Aku Lebih Mencintaimu

Aku Lebih Mencintaimu
Eps 56 Rencana Pulang Kampung


__ADS_3

Selama pekan ini kegiatan Bara mengalami peningkatan kesibukan yang drastis, bahkan terkadang harus Bolak balik ke salah satu Mall untuk membeli cat minyak baru serta perlengkapan nya untuk menyelesaikan beberapa lukisannya.


"Kayaknya sibuk banget..?," sapa Om Jhon.


''Iya Om," sahut Bara sambil tersenyum.


"Beli cat minyak...buat ngelukis sama media kanvas serta perlengkapan nya," kata Bara lagi.


"Wiih..rupanya kau seniman..?."


Bara cuma senyum saja.


Beberapa kali itu Bara berpapasan dengan Om Jhon yang akhirnya jadi tertarik untuk melihat karya seni lukisan Bara.


"Om jadi tertarik melihat hasil karya mu...seperti apa... seh..?, sekalian mau main ke tempat mu."


"Boleh Om.. silahkan..," kata Bara.


Om Jhon beneran main ke apartemen Bara, dia mengekor di belakang Bara yang masih membawa peralatan nya.


"Mari masuk Om..silahkan," kata Bara mempersilahkan Om Jhon masuk ke tempat huniannya.


Mereka pun masuk ke apartemen Bara yang nampak bersih dan rapi.


Om Jhon langsung mengikuti Bara menuju ruangan biasa dia berkarya.


"Maaf ya Om..ini aku langsung mau nyelesaikan pekerjaan," kata Bara yang langsung memulai menyelesaikan lukisannya.


Om Jhon hanya mengawasi dan melihat lihat.


"Waah..hebat kau, bagus bagus karyamu..," kata Om Jhon yang tak bisa membunyikan kekaguman nya.


Bara kembali tersenyum sambil melukis.


Lama keduanya terpaku diam.


Om Jhon tak banyak bertanya lagi, hanya duduk sambil menikmati lukisan menemani Bara yang masih konsentrasi melukis.


"Oh..ya..Om Jhon mau minum apa neh..?," tanya Bara memecah keheningan.


"Enggak usah repot-repot, selesaikan saja pekerjaanmu," sahut Om Jhon yang nampak pengertian.


"Ini sudah mau istirahat dulu kok Om," kata Bara tersenyum sambil melepas celemek yang di gunakan agar bajunya tak terciprat cat pewarna saat melukis.


Sambil meletakkan palet tempat mencampur cat dan kuasnya, Bara menghampiri Om Jhon.


"Kopi..? Teh..? atau...soda dingin..? ," tanya Bara kembali.


"Kopi aja kalau begitu..," kata Om Jhon sambil tersenyum.


Bara memanaskan air di dapur yang berada di sebelah tempatnya melukis, kemudian membuat dua cangkir kopi.


Membawa kedua cangkir itu dan meletakkannya di meja kecil diruang melukis, lalu mengambil makanan kecil dan membawanya ke ruang itu lagi.


Menghempaskan pantatnya ke kursi yang berada di samping om Jhon.

__ADS_1


"Di minum om ..mumpung masih hangat."


"Oh..iya... makasih..," sahut Om Jhon sambil tersenyum mengambil salah satu cangkir terdekatnya.


Sruup...


"Ngomong omong..kok sepi ...? kemana istri mu..?."


"Baru balik ke orang tua nya Om," kata Bara ringan.


"Eeh..??."


"Kalian baik baik saja kan..?, maaf..maksud Om Jhon...kalian tak bertengkar kan..?."


Bara menggeleng pelan.


"Kami baik baik saja kok Om." Bara tersenyum.


Keduanya kemudian bercerita panjang lebar, dari membahas permasalahan kehidupan sehari hari sampai ke masalah yang akhir akhir ini lagi Booming.


Bahkan pembicaraan melebar kemasalah pribadi.


Om Jhon..seh..yang sebenarnya bercerita, tentang kondisi nya, keluarga nya bahkan anak dan cucu cucunya.


Bara hanya mendengarkan dengan setia.


Ternyata Om Jhon orang tajir juga..terang aja... siapa emang yang bisa punya apartemen di sini kalau bukan orang tajir...iya kan....


"Bagaimana...dengan kehidupan mu sendiri Bara...? tanya Om Jhon.


Bara tersenyum..kemudian menggeleng kan kepalanya..pelan.


"it's ok...," kata Om Jhon tersenyum sambil berdiri mengawasi sebuah lukisan hutan dan pegunungan yang ada danau di tengahnya.


"Berapa sih..kisaran harga lukisan mu..?," tanya Om Jhon.


Bara mendekati Om Jhon dan ikut memandang hasil karyanya.


