
Melihat Yolanda yang masih diam seakan enggan mengangkat telponnya, Bara mendekat memeluk pundak gadis itu.
"Di angkat Non, telpon mama non Yola..," perintah Bara pelan.
"Cck ..males..," kata Yolanda dengan bibir manyun, gumaman pelan Yolanda masih dapat di dengar Bara.
"Ish...enggak boleh kayak gitu, dosa lho nanti kita mengabaikan orang tua," kata Bara lagi sambil mengusap lembut punggung Yolanda, memberikan semangat.
"Di angkat ya..?," kata Bara lembut, mengambilkan handphone Yolanda yang ada di meja depan mereka.
Yolanda menerima handphone yang masih berdering tak berhenti itu, kemudian menggeser tombol hijaunya.
"Halo...?," sapa Yolanda dengan malas malasan.
"Kamu dimana..?, dari pagi sudah main pergi... pergi..., sampai sore enggak pulang pulang, jangan bilang kamu di apartemen... sama....anak kampung itu..!!," Mama Santi nerocos memarahi anaknya.
Yolanda menghela nafasnya.
"Memang ada apa mama telpon Yola..? tanya Yolanda lagi.
"Mama mau ajak kamu ke salon.," kata mama Santi.
"Tapi Yola enggak mau, kalau di ajak ketemu sama orang yang enggak jelas," kata Yolanda protes.
Bara hanya terdiam di samping Yolanda, mendengar keluhan "istri kontraknya" bersungut-sungut.
Dia hanya mendengarkan tanpa berkata apapun, karena memang tak punya hak untuk bicara.
"Pokonya mama ingin kamu segera pulang..., atau mama akan menjemput mu kesana... dan memaki anak kampung yang tak mengaca diri...siapa dirinya sebenarnya...," kata mama Santi dengan marah.
"Iya..ya...mah ..aku pulang," sahut Yolanda akhirnya dengan makin lesu karena enggak mau Bara di salahkan.
"Aku enggak ingin...mama kesini lagi dan memarahi Bara, dia enggak salah apapun."
Yolanda menutup telponnya sambil terlihat kecewa dan jengkel.
"Ada apa..?," tanya Bara lembut kepada nya, sambil kembali direngkuhnya bahu gadis itu hingga menyatu dengan nya.
Yolanda nampak bersedih, menyandarkan kepalanya di bahu Bara.
"Mama memintaku pulang, padahal aku masih mau di sini," kata Yolanda tampak sedih.
Bara mencium kepala Yolanda yang terasa sangat harum rambutnya.
"Pulanglah...besok besok..kalau longgar kita ketemu lagi," kata Bara lembut menghibur Yolanda dan juga hatinya.
__ADS_1
Sebenarnya ada rasa perih saat dia mengucapkan itu.
"Kalau saja aku mampu...sudah aku tahan kau agar selalu ada di samping ku...jujur aku juga tak kuat jika ...harus berpisah denganmu kini."
"Mau pulang kapan..? sekarang.. apa habis Maghrib.. sekalian kita sholat bersama...dahulu.," kata Bara sambil menciumi rambut gadis itu.
Yolanda tak menjawabnya tapi malah memeluk badan Bara sambil menyusupkan kepalanya ke dada pemuda tersebut.
Bara masih menciumi rambut gadis itu, meskipun hatinya juga sangat sedih namun dia menguatkan Yolanda agar tak makin bersedih.
"Sebentar lagi maghrib, kita sholat dulu yuk, habis itu aku antar ke bawah," kata Bara, agar Yolanda tak lagi bersedih.
Habis sholat Maghrib Bara mengantar Yolanda ke basemen, menuju di mana mobilnya parkir.
Yolanda tak banyak bicara, hanya memeluk lengan Bara di sepanjang jalan.
Setelah sampai di mobil Yolanda, Mereka berhenti sesaat, masih saling bergandengan seakan Yolanda enggan untuk meninggalkan Bara.
"Sekarang Non Yola pulang, nanti Nyonya besar menunggu nunggu non Yola di rumah, hati...hati...di perjalanan, besok kalau longgar kita ketemu lagi," kata Bara sambil melepaskan genggaman tangan nya.
"Nanti aku di kabari kalau udah sampai rumah ya " kata Bara lagi.
Yolanda mengangguk kemudian berjalan menuju mobilnya namun tiba-tiba berbalik lagi menghampiri Bara dan....
Cuuup...
"Hati hati...," kata Bara pelan namun mampu di dengar Yolanda.???
Lambaian tangan Yolanda di balas Bara, kemudian Yolanda menjalankan mobilnya meninggal kan apartemen tersebut.
Kembali kesunyian menghinggapi Bara, namun dibuatnya selalu berpikiran positif, bagaimanapun dirinya hanya suami dengan status "kontrak" dan tak berhak apapun atas diri Yolanda.
Bara menghampiri kembali mobil hadiah dari Opa mumpung saat ini ada di basemen.
Sebuah mobil jenis SUV yang baginya nampak terlihat sangat gagah.
Di keluarkan nya Kunci Kontak yang ada remote nya, di bukanya mobil tersebut, tadi pagi sekilas Bara melihat buku panduan mobil baru itu ada di dasboard.
Bara ingin mempelajari nya untuk mengusir sepi.
**
Bara naik kembali ke apartemen, membuka buka buku panduan mobil baru hadiah dari Opa.
Masih serius Bara mempelajari buku panduan dari mobil itu ketika handphone nya berbunyi.
__ADS_1
Drrtt....drrtt... drrt...
Di lihatnya "monster cantik" memanggil.
"Halo...udah sampai rumah..?," sapa Bara.
"Iya...," jawab Yolanda lembut.
"Alhamdulillah..," kata Bara.
"Tapi aku mau di ajak mama lagi ke salon..," terdengar suara Yolanda sedikit lesu.
"Ikut saja, mungkin nyonya besar butuh teman..hati hati di jalan ya..," pesan Bara.
"Iya.."
"Baraa...," suara Yolanda pelan memanggil Bara karena suasana yang hening.
"Iya non...., aku masih stay kok," jawab Bara.
"Aku... sedih, besok kita tak bisa ketemu," kata Yolanda.
Memang selain week end mereka berdua sangat sibuk karena keduanya sama sama pekerja keras, kuliah sambil bekerja.
"Nanti kalau ada waktu luang kita bisa ketemu," jawab Bara menghibur Yolanda juga diri sendiri.
"Udah dulu ya,...aku mau nemani mama ke salon," pamit Yolanda.
"Iya ...hati hati," jawab Bara.
"Baraaa..."
"Iyaa..."
"Sayang dulu.....," rengek Yolanda dengan suara manja.
"Muaah...!!," Bara mencium handphone nya kayak orang gila.
Yolanda yang mendengar itu tertawa lirih di seberang.
"Udaah yaaa," kata Yolanda sebelum menutup panggilan telponnya.
__________
**Maaf chapter nya ... pendek...
__ADS_1
habisnya lagi mager ...idenya...
Tapi tetap kasih...jempol lho..ya**...