
Bara masih tergolek lemah di tempat tidur nya, rasa pusing masih sedikit menderanya.
Berdasarkan hasil CT scan seluruh tubuhnya hanya terdapat pembengkakan sedikit di otaknya akibat benturan beberapa pukulan di kepalanya.
"Kata dokter kamu harus banyak bedrest dulu Bara.." kata Bu Romlah yang sudah di beritahu oleh dokter yang merawatnya tadi.
"Bagaimana dengan dek Yola Bu..?," tanya Bara yang masih belum yakin dengan jawaban jawaban yang di berikan dari tadi.
"Istrimu baik baik saja Bara..kamu tenang saja ya...adikmu di sana jagain kok," kata Bu Romlah lagi menangkan.
Meski masih kepikiran namun Bara mengangguk juga.
**
Malam sudah tiba, semua kini berada di rumah sakit untuk menemani dan menjaga Bara dan Yolanda.
"Mah..aku sudah enggak apa apa.., aku mau nengok mas Bara..," rengek Yolanda dengan makin merajuk.
Mama Nursanti memandang anaknya untuk lebih memastikan.
"Boleh mah..?," tanya Misye sambil memandang mama Nursanti.
Mama Nursanti mengangguk setelah memastikan Yolanda baik baik saja.
Della segera keluar mencari kursi roda untuk memudahkan Kaka iparnya yang akan menengok mas Bara nya.
"Tunggu dulu kak.. nunggu Della masih mengambil kursi roda," cegah Misye saat Yolanda akan beranjak dari tempat tidur nya.
"Benar Yola..tunggu adikmu..," sahut mama Nursanti sambil mengelus rambut Yolanda.
"Kan cuma jalan sebentar mah..," Yolanda nampak mengeyel saking pinginnya segera ketemu suaminya yang siang tadi sempat membuat nya ketakutan karena bercucuran banyak darah akibat pukulan para pengeroyok nya.
"Kalau jalan mama enggak ngebolehin..,"seru mama Nursanti tegas membuat Yolanda cemberut dan kembali rebahan di kasurnya.
Tak berapa lama Della datang membawa kursi roda, " maaf lama kak.. soalnya harus ambil di depan, dekat ruang UGD," kata Della sambil mendorong kursi tersebut mendekat ke tempat tidur Yolanda.
Yolanda mengangguk sedikit tersenyum, kemudian bergeser pelan makin ke pinggir sebelum akhirnya duduk di kursi itu di bantu kedua adik Iparnya.
"Hati hati kak..enggak usah tergesa gesa," kata Misye sambil memapah kakanya di bantu Della, sedangkan mama Nursanti memegangi kursi roda nya.
**
Begitu sampai di ruangan suaminya, kembali Yolanda menangis melihat suaminya lebam lebam sekujur tubuhnya, dan sedikit pecah di sudut bibirnya.
Bara yang sedikit terlelap membuka mata, dan didapatinya Yolanda tengah menangis di samping tempat tidurnya.
"Kenapa menangis..? mas Bara nggak apa apa..?," sahut Bara menenangkan istrinya.
Mendengar suaminya baik baik saja Yolanda sedikit tersenyum sambil mengusap air matanya.
Yolanda berdiri dan memeluk suaminya, tanpa memperdulikan yang lainnya.
"Aku takut mas..," kata Yolanda menangis di pelukan suaminya.
Bara mendekap istrinya dan mengusap pelan rambut istrinya tersebut.
"Tak apa sayang mas Bara baik baik saja..," sahut Bara sambil mengeratkan pelukannya dan mencium pucuk kepala istrinya.
Semua yang semula duduk duduk di depan ruangan nampak terharu dengan pemandangan itu.
"Mah..aku nanti tidur di sini saja ya..," kata Yolanda kepada mama Nursanti.
"Apa enggak sesak tempat tidurnya..?."
__ADS_1
Mama Nursanti berkata sambil menatap anaknya, seakan kebingungan mau menjawab apa lagi.
"Enggak pa pa mah...mungkin keinginan bayinya..," kata Bara yang sudah setengah duduk baringnya.
Mereka semua baru menyadari, dan pada mengangguk membenarkan perkataan Bara.
Seakan mendapatkan energi tambahan, setelah istrinya berada di ruangnya dengan baik baik saja Bara makin terlihat sehat.
"Apa kamu mengenal orang yang mengeroyokmu..?," tanya Opa Santosa setelah semua terlihat tenang.
Bara menggeleng," Tapi jika melihat pakaiannya, nampaknya dia juga wisudawan mungkin fakultas lain.. saya tak tahu Opa..," kata Bara kemudian.
"Terus apa motif nya..saya juga tak tahu Opa.."
Opa dan yang lainnya menganggukkan kepalanya.
"Besok pagi akan kita tanyakan hal itu kepada penyidik," sahut papa Hendrawan yang duduk di sebelah mama Nursanti.
**
Keesokan harinya.
"Jawab dengan jujur..kenapa kau melakukan pengeroyokan..!," tanya penyidik kepada Rio yang sudah di pindahkan di tahanan kantor polisi.
