Aku Lebih Mencintaimu

Aku Lebih Mencintaimu
Eps 94 Oleh oleh Opa


__ADS_3

Bara masih memandang wajah tirus istrinya, wajah cantik tersebut nampak sedikit layu.


Di belainya rambut panjang istrinya dengan tangannya, di sibakkan ke belakang sambil kembali di tatapnya.


"Kenapa tidak pernah menghubungi ku..?, aku kangen kamu..sayang..," kata Bara, kini dia sudah bertekad memperjuangkan orang yang sangat di sayangi nya tersebut.


"Bagaimana mau menghubungi mas Bara...ponsel aku aja masih ada sama papa dan Mama," sahut Yolanda pelan diantara Isak nya.


Bara membelalakkan matanya, ponselnya di sita..? sampai sebegitu kah... perlakuan kedua orang tua nya...?


Kembali Bara menatap Yolanda yang kini nampak lebih kurus, kemudian Bara yang menitikkan air mata.


"Maafkan mas Bara, selama ini sudah meragu kan mu sayang..," kata Bara di tengah tangisannya.


"Aku kira kamu tak menelponku, tak membalas pesanku ..karena sudah melupakan ku," kata Bara lagi sambil mendekap istrinya.


Keduanya kembali berpelukan menumpahkan kerinduan yang selama ini menyiksa nya.


"Aku kabur dari rumah," pelan Yolanda berkata.


Bara menganggukkan kepalanya...mengerti, dan ikut merasakan pengorbanan istrinya yang begitu hebat.


"Kita akan bersama terus disini..tak ada yang akan mengusik kita karena hanya orang tertentu yang tahu kita di sini," sahut Bara menguatkan keduanya.


**


Sementara itu di rumah utama malam itu terjadi kehebohan luar biasa, apalagi penyebab nya kalau bukan karena kaburnya Yolanda.


Tuan Hendrawan marah begitu juga dengan nyonya Nursanti.


Hanya saja kemarahan tuan Hendrawan dan nyonya Nursanti yang berbeda, jika tuan Hendrawan marahnya kenapa rumah dengan pekerja begitu banyak bisa kelolosan dan kehilangan putri nya.


Sedangkan nyonya Nursanti marah karena Yolanda mesti kabur ke tempat anak kampung itu...padahal dirinya sudah berencana ketemu kembali dengan Dewinta sahabat nya yang juga ibunda Leon... untuk kembali mendekatkan kedua anak mereka.


"Ini pasti ulah anak kampung itu yang membujuk Yolanda kabur dari rumah ini," kata Nyonya Nursanti dengan kemarahannya.


"Kenapa mama menuduh seperti itu..?," sahut tuan Hendrawan.


"Lah...sudah pasti itu pah., siapa lagi yang membawa pengaruh buruk kalau bukan anak tersebut."


"Lagian anak miskin seperti itu kalau sudah merasa mendapat mangsa..... bukan tidak mungkin akan mengejar terus kan...karena Yolanda anak kita banyak duitnya," sahut nyonya Nursanti.


"Mama tidak boleh ngomong seperti itu..," kata tuan Hendrawan yang tahu selama ini tenyata kartu debit nya tak di sentuh oleh Bara.


"Loh..kok malah papa yang ngebela anak kampung itu..memang papa mau punya menantu miskin seperti itu..?," sahut Nyonya Nursanti dengan bersungut sungut.


"Kalau mama sih mending sama Leon anak mas Tony Wijaya," kata nyonya Nursanti keceplosan sambil menutup mulutnya.


"Apaa..??!!, mama jangan sebut nama anak bajingan itu..papa benar benar marah ..bila mengingat kelakuannya."


"Alaaah...sama saja anak kampung itu juga suka memasukkan perempuan enggak bener, saat tak ada Yolanda di apartemen..," balas Nyonya Nursanti dengan sengit.


