
Shena berdehem seraya meletakkan satu cangkir teh hangat di hadapan Dio yang sedang fokus dengan ponselnya di balkon kamar.
Shena berusaha untuk membuat suasana hati suaminya kembali membaik. Sejak tahu Ia pulang dengan Arun dan tidak mengabarkan sama sekali selama pergi, Dio kelihatan kesalnya. Cuma memang berusaha Ia tutupi mungkin karena tidak mau membuat Shena terbebani. Dio kesal tapi tidak mau memperpanjang, Ia hanya menyimpannya di dalam hati saja. Dan sekarang Shena berusaha untuk membuat Dio tidak kesal lagi dengan cara dilayani dengan baik. Yang biasanya tidak mau mengganggu Dio bila tengah menyendiri atau sibuk bekerja, sekarang Shena mengganggu tapi dengan cara yang baik yaitu menghidangkan teh hangat dan juga kue kering.
"Diminum, Mas,"
"Ya, makasih ya,"
Shena beranjak dari kursi. Dio pikir istrinya itu ingin kembali ke dalam kamar ternyata malah berdiri di belakangnya dan memijat tengkuknya dengan lembut.
"Shen, aku 'kan nggak minta dipijat sama kamu,"
"Ya nggak apa-apa, memangnya nggak boleh aku pijat suami aku sendiri?"
"Nggak usah, kamu capek nanti. Lagian aku juga nggak pegal,"
Shena cemberut mendengar ucapan suaminya yang menolak dengan terang-terangan, walaupun alasannya takut Ia lelah tapi tetap saja penolakan itu hal yang sensitif untuk Shena.
Tapi Shena tidak menyerah, Ia tetap memijat Dio karena kenyatannya meskipun Dio menolak, Dio tetap menikmati pijatannya itu. Sampai matanya terpejam.
"Enak ya, Mas?"
"Nggak, biasa aja,"
Shena menekan pijatannya hingga Dio berdesis kesakitan. Ia juga menepuk tangan istrinya yang sudah lancang memijat tanpa ampun.
"Sakit, Bee,"
"Ya makanya hargai dikit kek, bilang makasih dan pijatannya enak, 'kan aku jadi senang dengarnya,"
"Iya okay, pijatan kamu enak banget, makasih ya, tapi aku nggak minta, jadi mendingan berhenti deh,"
"Ih kamu kenapa sih, Mas? Kamu masih marah sama aku?"
Shena akhirnya berhenti memijat suaminya itu. Ia duduk di hadapan Dio dan menatap Dio dengan wajah cemberut.
"Kamu masih marah sama aku? Padahal aku 'kan udah minta maaf, Mas. Kenapa kamu masih marah?"
"Nggak marah, aku mau tanya emangnya orangtua Arun sakit apa?"
"Mama Arun kena kanker, kasian deh, Mas. Tadi aku ketemu badannya udah kurus dan kayak kurang semangat gitu, jadi kasian sama Arun nya juga kalau mamanya nggak semangat otomatis Arun juga begitu,"
"Sok tau, jangan bilang nggak semangat, kamu 'kan nggak tau di dalam hatinya beliau gimana,"
Shena langsung menutup mulutnya dengan tangan karena ucapan suaminya. Ia sepertinya salah bicara. Padahal Ia hanya mengatakan apa yang Ia saksikan tadi.
"Katanya belum sempat punya cucu udah mau meninggal. Aku 'kan ikut sedih dengarnya, apalagi Arun yang anak kandungnya. Makanya aku bilang sama mama Arun supaya semangat nggak perlu mikir yang aneh-aneh, kalau kayak begitu 'kan namanya mendahului Tuhan,"
"Jadi Mas jangan kesal lagi ya, dan kalau Arun mau ngobrol sama aku, jangan Mas larang. Dia itu cuma butuh teman cerita aja kok, Mas,"
"Aku nggak akan larang kok, aku tau juga gimana perasaan dia. Asal memang ada topik untuk dibahas sama kamu, jangan maunya ketemuan aja terus ngobrolin hal nggak penting,"
"Kita sesama manusia harus saling memahami, Mas. Dia lagi butuh aku untuk jadi teman ngobrol jadi kita harus terbuka,"
Dio menganggukkan kepalanya. Ia yang diam tanpa suara membuat Shena berdecak karena merasa diabaikan.
"Mas, aku lagi ngomong lho,"
Dio yang semula menatap kosong ke depan langsung menolehkan kepalanya menatap Shena.
"Iya aku dengar,"
"Jadi gimana?"
"Gimana apanya, Shen?"
"Maksud aku, kamu nggak marah lagi 'kan?"
"Nggak, asal kalau pergi tuh jangan diem-diem aja, kabarin, terus minta jemput aku. Lagian ya, kalau kehamilan kamu makin besar aku nggak akan izinin kamu lebih sering-sering keluar. Bukannya berlebihan ngekang kamu atau gimana, tapi ngeri liat perut kamu itu, apalagi kalau nggak perginya sama aku,"
"Iya paham,"
"Paham sekarang, dilakuin apa nggaknya mah urusan belakangan. Iya nggak, Bee?"
Shena tertawa, sepertinya Dio tahuu sekali kebiasaannya yang sering paham diawal, nurut diawal, tapi nantinya belum tentu.
"Aku mau ke toko ya, Mas,"
"Keluar mulu, Shen,"
"Ya 'kan cuma ke toko, masa nggak boleh sih?"
"Ya udah terserah,"
"Itu teh diminum dulu," ujar Shena pada suaminya karena teh yang Ia buat diabaikan begitu saja.
"Kamu bikinin teh sama pijat aku karena mau bujuk aku supaya bolehin kamu pergi ke toko?"
"Nggak, Mas. Supaya kamu nggak kesal lagi lebih tepatnya,"
"Oh karena itu,"
"Jadi gimana ini? Aku boleh pergi ke toko?"
"Boleh, tapi aku antar jemput ya? Setuju nggak?"
Shena menganggukkan kepalanya dengan wajah sumringah. Akhirnya Ia diizinkan oleh suaminya untuk ke toko tapi dengan catatan diantar jemput oleh Dio. Shena tidak masalah, justru bagus, jadi Ia tidak perlu naik ini atau itu, tinggal duduk saja tahu-tahu sudah sampai.
"Setuju banget! Jadi Mas antar aku ya?"
"Aku jemput kamu juga,"
"Okay, makasih ya, Mas,"
Dio menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis. Ia tidak bisa sepenuhnya melarang Shena. Karena nanti Shena merasa dikekang dan malah tidak nyaman walaupun sebenarnya Ia ingin Shena istirahat saja di rumah.
