
Pagi hari semua nampak sudah berkeliling di obyek wisata Permata Hatiku.
Selain untuk bersantai dan berjalan jalan di tempat wisata milik pribadi tersebut, juga untuk melakukan perencanaan persiapan besok saat pesta pernikahan dan juga pembukaan obyek wisata Permata Hatiku secara resmi.
"Menurut Opa di mana tepat nya mendirikan tenda..?," tanya Bara sambil berjalan bersama Opa dan Om Jhon.
"Menurut Opa sih di sana saja dekat parkiran, biar enggak merusak tanaman dan rumput yang sudah nampak bagus," sahut Opa sambil menunjuk ke arah parkiran yang seluas lapangan bola.
"Gimana Jhon..?."
"Yaap aku setuju dengan mu.., sayang kan jika tanaman yang sudah bagus kalau nanti rusak keinjak injak," balas Om Jhon yang di tanya Opa.
Ketiganya kemudian berjalan ke parkiran yang sedikit menurun karena tanah di sana berundak undak.
"Nah..disini..tepatnya tenda itu, kursi tamu di sana, dan orang orang penting di sana," kata Opa sambil menunjukan arah yang di inginkan.
"Ya..aku setuju..terus parkirnya nanti sedikit bergeser ke tengah sana," timpal Om Jhon sambil mensejajarkan langkahnya dengan Opa Santosa sahabatnya.
Bara hanya mengangguk anggukkan kepala mendengar semua pendapat itu.
**
Papa Hendrawan dan pak Darmais juga masih berkeliling namun di area perkebunan dan peternakan.
Area yang sedikit jauh dari tempat parkir, karena agak sedikit ke atas namun berlawanan dengan mansion.
Di area itu banyak terdapat aneka pohon buah buahan dan sayuran, juga terdapat beberapa kolam serta kandang kandang ternak.
"Nanti setelah beroperasi harapan saya di sanalah tempat area food court pak, dan sisa makanan akan kita olah menjadi pakan untuk ternak dan ikan di sini..," kata Pak Darmais mengatakan rencananya kepada papa Hendrawan sambil menunjukkan area area tertentu.
"Terus di sana tempat peternakan kambing, sapi dan ternak lainnya," sahut pak Darmais lagi.
Papa Hedrawan yang jarang melihat suasana pedesaan dan asrinya alam yang di tata sedemikian indah masih takjub dengan semua keindahan itu.
Mama Nursanti bersama Bu Romlah dan Yolanda serta Misye dan Della masih asyik memetik sayur sayuran yang terlihat segar.
"Ini mengingatkan saya saat masih kecil bersama kakek nenek saya di desa," kata Mama Nursanti yang nampak benar benar bahagia memetik aneka sayuran tersebut.
Bu Romlah hanya tersenyum mendengar perkataan tersebut.
"Kaka mau strowberinya..enggak ," teriak Misye yang sudah di tengah kebun strawberry.
"Iya dek...petik sekalian sama tomat nanti buat juice.," sahut Yolanda yang tengah duduk di gazebo sambil melihat keindahan alam di pagi yang masih sedikit berkabut tersebut.
**
Flashback on.
"Wah..oleh olehnya kok banyak banget to nduk..?," kata Bu Kohar kepada anaknya Tatik, yang baru menyadari nya sambil membongkar beberapa bungkusan.
"Iya Bu ..sebagian di kasih sama Non Yola," sahut Tatik sore itu.
"Ooh.."
__ADS_1
"Kelihatannya mereka orang kaya ya Tik..?," tanya mbak Yuni kakak iparnya Tatik yang masih tinggal satu rumah sama Bu Kohar yang dulu anaknya sunatan.
"Wuih..Banget mbak..mereka kaya banget, Bara saja di sana panggilannya tuan muda."
"T.ttuan muda..?.."
"Iya..mbak..itu pengawalnya saja banyak banget," sahut Tatik sambil mengeluarkan aneka oleh oleh.
"Ini buat mbak Yuni..," kata Tatik sambil menyerahkan pakaian kepada Kaka iparnya.
"Terima kasih Tik..," sahut mbak Yuni menerima pakaian baru tersebut.
"Ini buat mas Jono, ini buat Manto, dan ini buat bapak ibu," kata Tatik sambil membagi bagikan pakaian.
"Wah..nduk kok banyak banget bingkisan mu..nanti uangmu habis loh..," sahut Bu Kohar lagi.
Tatik tersenyum," Alhamdulillah Bu ..rejeki kami lancar, aku di sana juga kerja kok Bu., bersama mas Tarjo."
"Loh kerja apa nduk..?."
"Ya..kerja bantu bantu dan masak di tempat museumnya Bara dan tuan Jhonson," sahut Tatik dengan bangga.
