Aku Lebih Mencintaimu

Aku Lebih Mencintaimu
Eps 92 Rencana Yolanda


__ADS_3

Tuan Hendrawan masih menonton Video rekaman kejadian di apartemen dengan di dampingi asistennya pak Budiman dan juga asisten dari pak Budiaman yaitu pak Beni.


"Ini ada yang aneh...masak iya ..ada orang manggil perempuan nakal terus ada yang memvideokan jika bukan di sengaja," kata tuan Hendrawan.


"Kecuali dari hasil pengamatan CCTV itu baru benar..," gumam tuan Hendrawan lagi.


"Benar juga apa yang tuan katakan, lagian nampak sekali wanita ini menatap kamera di sesion terakhir," kata pak Budiman meyakinkan tuan Hendrawan.


"Ini menandakan kejadian ini seakan di sengaja atau di buat buat ," sahut pak Beni.


"Aku kok jadi curiga....ada yang ingin 'mengail di air keruh' dalam hubungan anakku dengan pemuda itu.," kata tuan Hendrawan.


Kedua asistennya hanya diam saja, mereka tak berani mengungkit pernikahan dari anak tuan Hendrawan yaitu nona muda Yolanda, yang juga direktur keuangan kantor pusat yang kekuasaannya tak tersentuh dan sangat luas bagi Santosa Group.


"Bagaimana dengan kartu debit tersebut..?," tanya tuan Hendrawan.


"Sama sekali tak berkurang tuan," kata Pak Beni yang dulu menjadi atasan Bara.


"Hmm...menarik juga anak itu..?," gumam tuan Hendrawan pelan namun masih bisa di dengar oleh pak Budiman dan pak Beni.


Kedua asistennya itu hanya diam saling pandang.


Keduanya merasa paling berkaitan langsung apabila menyangkut masalah Bara, karena merekalah yang merekomendasikan Bara kepada tuan Hendrawan untuk menjadi 'pengantin bayaran' kala itu.


"Benar kartu debit nya tak berkurang..?," kembali tuan Hendrawan bertanya.


"Benar tuan...semua masih utuh... dari saldo awal tuan memberinya, hingga penambahan tiap bulannya masih utuh tak di sentuhnya," kata pak Beni yang kini bingung memanggil Bara dengan panggilan apa.


Dahulu pak Beni hanya memangil Bara dengan namanya langsung, kemudian panggilan itu di ganti tuan muda saat mulai akan menikah dengan nona muda Yolanda dan kini ...semua bingung mau memanggil Bara apa.. cukup Bara...atau masih tuan muda.


"Sambungkan aku dengan atasan langsung anak itu... di Santosa Propertindo, aku ingin tahu kegiatan apa saja yang di lakukan anak itu di kantor setelah aku usir dari apartemen," kata Tuan Hendrawan kepada asistennya.


"Baik tuan..," sahut pak Budiman lalu menghubungi Bu Ratna lewat ponsel kantor.


**


Pagi itu bagian marketing dari Santosa Propertindo masih melakukan rapat kecil.


Rapat yang hanya di hadiri dari anggota divisi itu, dan itu sudah merupakan kegiatan rutinitas termasuk laporan mingguan.


"Bagaimana laporan perkembangan divisi kita..?," tanya Bu Ratna kepada anak buahnya.


"Di banding minggu minggu yang lalu kita sudah mengalami penurunan, target mingguan kita tak tercapai Bu," lapor pak Jupri kepada atasannya di divisi tersebut.


"Entah ini apa ada hubungannya dengan mas Bara apa tidak..tapi menurut data ini memang mengalami penurunan dalam minggu minggu ini," kata Bu Susi marketing paling senior tersebut.


"Dari bagian pembebasan lahan juga mengalami kendala karena kita kesulitan bernegosiasi dengan pemilik lahan," sahut Tomy.


"Harus kami akui Bu ...Bara memang pandai mendekati pemilik lahan, dia punya beribu cara untuk membuat pemilik lahan mau melepas lahannya," kata Saiful menimpali.


"Memang tak ada yang semenarik Bara di sini," celetuk Nikita.


"Issh..kamu itu malah ngomongin apaan sih," sahut Jesika.

__ADS_1


"Iyaa..nih Nikita ngaco..deh..," sungut Tantri.


"Lah..kan bener kan...di sini enggak ada yang semenarik Bara..dalam segala hal," kata Nikita masih ngeyel.


"Memang benar...sih apa yang di bilang Nikita ...gak ada yang setampan dik Bara di sini.," sahut Bu Ratna seakan mengungkap kan isi hatinya tanpa di sadari nya.


"Hah..????," semua terkejut saling pandang mendengar perkataan atasan di bagian marketing tersebut, namun tak ada yang berani berkata apapun.


Saat semua terdiam tiba tiba ponsel kantor berdering.


Drrt... drrt....


Bu Ratna langsung mengangkat telpon tersebut karena tahu telpon tersebut dari kantor pusat.


"Selamat siang..dengan Ratna kepala bagian divisi marketing, apa ada yang bisa kami bantu..?," greeting dari Bu Ratna di telpon.


"Ya..Bu..ini dari pak Budiaman asistennya tuan Hendrawan."


"Tuan Hendrawan mau berbicara dengan bu Ratna," sahut pak Budiaman yang sontak membuat jantung Bu Ratna berdebar kencang.


