
Pagi hari itu Bara bekerja seperti biasa, tak ada yang istimewa dengan pekerjaan nya.
Prososal pembebasan lahan, jumlah lahan yang siap di kerjakan, properti yang mulai finishing dan properti yang siap di pasarkan semua laporannya sudah menumpuk.
Yang luar biasa baginya adalah jumlah pesanan lukisan yang kian banyak.
"Pak Bara nanti ke kantor saya," kata Bu Ratna pagi itu.
"Iya Bu."
Setelah sedikit longgar Bara pun ke kantor Bu Ratna.
"Duduk dulu dik.."
"Ada apa ya..mbak..?."
"Bisa enggak dik Bara memberikan sampling lukisan dalam minggu minggu ini..?."
"Lho..bukannya masih ada mbak beberapa contoh lukisan di kantor ini..?," sahut Bara.
"Itu kan buat perusahaan ini.," kata Ratna.
"Ini buat di luar perusahaan ini."
Bara masih bingung belum mengerti maksud dari perkataan atasan langsungnya.
"Begini dik..teman ku dari perusahaan lain mau mencoba meniru terobosan yang kita buat, mereka mau membeli lukisan dik Bara..," kata Ratna menerangkan.
"Benarkah..?."
"Benar.."
Bara makin senang hatinya meskipun itu berarti waktunya akan benar benar sibuk, karena harus membuat banyak pesanan lukisan.
"Kapan waktu nya kira kira saya harus menyerahkan lukisan itu..?."
"Sekitar dua mingguan.."
"Baik saya sanggup mbak..," kata Bara.
"Tapi...ada syaratnya lho..dik..," kata Ratna sedikit kagok.
"Apa itu..?."
Ratna mulai sedikit ragu.
"Katakan saja mbak.."
"Kami minta keuntungan dua puluh persen, buat aku dan temanku..bagaimana..?," kata Ratna akhirnya.
Bara tersenyum mendengar syarat itu.
"Kirain apa mbak syaratnya...," sahut Bara sambil tersenyum.
"Memangnya apa ...menurut dik Bara..?."
Bara cuma kembali tersenyum.
"Setuju...mbak.."
"Ok..deal," sahut Ratna sambil mengulurkan tangannya.
"Deal.." kata Bara sambil menjabat tangan atasannya tersebut.
"Nanti dua puluh persen ini kami bagi sepuluh buat aku sisanya buat temanku yang akan menawarkan di perusahaannya."
Bara senang, hari ini pemasukan dari pekerjaan sampingan nya makin banyak...semoga.
__ADS_1
"Aku harus bekerja keras lagi, selain makin banyak yang harus aku buat, juga harus makin berkualitas produk yang aku bikin." batin Bara.
Benar juga pemikirannya..coba saja kalau kualitas produk yang kita buat makin bagus kan kita tak perlu mengejar kwantitas yang banyak, cukup satu atau dua dengan harga yang sepadan dengan puluhan produk yang sama...lebih mengirit tenaga kan..?
Siang sudah menjelang semua pekerja sudah waktunya untuk ishoma.
Teman teman Bara sudah mulai beranjak ke kantin.
"Bos..ikut ke kantin enggak..?," teriak Bondan.
Bondan dan yang lain kini makin segan dengan Bara semenjak mengetahui Bara menantu dari Santosa Group, meskipun Bara sudah berpesan bekali kali.."Aku hanya karyawan seperti kalian," begitu katanya, namun mereka masih saja suka memanggil dengan sebutan "Bos".
"Iya.. sebentar..kalian duluan entar aku nyusul," sahut Bara yang Kembali merapikan berkas berkasnya.
**
Di kantor pusat.
Yolanda masih meneliti laporan keuangan dari beberapa anak cabang yang masuk.
Bersama dengan pak Johan di bantu Diana.
Mereka bertiga nampak serius membaca, meneliti semua laporan itu, meskipun sebenarnya sebelum sampai di meja Direktur keuangan semua itu sudah di teliti oleh manager keuangan beserta stafnya.
Tiba -tiba tuan Hendrawan datang ke ruangan Yolanda.
Bagaimana pun dua hari tak melihat dan bertemu dengan anaknya membuatnya merindukannya.
Tok..tok ..tok..
Cekleek..
"Oh..Pak Direktur...mari masuk..," sapa pak Johan dengan sopan.
Diana sudah beringsut berdiri memberi ruang tuan Hendrawan untuk duduk di kursi ruang direktur keuangan.
