Aku Lebih Mencintaimu

Aku Lebih Mencintaimu
Eps 91 Usaha


__ADS_3

Leon merasa sangat senang dengan berita yang di laporkan anak buahnya.


"Bos..berhasil usaha kita..," kata sang anak buah kepadanya.


Kabar mengenai kericuhan di apartemen membuatnya bersorak kegirangan.


"Aku harus merayakan keberhasilan rencanaku..," gumam Leon yang merasa keberhasilan tersebut di karenakan rekaman video yang diberikannya kepada nyonya Hendrawan.


"Tak sia sia aku membayar mahal jalang itu karena kini semua usaha itu terbayar," kata Leon pelan sambil mengusap usap dagu nya dan tersenyum smirk.


**


Tuan Hendrawan sudah sedikit mereda kemarahan nya setelah beberapa hari ini.


Bersama sang istri, nampak tuan Hendrawan masih duduk di taman belakang dari rumah utama tersebut menikmati suasana malam setelah seharian di kantor.


"Bagaimana dengan anakmu..?," tanya Hendrawan kepada Nursanti istrinya.


"Sudah mulai menurut, kini sudah mau makan seperti biasa..meskipun masih enggan makan bersama kita di meja makan," sahut Nursanti.


"Itu juga berkat bujukan mbok Mar, Yolanda anakmu mau makan di kamarnya."


"Hmm..," Hendrawan hanya mendengus kecil mendengar jawaban sang istri.


"Semua ini gegara anak kampung itu," sungut Nursanti yang mulai kembali menyalahkan Bara.


"Ya...semua ini pengaruh buruk anak itu," sahut Hendrawan.


"Oh..ya papa belum melihat rekaman utuh video yang mama dapatkan dari kebejatan anak kampung itu," kata Hendrawan.


Nursanti lalu mengambil ponselnya.


"Untung belum aku hapus kiriman video Leon," batin Nursanti lalu membuka galeri video itu tersimpan dan mengangsurkan ponsel tersebut kepada suaminya.


"Ni..lihat..kebejatan anak kampung yang terlihat polos itu..," kata Nursanti sambil menyerahkan ponselnya.


Tuan Hendrawan melihat rekaman tersebut, sejenak amarah kembali menghampiri nya.


"Kuraang ajaaaar...dasar tak bermoral...sama saja... seperti bajingan Leon..!! ," geram Hendrawan berkata, setelah melihat rekaman Bara berbincang dengan wanita dengan pakaian minim dan terbuka di depan pintu apartemen nya, dan terlihat Bara memasukkan wanita itu setelah berbincang.


"Eiitt...sebentar mah..," kata tuan Hendrawan kembali meminta ponsel istrinya, yang sudah mau di ambil oleh Nursanti tersebut.


Kembali tuan Hendrawan melihat rekaman video tersebut dengan seksama, namun ada sedikit kejanggalan di akhir tayangan video tersebut, saat sang wanita menatap ke arah kamera perekam sebelum memasuki apartemen..seakan mengisyaratkan kepada si perekam video bahwa misi berhasil.


Tuan Hendrawan bukan orang bodoh.


"Mama dari mana dapat video ini..?," tanya Hendrawan membuat Nursanti sesaat tergagap.


"Em..e..ddari ..pengirim gelap pa..," kata Nursanti asal, karena tak mungkin kan mengatakan dapat rekaman video dari Leon karena sang suami masih belum memaafkan anak sahabatnya tersebut.

__ADS_1


"Papa..minta rekaman videonya.. mau papa jadikan bukti menyeret anak kampung itu jika berani macam macam lagi," kata Hendrawan kepada istrinya.


Mendengar hal itu Nursanti sangat senang dan tak mencurigai apapun dari niatan sang suami.


"Iyaa..pa..mama kirim sekarang rekaman video ini ya...," biar anak kampung itu tak berani macam macam sahut Nursanti tersenyum senang.


**


Seminggu sudah berlalu, Bara masih tinggal di bagunan belakang dari gedung galeri dan tetap terus berkarya dengan lukisannya, apalagi kini sudah tak lagi kerja di Santosa Propertindo.


Sejak dirinya di usir dari apartemen, Bara memang memutuskan tak masuk kerja di kantor Santosa Propertindo, kepada mbak Ratna pimpinan langsung nya Bara hanya mengatakan masih ada kesibukan baru dan sementara resign dari Santosa Propertindo, namun untuk pesanan lukisan buat teman yang mbak Ratna rekomendasi kan masih tetap jalan terus.


Mbak Ratna yang tahunya Bara menantu dari owner perusahaan tak bertanya lebih lanjut.


Begitupun kepada pak Musri, Bara mengatakan sudah keluar dari pekerjaan nya karena hanya ingin konsentrasi dalam membuat lukisan setelah memenangkan ajang pelukis muda berbakat.


Pak Musri juga tak mempermasalah kan yang penting baginya kebutuhan akan lukisan untuk para pelanggannya masih tetap bisa berlangsung.


Yang paling sedikit merugi sebenarnya malah Santosa Propertindo karena kini sang kreator lukisan sudah tak di kantor tersebut, yang biasanya penuh dengan terobosan dalam memasarkan produk properti kini sudah tak di sana lagi...namun semua itu belum banyak yang menyadari nya.


