
Keduanya kaget melihat Opa nya sudah ada di depan mereka berdua.
Bara yang masih memeluk Yolanda menjadi salah tingkah.
"M.mmaaf...Opa kami tak mendengar saat Opa memencet bel bahkan sampai masuk," kata Bara sambil melepaskan pelukannya terhadap Yolanda.
Opa hanya tersenyum dan sedikit menggelengkan kepalanya.
"Namanya juga pengantin baru, apa apa enggak dengar," kata Opa sambil meletakkan bungkusan paper bag.
Bara mendekat ke Opa menyambut tangannya dan menciumnya.
Yolanda pun mengikuti apa yang Bara lakukan.
Opa nampak kaget dan tersenyum senang.
"Aku suka kamu sudah berubah Yola," kata Opa yang melihat Yolanda makin sopan dan hormat kepada yang lebih tua.
"Iih..apa sih Opa, bukankan mengikuti perbuatan baik suami dapat pahala," kata Yolanda dengan cemberut kecil.
Opa makin senang dengan perubahan Yolanda semenjak bersama Bara yang terlihat makin dewasa dan lebih sopan.
"Naah gitu.. namanya cucu Opa, makin dewasa dan bertanggung jawab," kata Opa lagi.
"Silahkan duduk Opa..., mau minum apa..?," kata Bara dengan sopan.
"Tidak usah..Opa hanya mampir sebentar kok, tadi habis berkumpul sama temen-temen Opa dan mampir kesini," kata Opa sambil duduk di kursi.
"Waah banyak banget belanjaan nya..?," tanya Opa melihat barang barang masih di atas meja.
"Aku kemaren yang belanja Opa..," jawab Yolanda.
"Sama mama."
"Kenapa tidak sama suamimu..?."
"Ng..anu..," Bara bingung mau jawab apa.
"Mama yang ngajakin aku kok Opa, makanya sekalian aku beli untuk Bara," jawab Yolanda namun tak mengatakan yang sebenarnya.
Opa menganggukkan kepalanya sambil memandang ke arah Bara.
"Apakah pekerjaan kamu sudah di pindahkan..?," tanya Opa kepada Bara.
"Alhamdulillah...sudah Opa, sekarang saya di divisi pemasaran," jawab Bara dengan sopan.
"Belajarlah yang baik di sana, agar kamu nanti bisa megang perusahaan sendiri," kata Opa Santosa lagi.
"Haah..?!?!!!?," Bara hanya ternganga tak mengerti maksud Opa.
Mereka berbincang sesaat menanyakan apakah ada kendala selama di apartemen.
Bara hanya menjawab semua tak ada masalah.
__ADS_1
Setelah berbincang lumayan lama Opa pun pamit mau pulang ke kediamannya.
"Oh..ya..Bara.. Opa punya hadiah untukmu," kata Opa menyerahkan paper bag yang tadi di taruhnya.
"Itu hadiah pernikahan kalian yang belum sempat Opa berikan, terutama untuk kamu Bara," kata Opa lagi sambil tersenyum.
Bara kaget dengan Opa yang memberi hadiah pernikahan terutama untuk nya.
"Terima kasih Opa, atas kebaikan Opa sama saya," kata Bara yang belum melihat apa hadiah tersebut.
Apapun itu bagi Bara sudah merupakan suatu hal yang luar biasa, perhatian Opa padanya.
"Mungkin isinya.... jam tangan, atau cincin mungkin,...tidak...tidak atau kaca mata." batin Bara.
"Bukalah..," kata Opa.
"Buka Baraa..," kata Yolanda sambil tersenyum.
Bara membuka paper bag kecil yang ada di atas meja depan TV.
Hanya sebuah kotak persegi panjang, di bukanya kotak itu hati hati.
Jreeeeng...!
Tampak sebuah kunci kendaraan ada di kotak itu.
"Haah.., kunci kontak..??!?!?."
"Untuk kamu..," kata Opa sambil tersenyum.
Opa menganggukkan kepalanya.
Bara memandang Yolanda yang juga terlihat tersenyum kepada nya.
"I.i.ini...kunci apa ya Opa..?," tanya Bara yang masih tak percaya dan kebingungan.
"Ayo antar Opa ke bawah .., nanti Opa tunjukkan, sekalian Opa mau pamit pulang," kata Opa sambil berdiri dari kursinya.
Bara dan Yolanda pun mengantar Opa ke basemen, sambil berjalan Opa selalu memberikan Wejangan kepada keduanya.
"Tidak ada suatu kebetulan di hidup ini tanpa campur tangan Allah SWT yang Maha Kuasa," kata Opa.
"Maka kita sebagai manusia hanya bisa menjalankan semua yang sudah di gariskan tersebut dengan sebaik baiknya, dan jangan mencoba berbuat di luar batas yang sudah di gariskan."
"Bara...kamu sudah mengucapkan janji suci di hadapan para saksi, baik saksi agama maupun saksi manusia dan itu sudah di "sah" kan di mata hukum Allah SWT dan manusia, maka kamu harus menjalankan nya."
"Semua apa yang sudah kau ucapkan itu, maka lakukanlah sebagai mana mestinya seorang suami."
"Bertanggung jawab dan lindungilah istri mu serta bimbinglah Yolanda menuju hal yang lebih baik," kata kata wejangan Opa panjang lebar sepanjang perjalanan yang juga di dengarkan Yolanda.
Keduanya hanya menganggukkan kepalanya, entah sejak kapan juga Yolanda menggenggam tangan Bara yang berjalan di samping nya.
Mereka sampai di parkiran basemen, nampak sebuah mobil cukup gagah parkir di samping mobil Opa yang tampak berdiri para penjaga dan sopir nya.
__ADS_1
"Itu mobil kamu..," kata Opa, sambil menyerahkan kunci kontak yang tadi ada di kotak apartemen hadiah Opa.
"Haah..???," Bara nampak tak percaya dengan apa yang terjadi.
"U..un..untuk saya Opa..? tanya Bara masih tak percaya.
"Ya.. untuk cucu menantu Opa," kata Opa tersenyum.
Bara hanya mampu mencium tangan Opa tanpa mampu berkata kata, dirinya merasa tak pantas memperoleh kebaikan sebegitu besar.
Entah mengapa dia tak mampu mengatakan apapun, hanya gestur tubuh nya yang mengatakan bahwa dia merasa sangat bersyukur dan berterima kasih.
Yolanda hanya mengusap punggung Bara yang masih mencium tangan Opa.
"Opa pulang dahulu, ingat apa yang sudah Opa katakan tadi, jadilah suami yang bertanggung jawab terhadap istrinya, karena bagi Opa tak ada sesuatu yang kebetulan," pesan Opa sebelum masuk ke mobil dan meninggalkan apartemen itu.
Bara menunduk hormat mengantar kepergian Opa, semua yang di lakukan Bara di ikuti Yolanda.
"Hati hati Opa...," kata Bara dan Yolanda sambil melambaikan tangannya.
Kini tinggal Bara dan Yolanda yang masih di parkiran.
Bara masih nampak mengagumi Mobil yang ada di depannya.
"Waah...bagus banget..ck..ck..," gumam Bara pelan.
"Lihatlah.. interiornya ," kata Yolanda sambil membuka mobil tersebut.
Bara yang tak tahu apapun tentang mobil hanya melihat dengan penuh kekaguman.
Jangankan....mobil kayak gini, mobil sejuta umat yang biasa dia naiki saat nebeng teman temannya aja sudah membuatnya kagum.
"Tapi aku belum bisa nyetir..non," kata Bara kepada Yolanda.
"Nanti kita belajar bersama," jawab Yolanda.
Hari sudah makin siang saat Bara tersadar perutnya minta diisi karena sejak pagi belum sempat memakan apapun .
"Kita naik yuuk ...non, aku udah laper ," ajak Bara kepada Yolanda.
Keduanya kembali naik ke lantai apartemen nya dengan bergandengan tangan.
Setelah keduanya berc*uman tadi pagi, Yolanda merasa bahwa Bara benar-benar miliknya meskipun tanpa ada ucapan apapun dari bibir mereka berdua.
Keduanya sudah sampai di dalam apartemen.
Karena Bara keburu lapar maka Bara hanya ingin membuat makanan secepat nya.
"Non Yola mau enggak...?, kalau aku buatin nasi goreng, kan ayam goreng kemarin masih ada, jadi bisa kita manfaatin," kata Bara.
"Terserah kamu, aku enggak bisa memasak apapun," kata Yolanda tersenyum malu.
"Tenang aja ...non Yola duduk aja, biar aku menyelesaikan semuanya," kata Bara memulai membuat nasi goreng kebanggaan nya.
__ADS_1
____________
Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejak..