Aku Lebih Mencintaimu

Aku Lebih Mencintaimu
Eps 68 Rencana Usaha


__ADS_3

Bara mengajak Yolanda jalan jalan di kebun belakang rumah.


Menikmati indahnya udara pagi di sana.


Melewati empang yang kemarin habis di panen ikannya, kini tempat tersebut masih di keringkan agar unsur unsur hara yang ada di tanah lebih bagus saat nanti di buat penyebaran bibit baru.


Mereka duduk duduk di gubug dekat empang melihat suasana pagi yang masih sedikit gelap dengan udara yang sangat segar.


"Ini sampai belakang sana masih tanahnya bapak mas..?," tanya Yolanda memecah ke heningan.


"Iya.."


"Kenapa empang nya cuma satu..? padahal tanah ini begitu luasnya, coba kalau ada banyak dan di kelola secara profesional pasti akan sangat menguntungkan dari sisi pendapatan," kata Yolanda yang ahli keuangan itu.


Bara tersenyum mendengar perkataan istrinya.


"Oh..iyaa..ya..waah..kamu memang pintar sayang, kenapa aku tak pernah berfikir sejauh itu."


"Coba saja jika tempat ini ada banyak empang, terus aku buat minimal dua belas empang pasti tiap bulan sekali akan panen ikan," kata Bara sambil tersenyum seakan mendapatkan ide yang cemerlang.


"Dan apabila tempat ini di jadikan tempat wisata karena tanah nya yang luas pasti akan sangat menguntungkan," kata Yolanda lagi.


Bara kemudian memeluk istrinya, mengecup pipi.


"Kamu memang cerdas sayang., akan mas Bara pikirkan dan realisasikan semua yang ada di pikiran mu, karena mas Bara juga ingin menjadi pengusaha yang sukses."


"Nanti mas Bara akan berembug dengan Bapak," kata Bara lagi.


Keduanya masih mengelilingi tanah yang luas itu.


"Tanah di sini masih sangat murah bahkan permeter nya tak sampai satu juta jika bisa membebaskan tanah yang di sana, kemudian nanti bisa di jadikan taman yang berbasis perikanan dan peternakan juga perkebunan maka bisa menghasilkan pendapatan yang lumayan." kata Bara pelan.


Mereka masih berjalan mengelilingi kebun yang sangat luas tersebut, hingga akhirnya Misye dan Della menyusul nya.


"Iih..kakak Yola.. jalan jalan kok nggak ajak kita..?," sahut kedua adik Bara sedikit cemberut.


"Kalian tadi masih bantu bantu ibu, makanya kak Yola ajak mas Bara ke sini ," kata Yola sambil tersenyum.


Mereka berempat berjalan jalan kembali mengitari tempat tersebut.


Bara yang bagai mendapat pencerahan atas perkataan Yolanda, masih berdiri di sudut batas tanah milik bapaknya.


Memandang dan mulai menghitung berapa banyak kebutuhan yang di gunakan untuk membangun sebuah arena bermain yang berbasis perkebunan dan peternakan perikanan.


Selama di Santosa Propertindo, Bara lah yang biasa menaksir harga tanah, lokasi maupun pembangunan serta penjualan sebuah lokasi perumahan jadi baginya bukan hal yang susah untuk mengira ira berapa dana yang di habiskan untuk mewujudkan impian yang baru muncul atas ide istrinya itu.


"Oh...iya kak..kami kesini ini karena di minta ibu memanggil kalian untuk sarapan kok malah ikut jalan jalan," sahut Misye terkikik geli.

__ADS_1


"Iyaa..," sahut Della juga sambil tersenyum.


"Ayuuk..," kata Bara sambil menggandeng tangan Yolanda.


"Ishh...Kaka ini... gandeng gandengan terus ," sungut Misye melihat kemesraan keduanya.


"Kan sama suami sendiri enggak pa pa," sahut Yolanda.


"Kami sudah dewasa..suami istri, sudah kewajiban kak Bara gandeng istrinya,..kalau kak Yola terpeleset jatuh gimana..?, kan kakak yang salah enggak jagain istrinya," sahut Bara panjang lebar kepada adik adiknya.


Menasehati keduanya tentang tanggung jawab di kehidupan dan semua permasalahannya memang selalu Bara ajarkan kepada adik adiknya meskipun sedikit demi sedikit.


Mereka berempat sudah sampai di rumah di mana bapak dan ibu sudah menunggu anak anaknya untuk sarapan pagi.


