Aku Lebih Mencintaimu

Aku Lebih Mencintaimu
Eps 69 Gadis masa lalu


__ADS_3

Pak Darmais masih belum hilang dengan rasa keterkejutanya, mendengar uraian rencana anak dan menantu nya tersebut.


Apalagi melihat kesanggupan menantu nya yang akan membeli tanah tersebut.


Kini pak Darmais sedikit tahu bahwa menantu nya anak orang kaya bukan golongan orang biasa seperti dirinya.


Ketika Yolanda minta di antarkan ke tempat Mbah Wongso, bahkan pak Darmais masih belum beranjak dari kursinya karena mungkin masih syok.


"Pak... bapak... enggak pa pa..?," tanya Yolanda kepada pak Darmais.


"Ee..eh..enggak pa pa nak..Yola," kata pak Darmais tergagap.


"Gimana nak..?."


"Antarkan kami ke tempat Mbah Wongso..kami akan mendengar keseriusannya tentang tanah yang akan di jual itu," kata Yolanda kepada pak Darmais.


Akhirnya pak Darmais bersama Bara dan Yolanda pergi ke tempat Mbah Wongso.


Rumahnya hanya beberapa ratus meter dari rumah pak Darmais, tidak sampai lima ratus meter, hanya saja berkelok kelok jadi terasa sedikit jauh.


"Assalamualaikum.."


"Waalaikumssalam...," sahut Mbah Wongso yang kebetulan pagi itu sedang berkumpul dengan anak anaknya.


"Eeh..pak Darmais..tumben pagi pagi sudah kemari," sahut Mbah Wongso.


"Mari masuk pak.." kata anak Mbah Wongso yang bernama pak Sentot.


"Makasih pak.."


Pak Darmais pun masuk ke rumah Mbah Wongso yang tak terlalu besar tersebut.


Kemudian duduk di kursi bersama Bara dan Yolanda.


"Ada apa ya..pagi pagi pak Darmais kemari..??," tanya Mbah Wongso.


"Mau menanyakan tentang tanah Mbah Wongso yang berada di dekat pekarangan saya, apa benar mau di jual..?," kata pak Darmais dengan pelan.


"Lha..darimana pak Darmais tau..?," tanya pak Sentot anak sulung Mbah Wongso.


"He.he..saya kan perangkat desa, berita tersebut sudah sampai ke kelurahan," kata pak Darmais.


"Ooh..iyaa..ya..," kata pak Sentot dan Mbah Wongso tertawa... tersadar.


"Benar pak.., memangnya apa ada pembeli..?," sahut pak Sentot antusias.


"Ini...mereka berdua yang mau membeli, jika harga cocok..," kata pak Darmais.


"Ooh..bapak dan ibu ini..yang mau membeli..?," sahut Mbah Wongso tersenyum memandang Bara dan Yolanda.


"Iya..Mbah..," sahut Bara, sedang kan Yolanda hanya mengangguk.


"Memangnya Bapak ibu ini dari mana..?, artis ya..?," tanya pak Sentot sambil menelisik.


Bara tak bisa menyembunyikan tertawa nya.


"Masak pak Sentot lupa sama saya,..saya dahulu sering belajar mengaji sama pak Sentot di masjid," kata Bara.


Pak Sentot kaget, kemudian kembali mengawasi dengan seksama.


"Lho...Ini..Bara.?..iyaa..benar Bara..?," tanya pak Sentot kaget.

__ADS_1


"Iya..pak..ini saya ...Bara," sahut Bara.


Pak Sentot sangat senang, karena saat kecil Bara menjadi muridnya mengaji, terus waktu SMP hingga awal SMA membantunya mengajari anak anak kecil lainnya mengaji hingga akhirnya sudah hampir enam tahun ini baru bertemu kembali.


"Terus Non ini...?."


"Ini Yolanda istri saya pak."


"Ooh.., Alhamdulillah sekarang mas Bara sudah menikah..to..," kata pak Sentot yang jadi tak enak mau manggil langsung namanya.


Bara hanya tersenyum mendengar nya.


"Sebentar... sebentar...Jadi.. mas Bara dan mbaknya ini yang mau membeli tanah kami..?," tanya pak Sentot.


"Iya ..pak bila harganya cocok..," kata Bara sambil tersenyum.


Akhirnya mereka berembug serius dan dengan kemampuan Bara bernegosiasi akhirnya di sepakati harga tanah tersebut menjadi 2,7 M dengan pajak penjualan di tanggung bersama.


"Setuju ya pak..harga tanah 2,7 M dengan pajak di tanggung bersama dan pembayaran paling lambat satu bulan," kata Bara menegaskan.


Sebagai tanda jadi Bara menyerahkan uang satu juta yang ada di dompetnya.


**


Mereka bertiga pulang ke rumah saat itu Bu Romlah sudah berada di warungnya sedang membuka warung.


"Lho ..dari mana kok bertiga ..?," tanya Bu Romlah heran.


"Tempat Mbah Wongso..," sahut pak Darmais sambil masuk ke rumah.


Yolanda juga masuk ke rumah.


Bara masih duduk di beranda melihat aktivitas ibunya yang sedang menata barang belanjaan hasil kulakan di pasar terdekat.


"Menanyakan tanahnya yang mau di jual..," kata Bara sambil meminum kopinya yang sejak pagi masih terminum sedikit.


"Ooh..," kata Bu Romlah.


"Memang nya siapa yang mau beli kok tanya tanya segala..?," tanya Bu Romlah yang tersadar.


Belum sempat Bara menjawabnya si Tarjo sudah berteriak di pagar depan.


"Assalamualaikum..," ucap salam Tarjo dengan keras.


"Waalaikumssalam," jawab Bara tersenyum.


"Dasaar somplaak..ngapain teriak teriak di pagar depan..?," sahut Bara.


Tarjo hanya terkekeh mendengar Bara yang menggerutu.


"Sudah..pulang dari kebun..?," tanya Bara, karena tadi pagi waktu ketemu si Tarjo pamit ke kebun.


"Sudah..tadi di suruh emak ambil pisang di kebun, takut di makan codot kalau enggak cepet di panen."


"Eh..ternyata ada tiga tandan yang matang ni kamu saya bawain dua sisir," kata Tarjo sahabat masa kecil Bara tersebut sambil menyerahkan dua sisir pisang yang sudah matang.


"Waah besar banget satu sisirnya..," kata Bara kagum.


"Iyaa..tanah di sini kan subur subur..," sahut Tarjo.


"Mau minum apa niih..?," kata Bara menawarkan.

__ADS_1


"Alaa..ngaak usah repot-repot," sahut Tarjo.


"Santai aja kali ."


"Misye...buatkan kopi buat kang Tarjo niih..," teriak Bara kepada adiknya.


"Iyaa..kak..," sahut Misye dari dalam.


"Minggu depan datang enggak..?," tanya Tarjo.


"Aku usahain..," kata Bara pelan.


"Lho..kok di usahain...harus datang.. dong."


"Emang kamu enggak kangen sama Vivi gadis pujaanmu dahulu..?," seru Tarjo


Pas Tarjo menyebut nama Vivi saat itu Yolanda tengah berjalan ke depan beranda bersama Misye yang mau menghidangkan teh nya.


Deeg..!!


Yolanda sedikit terkejut, namun pura pura acuh saja,kemudian duduk di samping Bara.


Bara jadi kikuk sedangkan si Tarjo masih saja berkoar koar.


"Beneran enggak kangen lagi..?." goda Tarjo tanpa menghiraukan kehadiran Yolanda, mungkin dia pikir adik Bara karena Tarjo juga merantau dan jarang pulang, sampai akhirnya setelah menikah dengan Tatik jadi sering pulang.


Tak berapa lama kemudian Tatik menyusul ke sana.


"Tuuuh..bini mu nyusul..," kata Bara mengusir halus Tarjo yang mulutnya loss dool itu.


"Enggak..paling ingin ngobrol ngobrol..di sini," sahut Tarjo.


"Sini..dek.. ngobrol sama si jomblo abadi niih," kata Tarjo memanggil Tatik istrinya.


Tatik mendekat setelah tersenyum kepada Yolanda kemudian duduk di samping Tarjo suaminya.


Menurut Tarjo, Bara masih jomblo abadi sejak sakit hati di tolak Vivi idola di sekolah sewaktu SMP.


"Jomblo abadi apanya sih mas..?," kata Tatik yang sudah di beritahu Bu Romlah tentang Yolanda.


"Lha..ini dari SMP masih saja mengharapkan ViVi..," kata Tarjo lagi.


Plaak..!!


Tarjo di pukul lengannya oleh Tatik.


"Ngawuuur..mas Tarjo ini..," kata Tatik dengan keras.


"Lho..lah..bener kan..Bara dari dulu jatuh cinta sama Vivi sampai sekarang ngejomlo," cerocos Tarjo tanpa bisa di reem.


"Mas..!! non ini.. istri Bara..!!," teriak Tatik menghentikan ucapan suaminya yang tanpa kendali itu.


"Haah...??."


Tarjo menutup mulutnya dan jadi salah tingkah.


"Mm..m..maaf..non.., tadi cuma becanda kok," kata Tarjo cengengesan.


"Hadeeuhhh...," batin Bara.


__________

__ADS_1


Gimana .. reader...masih menarik kah.. cerita nya..?


__ADS_2