Lukisan yang Bara Buat dengan judul "API sahabat namun juga musuh" cukup menarik minat banyak Orang untuk membelinya namun om Jhon dan terutama Bara belum melepasnya.


Bahkan Lukisan itu di jadikan Ikon di galeri bersama lukisan Bara yang memenangkan kontes waktu itu yang di beri judul "Perjuangan".


'Perjuangan' adalah sebuah karya lukisan yang menggambarkan seseorang yang sedang bekerja di sawah dengan latar belakang panorama pegunungan yang indah dengan segala detailnya.


Seiring berjalannya waktu hasil karya dari pelukis Arjuna makin terkenal di kalangan penikmat seni.


"Tentang apa Om..?," tanya Bara sambil menikmati kopi dan makanan kecil berdua di belakang galeri.


"Setrategi penjualan lukisan kamu..," kata Om Jhon sambil menyeruput kopi nya.


"Maksud nya..Om..?," tanya Bara yang tak mengerti.


"Maksud Om Jhon..kamu jangan lagi menjual lukisanmu sembarangan..dalam artian jika ada yang menginginkan lukisan suruh saja datang ke tempat ini dan kita patok harga yang sepantasnya."


"Jadikan saja relasi mu selama ini sebagai pemasaran produk lukisanmu.."


"Setiap Lukisan yang terjual lewat orang yang mereka bawa kamu tetap harus memberinya komisi sesuai yang sudah kalian sepakati selama ini, itu sih usulan Om... saja," kata Om Jhon.


"Jadi mulai sekarang kamu jangan mengejar kuantitas tapi buatlah yang berkualitas...itu akan lebih menguntungkan tanpa membuatmu kehilangan banyak tenaga," kata Om Jhon berturut turut.


Bara mendengarkan semua usulan dari Om Jhon.


"Apakah saya sudah pantas melakukan strategi tersebut Om..?."


"Maksud saya.. apakah cara seperti itu..sudah bisa saya terapkan dengan ketenaran saya yang hanya pelukis amatiran..?," kata Bara.


"Heeeh..siapa bilang kamu amatiran..?, kamu itu sudah profesional.., kamu sudah di akui dan di nobatkan sebagai pelukis muda terhebat di negeri ini bahkan mungkin dunia," kata Om Jhon.

__ADS_1


"Selama kita seminggu membuka galeri bertepatan dengan kamu tinggal di sini..sudah banyak orang yang berdatangan ke sini, hanya untuk menikmati keindahan bahkan membeli beberapa karya lukisan mu..meskipun yang kita jual di sini yang kita kategorikan buruk," kata Om Jhon lagi.


Bara mengangguk kan kepalanya lagi mengerti apa yang Om Jhon maksudnya.


Ya..bagi sebuah produk yang makin langka dengan kualitas yang bagus, memang makin membuat nya menjadi barang buruan meskipun makin mahal.


Karena bagi pecinta karya seni uang bukan tolok ukur, tapi keindahan dan kepuasan dari karya seni itulah yang membuat pecinta nya membeli nya.


"Baik Om....semua ini akan Bara coba fikirkan dan runding kan dengan rekan rekan, yang sudah memasarkan karya lukisan Bara," sahut Bara akhirnya.


Om Jhon hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


**


Yolanda sudah satu minggu ini hanya di rumah saja, dan kini sudah mulai gerah...perasaanya rindu sang suami mulai membuncah.


Selama satu minggu ini dirinya kehilangan kontak dengan dunia luar karena ponselnya masih di sita kedua orang tuanya.


Kerinduan kepada sang suami yang mulai mengusiknya kembali...makin tak terbendung.


Meski hatinya masih bimbang di antara dua pilihan.


Suami..... apa orang tuanya..?, jika memilih suaminya maka berarti melawan kedua orang tua nya.


Namun jika menuruti orang tuanya seperti saat ini maka berarti akan kehilangan suaminya... Selamanya.


Sedangkan Opa yang selama ini menjadi penguat mereka masih melakukan perjalanan ke luar negeri yang masih beberapa minggu lagi kembali ke tanah air.


Yolanda makin merasakan dilema.


Hanya lewat mbok Mar maupuan pak Bandi sopir pribadi nya Yolanda bisa berkomunikasi dengan nyaman.


Seperti saat ini, Yolanda pura pura minta di belikan makanan tertentu kepada pak Bandi, meskipun sebenarnya hanya ingin mengorek informasi yang di tugaskan nya.


"Bagaimana pak..? apakah ada berita..?," tanya Yolanda kepada pak Bandi sopir pribadi nya itu.


"Maaf non belum ada," kata pak Bandi berbisik bisik karena di sana ada pelayan wanita yang di tugasi menjaga Yolanda.


"Terus cari pak..aku benar benar mengkhawatirkan mas Bara..," bisik Yolanda pelan.


Yolanda memang makin sedih setelah mengetahui sang suami tak lagi bekerja di Santosa Propertindo, dan kini berniat mencari informasi keberadaan nya sebelum memutuskan kabur dari rumah utama.


"Siap non," sahut pak Bandi, meskipun tugas itu berarti membahayakan kedudukannya sebagai pekerja di keluarga Santosa.


Namun jika mengingat betapa nona muda inilah yang sudah memperjuangkan dirinya mendapat pekerjaan di sana, kini saatnya dirinya membalas kebaikan Nona muda selama ini.


___________


**Selamat membaca...semoga terhibur...

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejaknya**....


__ADS_2