
Nursanti sangat syok ternyata selama ini Leon bersikap manis hanya topeng semata.
Sebuah kepura puraan menjadi orang baik, meskipun sebenarnya bejat.
"Maaf Pah...aku telah salah menilai orang, aku kira dia bisa kembali menjadi anak baik seperti yang di tampakkannya kepada mama selama ini."
Tuan Hendrawan hanya mengangguk saja, kemudian berkata.
"Syukurlah..kita tak jadi menikahkan anak kita dengannya mah.."
"Apa jadinya dengan keluarga ini jika beneran kita menikahkan Yolanda dengannya..," kembali tuan Hendrawan berkata dengan pelan.
Keduanya berangkulan sambil masih menyaksikan tayangan televisi tersebut.
"Sekarang dimana ya pah anak kita Yolanda," kata Nyonya Nursanti sambil menatap sang suami.
"Papa juga belum tahu mah, tapi papa yakin dia bersama Bara..," kata tuan Hendrawan pelan.
"Apakah mungkin di ajak ke desa anak itu...?," kata nyonya Nursanti yang kini tak lagi menyebut Bara dengan sebutan anak kampung.
"Tidak.."
Mendengar jawaban suaminya Nursanti segera menoleh ke arah tuan Hendrawan.
"Bagaimana papah bisa tahu..?."
"Papa pernah ke tempatnya... bahkan mengobrol dengan kedua orang tuanya yang begitu baik kepada papa dan mereka sangat menyayangi Yolanda," sahut tuan Hendrawan.
"Kok Papah enggak mengajak Mama..?," kata Nyonya Nursanti kemudian.
"Memangnya mama mau ke kampung Bara..?," tanya tuan Hendrawan.
"Sekarang mau Pah...demi anak kita Yolanda..," kata nyonya Nursanti sedikit pelan.
"Mereka tak di sana ..," kata tuan Hendrawan lemah.
"Terus dimana pah..?, masak papah enggak bisa melacaknya..?.."
"Coba besok papa akan coba mencarinya kembali dengan lebih serius..," sahut tuan Hendrawan.
**
Pak Darmais yang sudah mendapatkan nomor baru Bara sedang berusaha menghubungi nya.
Drrt.. drrt...
Bara saat itu baru pulang dari tempat kerjanya, kini sudah hampir satu minggu dia bekerja menjadi seorang pemimpin perusahaan.
Makin lama kemampuan Bara menjalankan perusahaan makin terlihat mahir, Bara memang orang yang cerdas, pintar belajar memahami sesuatu.
Mereka masih mengobrol dengan Opa Santosa dan Yolanda istrinya.
"Sebentar Opa telpon Bara berbunyi," kata Bara meminta ijin kepada Opa untuk mengangkatnya.
Opa mengangguk.
"Assalamualaikum..Bu.."
"Waalaikumssalam.."
"Eeh..bapak..Bara kira ibu..," sahut Bara tersenyum karena salah mengira.
"Iya...habisnya bapak telpon pakai nomer yang kamu kirim tidak bisa, makanya bapak pinjam telpon ibumu."
"Emm... nomernya baru mati pak," Bara sedikit berbohong.
"Ada apa ya .. pak..?, telpon Bara..?," tanya Bara kepada bapak nya.
"Enggak bapak cuma kangen sama kamu.."
"Oh..ya...maaf pak belum bisa pulang kampung dan juga belum sempat kirim uang untuk pembangunan proyek, karena Bara baru pindah kerja pak..," kata Bara pelan tapi Opa Santosa dan Yolanda bisa mendengarnya.
"Iya..nggak pa pa bapak tahu kesibukan mu, justru itu bapak mau memberitahu mu sesuatu yang malah bapak lupa kemarin itu."
"Tentang masalah apa pak..?."
"Beberapa minggu yang lalu, ayah nak Yola pak Hendrawan berkunjung ke mari.."
"Apa..?? tuan..eh..m.maksud Bara p.ppa pa Hendrawan ke kampung..?," teriak Bara sedikit keras membuat Opa dan Yolanda makin memandang Bara.
"Iya..pak Hendrawan kemari..kami ngobrol cukup lama, bahkan beliau juga sempat makan di sini..," kata pak Darmais sambil terkekeh senang bisa menjamu besannya saat itu.
"Terus kami melihat proyek gagasanmu..beliau nampak senang banget..."
Pak Darmais terus saja bercerita Bara hanya mendengar nya.
"Kan saat itu uang yang kau kirim hampir menipis, rencana Bapak mau mengurangi tenaga tukang batunya....eh malah pak Hendrawan melarangnya..dan beliau mentransfer sejumlah uang untuk menyegerakan proyek itu segera jadi."
"Apa..??," Bara sedikit kaget.
