
Mereka berdua menikmati makanan yang di bawa Yolanda yaitu nasi kebuli dan sate kambing kesukaan Bara, bersama sama.
Sambil makan mereka bercanda ria melepas rasa kangen karena hampir satu pekan tak bertemu.
Saling bercerita kegiatan mereka masing masing selama sepekan ini, hingga acara makan selesai.
"Kok kamu enggak hubungi aku..?." tanya Yolanda dengan manja sambil duduk di samping Bara di sofa yang panjang, karena memang berharap Bara berani menelpon duluan.
"Takut...., ganggu non Yola."
"Huh..alasan..., atau jangan jangan selama aku tak disini kamu yang sibuk dengan teman temanmu," kata Yola mendengus kecil sambil cemberut.
"Enak enakan ngajak temanmu bermain di sini." kata Yolanda lagi sambil memeluk lengan Bara
"Enggak kok non..., sumpah." jawab Bara sambil mengusap tangan lembut gadis yang masih memeluknya.
"Tapi boleh..kok, kalau teman teman mu main kesini," kata Yolanda akhirnya sambil tersenyum.
"Asal jangan yang cewek..! ," kata Yolanda lagi dengan tegas.
"Ish...ck...nggak bakalan non, dekat dekat sama cewek lain, kan sudah punya istri..!, cantik lagi...!! ," sahut Bara dengan serius.
Yolanda yang mendengar itu nampak tersenyum senang.
Kembali mereka mengobrol sambil menonton acara TV, kadang di selingi dengan candaan.
Drrtt.... drrt...., handphone Bara berbunyi.
"Eeh..," keduanya nampak sama sama kaget karena masih asik memperhatikan TV dan bercanda.
Yolanda nampak mencoba mengintip sedikit dengan memiringkan kepalanya membaca nama yang tertera, namun tidak berhasil.
"Sebentar ya non...," kata Bara meminta ijin, melepaskan pelukan gadis itu dan mengangkat telpon genggam nya.
Bara berdiri sedikit menjauh dan memulai pembicaraan, rupanya yang menelponnya pak Musri.
"Halo..pak..?." sapa Bara.
"Jadikan.. kita ketemuan malam ini..?."
" ya..pak....jadi, jam berapa pak..?," tanya Bara.
"Bagiamana kalau jam 20.00 an.."
"Ya..ya..baik pak jam delapan," sahut Bara sebelum memutuskan telponnya.
Bara nampak terlihat senang karena merasa lukisannya akan terjual.
Yolanda yang melihat itu nampak heran dan bertanya tanya.
"Siapa... sih.., yang telpon..? sampai membuat babang Bara nampak tersenyum senang."
"Kok sampai segitunya, senyum senyum sendiri..?, memangnya yang telpon siapa..?," tanya Yolanda dengan penasaran dan curiga.
"Ada..deh..," goda Bara.
"Non mau ikut..? kata Bara lagi.
"Kemana..?, mau ketemu siapa...?, jam berapa...?," tanya Yolanda berturut turut.
"Ketemu seseorang..," jawab Bara singkat.
"Laki..apa.. perempuan..?."
"Ada..deh.."
__ADS_1
"Issh..."
"Ikut..lah, masak mau di tinggal sendirian," sahut Yolanda akhirnya.
"Mau naik apa..?, deket sih tempatnya," tanya Bara.
"Dimana sih..?."
"Cafe www dekat belokan sana sebelum ke apartemen," sahut Bara.
"Naik motor aja ya..biar asik," sahut Yolanda kegirangan.
"Issh...non Yola..kalau di ajak naik motor malah kesenangan, padahal gadis lain pinginnya malah naik mobil."
"Apaa..??!!, kau mengajak gadis lain naik motor dan mobil..?," Yolanda seketika berteriak galak.
"Waduuh...... malah ... gagal paham..deh."
"Enggak gitu non.., saya hanya ngomong kalau orang lain pasti milihnya naik mobil di bandingkan motor," jelas Bara dengan tersenyum menghampiri gadis yang hampir saja ngambek itu.
Mendengar penjelasan Bara Yolanda tersenyum malu malu, mendekat dan memeluk Bara.
"Aku enggak ingin kamu dekat dekat dengan gadis lain," sahut gadis itu sambil memeluk tubuh Bara.
Bara mencium rambut gadis itu, yang baginya sangat wangi, sambil membalas pelukannya.
"Yaa .. Allah...aku makin takut kehilangan gadis ini, tapi bagiamana dengan perjanjian yang sudah kutandatangani sebelum pernikahan," batin Bara makin sedih.
