
Akhirnya nyonya Hendrawan yang memanggil dokter yang sudah menjadi langganan keluarga itu.
Dengan sedikit arahan dari nyonya Hendrawan akhirnya dalam waktu yang tak lama dokter itupun sampai di apartemen.
Setelah memeriksa dan bertanya sana sini, akhirnya dokter itu pun memberikan tambahan vitamin karena sudah ada obat yang tadi di beli Bara di apotik.
"Saya sudah memeriksa nona muda Yolanda, nyonya Hendrawan tidak usah khawatir ini hanya gejala ringan saja, sudah ada obat obatan dan saya hanya menambah vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya," kata dokter keluarga itu.
Nyonya Hendrawan sedikit lega mendengar penjelasan itu.
Setelah berbincang sebentar antara dokter dan nyonya Hendrawan, dokter itupun berpamitan dengan beberapa pesan kepada nyonya Hendrawan.
Nyonya hendrawan kemudian menghampiri Yolanda dan menempelkan tangannya didahi untuk merasakan panas tubuhnya.
Panasnya memang sudah sedikit turun tak seperti tadi.
"Sayang..kita pulang saja ya, biar kamu ada yang merawat di rumah," kata nyonya Hendrawan yang tampaknya sangat memanjakan putrinya tersebut.
"Aku mau di sini..mah, kan ada Bara yang ngerawat aku," sahut Yolanda merajuk kepada mama nya.
"Apa..! mana bisa pemuda kampung itu bisa ngejagain kamu..?," teriak nyonya Hendrawan.
"Pokonya kamu pulang bersama mama malam ini."
Yolanda hanya terdiam setelah mama nya bersikeras.
"Aku masih pening mah," kata Yolanda sedikit beralasan.
"Heii..anak kampung.., gendong nona muda ke mobil yang ada di basemen," perintah nyonya Hendrawan kepada Bara.
Bara hanya menurut, tanpa banyak bertanya langsung masuk ke kamar dan membopong tubuh Yolanda.
Yolanda yang di bopong hanya diam saja merangkul kan tangannya sambil menatap wajah Bara yang nampak khawatir.
Sepanjang lift keduanya menjadi pusat perhatian, nyonya Hendrawan turun belakangan karena membawa kan tas tangan Yolanda.
Begitu sampai di mobil sopir sudah siap dan membukakan pintu belakang.
Dengan pelan Bara menurunkan Yolanda di kursi belakang, muka Yolanda sudah lesu.
Saat Bara mau melepaskan tubuh Yolanda sepenuhnya di kursi mobil, Yolanda mencegkeram lengan Bara.
Bara kaget dan memandang Yolanda ," Ada apa Non..?."
__ADS_1
"Kita pulang ke rumah yuk..," kata Yolanda pelan.
Bara memandang Yolanda, tak mengerti maksud dari omongan gadis tersebut.
" Maaf non Yola...aku merasa enggak nyaman di sana, biarkan aku menyelesaikan apa yang menjadi kewajiban saya dari sini,' kata Bara pelan.
Yolanda makin terlihat lesu, hingga tak lama nyonya Hendrawan datang ke mobil itu.
"Minggir..!!," teriaknya kepada Bara yang masih berdiri di dekat pintu yang masih terbuka itu.
Bara sedikit bergeser..membiarkan nyonya besar memasuki mobil mewah itu.
Yolanda nampak berkaca kaca saat mobil mulai bergerak meninggalkan Bara.
Pandangan Yolanda menatap Bara seakan ingin mengatakan sesuatu namun di urungkan nya.
Kini hanya tinggal Bara yang masih berdiri mematung di basemen itu sambil menatap kepergian mobil tersebut.
Dengan lesu Bara naik ke lantai apartemen nya.
**
POV Bara
Non Yola tangannya tergores piring atau mangkuk aku kurang tahu.
Memang sih ... awalnya.... permintaan Opa yang memaksa dia ikut denganku, jadi sebagai laki laki aku harus bertanggung jawab terhadap keselamatan dan kesehatan nya.
Aku berniat membeli obat di apotik setelah aku obati lukanya dengan ala kadarnya sesuai pengetahuanku.
