Aku Lebih Mencintaimu

Aku Lebih Mencintaimu
Eps 89 Kemarahan


__ADS_3

Setelah memilih kado yang di sesuaikan dengan anak seusianya, Bara dan Yolanda meninggalkan pasar yang berada dekat dengan lokasi bekas sekolahnya.


"Waduh..sudah siang ...beli pisangnya di mana..?," gumam Bara kebingungan sambil senyum senyum sendiri.


Wajar kan Bara bingung karena enggak pernah belanja di pasar tersebut.


"Di toko buah aja mas..," usul Yolanda kepada suaminya.


"Bener juga usulanmu sayang..," sahut Bara lalu melajukan mobilnya mencari toko buah buahan yang menjual buah pisang yang bisa di olah semacam pisang kepok atau pisang tanduk...bukan pisang meja.


Meskipun mereka sudah berkeliling namun tak juga menemukan pisang yang di maksudnya.


"Kalau tak menemukan kita belikan di kota aja mas.."


"Ya..gitu... terpaksa nya.." sahut Bara sambil memutar balik mobilnya menuju ke arah rumah.


Tak berapa lama mobil sudah sampai di halaman rumah.


"Loh..kok baru pulang..? Tarjo sama Tatik aja udah pulang dari tadi..," sahut Bu Romlah yang melihat anak dan menantu baru pulang.


"Habis nyari kado buat keponakan Tatik, sekalian mau cari pisang di pasar buat oleh oleh Bu..," jawab Bara.


"Tapi pisang nya enggak dapet.. adanya pisang buah," sungut Bara.


"Pisang..? lha barusan tadi .. Tarjo ke sini ngasih kamu pisang," kata Bu Romlah.


"Beneran..Bu..? waah kebetulan dong.., gak jadi cari cari lagi," kata Bara sambil tersenyum senang.


"Ya..udah kalau gitu kami ketempat Bu Kohar dulu Bu..habis itu mau siap siap, biar entar sore nggak repot tinggal berangkat aja," pamit Bara kepada ibunya.


"Ya..Ibu tadi juga barusan ke sana kondangan (kasih amplop ke yang punya hajatan)," sahut Bu Romlah.


**


Flashback on acara reunian.


Sepeninggalan Bara dan istrinya, teman teman nya pada heboh.


Mereka pada membicarakan tentang Bara.


"Waah..Bara ternyata sudah jadi orang sukses," kata teman A.


"Iya... mobilnya aja..bagus banget," sahut teman B.


"Istrinya juga cantik banget..aku kira tadi artis yang di undang buat ngisi acara," sahut teman C.


Tarjo dan Tatik yang kebetulan mau pulang dan lewat di depan teman panitia malah di panggil sama Dimas yang mulai kepo tentang Bara.


"Jo..Tarjo...! sini dulu ..Jo..!," panggil Dimas.


"Apaan sih Dim..?," sahut Tarjo.


"Emang sekarang Bara kerja di mana sih..?," tanya Dimas kepo ketika Tarjo sudah dekat.


"Mana gue tahu..? gue aja jadi kuli..di kota dan ini...pas kebetulan pulang karena keponakan istri sunatan," kata Tarjo apa adanya.


"Enggak...kok sekarang kelihatan... kaya banget sih..?," tanya Edo yang mulai minder.


"Kayak istrinya juga anak orang kaya ya..?," kata Vivi pelan.


"Banget ...," sahut Tatik.


"Kemarin aja non Yola istri Bara itu, baru aja beli tanah seharga 3 M..," sahut Tatik.


"Haah..??? berapa Tik..??," tanya Vivi.


"Tiga Milyar..!!, seru Tatik.


"Cck... cck... hebat ya.. mereka masih merendah...padahal sudah jadi milyarder...bukan lagi jutawan," sahut Revan.


Vivi makin tertohok hatinya.. apalagi Edo...seketika merasa kebanting.. jika di bandingkan dengan Bara.


