Aku Lebih Mencintaimu

Aku Lebih Mencintaimu
Eps 132 Bertemu Duta Besar


__ADS_3

"Sayang bagaimana kalau besok malam kita kembali makan malam di luar..?."


Bara bertanya kepada istrinya yang masih berdandan, karena malam itu mereka bertiga akan makan malam di luar.


"Lagi..?."


Bara menganggukan kepalanya, lalu tersenyum.


"Sebenarnya mas Bara tadi di telpon mama."


"Mama..?, telpon mas Bara..?."


Yolanda sedikit terkejut, karena mama nya benar benar sudah berubah, Bahkan kini mau menelpon suaminya.


"Iya..tadi mama cerita kalau duta besar dan istrinya berkeinginan ketemuan dengan pelukis galeri."


"Terus mama telpon mas Bara..?," Yolanda memotong perkataan suaminya yang juga masih menyisir rambut nya.


"He'em."


"Mama ngajakin kita sama papa makan malam dengan duta besar dan istrinya.," sahut Bara menyambung perkataanya lalu duduk di sofa yang ada di kamar karena sudah selesai menyisir rambutnya.


"Tapi nunggu mama kasih kabar lagi, seandainya jadi....kita nanti sekalian nginap di rumah utama karena sabtunya mas Bara ada acara di galeri."


"Terus Opa gimana mas..?, aku sekarang tak tega ninggalin Opa sendirian di sini."


"Ya opa kita ajak..lah."


"Ya coba nanti kita ngobrol sama Opa."


**


Mereka sudah berada di restoran mewah bertiga.


Opa sengaja mengajak mereka makan di restoran mewah karena ingin memanjakan cucu nya yang sudah jarang bepergian semacam itu.


Mereka memesan meja di ruang khusus, yang sedikit di pinggiran dekat dengan taman.


Sambil menunggu pesanan mereka mengobrol.


"Bagaimana dengan perkembangan galeri..?."


Tanya Opa sambil tersenyum memandang ke arah Bara yang masih bermain dengan ponselnya karena ada laporan masuk.


"Alhamdulillah Opa..semakin berkembang baik," jawab Bara sambil meletakkan ponselnya setelah berkirim pesan.


"Oh..ya..Opa tadi pagi mama kan mendampingi istri Duta besar, karena mama ketua persatuan istri pengusaha."


Opa mengangguk karena juga tahu akan hal itu.


"Terus mama menelpon Bara jika duta besar bersama istrinya mengajak Bara sebagai pelukis untuk makan malam," kata Bara pelan.


"Mama mertua mu telpon kamu..?."


Bara mengangguk dan terdiam sesaat karena menu pesanan mereka baru tiba.


Beberapa pelayan menyajikan pesanan itu di meja mereka bertiga.


"Silahkan di nikmati tuan tuan dan nyonya," kata pelayan dengan sopan sebelum meninggalkan tempat tersebut.


"Terimakasih..," sahut Bara membalas perkataan para pelayan.


Setelah pelayan pergi Opa kembali bertanya sambil mendekat kan piringnya ke arahnya.


"Teruskan ceritamu tadi.."


Bara kembali melanjutkan perkataannya yang sempat terhenti, "Nanti malam duta besar mengajak makan malam Bara serta dek Yola, dan mama Nursanti bersama papa.."


Bara berhenti menunggu reaksi Opa.


"Tapi kami bingung karena malamnya langsung mau menginap di rumah utama, jujur kami khawatir sekarang... jika meninggalkan Opa sendirian," kata Bara dengan wajah sungguh sungguh.


Opa Santosa tersenyum," Opa akan ikut kalian, karena Opa juga enggak mau berpisah dengan kalian."

__ADS_1


"Tapi Opa tak ikut makan malam.., mau mampir ke tempat Johnson..saja..," sahut Opa lagi masih dengan tersenyum.


Bara dan Yolanda saling berpandangan dan tersenyum lega.


**


Bara sudah kembali menyetir mobil nya kembali ke Mansion.


Opa yang duduk di belakang masih menatap keluar jendela mobil.


Beberapa pengawal yang tadi ikut makan di restoran namun di meja yang berbeda nampak sudah kembali mengiringi di belakangnya.


Drrt..drrt..


Tiba -tiba ponsel Bara yang di taruh di cup holder berbunyi.


"Sayang ...ponsel mas Bara tolong di angkat kan."


Kata Bara kepada istrinya, karena rapat dan padat nya jalanan Bara tak mau ambil resiko berkendara sambil telponan.


Yolanda mengambil ponsel suaminya dan melihat layarnya.


"Eeh..mama mas.."


"Angkat aja.."


Kata Bara sambil pandangan fokus kedepan.


"Assalamualaikum..ma."


"Eeh..kamu sayang...? waalaikumssalam..."


"Iya Ma...soalnya Mas Bara masih nyetir, kita habis makan malam di luar sama Opa," kata Yolanda menerangkan.


"Oh..iya..., mama cuma mau bilang kalau besok jadi makan malam bersama duta besar dan istrinya," sahut mama Nursanti.


"Iya mah...nanti Yola sampaikan mas Bara, tadi kita juga lagi ngebahas masalah itu," kata Yolanda sambil tersenyum.


''Iya mah.. Assalamualaikum.."


"Waalaikumssalam."


Yolanda lalu menyampaikan apa yang mama nya katakan tadi kepada suaminya yang masih fokus menyetir dan melihat jalanan.


**


"Mas Bara berangkat dulu.. ya.."


Bara yang sudah sarapan dan mengencangkan dasinya, berpamitan kepada istrinya setelah tadi berpamitan kepada Opa.


"Hati hati..Mas..," sahut Yolanda sambil menggelayut manja di lengan suaminya.


Bara tersenyum mengangguk.


"Sayang dulu..," kata Bara sebelum keluar dari ruangan itu menuju mobilnya di parkir.


Yolanda mengalungkan tangannya ke leher sang suami dan mengecup suaminya sedikit menggoda dengan gigitan kecil di bibir itu.


Sesaat Bara terlena dengan itu, membalas ******* sambil mengeratkan pelukannya, sebelum sang istri menarik kepalanya.


"Sudah dulu ya..," goda Yolanda tersenyum manis, setelah menarik nafasnya sedikit memundurkan kepalanya.


"Kan Ayah..harus kerja .." kembali Yolanda berkilah.


"Kamu ingin menyiksa mas Bara ya..," sungut Bara dengan sedikit cemberut, menelan ludah nya.


"Kan semalam sudah..," kata Yolanda tersenyum polos merasa tak bersalah, sudah membuat darah suaminya bergolak.


Bara tersenyum kecut, karena baginya tak pernah ada kata cukup untuk selalu menciumi dan memeluk istri cantik nya tersebut.


"Karena bagi mas Bara tak ada kata cukup untuk..," Bara tak meneruskan ucapan namun pandangan matanya menunjuk ke arah tertentu di badan istrinya.


"Ihh..dasar mesum..," kembali Yolanda memeluk tubuh tinggi suaminya dan menyusup kan kepalanya di dada bidangnya.

__ADS_1


"Mas berangkat dulu, jangan terlalu banyak aktivitas di dapur," kata Bara kepada Yolanda karena kini istrinya suka sekali dengan kegiatan di sana.


Yolanda mengangguk manja, membuat Bara makin gemas melihat nya.


**


"Opa mau bareng kita ...?."


"Enggaklah.., Opa sama Joe saja, nanti langsung mau ke galeri, ni Jhonson sudah nelpon terus dari tadi..," kata Opa Santosa sambil menggoyangkan ponselnya sedikit di angkat.


Bara tersenyum, namun juga kasihan jika mengingat Om Jhon yang jauh dari sanak famili nya.


"Yaah..om Jhon mungkin kesepian tak ada teman yang di ajak bicara Opa..," sahut Bara sambil menggapit lengan istrinya menuju mobilnya.


"Iya..kali, makanya waktu Opa bilang mau main ke sana malam ini tadi...dia bersorak kegirangan kayak bocah aja," kata Opa menceritakan saat tadi menghubungi Johnson sahabat nya tersebut.


Bara dan Yolanda tersenyum mendengar nya, lalu pamit untuk jalan duluan karena Opa mau bersama asisten Joe.


"Kami berangkat dulu Opa.. sampai ketemu di rumah utama," pelan Bara berpamitan dan mencium tangan Opa.


Yolanda pun belaku demikian.


"Hati hati..jaga cucu dan cicit ku..," sahut Opa Santosa kepada Bara yang sudah sedikit menjauh dengan merangkul istrinya.


"Iya Opa.."


Bara berbalik dan mengangguk dengan sopan.


**


Di restoran xxx jalan xxx mama Nursanti dan papa Hendrawan sudah duduk di meja yang di pesan kan.


Tak berapa lama nampak Duta besar bersama sang istri juga hadir di sana.


"Maaf terlambat..," kata Duta besar berbarengan dengan istrinya, begitu melihat papa Hendrawan dan mama Nursanti sudah duduk menunggu di sana.


"Tak apa Mr, ini juga masih belum jam tujuh.."


Kata papa Hedrawan sambil menunjuk jam tangannya yang memang belum waktunya karena masih belum ada jam 7 malam.


Pandangan matanya Duta besar dan istrinya memutar mencari sosok lain, yaitu sang pelukis yang juga Dirut itu.


"Mereka masih di perjalanan..," sahut mama Nursanti yang tahu siapa yang di cari pasangan suami istri tersebut.


Belum juga sang Duta dan Istrinya duduk, nampak Bara yang tengah menggandeng istrinya berjalan ke arah meja itu.


"Naah..itu mereka..," seru mama Nursanti yang kegirangan melihat anak dan menantunya.


Sepontan sang Duta menoleh dan memandang Bara dengan rasa tak percaya.


Setelah semua berjabat tangan Bara dan Yola pun duduk di kursi yang telah di sediakan.


"Bener..ini pelukisnya ..?," tanya sang Duta akhirnya mengakhiri rasa penasaran nya.


"Iya..saya pelukisnya..,'' sahut Bara sedikit mengerutkan keningnya.


Tuan cristopher yang menyadari reaksi Bara, akhirnya tersenyum.


"Maaf ...saya sedikit tak sopan mungkin, karena setau saya pelukis yang kami temui selalu berpenampilan unik dan nyentrik tak seperti tuan yang..nampak handsome dan rapi.," kata sang Duta meluruskan memuji penampilan Bara yang super tampan, rapi dan menarik.


Bara tersenyum menanggapi perkataan tersebut.


"Terimakasih atas pujiannya..tuan Christopher," kata Bara dengan kewibawaan nya.


Setelah itu obrolan mereka malah kian mengalir lancar di selingi candaan dan gurauan.


Rupanya di negaranya tuan Christopher juga memiliki usaha serupa Arts Museum sehingga dirinya tertarik melakukan kerjasama bilateral.


Masih berbincang santai mereka menikmati makanan yang terhidang di meja itu.


___________


Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya...

__ADS_1


__ADS_2