"Jadi kamu mau ngapain di toko?"
"Mau liat-liat kegiatan di sana, Mas,"
"Udah biasa liat, ngapain liat lagi, Bee?"
"Ya nggak apa-apa, Mas. Apa nggak boleh?"
"Asal jangan kecapekan ya, nanti kamu bantu-bantu di sana terus akhirnya capek, ingat lagi hamil, Bee,"
"Ingat kok, Mas,"
"Udah gede juga,"
"Iya emang udah gede, kata mamanya Arun udah keliatan banget. Pas tau ada dua, beliau kaget,"
"Terus kalau tanggapannya Arun apa?"
"Nggak bilang apa-apa,"
"Kalian ngobrolin apa aja waktu ketemu?"
"Aku cuma minta maaf aja, terus habis itu kita ke rumah sakit. Memang benar-benar singkat banget pertemuan kita di resto tadi, Mas,"
"Oalah, tapi kok pulangnya lama?"
"Ya karena perjalanan sama banyak ngobrol sama mamanya Mas Arun, Mas,"
"Dih? Apa? Kamu manggil dia apa? Coba ulangin!"
Telinga Dio langsung lebar mendengar Shena memanggil Arun dengan sebutan Mas yang serupa dengan panggilan Shena terhadap dirinya.
Shena tertawa lebar menyadari kesalahan mulutnya. Ia langsung meraih tangn suaminya untuk Ia cium sekaligus meminta maaf tapi Dio menolak.
"Oh jadi panggilan kamu ke dia Mas ya?"
"Nggak lah, cuma salah ngomong aja tadi, Mas. Itu salah beneran, Mas,"
"Oh jadi beneran?"
"Ih salah ngomong! Nggak beneran,"
"Lah barusan ngomong beneran,"
"Maksud aku bener-bener salah ngomong, aku nggak manggil dia Mas, cuma kamu aja kok,"
*****
-Shen, aku boleh minta tolong nggak? Aku mau pinjam uang kamu. Keuangan aku lagi menipis nih, aku ganti bulan depan tapi, Shen. Kira-kira kamu ada simpanan nggak?-
Shena melipat bibirnya ke dalam membaca pesan yang dikirimkan oleh Arun beberapa saat lalu.
"Kasihan Arun, pasti dia habis banyak karena mamanya sakit. Pastilah aku bantu," batin Shena kemudian setelahnya Ia membalas pesan Arun yang belum terlalu lama dikirimnya.
-Iya bisa, Run. Berapa kamu perlu? Nanti aku transfer ya?-
Arun merasa lega karena memang sedang dalam keadaan cukup terdesak karena memang uang itu diperlukan untuk mendukung pengobatan dan segala kebutuhan mamanya supaya sehat.
Tidak lama kemudian Arun membalas pesan Shena yang menanyakan nominal yang diperlukan olehnya sekarang.
Tanpa menunggu waktu lama, Shena langsung melakukan transfer uang ke nomor rekening Arun yang menyebutkan nominal sekaligus nomor rekening miliknya.
-Sheb, makasih banyak ya-
-Iya sama-sama, Run-
-Nanti kalau memang udah ada, aku langsung bayar ke kamu, nggak perlu takut, aku pasti ganti kok-
-Iya santai aja, Run. Kayak sama siapa aja. Pakai aja dulu, semoga bermanfaat ya. Salam untuk mama kamu, semangat untuk sembuh- Shena menutup obrolan mereka dengan pesan seperti itu. Kemudian Ia menghampiri Dio yang tengah membersihkan kamar mandi dengan rajinnya padahal susah Ia larang biar Ia saja yang melakukannya tapi sejak Ia hamil Dio memang tidak pernah mengizinkannya untuk mengerjakan hal-hal seperti itu.
"Mas Dio, belum selesai? Nggak capek emangnya?"
"Bentar lagi, Bee. Kenapa?kamu mau masuk ya?"
"Nggak kok, Mas. Aku takut kamu capek aja. Udah bersih itu, Mas. Udah cukup, Mas keluar sekarang,"
"Iya bentar lagi,"
Shena menatap hasil kerja keras suaminya yang tidak pernah mau kamar mandi itu kotor apalagi kalau sampai ada lumut-lumut karena Dio takut istrinya jatuh. Bahaya sekali kalau kamar mandi licin, bisa membahayakan keselamatan tiga orang sekaligus.
"Nah udah bersih kayaknya nih. Menurut kamu gimana, sayang?"
"Iya udah bersih kok, keren banget, aku kasih dua jempol untuk kamu, Mas ganteng,"
Dio tertawa dan Ia ikut bertepuk tangan seperti apa yang dilakukan Shena sekarang. Shena benar-benar melakukan apa yang dia katakan barusan yaitu bertepuk tangan untuk memuji hasil kerja keras Dio.
"Mas mau apa? Biar aku bikinin sekarang, sebagai penghilang rasa capek kamu, Mas,"
"Duh pengertian banget kamu ya, apaan aja deh, yang penting minuman dingin biar seger,"
"Okay tunggu sebentar ya,"
Dio menganggukkan kepalanya lalu segera membasuh tangan dan kakinya sebelum keluar dari kamar mandi sementara Shena keluar dari kamar untuk membuatkan minuman. Dio juga mengganti pakaiannya karena basah terkena air selama bersih-bersih.
Setelah itu Ia akan menyusul Shena keluar dari kamar tapi getar ponsel Shena membuat Ia akhirnya menoleh. Ia meraih ponsel Shena yang ada di atas nakas.
"Eh mama nih yang chat,"
Dio membawa ponsel Shena keluar kamar supaya istrinya itu bisa segera membaca pesan yang dikirimkan mamanya. Ia melihat Nirma mengirimkan pesan menanyakan kabar Shena.
"Bee, mama chat nih,"
"Apa kata mama, Mas?"
"Nggak tau, kamu liat sendiri coba, yang aku baca sih nanya kabar kamu,"
Dii menyerahkan ponsel di tangannya itu ke tangan Shena yang segera menerimanya dan membaca pesan sang mama disela kegiatannya membuat minuman dingin untuk sang suami.
Setelah membalas pesan mamanya, Shena membiarkan ponselnya. Tiba-tiba ada pesan masuk, Dio langsung membukanya. Ternyata pesan dari Arun.
-Sekali lagi makasih banyak-
"Siapa yang chat aku, Mas?"
Dio memilih tidak jujur bahwa Ia baru saja membaca pesan dari Arun yang mengucapkan terimakasih untuk istrinya. Ia tidak tahu apa yang sudah Shena lakukan atau berikan sehingga Arun berterimakasih. Apa karena Shena menjenguk atau mengobrol dengannya? Itu 'kan sudah lewat, pikir Dio.