"Iyaa.. Bara memang sejak dulu hebat.. pinter...nggak songong.. dan ganteng lagi..," pelan Vivi berkata, namun bisa di dengar oleh semua nya.


"Weiiss...mulai niih..," goda Dimas.


"Apaan siiih...," sungut Vivi yang jadi malu karena ketahuan keceplosan isi hatinya.


Flashback off.


**


Om Jhon yang sudah merasa cukup dalam menata galeri berniat kembali ke apartemen.


Hanya tinggal beberapa hal kecil saja yang masih belum beres dan itu semua di pasrah kan kepada pekerja kepercayaanya yang saat ini menempati galeri.


Di bangunan galeri memang masih banyak ruang kosong yang juga bisa di jadikan hunian.


"Miin..Karmin..!," panggil Om Jhon kepada pak karmin, pekerja yang menjadi kepercayaan Om Jhon.


"Aku mau pulang dulu ke apartemen..nanti kalau sudah mau istirahat tolong di beresin semuanya, pintunya di kunci dan gerbang depan di gembok," pesan Om Jhon sebelum pulang, kepada pegawai nya.

__ADS_1


"Ya..tuan biar nanti semua saya urus nya, silahkan tuan Jhonson pulang dan istirahat di apartemen," jawab pak Karmin.


Om Jhon pun meninggal kan galeri pulang ke apartemen karena hari mulai sore.


Beberapa saat mobil Om Jhon sudah sampai di apartemen.


Setelah memarkir mobilnya di samping motor gede kesayangannya, Om Jhon pun naik ke lantai apartemen nya.


Begitu sampai apartemen di lihatnya di depan apartemen sudah ramai orang.


"Eeh..sudah pulang rupanya anak itu," gumam Om Jhon sedikit tersenyum karena ingin mendengar komentar Bara tentang hasil penataan lukisan di galeri.


"Eeh..mana anak itu ..kok tak kelihatan, malah ada orang nampak marah marah...terlihat kesal.. Ooh..mungkin ini mertuanya yang katanya kaya itu...," batin Om Jhon sambil berlalu tak jadi mampir ke apartemen Bara.


**


Bara yang sudah berkemas sejak siang, sore itu sudah berpamitan kepada bapak dan ibu nya.


Semua barang sudah di masukkan ke dalam mobil termasuk pisang pemberian Tarjo... untuk oleh oleh Om Jhon.


"Pak..Bu.. kami pamit kembali ke kota," kata Bara di barengi Yolanda.


"Iya..hati hati.. semoga lancar dan selamat sampai tujuan...kalau ada waktu luang pulanglah," kata Bu Romlah.


"Iya Bu.."


Setelah mencium tangan kedua orang tuanya, mereka meninggal kan rumah pak Darmais diiringi lambaian tangan kedua orang tua dan adik adiknya tersebut.


Mobil mulai melaju meninggalkan desa kampung halaman Bara.


Yolanda nampak menikmati keramahan kehidupan di desa, teringat tadi saat kondangan tadi malah semua orang berebut bersalaman dengan nya.


Mengingat itu Yolanda jadi senyum senyum sendiri.


"Kenapa sayang...kok senyum senyum..?, ingat...tadi malam mas..Bara keloni ya...," goda Bara kepada istrinya.


"Issh..apaan seh...mas Bara mesum deh...," sungut Yolanda dengan manja.


"Trus..mikir apaan..?."


"Aku ingat ibu ibu tadi waktu kondangan mas..pada berebut salaman sama aku...kayak artis atau pejabat aja..," sahut Yolanda sambil tersenyum geli.


"Habisnya...kamu cantik banget..sayang..," kata Bara sambil tersenyum dan fokus menyetir mobilnya.


Yolanda tersipu namun sangat senang dengan pujian lelaki yang sangat di cintanya tersebut... membuat bunga bunga serasa bertebaran di dada nya.


