Aku Lebih Mencintaimu

Aku Lebih Mencintaimu
Eps 148 Kemeriahan sebelum Pesta


__ADS_3

Sehari sebelum acara resepsi dan peresmian tenda tenda sudah di dirikan, termasuk tenda yang nantinya untuk kegiatan dapur.


Para penduduk kampung juga ikut bergotong royong menata beberapa keperluan untuk acara resepsi pernikahan dengan dekorasi aneka janur.


Papa Hedrawan yang juga ikut berkumpul dengan para penduduk sangat takjub dengan kerukunan warga di sana.


Mereka mau bergotong royong dengan ikhlas dan sepenuh hati, hanya dengan suguhan makan dan minum serta rokok sudah cukup membuat senang para warga baik tua maupun muda tersebut.


Para pemuda yang di pimpin langsung oleh ketua karang taruna bernama Harun, cukup cakap membantu membuat dekorasi yang memang biasa di kerjakan para remaja tersebut.


Harun yang baru kuliah semester awal itu cukup cakap memimpin teman temannya mengerjakan apapun yang di butuhkan.


"Run...itu ada makanan dan minuman di rumah bapak..bisa di ambil sekarang," kata Bara kepada Harun yang juga salah satu remaja masjid junior Bara tersebut.


"Iya mas..nanti aku perintahkan salah satu teman ambil ke sana ," balas Harun dengan segera.


**


Di tenda bagian dapur ibu ibu juga tak kalah heboh, semua pasokan bahan mentah yang sudah datang dengan dua mobil bak terbuka sebagian mulai di racik dan mulai di olah, seperti kentang goreng maupun Tahu yang nantinya akan di masak menjadi menu Sambal Goreng ( biasanya di desa bahan sambal goreng adalah kentang, tahu, ampela dan hati terus telur puyuh juga ada kulit sapi yang sudah menjadi semacam kerupuk ).


Juru masak desa yang biasa menangani hajatan hajatan sudah berkoordinasi dengan koki yang di bawa papa Hendrawan meracik aneka menu yang nanti akan di hidangkan di pesta itu.


Sengaja mereka tak menggunakan jasa catering karena melimpah nya tenaga para warga yang begotong royong ( di desa jika ada yang punya hajat dan tak ikut bergotong royong serasa ada yang kurang ).


"Pak..sapinya yang akan di potong sudah siap," kata pak Kohar laporan kepada pak Darmais.


Dini hari tadi pak Kohar dan pak Yusuf yang biasa mengelola masjid saat hari raya kurban di tugasi membeli dua ekor sapi sembelihan.


Sedangkan untuk daging ayam akan di antar sore hari nanti, langsung dari pusat pemotongan karena banyaknya kebutuhan hingga berpuluh puluh kilo tersebut.


"Ya pak langsung saja di bawa ke area pemotongan," sahut pak Darmais sambil bergegas mencari papa Hendrawan untuk laporan.


**


Om Jhon yang kayak YouTuber malah keliling dengan mengarahkan kamera nya, dari dapur sampai di tenda depan yang masih menata kursi.


"Beginilah penampakan masyarakat yang masih kental dengan gotong royong," kata Om Jhon seakan menjadi presenter di Chanel nya.


Opa yang masih duduk duduk bersama papa Hedrawan tersenyum melihat kegiatan yang Om Jhon lakukan.


"Pak..sapinya sudah datang..mari ikut melihat pemotongan nya..?," ajak pak Darmais yang menghampiri keduanya.


Mereka bertiga beranjak berdiri menuju area pemotongan sapi.


"Hei..! mau kemana..?." teriak Om Jhon yang merasa di tinggal Opa sahabatnya tersebut.


Opa menggerakkan tangan seakan memotong sesuatu, sambil menunjuk ke arah tertentu.

__ADS_1


Om Jhon yang paham maksudnya langsung bergegas sedikit berlari mengejar ketiganya.


"Enggak usah lari lari sudah tua ..!," teriak Opa Santosa sambil tersenyum ke arah Om Jhon.


Om Jhon hanya membalas dengan senyuman, masih berlari mendekat.


Sampai di area pemotongan nampak bapak bapak sudah mengerubungi dua sapi tersebut.


Pak Sentot anak mbah Wongso yang biasa menjadi tukang jagal saat hari raya idul Adha sudah menyiapkan parangnya dan menajamkannya.


"Naah..itu pak Darmais sudah datang," sahut Pak Sarman mengisyaratkan agar sapi yang mau di sembelih di dekatkan.


"Sudah bisa di mulai pak pemotongan sapinya..?," tanya pak Sentot.


Pak Darmais menantap papa Hedrawan yang di balas anggukan, yang berarti sudah boleh di potong sapinya.


"Sudah pak Sentot," sahut pak Darmais.


**


Bara yang kembali ke kamarnya di mansion desa mendapati istrinya masih di sana.


Yolanda hanya melihat keseruan tersebut dari balkon kamarnya yang sangat luas tersebut.