Dio belum sempat melihat keseluruhan karena Agatha udah penasaran dengan pesan yang masuk dan Ia segera menyerahkan ponsel di tangannya itu pada Shena.
"Kok gue penasaran sih? Belum sempat gue baca semua. Arun bilang makasih untuk apa coba?"
******
Sampai tengah malam Dio tidak bisa tidur memikirkan pesan Arun untuk Shena yang tadi sempat Ia baca sekilas. Entah kenapa Arun mengucapkan terimakasih pada Shena.
Kalau terimakasih karena Shena datang menjenguk orangtuanya, seharusnya sudah Ia katakan sejak Shena masih bersamanya bukan malah melalui pesan begitu.
Sebenarnya kata terimakasih itu adalah hal yang biasa, tapi entah kenapa Dio malah berpikir kemana-mana. Ia malah berpikir kalau Shena dan Arun itu tengah ada urusan yang tidak Ia ketahui sama sekali.
Shena tiba-tiba terbangun karena Ia ingin buang air kecil. Ia kaget melihat suaminya yang ternyata belum tidur. Mata Dio masih terbuka lebar dan fokus menatap langit-langit kamar.
"Mas, kok belum tidur? Aku aja udah satu ronde tidurnya," kata Shena yang berhasil membuat Dio menoleh. Lelaki itu baru sadar kalau istrinya ternyata bangun.
"Kamu kenapa bangun?"
"Aku mau pipis sebentar,"
Shena beranjak meninggalkan ranjang untuk ke kamar mandi karena sudah mendesak sekali. Setelah itu Ia kembali berbaring di ranjang. Dio berbaring miring menghadapnya, begitupun Ia yang memilih untuk menatap suaminya dengan posisi menyamping.
"Kamu kenapa belum tidur?"
"Nggak bisa,"
"Kenapa?"
"Ya nggak apa-apa, belum bisa tidur aja, hal biasa 'kan kalau aku nggak bisa langsung tidur. Nanti kalau ngantuk juga pasti tidur," ujar Dio.
__ADS_1
Karena suaminya belum terpejam alhasil Shena pun ikut sulit terpejam lagi dan dia malah mengajak Dio mengobrol. Memang Shena tipe orang yang akan sulit tidur kalau sudah bangun. Ia memilih untuk pillow talk saja dengan Dio.
"Kamu besok mau sarapan apa, Mas?"
"Apa aja, aku 'kan nggak pernah minta menu khusus,"
"Hmm okay, terus aku mau tanya dua hari lagi bisa antar aku ke rumah sakit?"
"Bisa kalau itu, jangan ditanya lagi,"
"Ya untuk memastikan aja, Mas, lagian supaya kita ada bahan obrolan. Aku jadi susah tidur lagi ini,"
"Kamu harus lanjut tidur lagi karena ini masih jam dua belas,"
"Iya pengennya sih gitu, cuma susah ya, Mas. Kamu benar nggak apa-apa? Lagi ada yang dipikirin ya?"
"Hah? Nggak ada,"
Dii memilih untuk mencari tahu sendiri tapi Ia juga bingung bagaimana caranya. Tadinya ingin mengambil ponsel Shena untuk melihat obrolan antara si tukang cari perhatian dengan istrinya itu. Cuma sayangnya ponsel Shena ada di bawah bantal Shena. Kalau Ia tetap berusaha meraihnya bisa jadi mengganggu Shena.
Dii benar-benar penasaran dengan obrolan mereka. Dan kenapa juga dia mengucapkan terimakasih pada Shena. Ia bukan tidak percaya pada istrinya, Ia justru curiga dengan Arun. Takutnya dia ada modus baru untuk mendekati Shena. Padahal kurang baik apalagi dirinya? Sudah mengizinkan Shena pergi dengan dia bahkan menjenguk orangtuanya juga, tapi dia masih saja berusaha untuk membuatnya cemburu. Dio keberatan kalau melihat kedekatan Shena dengan laki-laki lain. Katakan lah Ia berlebihan tapi memang itulah yang Ia rasakan. Apalagi kalau menurutnya si laki-laki seolah sengaja mendekati Shena untuk mencari masalah dengannya sebagai suami Shena.
"Bee, aku boleh pinjam handphone kamu nggak?"
"Hah? Untuk apa, Mas?"
"Main game,"
"Handphone kamu dimana?"
"Mau pakai handphone punya kamu emang nggak boleh ya?"
"Boleh kok,"
Shena segera mengambil ponselnya di bawa bantal setelah itu Ia berikan pada suaminya itu yang langsung menerima dengan hati yang senang sekali karena dengan ini Ia akan bebas mencari tahu.
"Kamu tidur aja, nanti kalau emang dayanya habis pasti langsung aku charge,"
"Iya emang mau tidur tapi masih susah,"
"Belum ngantuk lagi?"
"Udah, tapi nggak tau kenapa malah nggak tidur-tidur, aneh banget ya,"
"Kamu 'kan emang sering begitu. Mau aku puk-pukin?" Ujar Dio seraya terkekeh dan Ia meraih Shena ke dalam pelukannya kemudian Ia tepuk-tepuk lembut punggung Shena.
"Ih apaan sih, Mas. Nggak usah ah,"
Shena menjauh dari suaminya. Ia tidak ingin membuat Dio jadi punya pekerjaan di malam hari. Lagipula kalau Ia sudah mengantuk pasti akan tidur juga.
"Jadi nggak mau nih? Aku bisa lho main game sambil puk-pukin kamu,"
"Ih nggak usah, Mas. Ngapain coba? Kurang kerjaan kamu, bukannya istirahat malah mau puk-pukin aku,"
"Kok kurang kerjaan? 'Kan aku mau bantu istri aku supaya cepat tidur,"
"Nggak usah, Mas-ku. Aku bakal tidur kalau emang udah mau tidur, sekarang lagi susah," ujar Shena yang akhirnya diangguki oleh sang suami.
Dio kini benar-benar fokus dengan ponsel Shena sementara Shena sendiri hanya berbaring terlentang tanpa suara dan matanya makin lama mulai sayu.
Dio membuka ruang obrolan Shena dengan Arun tapi kosong, artinya sudah dihapus oleh Shena padahal tadi siang Ia melihat dengan jelas Arun mengucapkan terimakasih, sekarang ucapan itu tidak ada lagi.
"Kok dihapus sih? Kenapa malah dihapus padahal gue belum baca semuanya," batin Dio dengan kesal.
Dio berdecak pelan. Ia melirik Shena dengan tatapan sebal. Otaknya jadi makin kemana-mana kalau pesan obrolan mereka dihapus, artinya Shena tidak mau siapapun melihatnya, tidak terkecuali dirinya yang benar-benar dibuat penasaran.