"Papa..," kata Yolanda pelan.
Yolanda mengangguk.
"Nanti aku akan ke ruangan papa bila pekerjaan ini sudah usai," kata Yolanda tegas.
"Baiklah papa tunggu.."
Tuan Hendrawan kemudian meninggalkan ruangan tersebut.
Yolanda menghela nafasnya.
"Pasti papa mau ngebahas masalah aku ikut mas Bara...tak apa aku akan mulai mengambil sikap."
Kedua bawahan Yolanda hanya memandang Direktur keuangannya yang nampak menghela nafas, tak ada yang berani bertanya kepada pimpinan di divisinya itu.
*
Agak siang pekerjaan di bagian keuangan sudah sedikit berkurang, Yolanda berniat untuk menemui papanya di ruang direktur utama dari kantor pusat tersebut.
Yolanda berjalan menuju ke arah ruangan papa nya berkantor.
Tok..tok..tok..
"Masuk.."
Cekleek..
Yolanda memasuki ruang itu dengan hati yang berdebar-debar, karena pasti akan terjadi perdebatan panjang nantinya.
"Kemana dua hari ini..?," tanya papanya sedikit ketus.
__ADS_1
"Aku ikut suamiku pulang ke desanya," jawab Yolanda dengan lugas.
"Apa..?? suami...??."
"Memangnya kamu tak tahu siapa dirinya..?."
"Maksud papa apa..?, toh secara resmi kami menikah dengan di saksikan oleh para saksi yang sah..dan tercatat di negara dengan sah."
"Jadi kami suami istri yang sah di mata agama dan negara," kata Yolanda dengan tegas.
"Kamu tak pantas untuk nya.."
"Apa yang menurut papa bisa membuat kepantasan dalam sebuah pernikahan..?."
"Harta..?."
"Kekuasaan..?."
"Ataukah perasaan tulus saling mencintai menyayangi dan mau menerima apapun dari pasangan kita.," kata Yolanda berturut turut.
"Laki laki ..itu..mengejar hartamu..!," teriak tuan Hendrawan sedikit meninggi.
"Papa salah.."
"Papa tidak salah...pasti lelaki itu sudah mencuci otakmu dan mulai menjeratmu untuk menggerogoti harta kita," kata tuan Hendrawan lagi masih dengan sedikit pedas.
"Terserah anggapan papa..yang jelas bagiku dia lelaki yang baik, mau menerima diriku apa adanya."
"Dan yang terpenting..aku merasa nyaman bila bersamanya."
"Dan papa salah bila menganggap nya lelaki yang gila harta..," kata Yolanda lagi dengan berapi api.
**
Ditempat yang lain lagi.
Nampak keluarga Wijaya sedang terjadi ketegangan.
Penyebabnya apalagi kalau bukan ulah anaknya si Leon.
"Kamu ini anak lelaki tapi tak bisa di andalkan.."
"Selalu mengacaukan apa yang sudah papa rencana kan dengan baik."
"Tingkah polah mu semua tak pakai otak..hanya menuruti naluri hewan mu," bertubi-tubi tuan Wijaya memarahi anaknya.
Leon hanya tertunduk saja, tak berani bersuara apapun.
"Lihat adikmu..yang perempuan saja bisa bekerja dengan baik, kamu malah yang laki laki bisanya hanya menghambur hamburkan uang saja," bentak tuan Wijaya lagi.
"Seandainya kamu mau menurut pasti sekarang kita bisa menguasai harta Santosa," pelan tuan Wijaya berkata penuh penyesalan.
"Aku akan mendapatkan Yolanda kembali Pa," sahut Leon masih dengan percaya diri.
"Buktikan saja kalau kamu sanggup mengalahkan anak kampung itu," sahut tuan Wijaya.
"Aku pasti sanggup, aku sudah punya bukti bukti yang bisa menjatuhkan nya," sahut Leon merasa sangat yakin dengan rencananya.
"Aku punya kartu As yang bisa membuat Om Hendrawan dan Tante Santi menendang nya," batin Leon dengan tersenyum tipis merasa rencananya pasti berhasil.
"Lakukanlah rencana mu agar hubungan persahabatan kami kembali lagi," kata tuan Wijaya dengan masih kesal sambil pergi meninggalkan anaknya.
____________
**Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya...
Baca juga karya lainku
__ADS_1
* Sang Pengacau (silat)
* Jagoanku ternyata CEO (roman**)