Aku Lebih Mencintaimu

Aku Lebih Mencintaimu
Eps 111 Tertangkap


__ADS_3

Sekelompok polisi masih nampak mengawasi sebuah club tempat hiburan.


Sudah banyak desas desus yang mengatakan bahwa club yang buka 24 jam non stop tersebut tempat beredarnya barang haram dan wanita nakal.


"Elang satu sudah berada di posisi," kata seseorang.


"Elang dua siap di posisi dan siap bidik," sahut suara yang lain.


"Induk elang sudah siap menyergap..elang tiga di harap melapor," kata serombongan orang yang menamakan dirinya induk elang.


Rombongan polisi yang menyamar itu mulai memasuki "Libidoz Club'" sebuah club yang buka 24 jam tersebut.


**


Leon masih asik menikmati suasana hingar-bingar di club tersebut.


Nampak seorang penari striptis sudah bersiap melepas kain segitiga terakhir di pinggangnya setelah sebelumnya melepas penutup area dada.


Buka..! buka...! buka..!!


Para penonton berteriak teriak heboh memberi semangat kepada beberapa penari itu untuk memperlihatkan perhiasan tubuhnya, setelah sebelumnya perhiasan gunung kembar mereka bebas di umbar.


Masih dengan merangkul dua gadis di kanan dan kirinya Leon ikut berteriak teriak.


"Ayo...cepetan di buka...bikin penasaran aja..!!," teriak Leon yang sudah mabuk obat obatan terlarang tersebut.


Dia baru saja transaksi banyak barang haram, sebagian sudah di cobanya bersama teman temannya, sebagian lainnya masih berada di tas pinggang yang di belitkan nya seperti sabuk.


"Dari pada penasaran ngebuka linggeri gadis panggung itu..bagaimana kalau buka linggeri aku..?," kata gadis dengan rambut di cat warna merah.


"Iya..ayo kita coba ..efek dari obat tadi di ranjang..," sahut perempuan satu nya lagi yang pakaian atasnya sudah entah di mana.


"Ayoo..siapa takut..," sahut Leon sambil menarik kedua wanita tersebut menuju sebuah ruangan yang banyak tersedia ...biasa untuk pesta ****.


Belum sampai di ruangan tersebut baju Leon sudah di lepas oleh para jalang tersebut, mereka tertawa-tawa cekakaan sambil berjalan sedikit sempoyongan.


**


Meskipun hari sudah mendekati sore bahkan mendekati petang tapi para pekerja proyek taman wisata mandiri edupark itu masih saja terus bekerja.


Dengan adanya bantuan keuangan dari tuan Hedrawan, maka kini proyek tersebut di kerjakan dengan sistem borongan, pagi...siang...sore bahkan malam proyek tersebut tetap berjalan.


Tampak pak Darmais mengawasi pembangunan tersebut dengan seksama, dirinya tak ingin mengcewakan banyak pihak yang sudah mendukung proyek itu...selain anaknya tentu saja tuan Hendrawan.


"Masya Allah....aku kok malah lupa tak menelpon Bara selama ini, tentang bantuan bapak mertua nya..," gumam pak Darmais sambil bergegas pulang karena ponselnya tertinggal di rumah.


Begitu sampai di rumah pak Darmais langsung menuju kamarnya mencari ponselnya.


"Mencari apa pak..?," tanya Bu Romlah yang melihat suaminya clingak clinguk mencari sesuatu.


"Ponsel Bapak mana ya Bu...?."


"Bukankah tadi bapak pulang kerja belum pegang ponsel., mungkin masih di tas yang biasa bapak bawa," sahut Bu Romlah sedikit mengingatkan.


"Oh..ya..coba akan bapak cari," sahut pak Darmais sambil kembali ke kamarnya mencari tas kerjanya.


"Aah...ini dia," gumam pak Darmais begitu menemukan ponselnya.


Mencari cari nomer bara dan di tekannya nomor Bara.


"Lho..kok tidak aktif..?," gumam pak Darmais sambil mencoba lagi.

__ADS_1


"Maaf nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan...cobalah beberapa saat lagi...ttuut...tuuut..."


"Weladalaah...nomere mati...??."


"Bu...! Miss...! Dell....! ," semua anggota keluarga di panggil pak Darmais.


"Ada apa sih pak..?," sahut Bu Romlah yang masih menyiapkan makan malam nanti.


Misye dan Della yang mendekati bapak ...kembali ke depan menjaga warung sambil belajar di sana, setelah ibunya menghampiri bapak nya.


"Bapak mau telpon Bara kok nomer yang ini tak bisa ya..?, apa kalian ada nomer lain..?."


Kata pak Darmais sambil menunjukkan nomer yang ada di ponselnya.


"Ini nomer yang di kasihkan ke ibu coba bapak hubungi..," kata Bu Romlah.


Kemudian pak Darmais menelpon pakai ponsel istrinya.


**


Tuan Hendrawan masih menonton TV di rumahnya.


Sebagai hiburan selain membaca majalah bisnis, tuan Hendrawan menonton berita berita aktual up date terbaru.


Nyonya Nursanti yang barusan datang bebergian masih berganti baju di kamarnya.


Tampak di saluran televisi terdapat berita up date terbaru tentang penangkapan gembong narkoba di salah satu club ternama di kota tersebut.


Dalam berita tersebut nampak para buronan dan penjahat masih di tangkap dengan kondisi memalukan masih pesta **** dan narkoba.


"Haaah...??," pandangan mata tuan Hendrawan sejenak terbelalak melihat Leon ada di antara para pelaku tersebut.


"Maah... mama....!!," teriak tuan Hendrawan memanggil istrinya.


"Ada apaan sih pah..?, kok teriak teriak.."


Tuan Hendrawan hanya menunjuk ke arah televisi.


"Duduk sini.."


Nursanti pun duduk di samping suaminya dan ikut memperhatikan berita di televisi.


"Haaah..??!!.," ucapnya pelan, sambil memperhatikan lagi.. lebih seksama ..berita dan tayangan yang ada di TV tersebut.


"Leon..pah..??," kata Nursanti sambil memandang ke arah suaminya seakan tak percaya.


Tuan Hedrawan hanya mengangguk ke arah istrinya.


Segera saja Nursanti merasa lemas badannya.


Bukan karena Leon tertangkap polisi, tapi ternyata selama ini dirinya merasa di tipu oleh anak muda itu.


"Begitulah kelakuan anak tersebut.," pelan Hendrawan berkata kepada istrinya sambil merangkulnya.


**


POV Nursanti.


Hari itu aku kembali janjian ketemuan dengan sahabat karibku, siapa lagi kalau bukan Dewinta.


Pokonya aku tak ingin terputus sahabatan dengannya, karena bagiku Dewinta itu lebih dari sekedar sahabat.

__ADS_1


Dia adalah temanku dari kampung dahulu, kami sama sama sekolah di SMA yang sama, kemudian ke kota dan kuliah di tempat yang sama pula.


Berkat dia pula aku bisa ketemu..., kenalan..., jadi pacar mas Hendrawan.... dan akhirnya jadi istri anak pengusaha kaya raya papi Santosa.


Ya..waktu itu Dewinta sudah lebih dulu kenal dan berteman dekat dengan suaminya .. mas Tony Wijaya.


Mereka berpacaran cukup lama, sedangkan aku masih saja ngejomblo...hingga keduanya kasihan kepadaku, dan berencana mengenalkan aku dengan teman mas Tony Wijaya.


"Bagaimana..? kamu mau enggak di kenalkan dengan teman mas Tony..?," tanya Dewinta waktu itu.


Aku hanya mengangguk saja, pokonya singkat cerita aku di kenalkan dengan pemuda tampan teman mas Tony yang anak orang tajir melintir.


Akhirnya aku kenalan dengan mas Hendrawan.. terus jadian ..lalu akhirnya menjadi istri nya.


Pokonya bagiku keluarga mas Tony Wijaya dan Dewinta adalah saudara terdekatku.


Jadi saat mas Hendrawan mau menjodohkan anak anak kami, aku yang paling antusias..hubungan pertemanan akan benar benar menjadi keluarga....bukankah besan adalah keluarga.


Namun sayang..ada suatu kejadian yang membatalkan acara pernikahan tersebut..padahal mereka sudah di tunangkan.


Leon anak sahabatku ..terpergok mas Hendrawan berlaku buruk.


Aku kecewa..jujur kecewa banget.., tapi ku coba mengikhlaskan .. bukankah manusia tak ada yang sempurna..? mungkin terpeleset sedikit tak apa..asal segera sadar dan berniat memperbaiki diri.


Aku masih ngebet untuk menjodohkan anak anak kami, meskipun suamiku sudah membuat acara yang sebenarnya sangat tak kusukai.


Ya..mas Hendrawan menikahkan anak ku dengan seorang pemuda kampung.


Tampan sih...ganteng sih..juga sopan sebenarnya..tapi bukan level anakku.


Masak anakku yang cantik dan kaya raya.. mesti beneran menikah dengan pemuda miskin..?meskipun juga sangat tampan.


Aku tetap tak rela, tak mendukung meskipun papi Santosa kelihatannya menyukai anak kampung itu.


Sore itu aku ketemuan kembali dengan Dewinta, agar hubungan kami tak menjadi jauh.


Bahkan aku sempat menelpon Leon untuk datang, agar kami menjadi akrab lagi.


Namun katanya dia sibuk..sering ke panti..menggalang dana dan semua kegiatan positif.. lainnya.., dan aku ikut senang...anak itu sudah berubah baik.


Hingga sebuah berita di TV swasta nasional petang itu membuat ku seakan di sambar geledek.


Leon anak sahabatku.. tertangkap pihak kepolisian dengan kasus yang menurut ku Aib yang tak terampuni lagi.


Menjadi penjual narkoba, pemakai dan berbuat bagaikan hewan.., aku seperti di tampar bertubi tubi.


Untungnya mas Hendrawan tak meledekku bahkan ikut prihatin dengan kejadian tersebut.


"Ya..Allah...lindungilah anak cucuku dari semua perbuatan keji tersebut..," ucapaku dalam hati saat aku di rangkul suamiku.


Kini aku sadar kenapa Allah memisahkan Leon dari anakku.


Aku jadi kangen Yolanda anakku.


"Dimana kamu nak..?mama merindukanmu..."


___________


***Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya...


Baca juga karya lainku.....

__ADS_1


* Sang Pengacau


* Jagoan ku ternyata CEO***


__ADS_2