**


Masih nampak jelas kegusaran dan kemarahan di wajah keduanya.


Para pengawal hanya berdiri di depan apartemen tak ada yang berani masuk ke dalam, sepanjang perjalanan saja mereka semua sudah di semprot oleh tuan dan nyonya Hendrawan hanya dengan kesalahan kecil.


Bahkan tadi saat membuka pintu sedikit lama saja tuan Hendrawan sudah marah marah tak karuan.


Rasanya enggak enak saja di lihat para tetangga di apartemen tersebut...tapi namanya bertugas bagi para pengawal itu ...apapun di lakukan dan di kerjakan secara profesional..meskipun di penuh tekanan.


"Huh...sudah jam segini belum juga muncul anak itu..!!," kata tuan dengan gusar.


"Ingin rasanya aku hajar anak itu, biar kapok..," teriak tuan Hendrawan lagi.


Nyonya Nursanti juga sudah geram hatinya, apalagi bila teringat video yang sudah di bagikan Leon dimana nampak jalang sedang berbincang dan di ajak masuk ke apartemen oleh anak kampung tersebut.


**


Mobil Bara sudah memasuki area parkiran apartemen.


"Biarkan di sini saja sayang.. barang barang lainnya, kita bawa tas pakainya aja, nanti biar mas Bara yang melansir nya," kata Bara ketika Yolanda mau ikut membantu membawa beberapa barang bawaan.


Bara tak tega bila Istrinya ikut-ikutan membawa barang bawaan.


"Ya..udah kita naik aja dulu mas..," sahut Yolanda sambil mengambil tas jinjing nya.


Bara yang membawa dua tas pakaian miliknya dan juga milik istrinya.


Dua tas yang berisi pakaian dan juga cukup besar itu tak masalah baginya yang berbadan tinggi besar dan berotot.


Keduanya sudah memasuki lift yang menuju lantai apartemen nya.


Ting..


Lift terbuka dan keduanya masih bercanda ria keluar dari lift menuju ke apartemen nya.


"Eeh..???."


Bara kaget di depan apartemen sudah berdiri beberapa pengawal dari tuan Hendrawan.


"Papa kesini mas..," pelan Yolanda berkata sedikit tergagap.


"Iyaa..," sahut Bara dengan lemas.


Bara melangkah kan kaki nya, semua keceriaan mereka kini musnah sudah.

__ADS_1


"Akhirnya kalian datang juga..," teriak tuan Hendrawan dengan keras.


Bara yang ingin mencium tangannya malah di tepis nya.


"Tak perlu kau cium tangan ku.. memang siapa..kau..!," bentak tuan Hendrawan.


Begitu juga dengan nyonya Hendrawan.


"Jangan sentuh... tangan ku..najiss..," kata Nursanti saat Bara mau menyambut tangannya.


"Duduk..!!," bentak tuan Hendrawan.


Keduanya duduk berhadap hadapan.


"Dari mana kalian..??," bentak tuan Hendrawan dengan garang.


"Kami dari desa mas Bara..," kali ini Yolanda yang memberanikan diri menjawab.


"Papa tak ingin jawabanmu.. papa bertanya kepada anak kampung ini..berani beraninya mengajakmu."


"Kau..sudah lupa dengan dengan perjanjian yang kau tanda tangani..," bentak tuan Hendrawan.


"Ini bukan kesalahan mas Bara..aku yang memaksa ikut..," kata Yolanda membela suaminya.


Kini tuan Hendrawan yang malah bertengkar dengan Yolanda anaknya, menyinggung tentang surat perjanjian kontrak pernikahan..bahkan pertengkaran itu merembet kemana mana yang isinya menghina dan merendahkan Bara.


"Kau mau jadi anak durhaka..," bentak tuan Hendrawan kepada Yolanda karena terus membela Bara.


