
Malam itu di rumah keluarga pak Darmais terasa sangat hangat.
kedatangan Bara dan istrinya membawa berkah bagi keluarga tersebut.
Bara tampak bercengkerama dengan bapak ibunya di beranda depan.
Sedangkan Yolanda masih asyik melihat keseruan adik adik Bara yang kembali mencoba pakaian dan sepatu yang baru di belikan Yolanda sore tadi.
"Kakak.. terimakasih," kata keduanya yang tak dapat menyembunyikan kegembiraannya.
"Kok terima kasih nya terus," sahut Yolanda tersenyum.
"Iya..dong...kak, habisnya kami jarang banget di belikan barang bagus kayak gini."
"Paling paling kami belinya di pasar, bukan di mall nya."
"Seperti sepatu ini..., biasanya kalau yang ibu belikan bukan yang bermerk terkenal," kata Misye yang di angguki Della.
"Baru kali ini kami punya sepatu bagus bermerk, aku seneng banget kak," sahut Della sambil mendekap sepatu barunya di dadanya.
Yolanda makin terlihat senang, apa yang di lakukannya sangat di hargai.
**
Di beranda pak Darmais dan Bu Romlah serta Bara masih bercakap tentang pekerjaan Bara di kota.
"Selain kuliah yang hampir selesai aku juga kerja di kantor pak."
"Selain itu aku juga menjual beberapa lukisan yang sudah aku buat," terang Bara kepada kedua orang tuanya.
"Syukurlah..Bara kamu bisa berkembang sendiri yang bahkan bapak dan ibu tak menyangkanya," kata Pak Darmais.
"Oh..iya..tadi ibu ketemu si Tatik, suaminya si Tarjo katanya juga pulang kampung," kata Bu Romlah.
"Eh..iya to Bu..?," sahut Bara senang, karena Tarjo adalah salah satu sahabatnya sejak kecil.
"Apakah mereka sudah memiliki momongan Bu..?," tanya Bara.
"Belum.., tapi keduanya memang anak baik dan ibu lihat meskipun sering berpisah mereka tetap rukun rukun saja," sahut Bu Romlah.
Bara mengangguk anggukkan kepalanya.
"Memangnya kapan si Tarjo pulang nya..?."
"Biasanya kalau tau aku pulang dia mampir ke sini," kata Bara.
"Ya..mungkin baru datang kali masih kangen sama keluarga nya," sahut Bapak.
"Baru tadi pagi Tarjo pulang... kata si Tatik..siih...," kata Bu Romlah.
"Yaa..berarti masih...tidur kan kalau naik bus bisa tujuh sampai delapan jam, bahkan pernah sepuluh jam aku dulu," sahut Bara kepada kedua orang tua nya.
"Memangnya kenapa pulang tumben..kan biasanya tiga bulan baru pulang," kata Bu Romlah lagi.
"Yaa..mungkin ada acara di keluarga nya," sahut pak Darmais.
"Soalnya aku dengar dengar keponakan si Tatik kan mau sunatan," kata bapak lagi.
"Lho kapan pak..?, malah ibu belum dengar, biasanya kan undang undang untuk bantu bantu memasak..?," Bu Romlah sedikit kaget, soalnya kebiasaan di kampung bila ada hajatan pasti di ramaikan dan semua tetangga pasti ikut gotong royong (sambatan).
"Mungkin besok pagi pemberitahuan untuk gotong royong masaknya Bu," sahut pak Darmais menenangkan istrinya.
Semua kembali terdiam tanpa suara.
"Memangnya pernikahan mu tak ingin di ramaikan Bara..?," tanya Bu Romlah membuat Bara kaget dan terkejut.
"Aduuh.. bagaimana ini, apa yang mesti aku katakan kepada bapak dan ibu..?, enggak mungkin kan pernikahan ku di ramaikan tanpa kehadiran keluarga Yolanda."
__ADS_1
"Kok malah diam..?," tanya Bu Romlah.
"Kan Bara masih kuliah Bu..biar lulus dulu," kata Bara akhirnya.
Pak Darmais dan Bu Romlah hanya manggut-manggut mendengar penjelasan anakknya.
Memang benar itu bisa dijadikan alasan tapi sebenarnya banyak juga kan yang masih kuliah sudah menikah.
Hari makin larut sudah mau pukul sembilan malam.
Bu Romlah sudah memanggil Misye dan Della.
"Misye ...!! Della...!!," teriak Bu Romlah.
Misye dan Della yang masih mengobrol dengan Kaka ipar segera beranjak bangun mereka sudah hafal apa tugasnya...paling paling bantu ibu menutup warung kelontong nya.
"Sebentar ya ..kak.., aku bantu ibu menutup warung," pamit Misye dan Della kepada Yolanda.
Bara masuk ke dalam rumah disaat ibu dan adik adiknya menutup pintu.
"Sayang...kok kamu enggak pakai baju panjang..dingin lho nanti," kata Bara yang melihat istrinya memakai gaun tidur lengan pendek warna terang.
"Aku enggak bawa baju tidur lengan panjang mas."
"Karena aku enggak nyangka di sini sedingin ini," kata Yolanda.
"Ya... namanya juga di kaki gunung."
"Nanti pakai kaos lengan panjang mas Bara mau..?," kata Bara menawarkan.
