Aku Lebih Mencintaimu

Aku Lebih Mencintaimu
Eps 50 Kunjungan Mendadak


__ADS_3

Pak Johan sudah mulai berkonsentrasi meneliti laporan keuangan yang masuk di kantor pusat itu.


"Oh..ya ..pak...tolong teliti laporan dari Santosa Propertindo..berkas itu barusan di antar Diana masuk, aku belum sempat menyentuh nya," perintah Yolanda kepada pak Johan.


"Baik Bu.," kemudian pak Johan mengambil berkas itu dan mulai meneliti nya.


Keduanya kembali terdiam mulai meneliti laporan keuangan tersebut.


Tampak pak Johan geleng geleng kepala, menandakan ada yang tidak beres.


"Ada apa pak..?, apakah ada masalah..?," tanya Yolanda.


"Ya... nampak nya ada sedikit kekeliruan di sini..," kata pak Johan.


Mendengar itu Yolanda memanggil Diana untuk masuk.


Setelah mengetuk pintu dan mendapatkan ijin Diana masuk ke ruangan direktur keuangan.


"Apa berkasnya sudah selesai.. Bu..?," tanya Diana.


"Belum."


"Siapa yang pertama memeriksa laporan dari Santosa Propertindo..?," tanya Yolanda.


"Divisinya pak Aan Mansyur Bu..," kata Diana.


"Panggil kemari..!," perintah Yolanda tegas.


"Baik Bu."


Tak berapa lama pak Aan Mansyur datang ke ruangan itu.


Dengan pelan pak Aan Mansyur mengetuk pintu dan mendekati dua pejabat tertinggi di bagian keuangan itu


"Ibu Yola memanggil saya...?."


"Duduk pak.."


Pak Aan Mansyur duduk di depan Yolanda yang di dampingi pak Johan.


"Apakah kau sudah teliti berkas ini sebelum masuk ke ruang ini..?,'' tanya pak Johan.


"Sudah pak..!!," jawab pak Aan Mansyur dengan yakin.


"Kamu sudah tahu ada kesenjangan di antara laporan ini..?."


"Iya ..pak saya tahu, tadi saya juga akan kesini memberi tahu hal itu, tapi keburu di panggil Bu Yola," kata pak Aan lagi.


"Periksa sekali lagi pak, kalau masih tetap sama kita akan lakukan sidak sekarang juga ke Santosa Propertindo," kata Yolanda.


"Baik Bu.."


kemudian dengan di bantu pak Aan Mansyur, pak Johan memeriksa bekas berkas tersebut.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian kedua bapak bapak itu sudah memberikan laporan nya.


"Tetap sama Bu..masih ada kesenjangan." kata pak Johan memberikan laporan nya.


"Diana...segera hubungi Santosa Propertindo, kita mau sidak ke sana sekarang," perintah Yolanda kepada sekertaris nya Diana.


''Baik ..Bu.''


**


Sementara itu di kantor Santosa Propertindo anak cabang dari Santosa Group di mana tempat Bara bekerja terjadi kegaduhan.


Penyebabnya apalagi kalau bukan berita tentang akan adanya sidak dari kantor pusat ke kantor tersebut siang atau sore nanti.


Berita mendadak itu membuat semua divisi kaget.


Meskipun di bagian marketing namun bu Ratna terlihat panik juga, namanya juga inspeksi dari pusat bisa saja kan berkunjung ke tiap divisi dan mencari kesalahan anak buahnya biar terkesan menakutkan dan berwibawa.


"Cepat rapikan semua meja kalian jangan sampai kita di nilai tak rapi dan acak acakan dalam bekerja karena itu menandakan kita tak bekerja dengan baik," perintah bu Ratna.


"Baik Bu..," jawab semuanya dengan segera termasuk Bara, karena semua tak tahu siapa yang akan melakukan sidak kesana.


"Bro..ni barang bawaan mu..," teriak Saiful kepada Bondan.


"Alaa...nitip sebentar..tempatku penuh," kata Bondan ngeyel.


"Woii..nggak bisa bro.. tempat ku juga penuh..ni..sama laporan..," teriak Saiful.


"Lagian...kenapa sih..bawa..tas besar juga, emang kamu mau minggat...ya," goda Tomy.