"Sekitar Lima hingga puluhan jeti Om," kata Bara pelan sambil bergurau dengan kata "Jeti" untuk juta.


"Ya...dengan kwalitas sebaik ini..murah harga segitu..," kata Om Jhon menimpali perkataan Bara.


"Hebaat...kamu, semuda ini sudah punya karya..., punya apartemen sendiri...masih di tambah kerja kantoran dan kuliah..," kata Om Jhon sambil menepuk nepuk bahu Bara.


"Hebaat...apanya Om..?, nanti kalau Om tahu..aku yang sesungguhnya, malah menyumpahi aku..dan membodoh bodohkan aku," kata Bara tersenyum kecut.


"Aku..belum siap cerita kepada siapapun masalah pribadiku Om..tapi yang jelas aku tak merugikan orang lain," sahut Bara lagi.


"Ok...Om..siap jadi teman berkeluh kesah mu bila saatnya tiba..he..he..he..," canda Om Jhon sambil kembali menepuk bahu Bara.


**


Tanpa terasa waktu seminggu sudah hampir kelar.


Bara tersenyum senang karena minggu minggu ini dia mendapatkan pemasukan yang luar biasa.

__ADS_1


Beberapa lukisannya terjual dengan laris manis, dari pesenan Santosa Propertindo yang melewati lobi Bu Ratna untuk kelengkapan hunian beberapa Blok rumah super mewah membuat rekening nya makin menggendut.


Bahkan sekarang tabungannya mungkin sudah cukup jika untuk membeli sebuah rumah serta kendaraan..hebat bukan.


Belum lagi lukisan yang terjual on line dan juga lewat dari Janeta anak pak Musri.


Memang manusia kadang tak bisa menyangka dan menduga kapan datangnya rezeki dari Yang Maha Kuasa.


Dengan gaya hidup yang terbilang sederhana, tak suka foya foya..pundi pundi uang Bara makin menebal di rekeningnya.


Selain dari lukisan dia juga mendapat kan gaji bulanan..dari tempat kerjanya, sehingga kartu ATM yang di dapatkan dari tuan Hendrawan yang di berikan oleh pak Beni saat dia menandatangani kontrak pernikahan dengan Yolanda masih utuh tak tersentuh...sama sekali.


Entah .. sebenarnya berapa isinya, karena sesuai perjanjian dahulu selain uang di awal kontrak, uang akan terus di transferkan setiap bulannya ke rekening tersebut.


Bara sama sekali tak perduli dengan rekening tersebut, dari kontrak nikah tersebut dia hanya menggunakan uang cash yang dulu pernah di berikan oleh pak Beni saat membantu biaya operasi Bapaknya.


Hari ini Jumat pagi, sejak semalam Bara sudah menyiapkan semua perlengkapan untuk pulang kampung.


Semalam Bara sudah memberitahukan akan kepulangannya ke kampung halamannya kepada Yolanda.


Yolanda malam tadi hanya berkata, "hati hati, ingat aku.. istrimu di sini.' dengan lemah.


Bara tersenyum kala itu, dan berkata, "ya..sayang..jangan khawatirkan suamimu..," dengan sedikit bercanda.


Kemudian mereka bercakap lagi di telpon tersebut, mungkin sekedar bertanya tanya iseng Yolanda menanyakan alamat Bara.


"Mas Bara asalnya dari mana sih..?,alamatnya mana..?," tanya Yolanda saat semalam.


Dan Bara pun mengatakan dengan detail, meskipun Bara tahu mungkin istri nya hanya berbasa basi.


Percakapan malam itu di akhiri dengan pesan Yolanda.


"Ingat.. sudah punya istri...jangan mau di jodohkan," begitu Yolanda berkata dengan tegas kepada Bara.


Bara pun menjawab dengan tegas pula.


"Insyaallah..Mas Bara akan tolak rencana tersebut."


Saat hari sedikit siang Bara yang sudah ada janji niatan untuk mentraktir teman teman satu divisi nya sudah mulai meninggalkan kantor tersebut.


Rencana itu sudah di sampaikan kepada "mbak Ratna", dan oleh pimpinan divisi sudah di sampaikan kepada seluruh staff ruang itu.


"Besok pak Bara akan mentraktir kita..!!," kata Bu Ratna kala itu.


"Kita akan makan makan di Cafe AAA dekat kantor saja, soalnya habis itu pak Bara akan perjalanan pulang kampung," kata Bu Ratna lagi kala itu.


Semua bersorak gembira mendapatkan traktiran tersebut.


"Namanya juga menantu orang tajir ya ...gini..main traktir makan siang di cafe dengan enteng," kata Bondan bergurau ke Bara.


Bara hanya tertawa saja..


____________


**Berikan dukungan nya ya....

__ADS_1


jangan lupa jejaknya...


Happy reading**...


__ADS_2