
Pencarian terhadap Yolanda terus di lakukan oleh tuan Hendrawan.
Dirinya semakin khawatir tentang keselamatan anaknya.
"Dimana Yolanda anakku berada..? bagaimana dengan keadaannya..? Bagaimana kalau ada apa-apa dengannya..? Siapa yang menjaga nya..?."
Pikiran tuan Hendrawan berkecamuk memikirkan tentang keberadaan anak semata wayangnya.
"Bagaimana apa sudah ada berita nona muda kalian..?," tanya tuan Hendrawan.
"Maaf tuan semua tempat sudah kami telusuri tapi hasilnya nihil..," kata salah satu pengawal di rumah tersebut.
"Bagaimana dengan teman temannya..?," tanya tuan Hendrawan.
"Selama ini nona tak pernah memiliki teman yang spesial tuan," sahut pengawal itu.
"Terus cari semua yang berhubungan dengan nona muda dan juga tuan muda kalian," perintah Hendrawan yang mulai putus asa.
"Baik tuan kami akan berusaha lebih keras lagi..," jawab pengawal tersebut sambil menunduk dengan hormat.
**
Nursanti masih duduk di sebuah cafe di salah satu mall terbesar di kota tersebut.
Hari itu dia ada janjian ketemu dengan sahabat nya Dewinta ibunya Leon.
"Santii..!," teriak Dewinta dari jauh ketika sudah melihat keberadaan sahabat nya tersebut.
Nursanti melambai kan tangannya begitu di lihatnya sahabatnya itu sudah datang.
"Kok malah terlihat lesu..?," tanya Dewinta begitu keduanya sudah dekat dan cipika cipiki sambil menarik sebuah kursi dan duduk berdampingan.
Nursanti menarik nafasnya panjang, napak kekesalan di wajahnya.
Entah siapa yang harus di salahkan nya atas semua peristiwa yang sudah terjadi.
"Ada apa..," tanya Dewinta bertanya.
"Yolanda kabur menghilang dari rumah," sahut Nursanti pelan dengan sedih.
"Kok bisa...?," kata Dewinta yang tak mempercayai berita tersebut.
"Aku juga tak menyangka dia akan senekat itu," sahut Nursanti.
"Sudah...sudah..semoga Yolanda baik baik saja ya..," hibur Dewinta sambil mengusap usap lengan sahabatnya tersebut.
**
Sementara itu Bara yang kini sudah bersemangat lagi, makin menghasilkan karya karya yang makin brilian.
Sebuah lukisan matahari terbit di sebuah pantai yang sangat indah di buatnya dengan judul 'Hari Baru Harapan Baru'.
Gambaran matahari terbit di pantai yang sangat luar biasa indah dengan gradasi warna kuning, oranye serta merah mendominasi di lukisan tersebut.
"Bagus banget mas..," kata Yolanda yang jarang sekali memuji karya sang suami kini ikut memujinya.
Bara tersenyum melambai ke arah istrinya kemudian memberi isyarat agar duduk di pangkuannya.
"Nggak mau.. pasti mas Bara mau sesuatu..," kata Yolanda sambil tersenyum.
"Nggak...mas Bara hanya ingin memelukmu," Bara mencari alasan.
__ADS_1
"Terus ini gimana..?," kata Yolanda yang memang sedang belajar memasak sambil menunjuk bahan masakannya.
"Itu bisa menunggu...," sahut Bara.
"Tuh...kan..," sahut Yolanda namun mendekat juga ke arah suaminya.
Sejak kedatangan Yolanda, Bara memang seringnya membuat lukisan di kamarnya, jarang lagi di ruang kerja yang ada di sebelah nya.
Apalagi kini di kamar nya yang luas mirip rumah petak itu sudah di bangunkan kamar mandi dalam, yang semula harus keluar kini tidak lagi.
Yolanda sudah melepas celemek masaknya, begitupun Bara sudah melepas apron melukisnya.
Yolanda sudah duduk di pangkuan sang suami yang masih saja memandang wajah cantik nya.
"Apaan sih ..mas...?," tanya Yolanda yang terus saja di pandangi sang suami sambil memeluk pinggangnya.
"Ada noda tepung ya..?."
Bara menggelengkan kepalanya.
"Kamu sangat cantik...sayang...aku benar benar gila...bila kehilanganmu..," sahut Bara tanpa mengalihkan pandangannya.
Yolanda sangat senang saat sang suami memujinya, di rangkulannya kedua lengan ke leher suaminya.
"Aku juga bisa gila....jika dipisahkan dari mas Bara," kata Yolanda berkata pelan sambil mendekatkan wajahnya ke wajah suami yang masih memangkunya.
Bara ******* bibir kenyal istrinya yang sudah membuatnya kecanduan.
