
Pak Darmais pulang dari Bank dengan badan gemetaran.
Sejenak dia duduk di teras rumahnya dengan wajah pucat pasi.
Dirinya teringat tadi saat di Bank.
Flash back on
"Maaf pak ada yang bisa saya bantu..?," sapa sekuriti Bank tersebut.
"Iya pak..saya mau mencetak buku dan menanyakan apakah transfer an dana untuk saya sudah ada..?," sahut pak Darmais sambil menunjukkan buku tabungannya.
"Maaf atas nama siapa ya pak..?."
"Darmais..pak Darmais.."
"Duduk dulu pak...," sahut sekuriti tersebut mengambil buku Bank dan membawanya ke teller.
"Terima kasih..," sahut pak Darmais sambil duduk di kursi yang banyak tersedia di ruang tunggu tersebut.
Agak lama petugas sekuriti dan beberapa petugas Bank berbincang sambil sesekali melirik ke arah pak Darmais yang saat itu memakai seragam dinas kelurahan.
"Eh...ada apa ini..tumben hanya mau mencetak buku saja ribet, padahal pas Bara transfer seratus dua ratus juta enggak kayak gini..," batin pak Darmais sedikit gelisah.
Ya beberapa kali....Bara transfer seratus juta, dua ratus juta hingga beberapa kali tak seperti ini prosesnya, jadi membuat pak Darmais sedikit gelisah.
"Maaf...dengan bapak Darmais..?," sapa petugas keamanan tersebut.
"Iya..saya sendiri..ada apa ya...pak..?."
"Bisa ikut kami ke ruangan pimpinan dahulu pak..?," kata petugas keamanan tersebut dengan sangat sopan.
Pak Darmais langsung mengikuti petugas keamanan tersebut menuju ruang pimpinan dari Bank yang cukup besar tersebut.
Di dalam ruangan pemimpin dari Bank tersebut sudah menyambut nya dengan sangat ramah sambil berdiri.
"Mari pak Darmais..silahkan duduk, maaf membuat bapak tak nyaman..," sapa pemimpin Bank tersebut.
Pak Darmais lalu duduk di depan kepala pimpinan Bank tersebut.
"Maaf pak ini hanya sekedar prosedur yang harus kami lakukan, karena ini bukan transfer seperti biasanya maka kami perlu minta pernyataan dari bapak Darmais.."
"Iya..pak..," sahut pak Darmais makin berdebar debar.
"Saya ingin tanya pak..ini transferan dari mana dan untuk apa..sekali lagi maaf pak karena prosedur nya harus begini," kata Pemimpin Bank tersebut.
"Ini transferan dari besan saya pak..karena anak dan menantu saya mau membuat sebuah proyek wisata mandiri yang berbasis edupark...maka untuk memperlancar proses pembangunan nya besan saya mentransfer sejumlah uang," sahut pak Darmais apa adanya.
"Terimakasih pak atas pernyataan bapak, karena dari pihak Bank juga harus melaporkan hal ini kepada bagian yang berwajib dalam hal ini adalah PPATK, karena nilai transfer yang jauh dari angka biasanya pak Darmais mendapatkan transferan.," kata petugas tersebut menerangkan.
Pak Darmais menganggukan kepalanya.
"Memangnya transfer nya berapa pak..?," tanya pak Darmais yang juga kaget.
"Sepuluh milyar..pak.."
"S.ssepuluh..mmmilyar.. pak..?," kata pak Darmais mengulangi perkataan petugas Bank tersebut.
"Iya...pak sepuluh milyar.."
Flash back Off.
Bu Romlah masih memandang suaminya yang barusan datang dari Bank dengan wajah pucat dan terlihat gemetaran.
__ADS_1
"Ada apa pak..?," tanya Bu Romlah melihat suaminya nampak lemas dan gemetaran.
"Duduk dulu Bu..," kata pak Darmais.
"Apa ada masalah..?," tanya Bu Romlah sambil mendekatkan sisa kopi pak Darmais yang tadi pagi belum keminum semuanya.
"Di minum dulu pak.."
Pak Darmais lalu meminum kopi yang di angsurkan istrinya tersebut.
Setelah sedikit tenang kemudian pak Darmais mulai bercerita.
"Kemarin pak Hendrawan papanya nak Yola menelpon bapak, terus kami mengobrol, setelah ngobrol beliau mau membantu proyek Bara agar segera terealisasi dan beroperasi.."
"Dan pagi ini bapak mengecek transferan beliau apakah sudah masuk apa belum, soalnya pesen pak Hendrawan jika sudah masuk transferan nya bapak di suruh telpon balik ke pak Hendrawan untuk antisipasi jika ada apa apa gampang mengurusnya..,"kata pak Darmais.
