
Yolanda dan adik adik iparnya turun dari mobil dengan membawa banyak sekali belanjaan.
Bu Romlah dan pak Darmais sampai ternganga melihat banyaknya belanjaan.
Bara hanya tersenyum melihat kepuasan di wajah istri nya tersebut setelah membeli kan barang barang untuk adik iparnya.
Bara tahu kebaikan istrinya sangat sulit di tandingi siapapun.
Tak sungkan merogoh kocek nya untuk menyenangkan orang lain.
"Nak Yola kok belanja nya banyak sekali..?," kata ibu.
Yolanda hanya tersenyum saja.
Misye memamerkan baju baju dan juga sepatu sandal dan juga tas sekolahnya.
Begitu pun dengan Della memamerkan hal yang sama.
"Kalian ini nakal ya...pasti kalian yang minta sama kak Yola agar di belikan barang barang itu..iya kan..?," kata Bu Romlah yang tak enak hati.
"Enggak kok Bu...kak Yola sendiri yang membelikan buat kami kok," kata kedua adik Bara sedikit takut.
"Iya kok Bu.., saya sendiri yang memang ingin membelikan mereka," sahut Yolanda menjelaskan.
"Ibu dan bapak juga di belikan," kata Misye.
Kemudian Misye dan Della memperlihatkan barang barang yang di belikan untuk Bu Romlah dan pak Darmais.
Untuk Bu Romlah selain baju baju gamis juga ada sendal yang bisa di gunakan untuk bepergian.
Begitu juga dengan pak Darmais di belikan kaos, baju juga sendal yang cukup bagus.
"Buat mas Bara mana..?," goda Bara kepada Yolanda sambil tersenyum.
"Buat mas Bara besok kalau kembali ke kota," kata Yolanda sambil tersenyum pula.
Bu Romlah dan pak Darmais tak bisa menyembunyikan kegembiraan nya.
"Waah..nak Yola..kok jadi repot repot membelikan bapak dan ibu segala....tapi terima kasih ya nak," kata Bu Romlah dengan senang.
Hilang sudah suasana muram semenjak datang dari rumah pak lurah tadi.
Kini rumah kembali semarak tak seperti tadi yang tampak suram.
**
Hari sudah mulai malam, Bu Romlah masih berada di warungnya menghidupkan lampu warung juga lampu jalan yang saklar nya memang ada di situ.
Sambil meneliti dagangan apa saja yang sudah habis dan perlu di stok lagi
"Budhe..beli obat nyamuk sama kopi sachet," kata Tatik salah satu teman sepantaran Bara.
"Berapa kopi nya tik..?."
"Yang merk ini apa ini..?," tanya Bu Romlah.
"Yang ini saja Bu dhe..lima sekalian," kata Tatik.
"Buat siapa tumben malam malam mau ngopi..?," tanya Bu Romlah.
"Buat mas Tarjo Bu dhe." Tarjo adalah suami Tatik juga teman sepermainan Bara selama ini kerja jadi kuli di kota.
"Lho..memangnya si Tarjo sudah kembali dari kota..? tanya Bu Romlah.
__ADS_1
Tatik tersenyum.
"Iya Bu dhe..mas Tarjo tadi pagi sudah kembali," kata Tatik yang terlihat sumringah.
"Eh..ngomong omong siapa gadis cantik yang ada di rumah Bu dhe..?," tanya Tatik yang penasaran.
"Oh.. itu nak Yolanda istrinya Bara," kata Bu Romlah.
"Haah..? istri Bara...Bu dhe..?, sejak kapan Bara punya istri..?," tanya Tatik lagi.
"Sudah sekitar tiga bulan ini Tik," kata Bu Romlah.
"Lha..terus rencana pernikahan dengan Jasmine gimana Bu dhe..?."
"Ya batal..Bara kan sudah beristri."
"Duuh..padahal si Jasmine udah...gembar gembor mau nikah sama Bara...ck..kasihan anak itu."
"Ya...Bu dhe ...juga kasihan..tapi mau bagaimana..lagi, Bara nggak pernah menyukainya...dan kini Bara sudah menikah..," kata Bu Romlah.
"Kok menikahnya Bara ..enggak ngomong omong..Bu dhe.."
"Bu dhe sendiri sama pak dhe juga kaget...awalnya Bara pulang trus ada yang nyusul ternyata .. istrinya...ya..Bu dhe ..seneng seneng aja...siapa tahu Bu dhe cepetan gendong cucu..," kata Bu Romlah sambil tersenyum.
Tatik pun tersenyum kemudian ijin pulang.
"Ya..Bu dhe...Tatik pulang dulu."
"Makasih ya.. Tik.."
"Sama sama Bu dhe.."
**
Di rumah taun Hendrawan.
Pagi itu para pekerja masih di kumpulkan, setelah semua di tanya siapa yang mengetahui keberadaan Yolanda akhirnya di temukan titik terang.
Atas informasi dari pak Bandi sopir pribadi Yolanda mengatakan bila Yolanda ada di rumah Bara.
Lebih tepatnya menyusul ke rumah Bara di kampung.
Pak Hendrawan sangat murka..lebih lebih sang nyonya Hendrawan..lebih murka lagi tapi karena takut sama tuan Hendrawan kemurkaannya sedikit di tekan.
Tuan Hendrawan berniat menyusul anakknya di kampung Bara.
Pak Bandi sudah di suruh menyiapkan mobil, sedang dirinya bersiap siap dengan berganti pakaian.
Meskipun hatinya juga jengkel namun nyonya Hendrawan juga mengkhawatir kan suaminya.
Sambil terus mengikuti langkah kaki suami nya, Nursanti berpesan.
"Hati hati..ya..Pah...nanti supirnya di ingatkan jangan ngebut ngebut," kata Nursanti mengingatkan suaminya.
Tuan Hendrawan hanya menganggukkan kepalanya.
Selesai berganti pakaian tuan Hendrawan kembali mencari pak Bandi.
"Bandii...!."
"Ya..tuan..," sahut pak Bandi mulai berjalan mendekat.
"Mobilnya sudah siap..?."
__ADS_1
"Sudah..tuan..," sahut pak Bandi dengan sedikit membungkuk.
"Aku tunggu di Lobi.."
"Baik tuan.."
Di lobi para pekerja masih berkumpul.
Melihat kedatangan tuan mereka kembali, mereka kemudian terdiam dari kasak kusuk nya.
Mobil yang di kendarai pak Bandi sudah mendekat ke tuannya.
Sebelum pak Hendrawan masuk ke dalam mobil, nampak sebuah mobil mewah lainnya memasuki halaman rumah tuan Hendrawan.
Tenyata mobil tuan Santosa ayah tuan Hendrawan.
Mobil berhenti di dekatnya mobil yang di sopiri pak Bandi.
Tuan Santosa turun nampak sekali kewibawaan dari pemilik utama Santosa Group itu.
Pak Hendrawan kemudian mendekat.
"Papi.. assalamualaikum..," sahut pak Hendrawan sambil mengambil tangan tuan Santosa dan menciumnya.
"Waalaikumssalam..ada apa ini kok nampak tegang dan pada berkumpul di sini..?," tanya Opa Santosa.
"Mmm.... Yola..Pi.."
"Yola...? kenapa dengan Yola..?."
"Mm..Yola kabur .. Pi.." kata pak Hendrawan pelan.
"Yola kabur..!?," gumam Opa Santosa.
"Jelaskan padaku jangan sepotong potong..," terdengar Opa Santosa menaikkan suaranya.
"Mm..Yola kabur ke desa nyusul Bara yang pulang kampung..," kata tuan Hendrawan dengan pelan.
Opa..nampak lega dan sedikit tersenyum meski hanya tipis dan samar terlihat.
"Ooh..aku kira kabur kemana.."
"Lha ..terus kenapa kau nampak panik..?, bukankah Yola mengikuti suaminya..?."
Pak Hendrawan tak mampu berkata apa-apa.
"Sudah..sudah..semua bubar..memangnya kalian tak punya kerjaan hanya berdiri bergerombol di sini..," usir Opa kepada seluruh pekerja yang di kumpulkan di sana.
Dengan segera para pekerja membubarkan diri menuju ke tempat masing-masing.
Kemudian Opa memasuki rumah anakknya di ikuti Hendrawan dan Nursanti.
Opa Santosa duduk dengan wibawa di kursi tamu, di depannya tuan Hendrawan dan nyonya Nursanti duduk dengan penuh hormat.
"Bara suami Yolanda..kalian tak usah..mencemaskan itu," kata Opa kepada anakknya.
"Tapi..."
"Kenapa..?," tanya Opa Santosa melihat tuan Hendrawan berniat berkata.
"Biarkan mereka.., kita lihat saja bagaimana perkembangannya." kata Opa Santosa tegas yang tak mampu di bantah lagi oleh Hendrawan apalagi Nursanti.
____________
__ADS_1
Masih stay....dukung terus ya...