Terdengar ponsel sudah di ambil alih owner Santosa Propertindo yang juga CEO di kantor pusat tersebut.


"Selamat siang pak Presdir ini dengan Ratna kepala bagian divisi pemasaran," sapa Bu Ratna.


"Ya.. Bu Ratna, saya ingin menanyakan tentang Bara anak buahnya Bu Ratna," kata tuan Hendrawan.


Deeg...


"Maaf tuan Hendrawan ....pak Bara sudah satu minggu ini resign dari Santosa Propertindo," sahut Bu Ratna yang belum mengetahui apapun permasalah yang sudah terjadi.


"Ohh..," tuan Hendrawan nampak kaget namun kemudian buru buru menjaga sikapnya.


"Ya. sudah bu kalau begitu, terima kasih," kata tuan Hendrawan sebelum menutup telponnya.


"Ya tuan..sama sama ," balas Bu Ratna masih dengan kebingungan.


**


Bara masih berkutat dengan pekerjaannya yang sekarang yaitu membuat karya lukisan di salah satu ruangan galeri.


Sesuai usulan dari Om Jhon bahwa istilahnya sekarang Bara tak lagi menjual lukisan secara eceran.


Dalam artian lukisan Bara kini tak lagi di setorkan ke pak Musri maupun temannya Bu Ratna yang bernama Bu Patrice yang merupakan pengembang dari perusahaan lain.


Namun baik pak Musri maupun Bu Patrice hanya di berikan contoh hasil jadi....satu lukisan untuk para peminat nya.


Dan untuk lengkapnya bisa melihat dari galeri ponsel....namun jika ada waktu maka sang peminat langsung di ajak ke galeri sesuai usulan Om Jhon.


Bara sudah sangat jarang keluar dari lingkungan galeri, selain malas juga hati nya masih sedikit kecewa dengan kehidupan kini.


Bagaimana pun sebagai manusia biasa, peristiwa kejadian saat ini sudah mengakibatkan rasa sakit, yang di rasakan nya melebihi semua kekecewaan dan rasa sakit yang pernah di alaminya.


Apalagi Yolanda yang tak pernah sedikitpun menghubungi nya, membuat Bara berfikiran istrinya sudah melupakan nya.

__ADS_1


Bara merasa makin terpuruk.


Pak Karmin yang merupakan petugas di galery tersebut, selalu membantu dan menyiapkan semua yang di butuhkan Bara, mulai dari kebutuhkan sehari hari maupun kebutuhan kelengkapan melukis.


Bara benar benar bagai di telan bumi untuk dunia luar.


"Mas Arjun mau belanja apa saja untuk minggu ini," kata Pak Karmin yang juga sudah biasa hidup sendiri karena istrinya juga tinggal di desa.


"Seperti biasa aja pak..," sahut Bara pelan sambil tiduran di kursi malam bila tidak sedang melukis.


"Ni...saya sudah mencatat..beras, mie instan, telur, daging ayam, bumbu dapur, sedikit sayur sayuran..terus apa lagi..?," kata pak Karmin yang juga bertugas menjadi juru masak di belakang galeri tersebut.


"Terserah pak Karmin aja, yang penting pak karmin bisa memasaknya jadi tak mubazir," sahut Bara karena merasa kebutuhan untuk melukisnya sudah lengkap sejak seminggu yang lalu.


**


Yolanda makin gelisah sudah lebih dari seminggu tak bertemu dengan orang yang sudah sangat di cintainya itu.


Usaha yang di lakukan untuk mencari keberadaan sang suami belum membuahkan hasil apapun.


Pak Bandi yang secara sembunyi sembunyi di minta untuk mencari keberadaan Bara, belum juga mendapatkan apapun.


Bara bagai di telan Bumi, tak terlacak keberadaanya.


"Apa..mungkin mas Bara pulang kampung...?," monolog Yolanda kepada dirinya sendiri.


"Tak mungkin...mas Bara bukan lelaki pengecut..yang mudah menyerah..karena bila ke kampung malah akan membuat bapak dan ibu bersedih," jawab Yolanda sendiri.


Yolanda duduk di tepi tempat tidurnya masih berpikir keras, dimana kira kira keberadaan suaminya tersebut.


"Ahaaa...!!," teriak Yolanda sedikit keras membuat pelayan wanita yang selalu menjaga nya ikut terkaget kaget.


"Uupss..," Yolanda menutup mulutnya.


"Maaf ..non..apa membutuhkan sesuatu..?," tanya pelayan wanita tersebut.


"Eeh...nggak kok, aku hanya senang saja teringat sesuatu," kata Yolanda.


"Ooh.."


Yolanda teringat akan galeri Om Jhon, "mungkin Om Jhon tahu keberadaan mas Bara..," gumam pelan Yolanda.


Ya..Yolanda berencana kabur dari rumahnya dan tujuan utamanya adalah galeri lukisan Om Jhon.


"Sekarang tinggal memikirkan bagaimana cara bisa keluar dari kamar dan rumah utama ini, tanpa menimbulkan kegaduhan," batin Yolanda.


____________


**Maaf readers sekalian hari ini...sedikit pendek...masih perjalanan...balik...


Tetap...dukung karyaku...ya..


Makasih**.....

__ADS_1


__ADS_2