"Bukti nya mama punya rekaman kelakuan bejat anak itu..," sahut Nyonya Nursanti kembali.


"Mah.. itu bukan bukti.., bisa saja kan itu rekaman karena mau menjelekkan anak itu di depan kita," kata tuan Hendrawan tak mau kalah.


"Papa..ini ya..malah bela anak kampung itu."


"Sudah...! sudah...! malah kita yang bertengkar..!," bentak tuan Hendrawan makin marah, membuat nyonya Nursanti sedikit ketakutan melihat suaminya sudah marah seperti itu.

__ADS_1


"Ponsel Yolanda saja ada dikita bagaimana anak itu mau bujuk..??," gumam tuan Hendrawan, entah kenapa kok ada kesan membela Bara dalam setiap ucapan tuan Hendrawan hingga nyonya Nursanti makin kesal.


Seluruh pekerja sudah di kumpulkan oleh tuan Hendrawan untuk di mintai keterangan, termasuk pelayan wanita yang di tugasi menjaga dan melayani Yolanda.


Untungnya saja pelayan tersebut tak di pecat dari pekerjaan nya, setelah kronologi kaburnya Yolanda sedikit terungkap.


**


Pagi itu om Jhon yang datang ke galeri sedikit kaget, biasanya Bara jika masih pagi seperti ini masih bermalas malasan tapi kali ini sudah rapi bahkan kemarin rambutnya yang awut awutan kini sudah nampak rapi dengan bulu bulu di wajahnya yang juga sudah bersih.


"Weeh..tumben sudah rapi, kalau seperti ini kan jadi ganteng," sahut Om Jhon mengagetkan Bara yang masih menata beberapa media kanvas di kayu kayu penyangga agar memudahkan dirinya dalam melukis.


"Iya...Om..," kata Bara tersenyum cerah.


"Ada apaan sih..kok..kelihatan senang banget..?," tanya Om Jhon.


Bara tak menjawab, namun matanya menatap ke arah Yolanda yang baru keluar dari kamarnya sambil membawa makanan kecil.


Om Jhon spontan menoleh ke arah pandangan Bara.


"Ooh...," sahut Om Jhon sambil tersenyum manggut-manggut.


"Pagi..Pak Jhon..," sapa Yolanda dengan sopan.


"He.he.he..," Om Jhon tertawa ikut senang.


"Pagi juga Nak..Yola..., jangan panggil saya pak..dong.., panggil saja Om Jhon sama seperti suami mu memanggil ku..," kata Om Jhon lagi.


"Baik Om... terimakasih karena sudah mengijinkan mas Bara tinggal di sini,'' kata Yolanda sambil menaruh makanan kecil tersebut di meja kecil di sana.


"He.he.he.. tak usah sungkan kami sudah jadi sahabat," sahut Om Jhon sambil tersenyum senang melihat Bara sudah bersemangat kembali.


"Hemm..memangnya kamu sudah bisa ngidupin kompornya..?," goda Bara kepada Yolanda istrinya.


"Belum..," jawab Yolanda dengan polosnya.


"Ya..sudah..mas Bara tak buat sendiri aja, sekalian om Jhon mau minum apa..?," kata Bara kepada om Jhon.


"Kopi juga boleh..," sahut Om Jhon masih saja tersenyum menatap kedua anak muda tersebut, baginya keromantisan keduanya mengingatkan akan masa mudanya.


**


Ditempat lain tepatnya di rumah keluarga Tony Wijaya.


Leon yang masih saja suka hura hura, sudah mulai berkemas dan terlihat akan pergi lagi.


"Heeii...mau kemana kau ..?," tanya Tony Wijaya kepada anak nya tersebut.


"Ada acara pah..," sahut Leon.


"Bukankah ini hari kerja..? apakah kau tak masuk kerja lagi..?."


"Lihat Clarissa adikmu..betapa giatnya dia bekerja..," kata Tony Wijaya mencontoh kan adiknya.


Leon sudah mati kutu bila di bandingkan dengan adiknya yang memang berbeda seratus delapan puluh derajat dengan nya.


"Yang perempuan saja mau bekerja keras,..kamu laki laki malah menghamburkan uang saja kerjanya..," Tony Wijaya makin meracau membuat Dewinta istri nya dan juga Clarissa yang masih menyantap makanan nya hanya terdiam.


"Sudah..sudah..pah... makan dulu ya.. ," kata Dewinta menenangkan suaminya.

__ADS_1


"Anak mau di buat enak..dapat menikah dengan keluarga kaya malah...main gila saja kerja nya.."


"Leon akan kembali mendekati.. Yolanda..," kata Leon saat ayahnya masih saja bersungut-sungut.


"Huh..dulu aja tak becus, apalagi sekarang..?, anak Hendrawan sudah menikah."


"Aku sudah memisahkan mereka..," kata Leon lagi dengan rasa bangga.


Perkataan Leon sontak membuat Tony Wijaya dan Dewinta membelalakkan matanya, tak terkecuali Clarissa yang masih ada di sana.


"Maksudnya apa..?," tanya Tony Wijaya dan Dewinta hampir bersamaan.


"Aku sudah membuat rencana hingga anak kampung itu kini di usir dari salah satu tempat tinggal milik keluarga Santosa," kata Leon dengan bangganya.


"Apaa..??," kali ini Dewinta yang terkaget kaget.


"Benarkah..semua perkataanmu.. Leon..?," tanya Dewinta.


"Benar...mah..," tanya saja sama Tante Nursanti.


"Kemaren beliau yang menelepon ku sendiri memberitahukan pengusiran anak kampung itu dari apartemen yang di tinggali nya," sahut Leon berapi api.


"Waah...kamu memang anak yang hebat Leon," kata Dewinta ibunya menyanjung anakknya tersebut.


"Coba.. sekarang kau berlaku yang baik.. , untuk kembali menarik keluarga Hendrawan agar mereka melirik mu lagi..," sahut Tony Wijaya sudah menurunkan nada suaranya.


"Itu..yang kini aku lakukan pah..," kata Leon, padahal dia hanya akan berkumpul bersama teman-teman sesatnya.


Tony Wijaya hanya menarik nafasnya panjang..sudah lelah dengan urusan anakknya.


"Pah..mah... Clarissa ke kantor dulu ya..," pamit Clarissa kepada kedua orang tua nya, saat suasana sudah sedikit mereda.


"Iya..nak..hati hati," sahut Dewinta sedangkan Tony Wijaya hanya mengangguk saja.


**


Masih di luar negeri, di salah satu negara di Eropa, Opa Santosa masih berada di pusat perbelanjaan.


"Bagus mana..ini apa yang ini..?," tanya Opa Santosa memamerkan jam tangan couple yang berharga mahal kepada asistennya.


"Ini hitam nampak keren dan gagah, tapi yang ini keemasan nampak glamour dan mewah.. tuan," sahut sang asisten yang juga kebingungan.


"Iya..ya...dari tadi memang aku bingung..karena keduanya sama baiknya, punya kelebihan masing masing," gumam Opa Santosa sendiri.


"Dari pada bingung ...aku ambil saja semuanya..," sahut Opa Santosa sambil tersenyum.


"Haaah...??," sang asisten hanya membulatkan matanya, karena opa memborong dua pasang jam tangan mewah couple tersebut..yang jika di taksir harganya lebih dari 2 M dalam mata uang kita.


"Ini pasti cocok untuk...oleh oleh, cucu dan cucu menantu ku..," sahut Opa Santosa tersenyum bangga, sambil menyodorkan ke arah manager toko perhiasan yang terkenal di dunia tersebut.


___________


**Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya...


Baca juga karya lainku


* Sang Pengacau (silat)


* Jagoanku ternyata CEO**

__ADS_1


__ADS_2