Bila mengingat semua draft yang tertera di surat perjanjian membuat Bara makin bersedih, tanpa sadar Bara makin mengeratkan pelukannya dan menciumi wajah gadis cantik itu yang makin kesenengan karena merasa di sayang.
"Bara..., aku lagi dapet," kata Yolanda sedikit mendesah begitu merasakan tangan Bara makin liar.
Duaaar..!
Cuup..
Sebuah kecupan di pipi Yolanda mengakhiri semua tindakannya sebelum Bara berlari ke kamar mandi "meredam" gejolaknya di sana.
Habis sholat Isya Bara sudah bersiap berganti pakaian yang lebih pantas.
Sambil menunggu waktu Bara duduk di sofa ruang tamu.
Yolanda pun sudah berganti pakaian yang lebih simpel, karena selain mau naik motor, dirinya juga merasa "datangnya si bulan" tadi agak deras karena lum*tan Bara.
"Kok mandinya lama...?," goda Yolanda sambil kembali mendekati Bara.
Bara nyengir..merasa di ledek "monster cantik" nya.
Di peluknya kembali gadis itu namun cuma sebentar, takut kebablasan lagi.
"Ayuk berangkat," kata Bara sambil mengambil helm yang akan di pakai Yolanda nantinya.
Yola menggandeng lengan Bara sambil tersenyum senang.
**
Keduanya menaiki motor Bara dengan santai karena tempatnya cukup dekat dan tak tergesa-gesa.
"Non Yola nanti pulang apa tidur di apartemen..?," tanya Bara penuh harap, sambil mengendarai motor nya.
"Menurutmu sebaiknya bagaimana..?," goda Yolanda.
"M..mmm," Bara masih berpikir sebelum menjawab.
"Aku mau bobok di apartemen..," sahut Yolanda pelan sambil memeluk punggung Bara.
__ADS_1
"Yeeii..!!," tanpa sadar Bara berteriak kegirangan.
Yolanda pun menempelkan kepalanya ke punggung Bara sambil memeluknya.
Motor sudah sampai di halaman cafe www.
Sebuah cafe yang cukup terkenal dan nyaman.
Tempatnya yang dua lantai membuat suasana terasa longgar dan nyaman untuk mengobrol dan berbincang.
Bara mengambil handphone berniat menghubungi pak Musri.
Eeh...ternyata sudah ada pesan dari pak Musri.
Lantai II meja nomer 30, begitu pesan yang di tuliskan.
Dengan menggandeng Yolanda Bara menuju tempat yang di maksudkan.
Sampai dua kali Bara memutari ruang itu.
"Kenapa...?," tanya Yolanda begitu melihat Bara sedikit ragu.
Kemudian Bara menyodorkan handphone nya kepada Yolanda.
"Haah...!, bukankah no 30 adalah meja yang di duduki gadis itu..?."
"Kamu janjian ..dengan gadis itu..?," sungut Yolanda.
"Issh...non Yola.., justru itu aku bingung...? karena aku janjian sama pak Musri," sahut Bara agar jangan sampai terjadi salah paham diantara mereka berdua.
Mendengar penjelasan Bara, Yolanda nampak mengangguk angguk.
Yolanda dengan cepat berjalan ke arah gadis yang duduk di meja itu tanpa menghiraukan Bara.
"Aduh.." Bara menepuk dahinya, sudah mulai sedikit panik melihat Yolanda menghampiri gadis itu.
Pikirannya pasti Yolanda akan melabrak gadis itu.
"Baraa...," panggil Yolanda tersenyum, sambil melambaikan tangan kearahnya.
Bara perlahan menghampiri meja 30 dimana Yolanda sudah duduk di sana.
"Silahkan duduk..., papa lagi ke kamar kecil," kata gadis itu ke arah Bara sambil tersenyum manis.
Bara mengangukan kepala dengan sopan kemudian duduk di dekat Yolanda.
Sebentar kemudian nampak pak Musri datang menghampiri meja itu.
"Eeh..pak Bara sudah datang..?," kata pak Musri tersenyum.
"Sudah..lama..?."
"Barusan kok pak ." jawab Bara.
"Ini anak saya... yang lebih tahu soal lukisan dan mengerti masalah taksiran harga lukisan," kata pak Musri memperkenalkan.
Bara menganggukkan kepalanya.
Yolanda yang semula tak mengerti topik pembicaraan itu, mulai paham dengan tujuan pertemuan itu.
__________
**Gimana... readers....
Tinggalkan jejak ya**...
__ADS_1