
Hari minggu ini bagi Bara tak seperti minggu kemarin, karena hari ini dia mendapatkan teman baru untuk mengobrol.
Meskipun perbedaan usia keduanya sangat mencolok namun tak menghalangi bagi keduanya untuk berteman dan bersahabat.
"Apa kegiatanmu habis ini..?," tanya Om Jhon.
"Biasa...Om, bersih bersih apartemen," jawab Bara sambil mengosok motornya biar makin bersih.
"Habis itu...baru saya mengerjakan apapun yang ku perlukan," kata Bara lagi.
"Kalau Om Jhon...apa kegiatannya ..?."
"Ya...biasa lah orang tua, paling paling nonton TV, sambil menikmati secangkir kopi," sahut Om Jhon.
"Kapan kapan main ke tempaku... yang paling ujung no 16 ," kata Om Jhon lagi.
"Ya ..Om.. insyaallah.., kalau ada waktu Om," sahut Bara menyahut.
Keduanya kemudian sibuk mencuci motor masing masing.
Selesai mencuci motor kemudian keduanya memindahkan motor ke tempat khusus parkir motor.
Pengguna motor di apartemen ini sangat jarang.. maklum semua pemilik tempat ini kan orang berada ...mana mau naik motor, seandainya naik motor pun kayak punya Om Jhon pasti motor besar.
Untung saja motor Bara motor sport yang juga cukup gede....jadi tak terlalu kebanting saat orang melihatnya.
Coba kalau cuma motor biasa...apalagi motor bebek..malu orang lihatnya.
Parkir untuk motor yang di sediakan pihak pengembang cukup luas apalagi pemakai motor jarang jadi makin terkesan longgar, paling paling motor yang parkir hanya belasan sampai puluhan saja di sana.
Keduanya sudah berjalan masuk ke lift untuk naik ke lantai apartemen mereka.
"Mari Om Jhon...," kata Bara begitu mereka akan berpisah.
"Kapan kapan main ke tempatku."
"Nomor 16 ..," teriak Om Jhon karena sudah sedikit menjauh.
"Ya Om..," sahut Bara juga agak mengeras kan suaranya karena makin jauh.
**
Sementara itu di kampung pak Darmais masih duduk di serambi depan rumah mereka.
Sementara istrinya masih membuka toko kelontong sambil menata beberapa barang dagangan pagi itu.
Dengan di bantu anak anak perempuan nya dalam waktu sekejap saja sudah siap melayani pembeli.
"Bagaimana pak reaksi anakmu saat kau bilang mau kita jodohkan dengan si Jasmine..?," tanya Bu Romlah ibu nya Bara.
"Ya..kaget..kemudian diam sejenak..mungkin kesenengan juga...kali ," sahut pak Darmais.
"Ya...kan dulu mereka sering bersama sama berangkat sekolah nya, dan kelihatannya cukup akrab..bisa jadi mereka sudah ada perasaan sejak dulu," kata bu Romlah.
__ADS_1
"Jasmine juga sering main ke sini..bahkan saat Bara tak pulang juga Jasmine sering nemani ibu di rumah saat bapak kerja dan anak anak sekolah," kata bu Romlah lagi.
"Ooh..iya..to Bu..?."
Bu Romlah menganggukkan kepalanya.
"Ibu rasa Jasmine menyukai anakmu pak....."
"Kalau melihat bagaimana dahulu... Jasmine sering nyamperin Bara, nggak mungkin kan anak gadis bersusah susah nyamperin anak lelaki kalau tidak ada perasaan," kata bu Romlah lagi.
"Tapi..pak..bagaimana kalau anakmu tidak menyetujui rencana ini..?," kata bu Romlah dengan wajah cemas.
Pak Darmais menghela nafasnya panjang.
"Bapak tak bisa memaksanya Bu..cuma kita jadi malu dengan pak lurah yang sudah memberi kebaikan kepada keluarga kita."
"Kita sudah berhutang banyak kepada mereka Bu, tapi bagaimanapun kebahagiaan anakmu yang paling utama," kata pak Darmais.
Bu Romlah hanya mengangguk kan kepala nya mendengar perkataan suaminya.
"Tapi...siapa coba.....yang mau menolak si Jasmine..anaknya cantik..anak lurah kaya lagi..cuma sedikit cerewet dan sok kuasa itu saja kekurangannya," kata bu Romlah pelan.