Eeh..non Yola malah ikut, aku sempat bimbang tapi ..ya sudahlah...kasihan .. dia takut sendirian di apartemen.
Aku ragu karena aku naik motor, kasihan aja non Yola tidak pernah naik motor...banyak kena angin, takut masuk angin ..jadi ..sakit.
Ku pakaikan jaket hangatku berserta helmnya, entah mengapa rasanya aku sangat sayang banget dengan gadis ini...Oops.. Hati hati..jangan jatuh cinta ...tolak hati kecilku yang lain.
Kamu bisa membayangkan, di beri kepercayaan mainan yang sangat istimewa dan di suruh menjaganya, pastinya akan kamu jaga dengan segenap rasa kan..? atau ..hanya sekedarnya..? Tapi bagiku amanah adalah ..nyawaku..., akan aku jaga non Yola .. dengan sepenuh hati ku, sampai saatnya nanti kami berpisah.
Dia sedikit cemberut saat pulang dari apotik... penyebabnya....adalah ulah teman temanku.
Eeh...Fans di kampus ku yang menyapa dengan ganjen dan sedikit menggodaku.
Entah apa yang menyebabkan dia marah..sampai sampai...dia mengaku istriku...he..he...padahal bohong an.
__ADS_1
Aku mngendarai motor ku pulang setelah sebelumnya terjadi drama di tempat parkir.
Aku kasihan aja melihat non Yola kesulitan naik motor, maka ku angkat tubuhnya kayak bayi...dan ku naikkan di motor yang sudah ku standar kan tengah.
Dia nampak bahagia banget, sedangkan aku jadi malu sadar jadi pusat perhatian.
Sampai di taman kota non Yola ngajak mampir disana....eh malah ada live music kesukaanku, kuajak saja dia lihat ...sebentar aja sih maksudku.
Penonton yang berjubel membuatku khawatir terpisah dengan non Yola, ku peluk dirinya agar tidak tertabrak tabrak pengunjung lainnya.
Entah sejak kapan ..non Yola memeluk tubuhku dengan erat.. OMG... badanku panas dingin memeluk tubuhnya, wangi tubuh dan rambutnya membuat otakku sedikit liar.
Bahkan entah sejak kapan kami saling menatap, aku merasa makin lama non Yola makin cantik dalam pandangan mataku... aslinya emang cantik...cantik banget malah.
Tiba -tiba hujan turun, waktu ku paksa naik taksi online non Yola menolak.
Kamipun kehujanan...dan benar saja non Yola jadi sakit.
Aku memang bodoh tak bisa melindunginya, bahkan malah membahayakan dirinya.
Dan saat nyonya besar datang marah marah kepada, aku tak berkutik...memang aku salah.
Akhirnya non Yola di ajak pulang nyonya besar dan aku yang mengendongnya sampai mobil.
Seakan ada yang hilang di hatiku begitu mobil non Yola pergi dari basemen apartemen.
Inilah yang membuatku tidak ingin jatuh cinta...jujur takut kehilangan.
Belum jatuh cinta saja rasanya seperti ini, apalagi kalau jatuh cinta...pasti remuuk.
Aku kembali ke apartemen dengan gontai, malas rasanya.
Padahal awalnya aku pingin tinggal sendiri di sini, tapi kini sendiri itu ...sepi.
Ku pandangi kamar yang biasa di tiduri non Yola, sedikit kurapikan dan kucium bantal yang ada aromanya.
Gilaaa... lu..ya.., kayak orang jatuh cinta saja tingkah lakunya, bentak batinku sendiri mengingatkan kelakuanku yang sudah tak waras.
Aku menghela nafas.... Kembali menata hatiku ....agar tak mudah terhanyut dengan perasaan ini.
Sadaar..!.Bara...! kamu hanya remahan renginang...hanya butiran debu jangan berharap apapun,..atau..kamu akan menanggung akibatnya..karena menghianati isi perjanjian yang telah di sepakati.
Bara berjalan ke arah barang pribadinya di simpan, masih banyak waktu luang selama dua hari ke depan dan dia akan membuat karya lukisan menghilangkan gundah di hatinya.
__ADS_1
__________
Happy reading....