"Apa yang sebenarnya mereka obrolin? Kalau Arun curhat soal mamanya yang sakit ya harusnya nggak perlu dihapus lah,"
Suasana hati Dio malam ini kacau sekali karena Ia tidak berhasil membaca seluruh pembicaraan Shena dengan Arun, padahal itu yang ingin cari tahu sejak tadi. Giliran ada kesempatan malah tidak berhasil.
Dio mengembalikan ponsel Shena di nakas dengan perasaan tidak menentu. Ia akan semakin tidak bisa tidur kalau begini caranya, sementara Shena yang sudah membuatnya kesal malam ini sudah memejamkan matanya lagi.
"Ya ampun, dia udah bisa tidur, lah gue masih kepikiran aja,"
*******
Pagi hari Shena menyadari kalau ada yang beda dari suaminya. Sikap Dio tidak seperti biasanya.
"Mas, tolong ambil—"
"Ambil sendiri,"
Seperti contohnya sekarang. Ia minta tolong diambilkan sendok yang kebetulan posisinya dekat dengan Dio tapi Dio malah memberikan reaksi seperti itu.
Tadi ketika Dio selesai mandi, Ia bertanya Dio ingin membawa bekal atau tidak, Dio hanya menjawab dengan gelengan kepalanya. Shena jadi bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Sebenarnya ada apa dengan Dio? Apa Ia membuat sebuah kesalahan?
Ardina, Sakti, dan Sehan langsung melirik ke arah Dio yang menyahuti Shena dengan datar seperti itu. Istrinya minta tolong tapi malah disuruh ambil sendiri. Makanya Shena minta tolong karena memang Shena kesulitan mencapai tempat menyimpan sendok dan garpu.
Akhirnya Ardina yang mengambilkannya. Ardina tak habis pikir melihat tingkah anaknya yang kelihatan tengah kesal dengan Shena.
"Masa istri minta tolong kamu malah begitu,"
"Bercanda," sahut Dio.
"Bercanda apanya? Orang jelas-jelas kamu serius kok,"
"Bercanda, Pa,"
"Jangan kebiasaan begitu kamu ya. Nggak baiklah istri minta tolong tapi malah kamu jawab begitu. Tuh 'kan papa malah ngoceh jadinya padahal di meja makan,"
"Maaf," ujar Dio seraya menatap Shena dengan singkat. Setelah itu Ia melanjutkan makannya lagi. Shena semakin yakin kalau suaminya tengah kesal terhadapnya tapi Ia bingung karena apa.
Setelah sarapan, Sakti dan Sehan langsung berangkat. Sementara Dio bergegas ke kamarnya untuk mengambil laptop sekaligus buang air kecil.
"Mas, kamu nggak apa-apa? Aku buat salah ya sama kamu, Mas?"
Begitu Dio keluar dari kamar mandi, Dio langsung disambut dengan pertanyaan itu dari istrinya. Ia mengambil laptop yang sebelumnya Ia letakkan di atas ranjang kemudian Ia akan langsung keluar dari kamar.
"Mas, kok nggak jawab pertanyaan aku?"
Dio tidak jadi membuka pintu kamar, dan Ia menoleh pada Shena yang wajahnya kelihatan tengah merasa bersalah. Tidak mungkin Dio marah kalau Ia tidak berbuat salah. Ia tahu Dio sekarang ini sedang marah, karena akan terlihat berbeda bila Dio sedang marah atau tidak.
"Nggak marah,"
"Kenapa Mas judes sama aku pagi ini? Perasaan tadi malam baik-baik aja. Kenapa, Mas? Aku buat salah apa? Kasih tau ke aku supaya aku tau,"
"Nggak ada, oh iya tadi aku transfer uang ke rekening kamu,"
"Emang iya?"
"Coba aja nih liat,"
Dio meraih ponsel istrinya di atas nakas setelah itu membuka mobile banking istrinya. Ia membuka transaksi di rekening Shena untuk memastikan ada uang yang masuk dari rekening miliknya.
Dan transaksi sebelumnya Ia bisa melihat Shena mengirimkan sejumlah uang ke nomor rekening seseorang atas nama Arun.
Dio langsung menatap Shena dengan dalam dan rahangnya mengetat. Shena langsung bingung karena perubahan yang ditampilkan sang suami.
"Kamu kirim uang ke Arun?"
Dio bukannya pelit, tapi Ia bingung saja kenapa Shena tidak terbuka. Shena mengirimkan uang yang jumlahnya lumayan pada Arun.
"Iy—iya, Mas. Maaf aku—"
"Ini barusan aku baru liat kalau kamu transfer uang ke dia, dalam rangka apa?"
Dio siap menahan niatnya untuk pergi bekerja demi mendengarkan penjelasan dari sang istri tentang alasan kenapa dia mengirimkan sejumlah uang untuk Arun.
"Maaf ya, aku belum cerita sama Mas, jujur aku takut juga mau cerita takutnya Mas nggak bolehin. Jadi gini, kemarin itu Arun hubungi aku. Dia pinjam uang ke aku, Mas. Makanya aku transfer langsung. Aku kasihan sama dia, Mas. Orangtuanya 'kan lagi sakit dan dia bilang kondisi keuangan dia memang lagi kurang. Aku mau bantu dia,"
Dio menganggukkan kepalanya. Kalau begitu kenapa harus ditutupi segala? Ia bukanlah orang yang kejam, tidak mau membantu. Shena hanya perlu bicara padanya dengan jujur. Kalau untuk membantu orang, Ia tidak pernah melarang.