"Iya ...pak Hendrawan menstranfer uang ke bapak agar proyek gagasanmu segera rampung dan bisa di operasikan.."
"Berapa pak transfer nya..?," tanya Bara yang masih kaget.
"Sepuluh milyar...bahkan kini proyek nya hampir delapan puluh persen selesai," sahut pak Darmais.
__ADS_1
"Apaa..?? s. ssepuluh... m.mmilyar..?," sahut Bara kaget.
"Iya..sepuluh milyar... bapak sendiri aja sampai lemas waktu itu," sahut pak Darmais.
Bara terdiam tak mampu berkata apapun.
"Ada apa ini...? kenapa jadi begini..?."
"Bara..? ," panggil pak Darmais karena Bara hanya terdiam.
"Eh..iiya..pak.."
"Katanya si Tarjo kerja di tempat mu..apa benar..?."
"Iya... pak.."
"Malah beberapa hari yang lalu Tatik sudah nyusul ke situ.."
"Iya. pak..cuma Bara belum ketemu..karena Bara tak tinggal di sana..kini Bara tinggal dengan Opa Santosa kakek dek Yola," sahut Bara setelah berhasil menguasai diri dari rasa terkejut yang tadi.
"Oh..tinggal dengan Opa ..," ulang pak Darmais dengan pelan.
"Iya..pak..," sahut Bara menegaskan.
"Ya..sudah Bara bapak cuma mau menyampaikan berita itu, jika pak Hendrawan membantu proyekmu..bahkan kini mau selesai tinggal beberapa hal saja karena pengerjaanya hampir dua puluh empat jam non stop," kata pak Darmais menerangkan.
"Iya pak.., nanti kalau ada waktu luang Bara pasti balik ke kampung pak.."
"Ya..bapak tunggu.... assalamualaikum.."
"Waalaikumssalam," Jawa Bara sebelum menutup telponnya.
"Ada apa..? ada masalah di kampung...?," tanya Opa Santosa setelah Bara menutup telponnya.
"Enggak Opa.."
Bara kemudian menceritakan semua yang tadi di bicarakan dengan bapaknya.
Diawali dari masalah proyek, terus kunjungan tuan Hendrawan lalu masalah bantuan tuan Hendrawan yang membuat Bara terkejut.
"Ooh..," Opa Santosa tersenyum.
"Mungkin papa mu sudah sadar dengan perjuangan cinta kalian berdua ..," sahut Opa kepada Yolanda.
Yolanda masih terdiam..bingung dengan kejadian ini.
"Ada apa..ya..?, padahal kemarin Papa sangat keras kepada kami.."
Semua terdiam dengan pikiran masing masing.
Bara dan Yolanda mengangguk.
**
Pagi hari mereka bertiga masih sarapan sambil sambil berbincang ringan.
"Kapan rencana balik kampung..?," tanya Opa di tengah perbincangan.
"Nanti kalau pas ada waktu luang Opa..," sahut Bara.
"Waah kayaknya seru..ya..coba opa bisa ikut..," kata Opa pelan.
"Beneran opa mau ikut jika kami ke kampung..?," tanya Bara kesenengan.
"Jika boleh..," kata Opa sedikit bergurau.
"Bolehlah Opa...tapi rumah kami sempit dan jelek..," kata Bara dengan tak enak hati.
"Tak masalah bagi Opa..," sahut Opa Santosa.
"Yang penting kebersamaan dengan kalian cucu cucu Opa.."
"Yeiii..," Yolanda bersorak kegirangan mendengar kesanggupan Opa Santosa ikut ke kampung.
"Kita bisa main di empang Opa.. kayak pas Yola kecil dulu kita wisata di puncak...main lumpur sama Opa dan Oma," sahut Yolanda kegirangan.
Opa Santosa mengangguk melihat cucunya senang.
**
Berita penangkapan Leon menjadi trending topik di negeri ini.
Bahkan sampai kronologi yang memalukan itu di ungkap dan di umbar di media dengan gamblang.
Membuat semua orang mengetahui dengan detail penangkapan tersebut.
"Uuh..sungguh memalukan..!," teriak seorang pegawai PT Sant Otomotif yang kebetulan melintas di lobi.
Berita yang heboh tersebut menarik perhatian semua orang, begitu juga dengan pekerja di PT Sant otomotif, mereka sejenak berhenti di depan layar kaca menyaksikan detik detik kronologi penangkapan.
Bara yang baru datang ke kantor nampak kaget melihat para karyawan mengerubungi Televisi di lobi tersebut.
"Ada apa ..?," tanya Bara spontan sambil mendekat.
"Berita penangkapan Leon sang bandar narkoba..," jawab seseorang tanpa menoleh karena setau mereka teman sendiri yang bertanya.
__ADS_1
"Leon...??."
