Aku Lebih Mencintaimu

Aku Lebih Mencintaimu
Eps 142 Di Rumah Sakit


__ADS_3

"Rasakan ini..!," teriak Rio menghantam perut Bara lagi.


Plaak!!


Bara berhasil menangkis pukulan Rio dan bahkan melepaskan tendangan nya lagi.


Bouugh...!!


Tendangan itu mengenai perut Rio membuatnya terjengkang kebelakang.


"Arch..sial," umpatnya kasar sambil kembali bangkit.


Beberapa teman Rio langsung bergerak berusaha menangkap tangan Bara, dan dua orang sudah menangkap tangan dari Bara dan mencoba memelintirnya ke belakang.


Rio langsung menghujani Bara dengan pukulannya setelah lawannya itu terkunci oleh teman teman yang memeganginya.


Doough..!! douugh..!!


Beberapa pukulan menghampiri Bara namun tak dihiraukannya, bahkan beberapa kali bara masih membalas menghajar teman teman Rio.


"Hentikan..!!," teriak Yolanda yang mencoba mengentikan keroyokan tersebut, setelah keluar dari mobilnya.


Dengan seringaian salah satu teman Rio malah menghampiri Yolanda menangkapnya dan mengancam dengan sebilah pisau.


"Lihatlah...jika kau masih melawan aku sobek gadis ini..!!," teriak teman Rio yang sudah mengunci Yolanda sambil menempelkan pisau di tubuh Yolanda.


Bara Langsung pucat melihat istrinya di sandera.


"Bangsaat..!, aku tak akan melepaskan kalian..! ," seru Bara dengan amarah yang berkobar-kobar.


"Rasakan ini..," teriak Rio menghantam Bara yang kini tak berkutik karena di ancam jika melawan Yolanda akan celaka.


Yolanda menangis pilu melihat suaminya di pukuli sedemikian rupa.


Tak berapa lama para pengawal langsung berdatangan.


Seseorang yang mengancam Yolanda sudah tersungkur tanpa di sadari nya.


Setelahnya jangan di tanya lagi, sekujur tubuhnya tak berbentuk di hajar para pengawal tadi.


Rio yang melihat adanya bantuan pada lawannya bersiap akan kabur namun salah seorang pengawal berhasil menangkapnya, lalu menghadiahi pukulan.


Entah darimana datangnya gerombolan polisi sudah datang di tempat tersebut dengan beberapa anggotanya langsung menghentikan perkelahian di sana.


Yolanda meraung raung menangisi suaminya yang terkapar tak berdaya dan pingsan di jalanan itu.


Bu Romlah dan adik adik Bara juga menangis sambil memeluk Yolanda yang tak berhenti menangis.


**


"Apaa..!!."


Teriak Opa Santosa begitu mendengar adanya pengeroyokan yang menimpa cucu dan cucu menantunya.


Om Jhon yang di sampingnya juga ikut terkejut melihat sahabatnya nampak panik.


"Ada apa..?," tanya Om Jhon dengan tak sabaran.


"Bara dan Yolanda di keroyok orang..?," kata Opa Santosa dengan wajah penuh kepanikan.


"Anjiing mana yang berani macam macam..! ," teriak Om Jhon mengumpat, menampakkan sifat asliny yang biasa orang geng motor lakukan.


Opa hanya menggeleng lemah.


"Bagaimana kondisi keduanya..?."


"Saat ini masih di bawa ke rumah sakit XXX," kata Opa Santosa masih dengan wajah panik.


"Ayo...kita kesana..!!," teriak Om Jhon kepada Opa Santosa yang seakan langsung tersadar.


"Joe..!!," teriak Opa Santosa kepada pengawal dan asisten pribadi nya.

__ADS_1


"Ya..tuan ..," balas asisten Joe sambil berlari, pria tinggi besar itu menghampiri Opa Santosa.


"Sudah mendengar kabar..?."


"Kabar apa tuan..?." dengan kebingungan sang asisten bertanya, nampaknyaJoe belum menerima berita tersebut.