"Syukurlah.. Alhamdulillah..," sahut Bu Kohar dan mbak Yuni senang mendengar berita itu.
"Pokonya di kota enak lah, enggak kepisah sama mas Tarjo, enggak perlu sewa tempat tinggal, bisa kerja bareng bahkan kalau malam bisa makan gratis..," kata Tatik tersenyum kecil, sambil memberesi bungkus bungkus yang berserakan setelah oleh olehnya di buka.
"Makan gratis gimana..?," tanya pak Kohar yang juga ikut merubung anaknya yang baru pulang tersebut.
"Ooh..," sahut semuanya.
"Oh..iya ngomong omong kenapa besan pak Darmais datang ke desa..?," tanya bu Kohar kepada Tarjo.
"Setahu Tarjo sih yang pertama mau berlibur, terus merayakan pernikahan Bara dan Non Yola yang belum di rame kan di desa terus sekalian peresmian Permata Hatiku."
Kata Tarjo yang juga di angguki oleh Tatik istrinya.
"Besok pagi paling paling Bu Romlah kesini, minta tolong ibu untuk bantu bantu memasak di acara itu mengkoordinir ibu yang lainnya," sahut Tatik sambil menatap Ibunya.
"Soalnya kemarin Bude sudah bilang ke Tatik Bu."
Bu Kohar menganggukan kepalanya, mendengar penjelasan anaknya.
Flashback Off.
**
Setelah makan pagi bersama di mansion, Bu Romlah mendatangi rumah Bu Kohar.
"Assalamualaikum.."
"Eeh.. waalaikumssalam.., mari Bu Romlah," sahut bu Kohar yang masih duduk duduk di depan rumah bersama keluarga nya.
Setelah di persilahkan duduk pun Bu Romlah mengungkapkan niat dari kunjungan nya seperti yang kemarin di ceritakan Tatik kepada Bu Kohar.
__ADS_1
"Begitu lah bu Kohar, saya mohon di bantu untuk urusan dapur di acara itu," sahut bu Romlah sebelum mengakhiri acara bertamu nya.
"Ya Bu Romlah.. insyaallah..nanti akan saya sampaikan kepada ibu ibu yang lain semua yang menjadi hajat Bu Romlah," kata bu Kohar menyanggupi apa yang di perintahkan Bu Romlah mengumpulkan ibu ibu bergotong royong di acara masak di pesta nanti.
Pak Darmais di rumah juga sudah menyiapkan undangan siapa saja yang akan di undang, mulai dari pejabat kecamatan di mana obyek wisata itu berada, hingga teman kantor kelurahan dan perangkat kelurahan tetangga sekecamatan.
Sedangkan Bara juga mengundang teman teman sekolah dan teman kampung.
**
"Bos..semua undangan sudah aku sampaikan dari mulai teman SMP hingga teman SMA, lewat koordinator alumni masing masing.," sahut Tarjo laporan siang itu.
"Makasih ya Jo..atas bantuan nya.."
"Cck..kayak sama siapa aja..," sahut Tarjo sambil duduk di taman samping mansion yang berbatasan dengan obyek wisata Permata Hatiku.
Keduanya lalu tertawa bersama di taman itu.
"Oh..iya mana tuan Johnson dan tuan Santosa kok sepi..?," tanya Tarjo sambil sedikit menengok ke dalam mansion.
Bara malah terkekeh mendengar pertanyaan Tarjo.
"Mereka lagi memancing di area peternakan ," sahut Bara sambil tersenyum.
"Siang siang gini..?."
"Ya..kan ada rumah rumahannya di atas kolam," sahut Bara lagi.
"Oh..iya...ya..."
Tarjo ikut tersenyum mendengar nya.
"Ayok kita susul sekalian ikut memancing..jadi keinget saat SD dulu mancing di kali.." sahut Tarjo dan mengajak Bara.
"Ayok.., aku ijin dulu sama istri ku," sahut Bara sebelum bergegas.
**
Tampak Opa Santosa dan om Jhon asyik memancing sambil bersenda gurau.
"Udah dapat berapa kita ..?."
Tanya Opa sambil melempar kailnya lagi.
"Satu, dua, tiga,... sepuluh, dapat sepuluh," sahut Om Jhon yang menghitung jumlah ikan ikan tersebut sambil tersenyum.
"Rasanya lebih puas dari pada beli di pasar..," kata Om Jhon, membuat Opa terkekeh," Jelaslah.."
Tak lama Bara sama Tarjo ikut bergabung membuat suasana makin ramai, pak Sarman yang ikut di sana juga makin senang dengan kemeriahan tersebut.
____________
Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya...
__ADS_1