Bagi Yolanda inilah pertengkaran terhebat dalam hidupnya dengan papa dan mama nya.. sampai dirinya menangis sesenggukan.


"Maaf tuan saya yang salah..," kata Bara menyela pertengkaran kedua orang tua itu dengan Yolanda.


"Yaa..kau sumber permasalahan di sini.."


"Bahkan kelakuanmu tak kalah bejatnya dari yang lain..lihat rekaman video ini saat kau memasukkan seorang jalang di apartemen ini," teriak nyonya Hendrawan sambil melempar video kiriman Leon.


Tuan Hendrawan yang melihat itu sekilas makin meradang, sampai menampar muka Bara.


Plaak..!!


"Kuraang ajaaaar....!!," bentak nya.


"Sekarang aku beri pilihan...mau aku seret ke penjara...atau kau pergi dari hidup kami..," bentak tuan Hendrawan lagi.


Semua pengawal dan sopir hanya terdiam di luar apartemen, suara pertengkaran yang keras itu bahkan sampai membuat para tetangga tak nyaman dan menghubungi pihak keamanan.


Bahkan pihak keamanan apartemen yang berniat melerai namun di halang halangi pengawal tuan Hendrawan yang berjumlah lebih banyak.


"Saya akan pergi dari kehidupan kalian..kata Bara," dengan tegas..namun masih tetap sopan.


Yolanda makin keras menangis mendengar keputusan itu, bahkan memeluk Bara dengan kencang.


"Mas..jangan pergi..jangan tinggalkan aku..," tangis Yolanda.


Bara mendekap istrinya sesaat..


"Izinkan mas Bara pergi..bila memang kita berjodoh pasti akan bertemu kembali," bisik Bara pelan di telinga istrinya.


"Jangan jadi anak yang durhaka, tururtilah kedua orang tua mu " pesan Bara pelan sebelum melepaskan pelukannya.


Bara berdiri kemudian mengeluarkan dompetnya mengambil kartu debit pemberian dari tuan Hendrawan saat dirinya menandatangani kontrak pernikahan.


"Ini kartu..yang anda berikan kepada saya tuan..semua masih utuh..tak berkurang sedikitpun dan ini kunci mobil nya, semua surat ada di lemari."


"Ijinkan saya mengambil barang pribadi saya..," kata Bara pelan sambil meninggalkan ruang tamu tersebut.


Yolanda yang ingin mengikuti suaminya sudah di tarik nyonya Hendrawan dan di bawa ke kendaraan di parkiran bawah, meskipun dia menangis kencang.


Bara sudah membawa semua barang pribadi nya, untung saja semua lukisan sudah di serahkan kepada Om Jhon saat itu, jadi hanya tinggal beberapa barang saja, dan Bara hanya mengambil yang penting penting saja.


"Permisi tuan..," kata Bara meninggalkan tuan Hendrawan yang masih duduk di ruang tamu apartemen itu.


Dia memalingkan wajahnya saat Bara berpamitan kepada nya.


Meskipun jadi tontonan orang Bara tak peduli dan terus melangkah pergi dari lantai apartemen itu.


Pikirannya..kacau tak tahu mesti kemana..mungkin balik ke kosan yang sudah di sewanya pertahun, begitu pikir nya sambil berjalan menuju parkiran di mana si Neneng motornya berada.


"Bara..!!," sebuah teriakan menghentikannya.


Dilihatnya Om Jhon sudah berdiri tak jauh darinya.


"Mau kemana kau..??," tanya Om Jhon.


Bara hanya menggelengkan kepalanya dengan lesu.


"Om tadi sempat mendengar semuanya."


"Ayo..kita ke galeri saja..," ajak Om Jhon..Bara hanya mengikut saja tanpa banyak berkata, pikiran nya masih kacau tak bisa berpikir jernih.


___________

__ADS_1


Selamat membaca..hu..hu..hu..ikut nangis...jangan lupa jejaknya ya...


__ADS_2