"Terus transferannya sekarang belum masuk..? jadi bapak panik..?,'' tebak Bu Romlah.
"Bukan Bu.."
"Lantas apa yang membuat bapak panik..?."
"Jumlah uang yang di transfer Bu.."
"Berapa sih jumlah nya..? sampai bapak gemetaran..," sahut Bu Romlah.
"Coba ibu tebak..," kata pak Darmais.
"Seratus juta..."
Pak Darmais menggeleng.
"Dua ratus..? tiga ratus..? empat ratus..?."
"Lima ratus juta ya pak..?."
"Sepuluh milyar...Bu...," kata pak Darmais pelan sambil tolah toleh takut ada yang mendengar.
"A.aapa..pak..? s.ssepuluh m.milyar..?," kata Bu Romlah juga tolah toleh takut ada yang mendengar nya.
Pak Darmais menganggukkan kepalanya.
"Benar Bu...bapak takut..jika uang itu membuat bapak tak amanah..," kata pak Darmais dengan lemah.
"Ya.. Allah.. lindungilah kami..jangan kau jadikan mata kami gelap karena harta..," kata Bu Romlah.
"Aamiin..," sahut pak Darmais.
"Ya sudah Bu..bapak tak menelpon pak Hendrawan dulu.."
"Oh..ya pak..tadi Tatik berbelanja ke warung kita, katanya siang nanti mau ke kota nyusul suaminya karena Tarjo dapat pekerjaan di tempat Bara..," kata Bu Romlah.
"Kerja di tempat Bara..?," tanya pak Darmais kaget.
Bu Romlah mengangguk.
"Iya..di galeri Bara ," katanya si Tatik.
"Ibu punya nomer si Tatik..?."
"Punya pak..memang kenapa..?."
"Enggak kenapa kenapa... siapa tahu kita besok butuh tanya tanya sama Tatik," sahut pak Darmais sambil berdiri dari duduknya.
__ADS_1
"Bapak tak telpon pak Hendrawan dulu Bu..takutnya di tunggu tunggu," kata pak Darmais.
**
Siang hari Tatik sudah berkemas berangkat ke kota.
Membawa satu tas dan satu kardus yang berisi pisang kepok pesanan suaminya.
"Budhe.. Tatik pamit..," teriak Tatik sambil di bonceng adiknya.
"Ya ati ati Tik...salam buat suami mu..dan Bara serta nak Yola ya..."
"Njeh budhe.."
Motor Manto adik si Tatik sudah melesat... takutnya tertinggal bis yang menuju kota tersebut.
Sampai di Pangkalan bis Untung nya masih "ngetem" menunggu penumpang.
"Yo wes..le' mbak Tatik tak mangkat Yo..wes Kono mulih ojo kelayapan," usir Tatik kepada adiknya Manto.
"Iyo mbak...ati ati Yo mbak...,"kata Manto.
"ya udah sana pulang..," kembali Tatik mengusir adiknya.
"Minta sangu mbak..," kata Manto cengengesan kepada kakaknya.
"Weladalaah...bocah gemblung..ni lima ribu...sana pulang..," usir Tatik lagi sambil tersenyum melihat adiknya, karena bagaimanapun sebenarnya Manto pemuda yang rajin meskipun kadang mata duitan.
"Ati ati Yo mbak..," seru Manto sambil menaiki motor bututnya dan jamping meninggalkan pangkalan bis tersebut.
Reeeenngg...reeeng..reeeng...
Tatik naik di bis tersebut setelah membeli tiketnya, lalu duduk di kursi yang kosong.
"Adikmu kae mbakyu..?." sahut salah satu penumpang bis.
"Iyo mas..."
"Weiiss...numpak e motor..koyo enome.. Valentino Rossi..Joss," sahut lelaki yang duduk di samping Tatik.
Bis yang di naiki Tatik sudah mulai meninggalkan pangkalan tersebut.
Tatik kemudian berkirim pesan kepada suaminya.
'Mas..aku wes mangkat..'
Ting
pesan terkirim dan di baca Tarjo yang masih istirahat membuat taman, tiduran di bawah pohon beringin samping galeri yang rindang.
'Iyo...ati ati..mas Tarjo keburu kangen Kowe Tik..'
'Yen wes tekan terminal kota aku di kabari.'
Dua pesan langsung Tarjo kirim sambil tersenyum senyum sendiri kayak orang gemblung, maklum hanya pakai celana selutut kaosnya sobek dan tiduran di bawah pohon di samping proyek tamannya.
Dari jauh Om Jhon hanya geleng geleng kepala..
"Cah...edan...," gumamnya sambil tersenyum senang seakan mendapat hiburan.
____________
**Sekali kali double up...jangan lupa jejaknya juga dobel lho yaa..
__ADS_1
Makasih... happy reading**...