"Aku kira masih di dapur tenda," kata Bara sambil memeluk istrinya dari belakang.


Yolanda yang masih melihat keseruan itu merebahkan tubuhnya di badan suaminya yang memeluk dari belakang.


"Oh kirain dari tadi di sini aja.."


"Enggak lah mas..kan jarang lihat yang beginian apalagi ini acara kita, enggak sopan aja masak mereka begotong royong untuk kita malah enak enak duduk," sahut Yolanda sambil memegang tangan suaminya yang masih mengelus perutnya.


"Istri mas Bara emang paling baik deh..," sanjung Bara mencium pucuk kepala istrinya.


"Udah yuk..ambil air wudhu nanti balik ke tenda lagi," ajak Yolanda kepada suaminya.


"Kan belum terdengar adzan sayaang," kata Bara masih saja memeluk istrinya seakan tak ada bosan bosannya.


**


Petang itu di area taman wisata Permata Hatiku nampak meriah dengan lampu yang terang benderang karena semua tenda di beri pencahayaan yang cukup besar Wattnya.


Panggung kecil sudah dihias oleh WO dengan berbagai hiasan yang mewah, meski tak semewah saat di hotel dahulu karena juga WO nya beda kelasnya, tapi bagi penduduk desa bahkan kota Bara itu sudah termasuk paling mewah.


Nuansa putih dan kuning keemasan menjadi warna favorit di hiasan tersebut.


Sedangkan untuk hiasan di sepanjang jalan dari gerbang menuju ke tenda semua di kerjakan oleh remaja desa Bara dengan di pimpin Harun.

__ADS_1


"Teman teman kalian enggak di undang di acara pesta besok dek..?." tanya Yolanda kepada kedua adiknya yang malam itu duduk duduk menemani Yolanda di taman mansion yang sedikit dekat dengan dapur tenda.


"Aku undang lah kak, biar ikut merasakan kemeriahan pesta dan perayaan pembukaan Permata Hatiku," sahut Misye yang saat ini kebetulan pas libur panjang.


"Teman Della juga aku undang kok kak," sahut Della.


"Ya bagus itu..biar semua ikut bergembira di sini."


Tampak Bu Romlah dan mama Nursanti berjalan dari tenda mendekati anak anak mereka sambil membawa makanan di loyang besar.


"Apa itu Bu..?," tanya Yolanda kepada Bu Romlah.


"Ini makanan khas desa nak Yola," kata Bu Romlah sambil menaruh satu loyang yang terdiri dari berbagai macam kue khas desa saat hajatan.


"Di kota enggak bakalan ada makanan kayak begini," sahut mama Nursanti sambil duduk di samping Misye dan mengambil salah satu makanan tersebut.


"Ini mengingatkan mama saat kecil di rumah eyang dulu," kata mama Nursanti yang nampak sangat bergembira melihat acara gotong royong tersebut sambil menikmati jajanan tersebut.


"Kita nikmati semua makanan ini karena besok jika banyak tamu pasti enggak sempat," kata Bu Romlah sambil tersenyum ke arah mama Nursanti.


"Iya benar Bu Romlah," kata mama Nursanti sambil menikmati makanan tersebut.


**


Semua sudah sholat maghrib di mushola yang ada di taman tersebut.


"Sebaiknya semua makan malam dulu," kata pak Darmais kepada pak Sarman dan pak Kohar yang menjadi tangan kanannya di acara tersebut.


"Nanti bisa di lanjutkan lagi pekerjaan nya."


"Baik pak akan saya lihat dulu kesiapan dapur.," sahut pak Sarman yang berniat ke dapur namun di cegah pak Darmais.


"Enggak usah pak ..saya tadi yang memberitahu malah Bu Kohar, katanya makan malam sudah siap di samping tenda dapur.," sahut pak Darmais kembali, membuat pak Kohar dan pak Sarman langsung menuju ke para kaum laki laki agar makan malam dulu.


Opa, Om Jhon dan papa Hendrawan malah sudah duduk di kursi yang ada disana masih menikmati makanan yang tersedia disana.


"Kita makan malam di sini saja tak perlu di mansioan lebih asyik," kata Opa yang menganggap itu sebuah keseruan demikian juga dengan Om Jhon dan papa Hendrawan.


Seumur umur mereka belum pernah makan sesantai ini, ambil sendiri nasi di tempat nya, lauknya memilih sendiri dan duduk di kursi yang di sukai serta berbaur dengan orang banyak.


Sebuah keseruan kayak di acara acara TV jelajah Nusantara yang sering mereka tonton.


"Bagaimana dengan yang lain Pi..?," (maksud nya mama Nursanti, Yolanda dan Bara yang tinggal di mansion).


"Alaa..paling paling mereka juga suka keseruan seperti ini," sahut Opa Santosa yang nampak menikmati makanan tersebut.


___________

__ADS_1


**Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya...


Baca juga karya lainku**...


__ADS_2