"Kenapa kamu mikir kalau aku bakal nggak bolehin? Hmm? Memang kamu pikir aku sejahat itu ya? Aku nggak bakal larang kamu kalau memang niat mau bantu orang apalagi dia 'kan teman kamu, teman dekat malah,"
"Ya kamu 'kan cemburuan, Mas,"
"Shena, aku memang suka cemburu kalau dia udah banyak tingkahnya, suka cari-cari perhatian sama kamu, tapi bukan berarti aku jahat sama dia. Aku nggak masalah kalau kamu mau bantu dia. Karena memang kita harus saling bantu, tapi ya nggak ngumpet-ngumpet juga, sampai chat kalian sengaja kamu hapus padahal aku mau liat semuanya. Asal kamu tau, aku itu kecewa karena kemarin aku sempat liat dia bilang makasih ke kamu, aku belum liat seluruh isi chat kalian, dan mau aku liat semalam tapi sayangnya malah kamu hapus. Menurut kamu gimana perasaan aku semalam? Hmm? Aku kecewa, aku marah, aku sedih karena kamu tertutup banget soal Arun sampai chatingan kalian aja aku nggak boleh liat. Aku percaya sama kamu, tapi apa salahnya kalau aku liat? Aku justru curiganya ke Arun. Biar gimanapun dia itu 'kan pernah suka sama kamu bahkan mungkin sampai sekarang masih. Aku takut dia cari perhatian sama kamu. Tapi kamu nya nggak paham gimana perasaan aku sih. Mau bantu dia aja harus ngumpet-ngumpet di belakang aku,"
"Ya ampun, Mas. Aku 'kan udah bilang alasannya tadi. Okay aku minta maaf karena aku udah nggak cerita sama kamu soal aku yang ngirimin Arun uang, lagian dia katanya mau bayar kok,"
"Nggak usah, bilang ke dia nggak usah dibayar. Itu untuk dia aja, dan nggak perlu kamu tagih-tagih. Sekali lagi aku bilang sama kamu ya, aku nggak keberatan sama sekali kalau kamu mau bantu siapapun. Jadi jangan takut untuk terbuka sama aku. Kalau kayak begini sikap kamu, bikin aku tersinggung tau nggak?"
Dio langsung keluar dari kamar meninggalkan Shena yang termenung di tempatnya. Tidak menyangka kalau pagi-pagi mereka sudah berdebat. Dii yang sakit hati karena Shena menganggapnya adalah orang yang jahat dan pelit sampai memilih tertutup soal memberikan bantuan untuk Arun, dan Shena yang seolah tidak mau disalahkan.
Shena menyusul langkah kaki suaminya. Ia tidak ingin membiarkan Dio pergi bekerja dengan hati yang jengkel. Sebisa mungkin Dio harus bekerja dengan hati yang senang dan tenang, bukan dengan keadaan bertengkar dengannya.
"Mas Dio, aku minta maaf ya, jangan marah, okay aku salah, aku minta maaf sekali lagi,"
"Aku minta maaf, Mas,"
"Kamu nggak salah, udah ya, aku mau berangkat kerja,"
Dio berbalik menghadap Shena setelah Ia tiba di samping mobilnya. Ia mengusap lembut pipi Shena dengan singkat setelah itu Ia memasuki mobil tapi dihalangi oleh Shena.
"Kamu masih kesal 'kan?"
"Nggak,"
"Kamu nggak jahat kok, Mas. Aku aja yang nggak yakin kalau kamu pasti akan ngizinin aku untuk bantu Arun. Aku nggak jujur karena aku ingat kamu itu suka cemburu sama Arun. Aku ngaku kalau aku emang salah udah mikir kayak gitu. Harusnya aku terbuka aja sama kamu, karena kamu nggak mungkin larang aku untuk bantu Arun,"
"Dan kesalahan kamu yang lainnya apa? Kamu sengaja hapus chatingan kalian akhirnya bikin aku panas. Kenapa harus dihapus kalau memang nggak ada apa-apa?"
"Ya karena itu tadi, Mas. Kalau kamu baca chat aku sama dia, otomatis kamu bakal tau kalau aku abis transfer uang ke dia,"
"Ya udah nggak usah dibahas lagi. Aku nggak marah meskipun kamu sempat nggak jujur sama aku. Dan bilang ke Arun, nggak perlu mikir untuk ganti uangnya. Insya Allah ada aja kok rezeki untuk kita,"
Shena harusnya memang tidak mengambil sikap menutup-nutupi seperti itu yang akhirnya membuat Dio merasa tidak dihargai. Padahal apapun itu, Dio sebagai suaminya harus tahu.
"Mas jangan marah ya, aku benar-benar minta maaf,"
"Aku nggak marah, cuma kesal sama kecewanya masih ada dikit. Maaf juga kalau aku mungkin berlebihan ke kamu,"
"Nggak kok, Mas. Memang aku yang salah. Kamu wajar kalau marah atau kecewa sama aku,"
"Udah nggak usah dibahas lagi deh, malah jadi bikin mood aku makin berantakan. Aku pergi kerja dulu, soalnya mau kerja jadi mood harus bagus,"
"Iya aku tau, makanya aku minta kamu jangan kesal lagi sama aku, tolong maafin aku, jadi 'kan mood kamu bagus,"
"Aku udah maafin kamu, tapi emang belum bisa hilangin rasa kecewa sama kesalnya. Aku pergi dulu, Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam hati-hati, Mas,"
Setelah Dio masuk ke dalam mobil dan melaju dengan kecepatan normal, Shena terdiam sebentar menatap mobil suaminya yang semakin lama semakin kecil di pelupuk matanya.
"Maafin aku ya, Mas, udah bikin kamu badmood pagi ini. Aku tau kamu kecewa banget, aku memang salah,"
"Shena, sini, Sayang, kamu ngapain masih di sana? Dio 'kan udah berangkat," ujar Ardina pada menantunya yang Ia lihat masih saja diam di garasi mobil padahal mobil Dio sudah hampir tidak terlihat lagi.
"Iya ini mau masuk, Ma,"
"Kamu ngelamun?"
"Nggak kok, Ma,"
"Kamu ada masalah sama Dio ya? Dia tadi kelihatannya kesal sama kamu. Memang apa yang terjadi di antara kalian berdua?"
"Soal Arun, Ma,"
"Ya udah ngobrol sama Mama di dalam yuk," ujarnya pada Shena yang menganggukkan kepalanya.
Ardina mengajak Shena duduk di ruang tamu. Lebih nyaman bicara di dalam rumah. Ia penasaran, ingin tahu secepatnya apa yang tengah terjadi diantara Shena dan juga Dio, putra bungsunya.