"Ada yang mengeroyok Bara dan Yolanda..di jalanan..," teriak Opa Santosa dengan gusar.


Mendengar berita tersebut segera asisten Joe tahu apa yang tuannya inginkan.


Segera dia berlari mengambil mobilnya, diikuti pengawal yang lainnya.


Om Jhon sudah di mobilnya bersama Tarjo yang juga terlihat panik.


Beberapa mobil itu sudah meluncur membelah padatnya jalanan menuju ke Rumah sakit yang sudah di beritahukan tadi.


Sepanjang perjalanan Opa Santosa mulutnya hanya komat Kamit berdoa agar kedua cucunya dan calon cicitnya di berikan keselamatan.


**


Tuan Hedrawan yang diberitahukan berita pengeroyokan dari para pengawal langsung berang.


"Memangnya kalian tadi kemana..?, kenapa bisa terpisah..? Dasaar tak berguna..! ," bentak Tuan Hendrawan dengan amarah yang memuncak.


Mama Nursanti yang duduk di sebelah suaminya terkejut, tak pernah suaminya marah marah sedemikian hebatnya.


"Ada apa pah..?," tanya mama Nursanti dengan penuh kecemasan.


"Bara dan Yolanda di keroyok orang mah..!," kata papa Hedrawan dengan wajah panik.


Sontak mama Nursanti langsung bangkit dari duduknya.


"Bagaimana dengan anak anak pah..?," terdengar mama Nursanti bertanya sambil mulai terisak menangis.


"Masih di bawa ke rumah sakit XXX," kata Papa Hendrawan sambil bangkit menuju kamar untuk berganti pakaian, diikuti mama Nursanti.


Keduanya segera memerintahkan sopir mengantar ke rumah sakit yang di tuju.


Para pengawal langsung menyiapkan kendaraan masing masing untuk melakukan pengawalan.


**


"Mana cucu saya..?," tanya Opa Santosa kepada salah satu petugas di ruang gawat darurat itu.


"Maaf pak ..pasien yang mana..?."


"Korban pengeroyokan..!," kali ini Om Jhon yang merangsek maju tak sabaran.


"Korban dan para pengeroyok nya masih di tangani di sana...," kata salah satu petugas menunjuk suatu arah karena memang rumah sakit tersebut sangat besar.


"Joe...bukankah kita punya saham di sini..??!!."


"Benar tuan.."


"Akuisisi semua sahamnya, karena jika pelayanan di sini lambat akan aku pecat semuanya...," teriak Opa Santosa yang langsung membuat para petugas di sana terkejut dan ketakutan.


Mendengar ada keluarga Santosa yang di rawat di sana segera direktur utama rumah sakit tersebut langsung menuju ke UGD rumah sakit itu.


"Maaf tuan saya terlambat menyambut kalian.," kata Direktur Utama rumah sakit itu kepada Opa Santosa.


Dia yang orang management tahu persis siapa itu keluarga Santosa, salah satu pemegang saham terbanyak di Rumah sakit itu meskipun orang tak banyak yang tahu.


Melihat direktur sampai datang ke ruangan itu menandakan pasien yang di tangani bukan orang biasa, dan para staff langsung bergerak lebih cepat dari biasanya.


"Mana pengeroyok nya..," tanya Opa kepada Joe yang sudah mengawasi lewat anak buahnya.


"Di sebelah sana tuan masih dalam kawalan kepolisian.." sahut asisten Joe kepada Opa Santosa yang sudah mulai sedikit tenang.


Opa Santosa berjalan dengan penuh wibawa di kelilingi para pengawalnya membuat ruangan itu makin terasa sesak saja.


Tiba -tiba datang seorang pria paruh baya membungkuk di depan Opa Santosa.

__ADS_1


"Maaf tuan kelakuan anak saya..!," kata orang tersebut.


Opa memandang orang tersebut.


"Kau dari PT Budi Karya kan..?," kata Opa Santosa dengan pandangan membara.


