
Tuan Hendrawan sudah sampai di desa Bara tinggal, desa yang sejuk dengan udara yang segar.
Seandainya pikirannya tidak kalut memikirkan anaknya pasti dia akan dengan senang menikmati suasana di desa tersebut.
"Apakah masih jauh..?," tanya tuan Hendrawan kepada pak Bandi yang mengantarkannya.
"Sudah dekat tuan ..paling hanya beberapa menit lagi sudah sampai," jawab pak Bandi yang pernah mengantar Yolanda sampai di rumah Bara tersebut.
Tuan Hendrawan masih berfikir kira kira apa yang musti dilakukan nanti jika bersua dengan orang tua Bara.
Tak lama mobil sudah sampai di sebuah rumah yang biasa saja tapi nampak bersih, ada sebuah toko kelontong di depannya.
Mobil berhenti di jalan depan rumah tersebut.
"Tuan sudah sampai..di depan itu rumah orang tua mas Bara," kata pak Bandi sambil menunjuk rumah pak Darmais.
**
Opa nampak sudah masuk ke dalam kamar yang di tempati Bara.
"Maaf San..., aku hanya bisa menyediakan tempat seperti ini, aku tak menyangka mereka cucu cucumu..," sesal Om Jhon sambil ikut masuk dan duduk di ruang tamu di dalam kamar yang mirip rumah petak tersebut.
"Terima kasih Jhon..kamu sudah memberi tempat untuk mereka bersembunyi..," sahut Opa kepada temannya itu.
Mereka kemudian berbincang dan mengobrol di dalam kamar seluas rumah petak tersebut cukup lama.
Yola..Bara...kemasi barang kalian kita akan ke mansion Opa..sekarang," kata Opa Santosa setelah semua di rasa cukup di sana.
Bara yang tak mampu menolak keinginan Opa Santosa sesaat memandang Om Jhon seperti meminta pertimbangan tentang semuanya termasuk masalah galeri.
"Ikutlah Opa kalian...masalah galeri bisa aku tangani..yang penting Lukisan kategori for sale selalu kau kirim kan ke sini..," sahut Om Jhon.
"Terima kasih Om Jhon..atas semua kebaikan selama ini," kata Bara dengan sungguh sungguh.
Om Jhon tersenyum mendengar ucapan terimakasih Bara.
"Berkemas lah kalian...aku akan kembali ke depan..bila terlalu banyak untuk kau bawa hari ini bisa kau ambil kapan kapan aja," kata Om Jhon sambil bangkit lalu meninggalkan tempat tersebut.
Bara hanya membawa beberapa barang bawaan nya, sedangkan Yolanda hanya beberapa pakaian yang di belinya on line selama di sana.
"Mas..si Neneng di bawa ya..," kata Yolanda pelan kepada suaminya namun Opa mendengar perkataan cucunya.
"Siapa Itu Neneng..?," sahut Opa penuh selidik.
Bara tersenyum, "Motor Bara Opa..istriku kepingin di ajak jalan jalan pakai motor.." sahut Bara pelan.
"Oh..?!?!," sahut Opa dengan penuh penasaran.
"Apa ngidam..?" batin Opa.
"Nanti biar di bawa sama pengawal kasihkan saja kuncinya padanya," sahut Opa.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama acara kemas kemas pun selesai, hari sudah sore dan Opa membawa kedua cucu nya kembali ke mansion utama.
**
Di kampung, Bu Romlah berada di rumahnya sendirian.
Misye dan Della masih belum pulang dari sekolah nya..mungkin sebentar lagi akan pulang karena saat itu sudah mendekati sholat Ashar.
Nampak di jalan depan rumahnya, sebuah mobil sangat bagus berhenti di sana sudah beberapa saat lamanya.
"Mungkin orang istirahat kali..," gumam Bu Romlah, karena hal itu juga sering terjadi.
Pak Darmais yang baru pulang dari kantor kelurahan nampak memasuki halaman rumahnya.
"Kok ada mobil berhenti di depan Bu..?," tanya pak Darmais setelah mengucapkan salam kepada istrinya.
"Ibu..juga nggak tahu pak..mungkin orang sedang istirahat kali."
Begitu ada seorang lelaki memasuki rumah tersebut tuan Hendrawan langsung turun dari mobil mewahnya.
"Selamat sore.. Pak...Bu..," sapa tuan Hendrawan sedang pak Bandi di suruh menunggu di mobil bersama seorang pengawal di sana.
"Eem.. selamat sore Pak..," sahut pak Darmais dengan sopan.
"Apa benar ini rumahnya Bara..?," tanya tuan Hendrawan.
Pak Darmais kaget karena tamunya menanyakan tentang anaknya.
"Mari masuk ..silahkan duduk pak..," sahut pak Darmais menyilahkan tamunya masuk ke beranda.
Tuan Hendrawan memasuki rumah sederhana tapi bersih tersebut.
"Maaf bapak.. siapa ya..," tanya pak Darmais dengan sopan.
"Saya papanya Yolanda..," jawab Tuan Hendrawan pelan sambil tersenyum.
"Haah...??!!," sontak pak Darmais kaget.
"Ooh..jadi papa nak Yola..," sahut pak Darmais yang masih kaget.
Kemudian pak Darmais memanggil istrinya.
"Bu..Bu..Kesini..," sedikit berteriak pak Darmais kepada istrinya.
"Eeh...ada tamu toh pak..," sahut Bu Romlah setelah berada di depan karena tadi membuatkan minuman buat suaminya yang habis pulang kantor desa.
"Bu...ini..papa nya nak Yola..," kata pak Darmais masih dengan kikuk.
"Haah..??," Bu Romlah juga kaget dan terkejut.
"Aduh..pak...maaf tempat nya ...hanya seperti ini.. kotor," kata Bu Romlah kemudian, sambil menyingkirkan beberapa majalah dan koran di meja beranda tersebut.
__ADS_1
Melihat keramahan kedua orang tua Bara, malah tuan Hendrawan merasa tak enak hati, apalagi tadi pak Darmais sudah mengatakan Bara tak pulang kampung.
"Ada perlu apa ya pak..?," pak Darmais akhirnya bertanya.
"Oh...enggak pak..cuma mampir saja habis perjalanan lewat kota ini, siapa tahu Bara pas pulang kampung," sahut tuan Hendrawan menutup nutupi niatan awalnya.
"Oh..Bara sudah lama tak pulang pak..semenjak terakhir kali beberapa minggu yang lalu dengan nak Yola," sahut pak Darmais.
"Malahan proyeknya.. saya yang di suruh mengawasi..," sahut pak Darmais.
Tuan Hendrawan hanya mengangguk.
"Proyek..pak...?."
"Iya...pak..Bara baru menggagas membuat proyek edupark..di sini untuk obyek wisata..ya..kecil kecilan dulu... soalnya uang Bara kan enggak banyak pak..," sahut pak Darmais tersenyum sopan.
Entah kenapa tuan Hendrawan malah tertarik dengan proyek Bara dan melupakan niatan mencari keduanya karena toh...tak di sana.
"Apakah bisa saya melihat proyek apaan itu pak..?," tanya tuan Hendrawan.
Pak Darmais kemudian mengajak tuan Hendrawan menuju kebun samping rumah yang kini sudah sedikit tertata jalan masuknya.
Pak Darmais menerangkan semua rencana yang akan Bara bangun nantinya kepada tuan Hendrawan.
Tuan Hendrawan hanya mengangguk angguk melihat kebun yang luas namun sebagian sudah mulai di bangun dan di tanami beberapa tanaman buah-buahan.
"Baru sampai di sini.. pak.., pelan pelan kata.. Bara nunggu lukisannya terjual," kata pak Darmais lagi.
"Lukisan..?," guman tuan Hendrawan pelan
"Lah..Bara kan jualan lukisan pak.."
"Oh..iya..ya.." sahut tuan Hendrawan merasa ketahuan tak paham akan Bara.
Sedikit lama kedua nya berputar putar di area tempat tersebut sambil bercerita
**
Di mansion utama nampak para pelayan dan pekerja sudah menyambut saat opa pulang.
Bara tak bisa menutupi kekaguman akan bangunan tersebut setelah turun dari mobil yang di naiki bersama Opa Santosa.
"Selamat datang tuan besar..tuan muda dan nona muda...," sapa para pelayan.
Bara mengagukkan kepalanya membalas sapaan orang orang itu.
"Apakah sudah kalian siapkan kamar untuk cucuku..?," tanya Opa.
"Sudah ..tuan besar..sesuai yang tuan arahkan di lantai dua di samping balkon utama," sahut kepala rumah tangga tersebut.
___________
__ADS_1
Happy reading...