Rio hanya menunduk tak berani menatap para penyidik.
Braak..!!
Terdengar meja di gebrak dengan keras membuatnya makin ketakutan.
"Kau tahu siapa yang kau aniaya..?."
Kembali Rio menggeleng dengan wajah makin pucat pasi.
"S.ssaya k.kira...Orang biasa..," kata Rio pelan dengan wajah tertunduk pucat.
"Memang nya kalau orang biasa kamu bisa berlaku seenaknya..Haah..!."
Rio makin menundukkan kepalanya.
"Sekali lagi aku tanya apa yang mendasari kamu melakukan serangan ini..!."
"G.g.gadis yang saya sukai mencintai dia..!."
kata Rio pelan dan ketakutan.
"Apakah kau sudah ada ikatan dengan gadis itu..?."
Rio menggeleng lemah.
"Siapa gadis itu..?."
"C.Clarissa...," kata Rio pelan.
"Jawab yang keras..!!."
Bentak penyidik sambil menggebrak meja.
"Clarissa.."
Semua membelalakkan matanya, Bara dan Yolanda yang mendengar dari kamar rumah sakit lewat semacam rekaman video juga ikut kaget.
Bara yang mendengar pokok permasalahan menjadi tak enak hati.
__ADS_1
"Sayang mas Bara tak melakukan apapun," katanya sambil menatap wajah istrinya.
Yolanda mengangguk tersenyum karena kemarin saat bertemu Clarissa,Dia sendiri yang bercerita kebenaran bahwa lelaki pujaannya acuh tak membalas apapun keinginannya.
Sementara itu papa Hendrawan yang berada di ruang kaca, di balik ruang interogasi bersama Opa dan Oma Jhon, tak kalah terkejut nya.
"Clarissa..?, apakah dia anak Tony Wijaya..?."
Papa Hedrawan terdiam dengan kepala berkecamuk, bahkan ada rasa sedikit curiga kepada Bara, "Jangan jangan Bara bermain api..."
"Tak mungkin Bara berlaku seperti itu..," kali ini Om Jhon yang juga ikut di kepolisian berkata memecah keheningan, setelah memandang papa Hedrawan yang sedikit berubah ekspresi nya.
"Maksudnya..?," Opa bertanya sambil melihat Jhonson sahabatnya.
"Tak mungkin Bara meladeni perempuan itu..," kata Om Jhon menegaskan apa pendapat nya.
Opa hanya mengangguk angguk sedikit.
**
Semua sudah kembali berada di rumah sakit.
"Apa kamu melihat apa yang terjadi di ruang interogasi..?."
Tanya Opa kepada Bara dan Yolanda.
Yolanda mengangguk lalu dia bercerita kepada semua nya... semuanya dari cibiran Clarissa terhadapnya hingga apa yang di ungkapkan Clarissa terhadapnya.
"Oh..jadi Clarissa itu gadis yang duduk di sebelah nak Yola saat wisuda ..?," tanya pak Darmais.
"Iya pak...makanya dia acuh terhadap bapak dan ibu karena merasa keluarga suamiku yang jelek dan kampungan," sahut Yolanda menjawab pertanyaan pak Darmais.
"Ooh makanya dia menangis pas lihat Kaka memeluk kak Bara," sahut Misye sambil memijat kaki Kaka iparnya.
"Iya..ya...!.," sahut Yolanda sambil mengangguk mendengar semua kebenaran itu.
"Maafkan Bara Opa, papa dan mama serta dek Yola.. secara tak langsung aku juga ikut andil atas semua kekacauan ini," kata Bara pelan.
"Tak ada kesalahan yang kau buat..mas Bara," kata mama Nursanti yang di angguki papa Hedrawan.
"Iya..kau juga korban yang tak tau apapun penyebab permasalahan ini," sahut Opa Santosa tersenyum.
Bara yang masih merasa tak enak hanya terdiam di samping istrinya yang kini malah mengusap lembut rambut suaminya.
"Aku percaya mas Bara bukan laki laki semacam itu..," kata Yolanda menenangkan suaminya yang merasa tertekan akibat kebenaran tersebut.
**
Agak siang papa Hedrawan yang tengah berada di depan ruang tunggu anak dan menantu nya bersama keluarga yang lain nampak terkejut dengan kedatangan Tony Wijaya beserta anak dan istrinya.
Sesaat terjadi kekakuan di sana.
"Silahkan duduk mas..," kata Opa yang juga mengenal baik Tony Wijaya.
"Terima kasih Om..," sahut Tony Wijaya sambil duduk di dekat Hendrawan sahabatnya.
"Maafkan kami Hendra...aku sudah tahu semua kejadian ini dan semua kebenaran di baliknya," kata Tony Wijaya kepada Hendrawan.
Papa Hedrawan yang semula dingin mulai membuka diri.
"Tak apa..yang penting anak anakku selamat tak terjadi sesuatu yang berbahaya bagi mereka termasuk calon cucu cucuku..," kata Hendrawan akhirnya, namun itu membuat Clarissa terkejut tapi tak di tampakkannya.
___________
__ADS_1
Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya....