
POV Opa Santosa
Aku benar benar sangat berang mendengar berita yang menimpa anggota keluarga Santosa, maksudku keluarga anakku sendiri.
Sebenarnya bukan anakku tapi cucu perempuanku.
Permasalah nya sebenarnya dari hal sepele, Hendrawan anakku.. mempunyai seorang teman yang katanya sih..sangat akrab bagaikan saudara nya.
Tony Wijaya adalah nama teman anakku tersebut.
Mereka sudah berteman sejak lama, bahkan aku juga kenal dengan bapaknya yaitu Wijaya Subrata yang mungkin bila masih hidup seumuran dengan ku.
Kedua anak itu sudah berteman sejak SMA, maksudku Hendrawan dan Tony.
Bahkan si Tony kerap menginap di rumah semasa remaja dan masih bujangan.
Entah bagaimana ceritanya dua anak itu membuat kesepakatan dengan menjodohkan anak anak mereka.
Aku sih sebenarnya tak mempermasalah kan semua itu, asalkan anaknya semua cocok..silahkan.
Tapi masalah kemudian terjadi, calon yang di jodohkan dengan cucuku ternyata bukan anak yang baik...jauh dari nilai nilai apa yang aku ajarkan kepada anak cucuku.
Meskipun aku di bilang orang sukses, namun sebagai orang timur dan beragama, nilai nilai kebaikan dan ajaran luhur agama yang selalu ku tanamkan kepada anak anak dan cucu ku.
Aku juga bukan orang yang hanya memuja harta benda, meskipun juga bukan orang yang suci, tapi aku selalu tekankan pada keluarga ku bahwa hidup ini tidak selamanya dan semua harta hanya titipan semata agar dalam menjalani hidup tak terlalu melenceng.
Hendrawan yang mengetahui dengan mata kepalanya sendiri kelakuan busuk anak sahabatnya itu menjadi kecewa.
Hendrawan sangat marah, kecewa dan sakit hati dengan ketidak jujuran sahabatnya itu, karena merasa tak sebanding anak perempuan nya atau cucuku dengan anak si Tony tersebut.
Cucu perempuan ku memang gadis yang kami didik dengan baik dan penuh dengan pengawasan, anak yang baik tak hanya di luarnya saja tapi juga hatinya.
Cuma satu kekurangan nya, sikap manja nya.
Mungkin juga karena anak satu satunya juga cucuku satu satunya, sehingga sikapnya sedikit manja.
Saking sayangnya aku kepadanya, bahkan dia sudah aku warisi saham dua puluh lima persen.
Tapi meskipun begitu dia juga masih belajar bekerja sambil tetap kuliah.
cucuku yang bernama Yolanda..lengkapnya Noni Yolanda Santosa... itu sebenarnya bukan anak pemalas, bahkan cenderung pekerja keras, terbukti dari beberapa kali ku berikan ujian di pekerjaannya dia mampu melakukan dan menyelesaikannya.
Kembali lagi ke masalah perjodohan undangan memang sudah di sebarkan, dan hari pernikahan pun sudah di tetapkan, sebenarnya itu semua bisa di batalkan..sih, toh biasakan pernikahan yang batal karena suatu sebab.
Tapi entah kenapa Hendrawan malah memberikan ide untuk tetap menikahkan anaknya dengan orang yang akan di bayarnya.
Entah apa sebenarnya yang terjadi hingga dia keukeuh tetap melangsungkan pernikahan itu.
Dengar dengar sih karena ejekan dari temannya itu bahwa anaknya yaitu si Yolanda pasti gagal move on, dan akan menyesal membatal kan pertunangan dengan si Leon anak Tony.
__ADS_1
Aku masih menuruti permainan Hendrawan anakku, hingga akhirnya di usulkan sebuah nama calon suami untuk cucu kesayangan ku.
Katanya seorang anak dari keluarga sederhana yang kuliah sambil bekerja, katanya cukup tampan... pekerja keras dan yang lebih penting....belum punya pacar dan taat beribadah, itu yang ku dapat dari pengamatan para pengawal ku.
Ya...aku memang memerintahkan para pengawal untuk menyelidiki nya, aku tak ingin menambah masalah dengan masalah karena ide gila yang di sebabkan keegoisan.
Akhirnya aku setujui ide gila anakku setelah aku menyelidiki pemuda tersebut.
Aku jadi teringat dengan masa mudaku ... hampir mirip dengannya.
Ya.. Allah...aku merasa seakan seperti...dejavu.... tapi melihat sosok Bara di sana.
Aku hanya bisa berdoa kepada Allah SWT yang maha kuasa, semoga ini benar benar jalan-Nya yang sudah di gariskan untuk kebahagiaan cucuku.
Bahkan aku tak perduli Bara yang anak seorang pegawai rendahan, toh aku dahulu juga bukan anak pengusaha sukses tapi aku bisa sukses dengan Santosa Group ku.
Yang penting darinya adalah selama pengamatan ku, memang pemuda yang baik, sopan dan taat beribadah.
Masalah harta benda..aku rasa cukup melimpah...bahkan jika kedua cucuku ongkang ongkang kaki pun masih melimpah ruah.
Keinginan ku sekarang....
aku ingin segera menimang cicit.
**
Bara yang sudah menata barang belanjaan, kembali ke ruang tamu sambil membawa sebuah salep atau cream yang tadi di belinya.
Opa yang masih di sana hanya memperhatikan semua itu, dengan sedikit kaget.
"Kenapa dengan tanganmu ..? kok sampai memar begitu..?."
"Bara ..!! apa yang kau lakukan padanya ..?," Opa Santosa menaikkan suara nya.
"Bukan salah mas Bara ..Opa," sahut Yolanda mencegah kakeknya murka.
"Lho... sejak kapan cucuku manggil suami kontrak nya semesra itu...Mas..?." batin Opa.
"Terus apa yang terjadi dengan tanganmu..?," tanya Opa berikutnya.
"Semua ini ulah kak Leon," sahut Yolanda kemudian menceritakan semua kejadian di mall X & X.
"Maaf...Opa, aku yang salah..., karena tak bisa menjaga dan melindungi non Yola..," sahut Bara pelan sambil menundukkan kepalanya.
Opa yang sudah mendengar duduk perkaranya menghela nafas panjang.
"Besok lagi...di jaga istrimu... jangan sampai ada yang bertindak kurang ajar...kalau perlu...kalau ada yang berani menyentuh nya...kau hajar saja," kata Opa yang nampak geram.
"Ish...Opa..., malah ngompor ngompori mas Bara, tadi aja kalau tak di lerai satpam mas Bara sudah memukul kak Leon," sahut Yolanda yang memang tak suka kekerasan.
__ADS_1
Bara masih terdiam, memang benar ..sih..tadi hampir saja dia kelepasan menghajar Leon, meskipun dirinya tadi tak banyak bicara.
"Kan wajar seorang suami membela istrinya..," sahut Opa lagi.
Kemudian semua nampak terdiam dengan pikiran masing masing.
"Opa mau saya buatkan minuman apa..?," tanya Bara memecah keheningan.
Opa Santosa tersenyum.
"Kopi dengan gula sedikit juga boleh," sahut Opa lagi.
Kemudian mereka bertiga malah pindah duduk di ruang keluarga yang ada TV nya.
Bara langsung ke dapur memanaskan air untuk membuat kopi pesanan Opa.
Hanya sebentar kemudian sudah membawa secangkir kopi dan setoples makanan ringan yang barusan di beli di supermarket tadi.
Bara kemudian meletakkan minuman dan makanan ringan itu di depan Opa.
"Lho...kenapa barang barang mu kau taruh di kamar belakang..?," tanya Opa.
"Memangnya kalian tidur terpisah..?."
Keduanya terdiam.
Itu menandakan dugaan Opa Santosa benar.
"Kalian sudah sah sebagai suami istri..sebaiknya tidur satu kamar," kata Opa lagi.
Deeg...!!
Jantung Bara yang berdebar kencang.
"Apa Opa merestui hubungan kami..? tapi surat perjanjian..dengan tuan Hendrawan..?."
Bara masih kebingungan dengan semua ini.
"Oh...ya..Opa kesini mau menyerahkan ini," kata Opa sambil menaruh paper bag yang selalu di bawahnya.
"Apa ini Opa ..?," Yolanda yang malah nampak antusias.
"Buka saja..," kata Opa kepada Bara.
Bara membukanya, nampaknya surat surat mobil, dan di bacanya atas nama Arjuna Satya Sambara.
Bara terkejut, berarti mobil itu benar benar untuk dirinya, bukan sekedar memakainya.
___________
__ADS_1
Tetap semangat bacanya....ya... jangan lupa tinggalkan jejak....