Keduanya sudah terhanyut dengan gelora asmara yang makin membuncah.
Mereka sudah berhadapan dengan bibir saling bertaut saling mengekplorasi dan bertukar Saliva.
Tangan Bara kian liar meraba meremas apapun yang di maui nya.
Bersamaan dengan banjirnya peluh keduanya sudah terkulai setelah terjadi pelepasan, bahkan sempat tertidur di kursi itu tanpa melepaskan pelukannya.
**
Opa Santosa sangat senang sekali setelah berhasil mendarat di tanah air.
Kerinduan akan keluarga, anaknya terutama cucunya sudah sangat membuncah.
Apalagi bila nanti sudah punya cicit, membayangkan itu Opa jadi senyum senyum sendiri.
"Kita langsung pulang ke mansion tuan besar apa mau ke tempat tuan Hendrawan..?," tanya pengawal pribadi nya yang juga kini menjemputnya di bandara itu.
Opa tersenyum mendengar pertanyaan pengawal kepercayaan nya tersebut.
"Ngapain ke tempat Hendrawan..?, ke tempat cucuku dulu lah..," sahut Opa sambil tetap tersenyum.
"Baik tuan besar.."
Mobil melaju dengan kecepatan sedang karena saat itu sudah sore dan saatnya para pekerja pulang dari tempat kerjanya masing masing.
"Pasti mereka akan sangat senang sekali aku kasih hadiah ini ." batin opa Santosa bermonolog selama di perjalanan.
Mobil sudah sampai di parkiran apartemen, Opa dengan sedikit tergesa turun dan langsung masuk menuju ke lantai di mana cucu dan cucu menantu nya bertempat tinggal.
Di tekannya bel apartemen di mana kedua cucunya itu tinggal.
Ting tong.... Ting tong....
__ADS_1
"Hmm...kemana..mereka..?,'' gumam Opa Santosa.
Karena tak ada respon, opa lalu meminta sang asisten yang juga pengawalnya membuka apartemen tersebut dengan kunci cadangan yang selalu di bawa sang asisten.
"Bukain pintu nya..," perintah Opa.
Asisten dan juga pengawal itu lalu membukanya.
Cekleek...
"Silahkan masuk tuan besar...," kata sang asisten begitu apartemen tersebut terbuka.
Lalu asisten itu berdiri di luar apartemen bersama pengawal lain yang tadi mengiringi mobil Opa.
Opa masuk ke dalam apartemen tersebut, sedikit kaget karena tak ada tanda tanda kehidupan di sana.
"Loh..kok kayaknya tempat ini sudah lama tidak di tinggali..? batin Opa kaget dan bertanya tanya.
Dicoba nya telpon nomer Bara, tapi tak ada jawaban (kan Bara lagi sibuk..sama Yolanda).
"Uuh.. kemana anak anak ini, Bara aku telpon tak di angkat, Yolanda pun begitu," gumam Opa Santosa sedikit kecewa.
Opa Santosa lalu memutuskan pergi ke tempat anakknya Hendrawan.
"Ayo kita ke tempat Hendrawan..," kata Opa Santosa begitu sudah keluar dari apartemen tersebut.
"Baik tuan besar.."
Kemudian Opa Santosa meninggalkan apartemen tersebut menuju ke tempat hunian rumah utama anaknya Hendrawan.
**
Semua pekerja langsung heboh begitu melihat rombongan mobil tuan Besar.
"Maaf tuan..., tuan besar tampak sudah datang dan saat ini masih di depan," sahut seorang pekerja nya.
Hendrawan langsung pucat wajahnya begitu mendengar laporan kedatangan ayahnya tersebut.
Dengan buru buru Hendrawan menyambut ayahnya tersebut.
"Assalamu'alaikum ..papi..," sapa Hendrawan sambil mencium tangan ayahnya tersebut.
"Waalaikumssalam.. bagaimana kabarmu anakku..?."
"Baik papi..," kata Hendrawan sambil mendekati Opa Santosa yang langsung duduk di kursi ruang tamu.
Belum lama duduk di ruang tamu tersebut, Nursanti yang baru tiba dari acara keluarnya datang menghampiri opa dan mencium tangan mertuanya tersebut.
"Assalamu'alaikum.. papi..," sapa Nursanti sambil mencium tangan Opa.
"Waalaikumssalam.."
"Dimana cucu cucu ku..kok sepi..?," tanya Opa.
Hendrawan dan Nursanti sejenak saling berpandangan, lidahnya terasa kelu dengan wajah pucat.
_____________
**Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya....
Baca juga karya lainku
__ADS_1
*Sang Pengacau (silat)
*Jagoan ku ternyata CEO (roman**)