"Jadi Arun itu 'kan pinjam uang sama aku, Ma. Aku langsung transfer ke dia, tapi aku nggak bilang sama Mas Dio karena aku takut Mas Dio keberatan. Nah tadi Mas Dio nggak sengaja liat riwayat transaksi aku. Terus langsung aku jelasin, dan Mas Dio kecewa karena aku nggak terbuka sama dia. Bukan masalah dia nggak ngizinin atau apa, Mas Dio nggak suka karena aku yang nggak jujur, aku malah diam-diam bantu Arun. Padahal Mas Dio itu nggak akan keberatan kalaupun aku jujur, malah Mas Dio bilang Arun nggak perlu ganti uang yang udah dia terima dari aku. Aku nyesal, Ma. Aku udah bikin Mas Dio kecewa karena aku nggak jujur dan ngeraguin kebaikannya dia,"
"Oh karena itu, hanya salah paham aja. Dio itu nggak bakal ngelarang kamu untuk bantu siapapun, Sayang, terlepas dia suka atau nggak sama orang yang mau kamu bantu itu. Jadi kamu jangan ragu untuk cerita sama dia, bukan karena apa-apa, dia cuma pengen kamu terbuka aja, dia juga orangnya nggak perhitungan. Ya bunda rasa kamu pun tau lah gimana Dio. Lain kali lebih terbuka aja. Dia itu mau jadi teman ceritanya kamu, tanpa ada yang kamu tutup-tutupi soal apapun itu,"
"Iya, Ma, aku paham dan aku udah minta maaf juga sama Mas Dio, aku ngaku kalau aku salah. Karena sama aja aku nggak menghargai dia. Terus Mas Dio juga kesal sama aku karena aku hapus chat-chat aku sama Arun padahal sebelumnya Mas Dio liat Arun bilang terimakasih, Mas Dio penasaran mungkin ya terus dia buka lagi chat aku sama Arun, tapi ternyata udah aku hapus. Aku hapus juga bukan karena apa-apa, Ma. Karena aku 'kan nggak jujur sama Mas Dio soal aku yang bantuin Arun, kalau dia liat chat aku sama Arun otomatis nanti Mas Dio jadi tau semuanya, makanya aku hapus,"
"Okay, okay, Mama paham, ya udah, jangan dipikirin lagi. Dio cuma lagi kesal aja dan itu cuma bentar. Dia nggak akan bisa kesal atau marah lama sama kamu,"
"Iya semoga ya, Ma. Aku merasa bersalah banget, aku harap Mas Dio nggak marah lagi nanti, tadi sih katanya nggak marah, tapi tetap aja aku tau gimana suasana hatinya,"
Ardina mengusap bahu menantunya dengan lembut kemudian Ia tersenyum menenangkan Shena yang memang benar-benar kelihatan merasa bersalah. Tanpa Shena bicara pun memang sudah bisa Ia lihat dari raut wajah dan tatapan matanya.
"Tenang aja, Sayang. Dio nggak akan marah lagi sama kamu, yang penting kamu udah jujur dan kasih pengertian ke dia,"
*****
“Arun, aku mau bilang sama kamu, kata Mas Dio, kamu nggak perlu ganti uangnya ya, kamu pakai aja, semoga bermanfaat, nggak usah mikirin untuk gantinya,”
Saat ini Shena menghubungi Arun untuk menyampaikan apa yang dikatakan Dio kepadanya pagi tadi soal uang yang Ia kirimkan untuk Arun yang sebelumnya meminjam uang kepadanya. Dio yang Ia pikir akan keberatan bila Ia menolong Arun kenyataannya malah tidak mengizinkan Arun untuk mengganti uang yang telah Shena kirimkan itu.
“Nggaklah, Shen, aku mau bayar, aku ‘kan punya uang, tapi memang kalau sekarang lagi nggak ada, sabar dulu,”
“Arun, Mas Dio udah ngomong begitu. Bukan maksudnya aku ataupun Mas Dio nggak yakin kamu bisa bayar atau nggak, aku tau kok kamu punya uang, cuma aku sama Mas Dio nggak mau kamu balikin uang itu. Udah pakai aja, dan kami berharapnya itu bisa bermanfaat. Kamu jangan tersinggung ya aku ngomong begini,”
“Nggak, Insya Allah aku ganti kok, Shen. Aku terimakasih banget karena kalian sudah baik sama aku tapi aku nya yang nggak enak, aku ngerepotin, intinya aku mau bayar kalau memang udah ada,”
“Run, nggak usah, kamu apaan sih? jangan mikirin itu. Udah pakai aja, nggak perlu ngebalikin. Daripada mikir untuk ganti uang itu, lebih baik fokus aja sama pengobatan mama kamu,”
“Itu pasti, tapi aku nggak—“
“Udah jangan bahas itu lagi ya, aku sengaja telepon kamu cuma untuk nyampein apa kata suami aku aja, sekali lagi maaf kalau seandainya aku bikin kamu tersinggung, aku nggak bermaksud. Udah dulu ya, Run, aku tutup teleponnya. Salam untuk mama kamu, yang kuat bilang mama kamu dan semangat untuk sembuh,”
Shena tidak mau lama-lama bicara dengan Arun yang bersikeras mau mengganti uang yang telah Ia berikan itu.
Meskipun Arun ada, tapi Ia tidak ingin menerima karena suaminya sudah bilang begitu. Lagian mana tega Ia menerimanya disaat Arun sedang butuh-butuhnya akan uang untuk membantu biaya pengobatan orangtuanya.
“Aku mau ke kantor Mas Dio ah, aku mau bawa makanan sekaligus mastiin kalau dia udah nggak marah lagi, dna semoga dia nggak ngomel karena aku kelayapan, nggak ngomel kali ya, karena aku ‘kan cuma ke kantornya aja,”
Shena menyimpan ponsel genggamnya ke dalam sling bag setelah itu Ia mengganti pakaian santainya dengan yang lebih rapi dan pantas dikenakan ke kantor suaminya.
__ADS_1
Setelah mengganti pakaian dan sedikit memoles wajah dengan tujuan supaya kelihatan lebih segar, Shena segera bergegas keluar dari kamar dengan menjinjing sepasang sneaker dan juga tersampirkan satu buah sling bag di bahunya.
Ia ke kamar Ardina untuk pamit karena kedengarannya Ardina tengah mengaji di dalam. Sebenarnya tidak enak mengganggu, tapi Ia ingin pamit langsung.
“Iya masuk,” sahut Ardina yang kebetulan juga sudah selesai mengaji. Ia menutup kitab sucinya setelah itu menatap Shena yang membuka pintu dengan sungkan.
“Mama, maaf ganggu,”
“Nggak ganggu, memang mama udah selesai. Lho kamu mau kemana?” Tatapan Ardina langsung mengarah pada penampilan Shena yang terlihat ingin pergi. Dari atas sampai bawah Shena mengenakan pakaian yang beda dengan yang sebelumnya, ditambah lagi, Ia melihat Shena sudah membawa sepatunya.
“Ma, aku mau izin ke kantornya Mas Dio ya,”
“Dio nyuruh?”
“Nggak, Ma, aku mau bawa makanan aja ke sana,”
“Oh begitu, ya udah hati-hati, jadi Dio udah tau? Nanti dia ngomel lagi karena kamu malah keluar, padahal ‘kan niatnya mau buat dia senang dengan datang ke kantornya bawa makanan,”
“Mas Dio nggak tau, Ma, aku mau bikin kejutan aja,”
“Oh okay, tapi hati-hati ya, kamu nih emang agak bandel, Tha. Disuruh di rumah aja istirahat, kakinya malah mau kemana-mana,”
Shena tertawa tidak memungkiri bahwa ucapan mertuanya itu memang benar sekali. Entah kenapa tidak bisa tenang kalau di rumah, bawaannya kaki mau jalan kemana-mana. Meskipun suaminya sudah berulang kali memperingatkan agar Ia diam dirumah saja untuk istirahat, tapi tetap saja dia tidak bisa benar-benar mendengarkan ucapan Andra.