PT Budi Karya adalah salah satu rekanan yang dahulu mengemis ngemis minta di berikan tender dan di jadikan rekanan di Santosa Group.


"Iya..tuan," kata orang itu sambil menunduk.


"Jika terjadi sesuatu pada kedua cucuku dan cicit yang ada di kandungan nya...siap siap kalian hidup jadi gelandangan..camkan itu..!!," kata Opa sambil menatap tajam orang tua Rio.


Rio yang masih di rawat di tempat tidur pasien juga turut melihat dan mendengar orang tuanya di ancam menjadi ketakutan, tak mengira lawan yang di hajar nya keluarga Santosa Group, salah satu keluarga yang mempunyai banyak pengaruh di negeri ini.


Orang tua Rio menggigil mendengar itu.


"Bukan hanya itu..aku sendiri yang akan mencincang kamu dan keluarga mu ..jika terjadi apa apa pada mereka...," kini Om Jhon yang berkarakter preman mengancam orang tua Rio yang juga Rio dengar meskipun dia terkapar di tempat tidur.


"Joe..jangan biarkan para bedebah itu lolos dari jerat hukum..biarkan dia mendekam di penjara dan membusuk selamanya..," kata Opa Santosa sambil menatap Rio yang makin ketakutan.


**


"Bagaimana dokter..?," Papa Hedrawan yang mengawasi pemeriksaan kedua anak dan cucunya bertanya dengan harap harap cemas di ruang konsultasi.


Pak Darmais masih tak mampu berkata apapun, badannya juga ikut lemas melihat kondisi anak dan menantunya tadi seperti itu.


"Syukurlah tak ada yang serius .. untungnya pak Bara punya badan yang kuat," sahut dokter setelah melakukan beberapa pemeriksaan.


"Untuk nyonya Yolanda...juga tak apa apa, kedua janinnya juga sehat, hanya mungkin masih syok saja..," kata dokter itu lagi mewakili gabungan dokter dokter yang memeriksa Bara dan Yolanda.


Papa Hedrawan dan pak Darmais mulai lega mendengar hal tersebut.


Sementara yang lain sudah mengikuti Bara dan Yolanda yang akan menjalani rawat inap di Rumah sakit itu.


**


Bara yang badannya lebam lebam mulai kembali kesadarannya.


"Yola..., sayaang...di mana kau..," rintih Bara mencoba bangun dari tempat tidurnya.


Bu Romlah yang berada di kursi tunggu langsung menghampiri Bara.


"Tenang lah Nak ...istrimu baik baik saja..," kata Bu Romlah sambil mengusap lembut rambut anaknya.


"Aku harus menemuinya Bu..," kata Bara memaksa mencoba bangkit.


"Kau tidak boleh bangun dulu..ada benturan di kepalamu harus kau pakai istirahat ..," kali ini Om Jhon yang berkata sedikit keras.


"Om..," kata Bara masih dengan lemah.


"Istirahat lah..kau mengalami gegar otak ringan akibat pukulan lawan lawanmu..," kata Om Jhon menenangkan Bara.


**


Yolanda yang berada di kamar sebelah juga gelisah.


"Mah...aku mau ke kamar mas Bara," rengek Yolanda.


"Sayang kamu harus bedrest dulu kata dokter, kasihan kedua janin yang ada di kandunganmu..," bujuk mama Nursanti menenangkan anaknya.


"Iya..Kaka..jangan banyak gerak dulu..ya..," sahut Misye sambil memijat mijat kaki Kaka iparnya.


"Kak Bara juga masih istirahat palingan kak di kamar sebelah..," bujuk Della yang juga memijat mijat kaki Yolanda yang satunya.


"Benar kata adik adikmu.. istirahat dulu ya..nanti malam kalau sudah stabil baru boleh beraktivitas ya..," kata mama Nursanti lagi membujuk anaknya tersebut.


___________


**Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya...


Baca juga karya lainku dengan mengklik profil ku...

__ADS_1


Makasih**...


__ADS_2