Bara ikut melihat dan mendekat, hingga akhirnya betapa kagetnya dia melihat ternyata Leon yang di tangkap adalah Leon yang di kenalnya.
"Haah...Leon ketangkap ..? dia... bandar narkoba ..??."
Tanpa Bara sadari semua orang menyingkir, begitu tahu ternyata yang bergumam adalah sang direktur.
"Lho...pada kemana orang orang..?," gumam Bara lagi begitu dia menoleh semua sudah bubar.
"Heeh..," sungut Bara sambil meninggalkan tempat itu menuju ke ruangannya.
**
Hari itu tuan Hendrawan masih berusaha mencari keberadaan Yolanda dan Bara.
Bahkan kini Nursanti juga ikut ikutan mencari dengan bertanya tanya kepada sanak famili jauhnya mungkin saja pernah berhubungan dengan Yolanda tanpa sepengetahuannya.
Drrtt.. drrt..
Ponsel tuan Hendrawan berbunyi saat dia sedang ada di kantor nya.
"Assalamualaikum.."
"Waalaikumssalam..ada apa pak Darmais..?," sapa tuan Hendrawan dengan sopan.
"Mau melaporkan proyek pembangunan pak..," sahut pak Darmais.
Tuan Hendrawan terkekeh mendengar perkataan pak Darmais.
"Bapak ini ada ada saja ...saya kan buka atasan pak Darmais, ngapain laporan segala..," kata tuan Hendrawan.
Pak Darmais tersenyum kecil," Enggak gitu pak..kan Bapak sudah mengeluarkan uang...banyak lagi...wajib bagi saya pak laporan."
tuan Hendrawan kembali tertawa.
"Itu kan proyek Bara dan Yolanda..bapak lapor nya ke mereka..?, memangnya mereka belum pulang ke kampung pak..?," sekalian saja tuan Hendrawan pura pura bertanya.
"Belum pak.. mereka belum pernah kembali ke kampung lagi."
"Tapi kemarin saya sudah telpon kasih kabar ke Bara, soalnya kemaren kemaren malah kelupaan tak mengabarinya kalau pak Hendrawan datang ke kampung.."
"Bapak telpon Bara..?," tanya tuan Hendrawan terdengar antusias.
"Iya..pak..kasih kabar bahwa berkat bantuan bapak proyeknya hampir rampung..," sahut pak Darmais yang tak mengetahui apapun masalah anakknya.
"Terus gimana pak..reaksi Bara..?," tanya tuan Hendrawan dengan antusias.
"Kayaknya kaget anaknya pak.."
"Terus kapan akan pulang ke kampung pak..?," tanya tuan Hendrawan makin antusias.
"Sayangnya belum bisa memastikan pak.. soalnya dia sedang banyak kesibukan, selain urusan galeri juga masalah pekerjaannya.."
"Pekerjaan..? kerja dimana Bara sekarang..? apa balik lagi ke perkejaan yang dulu..," batin tuan Hendrawan.
"Pekerjaan pak..?," tanpa sadar tuan Hendrawan bergumam sambil lemas karena Bara belum bisa balik ke kampung dimana bisa dia menyusulnya.
"Iya pak pekerjaan di tempat baru katanya," sahut pak Darmais.
"Tapi Bara janji kalau udah ada waktu luang nanti mau main ke kampung sama nak Yola..," sahut pak Darmais yang membuat tuan Hendrawan lega karena Yola bersama nya.
"Oh..gitu.."
"Ini malah teman dari kampungnya di ajak kerja ke kota ke galerinya pak," kata pak Darmais menerangkan.
"Emm..," sahut tuan Hendrawan menanggapi pak Darmais.
"Tapi mereka belum sempat ketemu karena Bara kan sekarang tinggal dengan Opa nak Yola..," kata pak Darmais.
"Apa Pak..?," tuan Hendrawan terkejut mendengar perkataan besannya itu.
"Iya ..pak Bara belum ketemu sama teman dari kampung karena Bara tinggal bareng Opa.."
Tuan Hendrawan kaget dan juga senang mendengar berita tersebut.
Mereka masih saja asik mengobrol hingga beberapa saat.
"Ya sudah pak..nanti kapan kapan ..jika ada waktu luang saya dan istri saya akan berkunjung ke desa pak Darmais lagi..," kata tuan Hendrawan berjanji.
"Ya pak saya..senang sekali jika pak Hendrawan berkenan bertamu lagi ke gubuk saya..," balas pak Darmais sebelum menutup telponnya.
Tuan Hendrawan yang mendengar berita keberadaan Bara dan Yolanda di tempat Opa menjadi sangat girang sekali.
"Aku harus segera pulang untuk memberitahu masalah ini pada Nursanti," gumam tuan Hendrawan pelan.
___________
**Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya...
Baca juga karya lainku..
* Sang pengacau
* Jagoanku ternyata CEO**
__ADS_1