"Sudah .. sudah..sini tas nya taruh di bawah mejaku," seru Bara menengahi pertengkaran kecil itu.


"Makasih Bro..elu emang teman gue paling jempol," kata Bondan sok bergaya.


"Lagu lu.. basi ah...!!." kata Bara sambil menerima tas tersebut dan menaruhnya di bawah meja kerjanya.


Suasana makin tegang lagi ketika ada berita bahwa yang melakukan sidak adalah owner Santosa Group.


Bu Ratna makin terlihat cemas, meskipun sesungguhnya tak melakukan kesalahan apapun.


Siang mendekati sore yang di nanti pun tiba, rombongan dari kantor pusat nampak sudah ada di lobi gedung tersebut.


Kepanikan makin terjadi meskipun semua nampak menutupi nya.


"Rombongan sudah ada di lantai satu, tetap bekerja sesuai dengan kebiasaan kalian," demikian instruksi dari Bu Ratna.


Rombongan Owner sudah sampai di lantai tiga gedung Santosa Propertindo itu.


Pertama rombongan itu menuju bagian keuangan karena memang di sanalah sesungguhnya yang mau di sidak.


Mau mencocokan data data yang ada di laporan.


Di divisi marketing sudah pada kasak kusuk karena belum juga bagian sidak mengunjungi ruangan itu, padahal mereka sudah stay bergaya di meja kerjanya, istilahnya biar kelihatan kerja beneran....., wkwkwk ( biasanya kan gitu...hayo siapa yang di kantornya..kayak gitu..pura pura kerja keras kalau atasan lewat).

__ADS_1


Setelah beberapa saat rombongan itu berada di bagian divisi keuangan akhirnya rombongan itu keluar juga.


"Terima kasih pak Jauhari dan pak Maman.... atas kerja sama nya," kata Yolanda kepada direktur Santosa Propertindo dan kepala divisi keuangannya itu.


"Sama sama Bu Yola..kami mohon maaf karena sudah membuat kesalahan dalam penginputan data sehingga membuat kantor pusat bersusah payah ke sini," kata pak Jauhari dan di angguki oleh pak Maman.


"Bagian marketing sebelah mana ya..pak..?,'' tanya Yolanda.


"Mari Bu ...saya antar...," kata pak Jauhari dengan sedikit membungkuk kan badannya.


Bagian marketing yang mendapat berita itu seketika panik, termasuk Bara.


''Waah...gawat...tuan Hendrawan ke sini, bagaimana aku mesti bersikap niih."


"Mari Bu silahkan...," kata Bu Ratna kepada Yolanda.


"Berkas berkas ada di ruangan saya Bu...," kata Bu Ratna sambil sedikit membungkukkan badan.


"Saya tidak akan menginspeksi bagian ini ..kok Bu..," kata Yolanda sambil tolah toleh.


"Haah..????."


"Saya mau ketemu suami saya Bu..," kata Yolanda lagi dengan ringan tanpa sedikitpun malu.


''Haah..??," kembali orang orang di sana ternganga.


"Suami Bu Yola ada di divisi marketing...???."


Para petinggi perusaahan anak cabang itu nampak terkejut dan kaget.


"Mas Bara...!!," teriak Yolanda memanggil Bara.


Bara yang merasa di panggil oleh suara yang selalu di rindukannya, sontak menoleh ke arah pintu masuk ruang marketing tersebut.


Bara melihat "Istrinya" yang melambai ke arahnya.


Sesaat ragu karena orang orang melihat ke arahnya.


"Sini...," panggil Yolanda.


Bara pun berdiri dan menghampiri Yolanda dengan tatapan seribu makna baik dari teman maupun petinggi kantor.


"Ini suami saya," kata Yolanda sambil memeluk lengan kekar Bara.


"Ooh..."


Semua melongo tanpa bisa berkata apa-apa, apalagi Bu Ratna serasa kakinya lemes seketika.


Bara masih sama seperti hari yang lalu sopan mengangguk ke arah semuanya termasuk kepada mbak Ratna..eh..Bu Ratna.


Semua jadi serba kikuk sesaat, mereka tak menyangka jika Bara adalah menantu dari keluarga Santosa pemilik Perusahaan besar itu


____________

__ADS_1


**Tetep baca dan dukung terus ya...


Huaa...haaa...nangis**...


__ADS_2