******
Shena tiba di restoran makanan Italia yang terkenal dan banyak digemari yaitu pizza. Ia akan membawa itu untuk suaminya yang saat ini masih di kantor dan pasti akan terkejut bila mendapati kehadirannya. Shena berharap Dio menerima kedatangannya dengan senang hati, bukan malah kesal karena Ia mengabaikan ucapan Dio yang menyuruhnya istirahat.
Usai memilih pizza mana yang akan Ia bawa untuk suaminya, yang menurutnya itu disukai Dio, Shena membayar barulah kemudian bergegas menuju kantor Dio.
“Nah ini untuk Bapak,”
Shena memberikan satu kotak pizza untuk supirnya yang mengantar Ia hari ini ke kantor Dio.
“Waduh terimakasih banyak, Mba Shena,”
“Sama-sama, Pak,”
Shena sengaja membeli lebih dan memang niat Ia berikan untuk pria yang membawanya itu. Shena fokus menatap jalanan melalui kaca jendela mobil. Ramai tapi lancar dan itu membuatnya bersyukur karena itu artinya Ia tidak perlu waktu lama untuk sampai di tempat yang menjadi rumah kedua untuk Dio karena hampir tiap hari dia di sana dari pagi sampai sore bahkan terkadang sampai malam.
“Nanti mau ditunggu sampai pulang, Mba?”
“Nggak usah, Pak, aku Insya Allah pulang sama Mas Dio. Bapak nanti langsung pulang aja ya,”
“Oh iya, siap, Mba,”
Ketika mobil memasuki area parkir kantor Dio, Shena menghela napas lega dan Ia tersenyum sumringah.
Setiap datang ke kantor Dio selalu saja semangat dan berbunga-bunga. Shena segera meraih kotak pizza dalam paper bag untuk Ia bawa keluar.
“Aku masuk dulu ya, Pak, terimakasih udah diantar dan bapak hati-hati pulangnya,”
Sebelum Shena benar-benar keluar, Tentu ada yang dikatakan Shena pada supirnya sebelum benar-benar pergi.
“Sama-sama, Mba,”
Shena memasuki kantor suaminya dengan langkah pasti. Di tangannya ada satu paper bag besar bertuliskan nama restoran pizza tempat yang Ia kunjungi tadi.
“Selamat siang, Ibu Shena, Pak Dio ada di dalam,”
“Siang juga, saya bisa masuk ya?”
“Silakan, Ibu, tapi Pak Dio sedang bicara dengan Tari,”
“Oh lagi ngobrol soal pekerjaan ya? Ya udah saya tunggu di luar aja deh,”
“Nggak perlu, Bu. Lebih baik Ibu masuk saja, Pak Dio bisa marah nanti. Pak Dio kira saya yang kasih Ibu masuk,”
“Nggak apa-apa nanti saya yang bilang kalau saya mau tunggu di luar, kamu tenang aja,” ujar Shena pada sekretaris suaminya itu. Dio disegani sekali, termasuk dirinya yang tidak dibolehkan menunggu di luar ruangan Dio, malah dipersilahkan untuk masuk ruangan Dio. Padahal Shena ingin seperti itu karena Ia menghargai Dio dan juga Tari yang sedang bicara mengenai pekerjaan.
“Memang Pak Dio pernah memarahi kamu karena nggak bolehin saya masuk?”
“Hmm nggak pernah, Bu, cuma saya takutnya begitu. Masa istri bos nggak disuruh masuk aja,”
“Ya udah saya masuk ya,”
“Iya silahkan, Bu,”
Shena segera mendekati pintu ruangan Dio yang terbuka sedikit. Ia mengetuk pintu di depannya itu dengan pelan, sebenarnya sungkan karena takut mengganggu.
“Masuk!” Sahut Dio dari dalam ruangannya. Shena segera mendorong pintu ruangan sang suami yang tengah berhadapan dengan dua orang perempuan.
“Oh ada orang selain Tari juga ternyata. Tadi uda sempat cemburu juga karena dengar nama Tari yang pernah naksir sama Mas Dio tapi dia bukan sih orangnya?”
Shena tersenyum menatap Dio yang kaget mendapati kehadirannya. Dio segera mengisyaratkan Ia untuk masuk ke dalam ruangan, bukan malah berdiri saja di depan pintu.
Shena segera masuk. Begitu Ia lihat sosok Tari yang ada di depan Dio, ternyata memang Tari yang pernah datang ke rumah dan meminta maaf karena menaruh hati pada Dio dan minta bantuannya agar Dio berpikir ulang untuk memindahkannya ke kantor lain atau pilihan paling beratnya adalah diberhentikan.
Tari dan satu orang perempuan di sebelahnya tersenyum menyapa Shena sambil membungkuk singkat.
“Udah selesai ‘kan ya?”
“Iya, Pak, kami permisi,”
Itu sebuah kode dari Dio agar anak buahnya itu segera keluar dari ruangan, memberikan waktu untuk dirinya dan juga Shena.
“Kamu kenapa ke sini, Bee? Emang aku bolehin?”
“Ih emang kenapa sih? Nggak boleh?”
Dio meraih tangan Shena agar duduk di pangkuannya namun Shena langsung menggelengkan kepalanya. Ia memilih untuk duduk di depan Dio saja.
“Kenapa nggak mau?”
“Nggak ah, orang di kantor juga! Lagian aku berat tau, Mas,”
“Ya nggak apa-apa meskipun di kantor, ‘kan mesranya bukan sama orang lain,”
“Nggak boleh dong, nggak sopan juga, Mas,”
“Okay deh, aku kunci pintunya dulu,”
Dio segera mengamankan pintu. Meskipun mereka tidak akan melakukan apapun di dalam ruangannya tapi lebih nyaman kalau pintu terkunci rapat.
“Kok dikunci?”
“Ya biar nggak ada orang masuk,”
“Biar aja nggak usah dikunci,”
“Nggak ah, aku maunya dikunci aja biar aman,”
“Aman? Kamu jangan macam-macam ya, Mas,” ujar Shena memperingati Dii. Suaminya itu terbahak. Ia menjawil dagu Shena.
“Emang aku mau ngapain? Kamu curigaan banget sih,”
“Ya takutnya kamu macam-macam, aku nggak suka ya, Mas! Ini kantor,”
“Iya, Sayang. Ya Allah, kamu kenapa mikirnya kemana-mana sih?”