Mereka makan bersama di meja makan, sesuatu yang bagi Yolanda sangat sederhana namun penuh kehangatan keluarga dan menyenangkan.


**


Hari itu minggu pagi, semua libur menikmati suasana dengan santai.


Pak Darmais nampak duduk di beranda dengan di temani Bara.


Bu Romlah masih ke pasar berbelanja semua kebutuhan warung yang mulai habis.


Yolanda masing bercanda dengan kedua adik iparnya di kamar Misye yang paling luas.


"Pak..tanah sebelah luas itu punya siapa sih pak..?," tanya Bara kepada bapaknya.


"Sebelah kiri tanah kita yang dekat dengan aliran parit," kata Bara.


"Ooh..itu kepunyaan mbah Wongso..kenapa emang..?."


"Enggak ..pa pa.."


"Berapa duit sih pak .. harga tanah di sini..?," tanya Bara lagi.


"Masih murah sih..paling lima ratusan bahkan masih bisa di tawar lagi."


"Kebetulan memang tanah itu mau di jual..," kata pak Darmais.


"Haah..beneran pak..?."


"Iyaa..sudah ada yang nawar tiga ratus lima puluh permeter nya," kata pak Darmais.


Jantung Bara makin berdebar kencang.


"Ya.. Allah..semoga tanah itu bisa aku beli..bisa aku jadikan tempat usaha yang barokah untuk keluarga ku.."

__ADS_1


Bara merasa mungkin ini rezeki baginya, baru saja di angannya mau membuka usaha dengan membebaskan tanah tersebut kini malah ada berita tanah tersebut mau di jual.


"Berapa sih pak luasnya..?."


"Total ada tiga hektar, sementara yang di jual satu hektar yang dekat dengan tanah kita, memanjang ke belakang," kata pak Darmais menjawab pertanyaan anakknya.


"Tapi sangat sulit menemukan pembeli yang mau membeli tanah seluas itu, yang nawar tiga ratus lima puluh itu aja mau beli seperempat aja, makanya belum boleh."


"Kata mbah Wongso sih kalau satu hektar mau di lepas tiga ratus permeter nya," kata pak Darmais lagi.


"Berarti 3M ya pak..?," kata Bara.


Pak Darmais menganggukan kepalanya.


Yolanda yang kebetulan lewat di sana mendengar sekilas omongan suami dan Bapak mertuanya.


"Berapa mas harganya..?," kata Yolanda yang langsung duduk di samping Bara.


"Tiga M..,"sahut Bara pelan karena angannya kembali buyar sebab uang di tabungannya dari gaji dan penjualan lukisan paling hanya satu milyar itupun karena kemarin di borong oleh beberapa pembeli rumah baru dari sebuah kluster di kawasan x konsumen dari Santosa Propertindo.


"Ambil saja mas..kan bisa buat usaha seperti kata ku tadi," sahut Yolanda.


"Mas Bara enggak ada uang segitu ," kata Bara pelan.


"Aku bisa tanam saham..," sahut Yolanda serius namun Bara masih tak menanggapi nya serius.


"Aku yang beli tanahnya mas Bara nanti yang membangunnya..," kata Yolanda serius berbisik lirih kepada suaminya.


Pak Darmais yang mendengar kasak kusuk kemudian bertanya.


"Ada apa ya..nak Yola..?."


"Beneran pak harga tanah satu hektar jadi tiga Milyar..," tanya Yolanda.


Pak Darmais menganggukkan kepalanya.


"Kita beli pak..," sahut Yolanda tegas sampai pak Darmais ternganga begitu pun dengan Bara.


"Sayang kamu serius...?," tanya Bara masih dengan keterkejutan nya.


Yolanda menganggukkan kepalanya, kemudian bercerita kepada pak Darmais tentang gagasannya dan sang suami untuk membuka obyek wisata perorangan di sana.


Pak Darmais kembali ternganga begitu mendengar menantu dadakannya itu mengutarakan panjang lebar tentang rencana atau planning dari anak dan menantunya.


Pak Darmais tak bisa menyembunyikan kekaguman atas kepintaran istri anaknya itu dalam menjabarkan sekilas gambaran dari rencana anak dan menantunya tersebut.


"Aku yang beli tanahnya mas Bara yang bangun tempat nya..tak usah langsung jadi, mulai dari yang paling urgen dari tempat wisata misalnya kolam renang dan taman kecilnya," sahut Yolanda yang makin membuat pak Darmais kaget dan menganga.

__ADS_1


__________


Masih...baca kan...jejaknya ..ya...


__ADS_2