Yolanda mengangguk tersenyum simpul.
"Nanti kalau mau bobok aja ya mas.."
"Memang mau bobok kapan..? ni udah malam..lho?," tanya Bara.
"Mas Bara mau bobok kapan..?, aku enggak mau di kamar sendirian..sereemm."
"Pokonya serem.. sendirian," sahut Yolanda lagi.
"Ya udah..ayuuk aku temani," sahut Bara sambil menggandeng tangan istrinya menuju kamarnya.
"Lho...kakak mau kemana ..? sahut Misye dan Della melihat Yolanda sudah di gandeng kakaknya.
"Kak Yola biar tidur, dari subuh tadi belum sempat istirahat," kata Bara kepada adik adiknya yang kini pada cemberut karena keasyikan meraka berakhir.
Yola bagai anak kecil menurut saja karena memang benar juga... badannya.. lelah.
Kasur sudah rapi sejak Bara pulang malam kemarin.
Yolanda sudah berbaring di ujung tempat tidur yang menempel di tembok.
Bara masih membuka lemari nya mencari cari sesuatu.
"Lho kok sudah baring..ini kaos di pakai dulu..," sahut Bara.
"Entar..gerah..kalau pakai baju tumpuk tumpuk..," sahut Yolanda pelan memanyunkan bibirnya.
"Gaun nya di lepas aja, lagian kalau pakai gaun kayak gini pas bobok kesingkap gimana..?," Bara sudah mulai jahil menggoda istrinya.
Yolanda langsung memerah pipinya.
"Eeh...kesingkap juga enggak pa pa..kan paling paling mas Bara yang liatin.," goda Bara lagi.
"Ish...mas Bara mesum..," pelan Yolanda berkata namun dengan suara yang manja.
Yolanda bangun dari baringnya berniat mengganti gaunnya dengan kaus dan celana training yang milik Bara biar hangat.
__ADS_1
Bara masih masih duduk di pinggir tempat tidur tersebut dan menghadap ke arah lain, saat Yolanda mulai menerima sepasang kaus tersebut.
Entah karena tergesa atau apa saat Yolanda melepaskan gaun yang ada resleting nya, rambutnya nyangkut di gaun yang sudah di lepasnya.
"Ish....iihh..uuh..," terdengar Yolanda malah kasak kusuk sendiri.
"Sudah belum...?," tanya Bara.
"Ini malah nyangkut mas," kata Yolanda pelan.
Bara membalikan badan nya.
Jreeeeng..
Sesaat mata bara terbelalak melihat Yolanda hanya menggunakan Bra dan panty sedangkan gaunnya sudah di lepas tapi masih nyangkut di ujung rambut nya.
"Mas Bara....bantuin.. ,"rengek Yolanda yang tak menyadari suaminya masih melongo melihat keindahan pemandangan di depannya.
Bara beringsut naik ke atas ranjang mendekat ke arah Yolanda yang makin terlihat aduahi.
Bara mencoba melepas lilitan rambut di resleting gaun dengan tangan gemetaran.
"Ngapain sih..mas..kok malah kelamaan..cepetan," kata Yolanda yang melihat tangan mas Bara nya gemetar.
"Sebentar sayang...," kata Bara dengan suara parau.
"Tapi cepetan keburu dingin..," kata Yolanda terdengar manja di telinga Bara.
"M..m..makanya.. mas Bara gemetaran karena lihat kamu seperti ini.... sayang," kata Bara makin parau karena hasrat nya sudah meluber..
"Aaaaaa...!!.," Yolanda yang menyadari itu spontan berteriak sambil menyilangkan tangan dan kakinya.
Teriakan keras Yolanda membuat seisi rumah kaget, pak Darmais dan Bu Romlah langsung mengetuk pintu kamar Bara.
Tok.. tok..tok...
"Bara ..!! ada apa...??."
Terdengar suara pak Darmais dan Bu Romlah bersamaan.
"Ada kecoak kok Bu...," teriak Bara dengan dada berdebar.
"Ni sudah ke tangkap."
Yolanda menutup mulutnya sendiri dengan tangannya.
"Maaf mas....aku kaget..," pelan Yolanda berbisik di dekat Bara yang kini sudah tak menggubris apapun.
Malah menarik tubuh Yolanda ke dekapan nya.
Yang entah sejak kapan sudah terbebas dari lilitan rambut di resleting gaun nya.
Kini bahkan gaun itu sudah teronggok di pinggir ranjang
Yolanda yang hanya menggunakan Bra dan panty..hanya menurut apa yang di lakukan Bara.
Keduanya tanpa di sadari sudah menyatukan bibir mereka, saling m*lum*t bertukar Saliva.
Tangan Bara sudah menjelajahi seluruh bagian tubuh yang hampir polos tersebut.
Mempermainkan bukit kembar istrinya yang masih terbungkus dengan tegak dan nampak indah.
Bara sudah membuka kaos yang di pakainya hingga tampaklah tonjolan tonjolan otot di perut dan lengannya membuat Yolanda yang merabanya makin terbakar gairah.
Dengan segera Bara melepas celana pendeknya..membuang ke sembarang arah.
Tampaklah makin gagah Bara dengan bokser serta si Mr P yang masih terbungkus namun sudah nampak mekar.
__ADS_1
___________
Maaf ya... mungkin sedikit panas di chapter ini...