“Iya-iya maaf,”
Shena mengusap pipi Dio yang cemberut karena merasa telah dicurigai olehnya. Padahal supaya lebih nyaman menurut Anda memang harusnya dikunci saja.
“Takutnya kalau ada orang masuk kita lagi ciuman ‘kan nggak enak,”
“Tuh ‘kan kamu nih macam-macam aja deh ngomongnya,”
Dio tertawa lagi, Ia belum selesai juga membuat istrinya kesal. Shena paling tidak bisa diajak bermesraan selain di kamar.
“Nggak mau aku cium emangnya?”
“Bukan nggak mau! Tapi bukan waktunya, mending kerja aja yang fokus, Mas, daripada aneh-aneh,”
“Iya deh, di kamar aja nanti ya,”
“Udah nggak usah bahas itu ah,”
“Cie pipinya merah,”
“Dih nggak,”
“Iya! Itu buktinya apa? Merah pipi kamu, Sayang,”
Shena mengusir tangan Dii yang mencubit pipinya. Memang terasa panas tapi tidak menyangka kalau perubahan warna pipinya disadari Shena.
“Kamu masih aja malu-malu ya, orang udah sering juga. Kayak anak kecil yang nggak pernah dicium aja,”
“Udah deh, mending makan pizza nih, aku bawain pizza,”
“Nggak mau, aku maunya dicium,” ujar Dio seraya memajukan bibirnya. Shena berdecak jengah meladeni suaminya itu.
Shena akhirnya mengambil satu slice pizza kemudian Ia dekatkan ke bibir suaminya itu. “Nih makan, Mas,”
Dii menggelengkan kepala dan tidak membuka mulutnya juga. Shena mengerang kesal. “Ya udah aku makan aja sendiri,”
“Iya-iya maaf, aku makan sekarang deh,”
Tahu kalau istrinya itu jengkel Ia goda terus, makanya Dio segera mengambil pizza yang masih dipegang Shena dan ada di depan mulutnya. Ia langsung melahapnya.
“Gimana? Enak nggak, Mas?”
“Enak banget, serius. Kok kamu kepikiran beli ini?”
“Ya karena aku juga pengen sebenarnya, kamu ‘kan juga suka pizza, jadi ya udah aku beli ini deh,”
“Makasih ya, eh tapi pertanyaan aku tadi belum dijawab,”
Shena menyeruput air minum karena kerongkongannya mulai terasa penuh setelah lega, barulah Ia bertanya pada Dio, “Pertanyaan yang mana, Mas?”
“Kenapa kamu ke sini? Emang aku bolehin?”
“Jadi nggak boleh ya?”
“Sebenarnya iya, tapi ya udah lah, udah terlanjur sampai di sini juga, tapi kenapa sih bandel banget kamu itu? Aku nggak suka kalau kamu bandel, disuruh istirahat di rumah malah keluyuran ke kantor aku,”
“Yang penting keluyurannya nggak kemana-mana, Mas. Jelas ke kantor kamu aja, aku pulang sama kamu ya,”
“Aku nanti lebih sore lho pulangnya,”
Shena menganggukkan kepalanya tidak keberatan mau kapanpun suaminya pulang yang terpenting mereka pulang bersama.
“Aku ikut kamu pokoknya,”
“Mana nggak bilang kalau mau ke sini. Kamu naik apa?”
“Diantar dong,”
“Sama siapa?”
“Arun,”
“Hah?!”
Shena tertawa lepas begitu melihat reaksi suaminya setelah nama Arun terlontar dari mulutnya.
“Kok sama Arun?”
“Nggaklah, bercanda. Sama Pak supir, Pak Faiz,”
“Yang bener kamu?”
“Iya beneran, kalau nggak percaya telepon aja bapaknya,”
Dii percaya apalagi ketika Shena menyuruhnya untuk bertanya langsung pada Pak Faiz, sudah pasti benar begitu kenyataannya.
“Yang tadi namanya Tari ‘kan ya?”
“Yang duduk di sebelah kiri tadi?” Tanya Dio sambil menunjuk kursi di sebelah Shena. Dan Shena mengangguk, itu yang dia maksud. Kalau yang tadi duduk di tempatnya saat ini entah siapa namanya.
“Iya, dia Tari,”
“Hmm ngobrolin kerjaan tadi?”
“Iyalah, Bee, masa ngomongin liburan?”
“Hmm begitu. Untung bertiga ya, kalau berdua agak cemburu juga aku, tadi aja begitu, eh begitu masuk ternyata berdua,”
“Cie cemburu, tapi ngapain cemburu sih, Bee? Aku mah mau serius kerja aja nggak mau neko-neko,”
Shena menatap suaminya dengan sorot mata yang lembut. Ia senang kalau Dio punya prinsip seperti itu.
“Karena dia pernah ngaku kalau dia suka sama kamu, aku jadi cemburuan, agak sensi sama dia, maaf ya, Mas,”
“Nggak apa-apa, wajar aja. Siapa sih yang nggak cemburu suaminya disukain sama yang lain? Suka dalam artian yang lain ya, bukan suka karena kerja kerasnya, sifatnya yang baik atau yang lain-lain,”
“Tapi dia masih suka cari perhatian ke kamu, Mas? Masih suka merhatiin kamu?”
“Hmm kayaknya sih nggak. Dia takutlah, Bee. Udah pernah kena peringatan tegas soalnya, beda cerita kalau aku diemin aja, nah kalau dia beneran aku berhentiin ‘kan yang rugi dia, harusnya tenang-tenang kerja di sini eh malah aku berhentiin karena udah macam-macam sama aku. Daripada begitu mending dia kerja yang bener aja, sekarang sih aku liatnya udah beda, nggak kayak waktu itu,”
“Ah syukurlah, aku lega dengernya, semoga aja ya dia nggak neko-neko, Mas. Nasib orang ganteng begitu banget ya, Mas,”
Dio tertawa mendengar celotehan istrinya yang barusan mengaku kalau Ia sedikit cemburu tapi sekarang justru malah bercanda mempermasalahkan ketampanannya.
“Aku nanti pulang sama kamu ya,”
“Iya, Sayangku, nanti pulang bareng aku, tapi nunggu dulu nggak apa-apa ya? Sekarang aku mau lanjut kerja nih biar cepat selesai,”
“Okay, lanjut aja, udah selesai makan pizza nya?”
“Udah kok, kenyang banget, makasih ya,”
__ADS_1
Dio membersihkan sudut bibirnya dengan tissue kemudian Ia mencium kening Shena dengan singkat.