
Tuan Hendrawan malah keasyikan melihat taman edupark rancangan Bara, hingga lupa waktu.
Bukan hanya tuan Hendrawan, sebenarnya pak Darmais juga masih terkagum kagum dengan semua apa yang di gagas anakknya, hingga kadang kadang menyanjung Bara anakknya sendiri tanpa terasa.
"Waah..saya kagum sama pemikiran Bara pak..," kata tuan Hendrawan tak bisa menyembunyikan kekagumannya.
"Jangankan Bapak... saya yang orang tuanya sendiri saja tak habis pikir melihat pola pikirnya yang jauh melesat melebihi orang kampung sini... termasuk saya pak."
"Yaa..cuma kami terbentur modal.. maklum pak..orang seperti kami harus merangkak menuju sukses..termasuk Bara yang masih sedang berkembang," kata pak Darmais sambil mengangguk ke arah para pekerja yang berpamitan pulang karena sudah waktunya.
"Mari..pak Darmais..," para sahut tukang bangunan itu.
"Ya..pak..mari mari..," balas pak Darmais kepada para tukang batu yang melintas.
Mereka berjalan makin naik ke atas bukit yang lebih tinggi, sedikit kesusahan pak Darmais menaikinya karena kakinya yang masih sakit bekas operasi belum benar benar pulih seratus persen.
"Maaf pak enggak bisa cepat, soalnya kaki saya yang dulu operasi saat Bara menikah belum pulih sempurna.," sahut pak Darmais yang malah di bantu tuan Hendrawan untuk naik lebih tinggi.
Tuan Hendrawan menatap kaki pak Darmais,"Oh apa karena bapaknya sakit dulu Bara meminta DP saat menyetujui rencana pernikahan itu ya..?." batin tuan Hendrawan sesaat termenung.
"Ini..mau di buat apa pak..?," tanya tuan Hendrawan sambil melihat lihat tempat yang paling tinggi tersebut.
"Kalau melihat rancangan Bara sih..di sini nanti mau di buat..hunian pribadi, man..manason...apa gitu pak..," sahut pak Darmais yang susah mengatakannya.
"Ooh..mungkin mansion pak..," kata tuan Hendrawan.
"Yaa..mungkin begitu..pak..soalnya nak Yola kalau di sini suka sama keindahan alamnya, mungkin Bara ingin membuat yang nak Yola inginkan.. melihat keindahan alam dari rumah paling atas sini pak," terang pak Darmais.
Tuan Hendrawan mengangguk angguk kan kepalanya.
"Eeh..ternyata Bara sangat memanjakan Yolanda anakku, dan ternyata keluarga nya juga sangat menyayangi Yola...aku sudah salah memperlakukan anak itu," tuan Hendrawan terpaku dengan monolog nya sendiri.
"Pak..kata ibu..di minta pulang ke rumah dulu...makanan sudah siap..," tiba -tiba Misye sudah sampai di sana masih dengan seragam sekolah nya.
"Oh..iya..."
"Mari..pak...kita kembali ke rumah dulu..," ajak pak Darmais kepada tuan Hendrawan.
Begitu sampai di sana pak Bandi dan satu pengawal sudah duduk di ruang tamu.
Keduanya tampak kikuk karena tadi di suruh di mobil saja tapi kini malah sudah duduk di kursi tamu sambil memakan makanan.
Tuan Hendrawan hanya menatap keduanya yang masih menghadapi makanannya dan tampak menikmati.
Pak Darmais mengajak tuan Hendrawan ke ruang makan dimana di sana sudah terhidang makanan olahan Bu Romlah yang terkenal enak...menurut keluarga dan mereka yang pernah mencicipi makanan masakannya.
"Mari silahkan pak .. menikmati hasil bumi dan peternakan kami..," Bu Romlah menyilahkan dengan sangat sopan.
"Bapak bapak tadi tidak mau duduk di sini..mereka memilih duduk di ruang tamu sambil makan di sana," sahut Bu Romlah lagi.
Tuan Hendrawan sebenarnya mau menolak karena merasa tak enak merepotkan tapi lebih sungkan lagi kalau menolak ajakan makan tersebut, takut di kira sombong dan sebagainya.
"Mari pak..silahkan..ini semua segar hasil olahan sendiri..," kata pak Darmais menyilahkan tamunya tersebut.
Akhirnya kedua orang itu makan di ruang tamu sedangkan pak Bandi dan satu pengawal makan di ruang tamu.
"Ini diambil dari kolam sendiri pak..," terang pak Darmais melihat aneka olahan ikan air tawar tersebut.
__ADS_1
Tuan Hendrawan mencicipi kakap bakar yang besar.
"Emm...enak juga pak..kalau ikannya benar benar fress...," sahut tuan Hendrawan tak bisa menyembunyikan kekagumannya akan nikmat nya olahan ikan tersebut.
"Nanti kami juga akan membuka kuliner pak.., karena nak Yola juga suka akan ikan olahan seperti ini," jawab pak Darmais.
Tuan Hendrawan hanya mengangguk mendengar penjelasan pak Darmais, karena masih menikmati makanan yang di hidangkan..sebab selama perjalanan tadi malah kelupaan mampir di restoran karena pikirannya masih kalut.
