
Bara pulang ke apartemen dengan bermacam bawaan, semua itu adalah perlengkapan melukisnya.
Ada media kanvas yang sudah siap untuk melukis, ada bermacam cat minyak dan segala perlengkapan nya.
"Weeih..sibuk amat..," tanya Om Jhon ketika bertemu Bara di depan lift.
"Alhamdulillah..Om, ...banyak pesanan..," sahut Bara tersenyum kepada Om Jhon.
"Memangnya..sore sore Om Jhon dari mana..?, kok cuma pakai kaus dan celana pendek..?," tanya Bara begitu melihat Om Jhon yang nampak santai.
"He.he..he.. lha itu, Om ...tadi kepingin makan pisang goreng sambil nongkrong di kafe G'dangs,...eeh..lha kok malah tutup ya sudah ....Om pulang lagi saja," kata Om Jhon sambil tersenyum kecut.
"Pisang goreng Om..?."
"Iya..."
Sahut Om Jhon dengan wajah lesu.
Seketika Bara teringat akan oleh oleh dari kampung pemberian si Tarjo.
"Om..mau aku buatkan pisang goreng..?," tanya Bara.
"Enggak ..ah, entar ngrepotin."
"Cck..Om ini ..kayak sama siapa aja.." sahut Bara lagi.
"Om enggak enak sama istri kamu..," kata Om Jhon akhirnya.
"He.he..he hari ini istriku baru pulang ke rumah orangtuanya, jadi saya sendirian Om.."
Om Jhon memandang Bara melihat keseriusan di wajahnya.
"Beneran nggak ngrepotin..?."
"Beneran Om.. itung-itung nemani Bara biar gak gabut," sahut Bara sambil tersenyum.
"Ok..siapa takut ..," kata Om Jhon sambil mengikuti langkah Bara memasuki lift karena pintu nya sudah terbuka.
Sampai di apartemen nya, Bara menyimpan perlengkapan melukisnya, kemudian berganti pakaian dan langsung membuat olahan Pisang tersebut.
"Mau di goreng biasa apa gimana Om..?," tanya Bara menawarkan.
"Terserah..pokonya bahan nya pisang," kata Om Jhon sambil tersenyum dan dengan sabar menunggu.
"Minumnya apa Om..?."
"Kopi aja tanpa gula..kan pisangnya sudah manis..nanti enggak sehat."
"Ok..siaap..," sahut Bara mulai membuat olahan pisang tersebut.
Sambil mengupas pisangnya Bara memanaskan air di tungku yang satu dan memanaskan teflon di tungku yang lain.
Kemudian pisangnya di penyet atau di geprek lalu di bakar di teflon dengan di olesi margarin.
Saat masih panas pisangnya di kasih parutan keju dan di siram susu kental manis...jadi deh.
"Silahkan Om di nikmati pisang dan kopi nya," sahut Bara dengan meletakkan dua porsi pisang dan dua cangkir kopi di meja, di ruang tempat nya berkarya.
__ADS_1
"Waah...baunya harum banget..," kata Om Jhon nampak kesenangan.
Bara pun tersenyum mendengar ucapan Om Jhon.
"Kenapa sih Om suka sekali sama pisang goreng..? sampai di bela belain sore sore keluar apartemen..?," tanya Bara dengan sedikit keheranan.
Om Jhon menghela nafasnya dengan wajah sendu.
"Ini bukan masalah pisang sebenarnya..tapi masalah kenangan yang melatari Om Jhon menyukai olahan pisang," sahut Om Jhon.
Bara yang mendengar itu lalu menghampiri Om Jhon dan duduk di samping nya.
"Dahulu almarhumah istriku sangat menyukai mengolah berbagai makanan dari bahan pisang."
"Dan saat ini... Om kangen saat saat tersebut.," sahut Om Jhon dengan wajah sedih.
Bara hanya manggut-manggut.
"Maaf Om, aku sudah bertanya pertanyaan yang membuat Om Jhon jadi bersedih," kata Bara dengan tulus.
"Santai saja ..Om sudah biasa kok," sahut Om Jhon mulai bisa tertawa lagi.
"Makasih ya Bara...kamu sudah mau bersusah susah membuat kan Om makanan kenangan ini," kata Om Jhon dengan tersenyum sambil memgangkat piring kecil tempat pisang penyet keju berada.
Bara tersenyum saja.
"Om kita ngobrol sambil Bara melukis ya..?," kata Bara meminta ijin untuk berkarya.
"Oh. yaa..yaa..silahkan.."
"Aku malah senang bila melihat mu melukis, seperti melihat hiburan saja..he.. he..he..," sahut Om Jhon
Memang kadang seniman itu unik unik...ada yang bisa berkarya bila lagi sepi, ada juga yang bisa berkarya bila mendengar musik tapi bagi Bara dia makin menikmati dalam berkarya melukisnya jika sambil mengobrol..meskipun saat sepi pun dia mampu membuat karya lukis yang indah.
"Wuiihh... mantap kalee..," seru Om Jhon yang melihat dari awal pembuatan lukisan tersebut.
Awalnya hanya kanvas kosong yang di corat coret sedikit demi sedikit lama lama terbentuk sebuah gambaran dan makin jelas ..dan jelas hingga menjadi sebuah lukisan.
"Sudah selesai itu..?," tanya Om Jhon melihat lukisan yang sudah terlihat indah.
"Belum Om..masih perlu finishing lagi..tapi nunggu sebagian catnya kering."
"Keringnya berapa lama..?."
"Dua tiga hari Om..karena kalau belum kering catnya kalau ditumpuk malah nyapur warnanya, enggak sesuai yang di harapkan," sahut Bara.
Memang ada kalanya warna yang di butuhkan warna murni namun tak jarang juga warna campuran, sehingga butuh waktu untuk mengoleskan warna warna dasar ke dalam lukisan agar tak tercampur warnanya.
"Saat ini cukup seperti ini, lha besok tinggal finishing."
"Memangnya dalam sehari bisa membuat berapa lukisan..?."
"Tergantung Mood nya Om, bisa satu..tapi juga bisa..berpuluh puluh ..bila pas ada kemauan."
"Wuiihh...mantap dah...," sahut Om Jhon dengan kagum yang tak di buat buat.
Bara melepas celemek yang di pakainya agar tak mengotori bajunya dari cipratan cat minyak lalu menggantung celemek tersebut.
__ADS_1
Kemudian duduk kembali di dekat Om Jhon sambil memandang hasil karyanya.
"Kenapa enggak membuka semacam galeri untuk pameran seni lukis..?, Om kira di kota kita bahkan di negeri ini masih jarang tempat yang memajang karya lukisan atau tempat di mana seseorang bisa mendapatkan lukisan berkwalitas seperti ini..?," tanya Om Jhon.
Bara terkekeh mendengar perkataan Om Jhon.
"Pingin sih..Om...cuma enggak ada duit, juga Enggak punya strategi untuk pemasaran nya...enggak ada koneksi..," sahut Bara sambil tersenyum ringan.
"Om bisa bantu.."
"Maksudnya ...Om..?."
"Om bisa tanam saham sekaligus ikut menjadi bagian pemasaran nya..," Sahut Om Jhon serius.
Bara memandang Om Jhon dengan seksama.
"Apa lukisanku benar benar layak di pajang dalam sebuah Galeri..?."
"Sangat layak...," sahut Om Jhon dengan cepat.
"Bagaimana...?," tanya Om Jhon.
"Bara benar benar tak punya gambaran sama sekali Om..," sahut Bara.
"Asal kamu sanggup membuat lukisannya...Om akan memikirkan bagaimana tempat, ijin serta pemasarannya dan tentu saja modalnya...halaaah...paling paling itu hanya butuh berapa....jeti..enggak sampai eM ..eM an..," kata Om Jhon.
"Whaat..??!?!," sahut Bara saat Om Jhon meremehkan uang segitu.
Yaa..karena Om Jhon orang berduit kali, jadi modal ratusan juta bahkan kisaran satuan M masih enteng baginya.
"Bagiamana..?, sanggup..?." tanya Om Jhon.
Bara berpikir sejenak.
"Sanggup Om..," sahut Bara setelah menimbang dan berfikir sejenak.
"Tos... dulu..," teriak Om Jhon.
"Deaaal...! ," Kata keduanya sambil mengayunkan tangan melakukan "Tos" dan tertawa.
"Baik..mulai besok Om akan punya kegiatan..," kata Om Jhon dengan bangga sambil tersenyum nampak senang sekali.
"Om punya bangunan di kota ini yang tak terpakai ...akan Om sulap menjadi sebuah galeri seni dan sedikit demi sedikit akan Om promosi kan," kata Om Jhon lagi.
Bara tersenyum saja karena masih ragu akan keberhasilan usaha tersebut.
"Yang penting usaha..dan berdoa.. bismillah..semoga Allah mengijabahinya...Aamiin." Bara.
__________
**Selamat membaca semoga terhibur..
Jangan lupa tinggalkan jejak nya...
Baca juga karya lainku
* Jagoanku ternyata CEO
__ADS_1
* Aku Lebih Mencintaimu**