"Sstt....jangan keras keras Bu, ngatain Jasmine cerewet dan sok kuasa," kata pak Darmais.
"Nanti kalau ada yang dengar...enggak enak kita," sahut pak Darmais lagi.
"Lha... kenyataan nya kan gitu pak.." kata bu Romlah sambil berdiri karena ada pembeli yang sudah berdiri di depan warung kelontong nya.
"Oh..ya...pak..apa si Bara jadi pulang minggu depan..?." tanya ibu sambil berlalu
Bu Romlah sudah ada di warung kelontong nya.
"Eeh..Tatik..mau beli apa..?," sahut bu Romlah kepada gadis yang sepantaran dengan Bara tersebut.
"Sabun cuci piring sama gula pasir Bu Dhe."
"Dengar..dengar Bara mau nikah ya budhe..?," tanya Tatik berbasa basi karena Bara juga teman seangkatannya.
"Tatik dengar dari mana..?."
"Seluruh kampung sudah tahu lho ..budhe mau mantu.."
"Sebentar..Tik, kamu tahu dari mana..? kejar bu Romlah.
"Jasmine yang bilang..," kata Tatik dengan enteng.
"Duuh..," kata bu Romlah dengan wajah sedikit khawatir.
"Jasmine bilang bagaimana sama kalian..?."
"Bilangnya sih...sebentar lagi aku jadi istrinya Bara..gitu budhe," kata Tatik sambil berlalu pergi dari warung bu Romlah.
''Waaah..gawat..ini," sungut bu Romlah sambil kembali menghampiri pak Darmais yang masih santai santai di beranda karena hari minggu.
__ADS_1
"Ada..apa.. to Bu..kok mukanya khawatir begitu."
"Gawaat..pak...gawaat...," kata bu Romlah sambil duduk di samping suaminya.
"Lho..gawat apanya ..?." pak Darmais jadi terlonjak dari kursinya.
"Jasmine ..pak.."
"Si Jasmine kenapa...?."
"Jasmine sudah ..bilang ke orang orang sekampung kalau mau menikah dengan Bara...bagiamana ini pak kalau gagal..nanti pak lurah bisa marah kepada kita pak," sahut bu Romlah cemas.
Pak Darmais menarik nafasnya dalam dalam.
"Sudahlah..Bu kita lihat saja nanti apa yang terjadi," kata pak Darmais pelan sambil berdiri.
"Udaah ah..bapak mau bersih bersih empang ... besok biar saat Bara pulang kita mudah memanen ikannya," sahut pak Darmais sambil berjalan ke arah samping rumah menuju ke empang belakang.
"Ati ati..pak, tempat nya licin.."
Bu Romlah memandang kepergian suamiku masih dengan raut wajah penuh kekhawatiran.
Khawatir karena kaki suaminya yang belum benar benar sembuh juga khawatir akan berurusan dengan keluarga pak lurah.
**
Sementara itu di kediaman tuan Hendrawan masih terlihat keluarga itu menikmati makan pagi.
Karena hari itu hari minggu semua nampak santai tak terlalu terburu buru.
"Sayaang..kok makannya sedikit..kurang cocok sama menunya..ya..," kata mama Santi kepada Yolanda.
Yolanda hanya menghela nafas panjang.
"Enggak kok ma..," sahut Yolanda malas malasan.
"Sudah..makan..nanti malah sakit kamu..," perintah tuan Hendrawan.
Tuan Hendrawan tahu apa yang menyebabkan anaknya berlaku seperti itu.
Dia masih terbayang saat melihat anaknya berpelukan dan berciuman serta bercanda dengan Bara.
"apakah anakku beneran jatuh cinta pada pemuda kampung itu..? waah..aku sudah bermain api kalau begini, memang sih anak itu tampan dan sopan.. tapi tak sebanding dengan keluarga ini."
Tuan Hendrawan nampak menyesali perbuatannya.. membuat acara pernikahan sandiwara.
Yolanda masih ogah ogahan makan.
"Sayang bagaimana kalau nanti kita ke salon..," kata mama Santi mengalihkan kesedihan putrinya tersebut, biasanya Yolanda paling senang ke salon saat saat libur beraktivitas seperti ini.
"Lagi malas..ma..," sahut Yolanda.
Membuat tuan Hendrawan dan nyonya Nursanti saling berpandangan.
__ADS_1
__________
Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejak nya...