
"Mas..jadinya kita mau pulang ke kampung kapan sih..?," tanya Yolanda kepada suami nya yang masih meneliti pekerjaan lewat laptop yang di bawanya ke kamar.
"Mungkin hari minggu sayang..tadi mas Bara udah berbincang sama papa, kalau kita berangkat Sabtu malah nanti kita kelelahan kan wisudanya juga selesainya sore."
"Ohh..ya udah.."
Kata Yolanda pelan sambil mengganti bajunya dengan baju tidur.
"Eh..memangnya baju yang di buatkan si Mince udah kelar..?."
Bara menghentikan sesaat pekerjaan nya memandang istrinya yang masih berganti baju di depannya.
"Udah mas..siang tadi sehabis jumatan di antar sama pekerja butik," sahut Yolanda yang sudah berganti dengan baju tidur merangkak naik ke tempat tidur di samping suaminya yang masih mengetik sesuatu.
"Baju yang mau di pakai buat besok wisuda sudah aku siapin di lemari mas," kata Yolanda pelan sambil memeluk guling mendekati suaminya mulai memejamkan matanya.
Bara mematikan laptop nya lalu menutupnya, kemudian menaruhnya di nakas yang ada di samping tempat tidur nya.
"Memangnya kamu sudah mengantuk sayaang..?." pelan Bara berbisik di telinga istrinya yang kini sudah memunggungi nya.
Yolanda menganggukan kepalanya tanpa suara.
"Beneran..?." kata Bara sambil memasukkan tangannya ke dalam baju tidur istrinya.
Yolanda hanya terdiam sedikit menggeliat merasakan tangan suaminya yang sudah menjelajah kemana mana.
Masih dengan posisi membelakanginya, Bara menyibakkan rambut yang menutupi leher jenjang istrinya, menciumnya dengan sedikit gigitan kecil.
"Aauuw..!." Yolanda menjerit kecil antara geli merinding dan api gelora yang mulai bangkit.
"Lho..katanya sudah mengantuk ..? kok masih melek.."
Kata Bara begitu istrinya menjerit kecil akibat keusilannya.
Yolanda tak menyahut perkataan suaminya namun langsung bangun dan naik ke atas perut suaminya.
"Aku akan balas mas Bara..," sungut Yolanda memulai aksinya setelah berada di atas tubuh suaminya.
Bara hanya berteriak tertahan saat istrinya sudah memainkan jurus andalannya sambil menggigit kecil dada sang suami.
**
Pagi hari nampak pak Darmais dan Bu Romlah sudah bersiap.
Meskipun nanti wisuda mulai jam sepuluhan namun mereka sudah mandi sejak pagi.
Mereka semua sudah berada di meja makan, menikmati sarapan pagi yang di sediakan koki rumah mewah tersebut.
"Opa jadi ke galeri hari ini..?," tanya Bara kepada Opa Santosa yang masih mengiris daging dengan pisaunya.
"Iya..tadi aja Jhonson sudah telpon telpon terus..," sahut Opa sambil menyuapkan irisan daging tersebut.
"Sekalian mengingatkan untuk besok Opa..," kata Bara agar Opa kembali mengingatkan om Jhon soal berlibur di kampung.
"Iya..ini juga karena masalah itu..dia takut di tinggal..he he..," sahut Opa sambil terkekeh.
Semua meneruskan acara makannya sambil masih berbincang kecil.
**
"Ayuuk sayang ," kata Bara menggandeng tangan istrinya menuruni kamarnya.
Sampai di bawah bapak dan ibu nya sudah nampak bersiap bersama kedua adiknya.
__ADS_1
"Sudah siap pak..?," tanya Bara kepada bapak .
"Sudah..," kata Bu Romlah dan pak Darmais menganggukkan kepalanya.
Setelah berpamitan dengan papa Hendrawan dan mama Nursanti, mereka meninggalkan tempat rumah mewah itu dengan tiga mobil.
Satu mobil berisi Bara dan Yolanda yang di sopirinya sendiri.
Yang satu mobil berisi pak Bandi bersama pak Darmais dan Bu Romlah serta adik adiknya.
Dan satu mobil berisi empat pengawal yang mengiringi dari belakang.
Mobil nampak melaju dengan kecepatan sedang menyusuri jalanan itu yang nampak tak sepadat pagi hari saat jam kantor.
**
"Pelan pelan sayang..," kata Bara sambil membantu istrinya keluar dari mobil.
Kehamilan yang sudah lebih dari empat bulan itu kini sudah mulai nampak menyembul.
Yolanda kemudian bergabung dengan keluarga Bara yang juga sudah keluar dari mobilnya.
Mereka berjalan menuju ruang yang sudah di sediakan, menunggu giliran masuk ke gedung utama, karena saat ini masih fakultas lain yang melakukan prosesi wisuda.
"Sayang..aku mau ke panitia pelaksana wisuda dulu memastikan urutan ke berapa mas Bara nanti berpidato mewakili mahasiswa lainnya," kata Bara berpamitan kepada istri dan keluarga nya.
Yolanda mengangguk kepada suaminya.
Bara berjalan ke arah ruang dimana panitia pelaksana berada dengan tergesa, dia tak ingin meninggalkan keluarga nya terlalu lama.
**
"Bara..!!."
"Clarissa...??"
Balas Bara sambil menoleh dan berhenti sesaat.
Clarissa langsung menggandeng lengan Bara.
"Aku mencarimu..dari tadi..," sahut Clarissa tersenyum semanis mungkin.
Bara mengerutkan keningnya bingung ada apa Clarissa mencarinya bahkan sampai berlari lari mengejarnya.
"Maaf Clarissa..ini aku buru buru..mau menemui panitia, untuk pidato nanti," sahut Bara sedikit melepas tangan Clarissa yang menggandengnya.
Sepasang mata menatap geram ke arah Bara dan Clarissa yang nampak berpelukan dari sisi pandangannya, dengan mengepalkan tangannya.
"Aku tak sabar menghajarmu..!!," geram pemuda itu berkata sambil mengepalkan tangan nya memukul udara kosong lalu berlalu dari sana.
Clarissa mengeluarkan nafasnya dengan lesu," Huuh..dasar tak peka..," Niatnya dia ingin memperkenalkan Bara kepada kedua orang tua nya yang saat ini menghadiri acara wisuda di sana.
Dengan langkah gontai Clarissa kembali ke gedung depan di mana para keluarga wisudawan berada.
Sedikit kecewa jelas terlihat di wajahnya yang tertutup make up.
"Eeh..Yola.. Yolanda..!," teriak Clarissa begitu melihat Yolanda duduk bersama keluarga yang tak Clarissa kenal.
"Pasti keluarga suami nya.."
Dengan sedikit acuh kepada keluarga Bara, dia mendekati Yolanda dan duduk di kursi yang kebetulan kosong di samping Yolanda.
"Kau hebat sekali, aku salut padamu..," kata Clarissa setelah duduk di samping Yolanda.
__ADS_1
Yolanda menoleh mengerutkan keningnya menatap Clarissa yang juga terlihat sedikit lesu.
"Mau menghadiri wisuda suami yang tak kau cintai, padahal suamimu jelek, dan kampungan.. aku benar-benar salut padamu Yola..," kata Clarissa pelan tapi mampu di tangkap dengan jelas oleh Yolanda.
Yolanda hanya tersenyum samar, dan dia juga tak tersinggung karena kenyataannya tak seperti itu.
"Bagaimana dengan kamu..?." tanya Yolanda menatap Clarissa yang dari kecil sudah di kenalnya tersebut.
Seketika wajah Clarissa bersemu merah," aku sudah menemukan pria yang ku sukai," Katanya dengan penuh semangat.
"Aku bertemu dengannya secara tak sengaja di kantor, sejak itu aku sudah jatuh cinta padanya."
"Bisa di bilang jatuh cinta pada pandangan pertama," kata Clarissa tertawa kecil menutup mulutnya.
"Orangnya ganteng, tinggi, putih dan body nya ..uuh..kereen abis, kayaknya sering olahraga."
"Saat aku tak sengaja pegang perutnya kenceng benget.. pokoknya jantan banget deh..," kata Clarissa lagi menjabarkan lelaki idamannya.
Yolanda mengangguk tersenyum senang mendengar perkataan sahabat masa kecilnya tersebut.
Namun tiba-tiba Clarissa tertunduk lesu, menarik nafasnya dalam dalam.
"Kenapa..?.," tanya Yolanda yang melihat perubahan di wajah Clarissa.
Clarissa kembali menarik nafasnya, "Sayangnya...kayaknya dia tak menanggapi perasaanku..dia selalu nampak tergesa bila bertemu denganku, dia cuek padaku..bahkan tak pernah menganggap keberadaanku," kata Clarissa sambil tersenyum di paksakan dan terlihat putus asa.
"Kau sudah ungkapin perasaan mu..?." tanya Yolanda.
Clarissa menggeleng pelan.
"Kenapa..?."
"Bagaimana mau ungkapin...jika bertemu saja dia seakan selalu menghindar, tak tertarik menatapku," kata Clarissa mencebik seakan hampir menangis.
Yolanda mengusap lembut lengan Clarissa," Yang sabar yaa..jodoh sudah di atur yang di atas," kata Yolanda menenangkan sahabatnya itu.
Bara sudah terlihat dari kejauhan nampak mencari keberadaan istri dan keluarga nya.
"Sayaang..!! kami di sini..," teriak Yolanda melambai ke arah suaminya.
Semua menoleh ke arah Yolanda memanggil suaminya.
Bara tersenyum sangat ganteng sekali.
"Haah..B.Bbara s.suamimu..??." tanya Clarissa tergagap.
'Iya..Mas Bara suami aku," kata Yolanda tak sedikit pun melihat perubahan di wajah Clarissa yang langsung mencebik karena membalas senyuman suaminya.
"Mas..sini..ini teman masa kecil aku..," kata Yolanda sambil memeluk lengan suaminya yang datang menghampiri.
Clarissa hanya terpaku, meskipun sudah di tahannya namun matanya tetap berkaca-kaca.
"Loh..kenapa ..?," tanya Yolanda melihat Clarissa mengeluarkan air mata.
"Maaf mataku kena debu..," kata Clarissa sambil pamit meninggalkan kedua suami istri yang masih berpelukan.
Di kamar mandi Clarissa menumpahkan semua rasa perih di dadanya dengan menangis pilu.
____________
**Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya....
Baca juga karya lainku dengan mengklik profil ku....
__ADS_1
Terimakasih**...