suaminya di sini semnetara duaminya itu punya kewajiban juga.


“Nggak apa-apa kalau kamu mau ke kampus sama kerja, aku di sini sendiri juga nggak masalah kok, jangan sampai sakitnya aku malah ganggu semua hal yang harusnya kamu lakuin,”

__ADS_1


“Ya emang lo ‘kan ngerep—“


“Ngerepotin? Iya aku tau kok, aku sadar kalau aku udah bikin repot semuanya,”


__ADS_2