"Mari..pak..nambah lagi..," kata pak Darmais sambil menyodorkan lauk kakap yang di gulai.
"Pokoknya semua menu di coba aja pak..anggap saja bapak sebagai juri lomba masak ..sebelum menu menu ini nanti kami sajikan ke konsumen..," kata pak Darmais sambil tersenyum ramah dan sopan.
Dan memang tuan Hendrawan mencoba semua menu di sana.
"Enak..pak...semua enak enak..pak," sahut tuan Hendrawan.. entah kenapa saat itu tuan Hendrawan tak lagi merasa sungkan dan jaim.
Pak Darmais yang melihat hal itu juga ikut senang.
"Bapak ini sama dengan nak Yola... merakyat ..padahal di lihat tampilan nya pasti orang kaya banget..," batin pak Darmais sambil tersenyum senang tamunya nampak lahap memakan hidangan di meja itu.
Setelah hari benar benar sore tuan Hendrawan akhirnya mohon diri pamit.
"Terimakasih pak atas sambutan dan jamuannya.., karena ini sudah mau malam saya mau pamit..," kata tuan Hendrawan.
"Iya..pak..sama sama.. terimakasih bapak sudah sudi berkenan berkunjung di kediaman kami yang hanya seperti ini," balas pak Darmais.
"Oh. ya..pak..boleh saya meminta nomer telponnya..?," tanya tuan Hendrawan.
"Boleh boleh pak..," sahut pak Darmais.
"Biar kita bisa terus berkomunikasi," kata tuan Hendrawan lagi sambil menulis nomer ponselnya pak Darmais yang di ucapkan nya.
**
Bara dan Yolanda yang sudah tiba di mansion kini sudah berada di kamar nya.
Keduanya masih malas malasan berpelukan di kasurnya sejak tadi datang.
"Mas..aku senang banget kita bisa ketemu Opa Santosa dan kini tinggal di sini, karena papa dan mama enggak bakalan lagi misahin kita," kata Yolanda pelan sambil menyusupkan kepalanya ke pelukan suaminya.
"He'em," sahut Bara sambil mencium ujung kepala istrinya.
Keduanya masih terus berbicang kecil hingga sebuah ketukan di pintu sedikit mengusik mereka.
Tok tok tok...
Yolanda beranjak membukanya.
Cekleek..
"Maaf nona...makanan sudah siap..," kata pelayan itu.
"Lho..ini kan masih sore..? kok sudah makan..?," sahut Yolanda keheranan.
"Iya...kalian kan paling paling makan siang tadi..," tiba -tiba Opa Santosa sudah ada di depan pintu kamarnya.
"Iya..Opa..," sahut Yolanda melihat opa yang menyuruh nya sudah berada di depan kamarnya.
__ADS_1
"Sudah ayo..ajak suamimu turun..," kata Opa yang langsung menuju ke lantai bawah.
Bara dan Yolanda pun turun ke lantai satu di mana ruang makan ada di sana.
Menu makanan yang sangat lengkap sudah di tata di meja yang luas tersebut.
"Makanlah kalian...pasti di galery kalian jarang makan seperti ini," kata Opa Santosa.
Yolanda mengangguk tersenyum menghampiri Opa nya.
"Makasih Opa...," sahut Yolanda mencium pipi Opa nya.
Opa Santosa senang rumahnya nampak semarak.
"Opa tidak makan sekalian..?," tanya Bara melihat Opa hanya duduk menemani mereka makan.
"Nanti malam saja Opa makannya.," sahut Opa Santosa sambil tersenyum melihat cucu cucunya makan dengan lahap.
"Makan yang banyak... biar opa segera gendong cicit..," goda opa kepada Yolanda.
"Iih..apaan sih Opa..," sahut Yolanda malu malu.
"Ya..kan kalian sudah suami istri..wajar kan Opa meminta cucu buyut agar rumah Opa tak lagi sepi..," sahut Opa masih dengan senyum senyum sendiri.
Bara hanya mengangguk mendengar perkataan Opa.
"Memangnya kalian sudah pernah konsultasi ke dokter..?," Tanya Opa.
"Belum sempat Opa..," sahut Yolanda sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
Bara langsung menatap istrinya.
"Memangnya...bulanan kamu telat sayang..?," tanya Bara yang malah kaget.
Yolanda menganggukan kepalanya.
"Telat satu minggu mas..," sahut Yolanda pelan.
"Apa...??!!," Bara kaget.
"Kenapa mas Bara enggak di beritahu..," kata Bara pelan menyesal tak tahu apapun tentang Istrinya.
"Kan Baru satu minggu telatnya, dulu dulu juga pernah telat satu minggu...bahkan lebih..," sahut Yolanda sedikit mengerucutkan bibirnya.
"Sudah ...nanti sore kita periksa saja..gimana..?," ajak Opa Santosa.
"Didekat dekat sini saja..," sahut Opa lagi.
"Ya..Opa..," sahut Bara dan Yolanda hampir bersamaan.
____________
**Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya....
Baca juga karya lainku..
* Sang Pengacau
__ADS_1
* Jagoan ku Ternyata CEO**