Aku Lebih Mencintaimu

Aku Lebih Mencintaimu
Eps 86 Menepis Gosip


__ADS_3

Malam itu sehabis makan malam Bara dan pak Darmais serta Bu Romlah duduk duduk di beranda.


Meskipun sudah malam namun rasanya mereka masih ingin terus mengobrol.


Mereka berbincang berbagai topik dari Bu lurah yang masih sakit hati dan menebar berita buruk, para tetangga yang kepo...tentang pernikahan Bara dengan Yolanda, hingga tiba di topik sunatan keponakan Tatik.


Bara hanya menghela nafas saja saat mendengar sakit hati Bu lurah.


"Minggu besok keponakan si Tatik mau di sunat, karena kamu pas pulang ke rumah ...ibu harap kamu juga ikut kumpul kumpul disana..enggak enak kan sama tetangga," kata bu Romlah.


"Iya..Bu, lagian Tarjo sama Tatik kan juga temanku..enggak enaklah bila tak ikut ngumpul," sahut Bara.


**


Sementara itu di kamar Misye, Yolanda yang di kerubuti adiknya masih melihat lihat foto pernikahan Bara dan Yolanda yang masih di simpan di galery ponselnya.


Karena itu adalah kenangan yang sangat berarti baginya.


"Iih..Kaka..cantik banget...saat menikah...!!.," seru Misye yang nampak histeris melihat foto foto pernikahan itu.


"Memang nya sekarang Kaka enggak cantik..," sungut Yolanda kepada dua adik suaminya yang nampak lucu lucu di matanya.


"Ya.. sekarang cantik..tapi yang ini makin cantik banget..," seru Misye lagi.


"Kak Bara juga ganteng banget ..," seru Della.


"Iya...cocok banget deh Kaka sama kak Bara," kata Misye sambil melihat lihat album di handphone Yolanda tersebut.


"Kaka..aku boleh enggak minta foto yang ini dan ini," pinta Misye kepada Yolanda.


"Boleh..,eeh..buat apaan..?."


"Nanti mau aku cetak trus aku pigura lalu aku pasang di rumah ini," kata Misye.


"Boleh ya kak.."


"Iya boleh..sini ponselnya Kaka, biar kaka kirim, foto yang mana..?."


"Ini..sama..ini..kak."


**


Pagi hari Bara sudah bangun dan mandi air dingin.


Sedangkan untuk Yolanda mandi, Bara memanaskan air supaya tak kedinginan karena air di kaki pegunungan itu terasa sangat dingin sekali.


Rencananya pagi itu mereka akan menyelesaikan pembayaran pembelian tanah Mbah Wongso di depan notaris yang sudah di pilih pak Darmais.


"Jam berapa pak rencana ke notaris," tanya Bara kepada bapaknya saat keduanya duduk di ruang keluarga menunggu Bu Romlah menyiapkan makan pagi.


"Jam sembilan dari sini, paling tak sampai jam sepuluh sudah tiba di sana."


"Kantornya dekat dengan kantor kecamatan, bapak biasa kesana jika mengantar orang yang jual beli tanah," jawab pak Darmais.


"Kita berangkat sendiri apa sama keluarga Mbah Wongso pak..?," tanya Bara lagi.


"Kemarin sih..katanya mereka akan menunggu kita di sana," sahut pak Darmais.


"Oh..berarti kita langsung kesana ya."


Bara masih berbincang dengan bapaknya, ketika Misye datang.


"Pak..makan pagi sudah siap..," kata Misye.


"Oh..iya, ayuuk sarapan dulu," kata Bapak kepada Bara.

__ADS_1


**


Urusan di notaris sudah beres, jual beli itu berjalan dengan lancar, tinggal menunggu sertifikat tanah yang sudah di urus notaris tersebut.


Karena yang membayar tanah tersebut Yolanda maka Bara pun menghendaki nama Yolanda di sertifikat tanah tersebut, meskipun awalnya Yolanda menolaknya.


"Atas nama mas Bara aja.."


"Udaah nama kamu saja sayang..," kata Bara meyakinkan dan menegaskan.


"Jadinya mau nama siapa..?bapak .? apa Ibu..?," tanya sang Notaris tanah tersebut.


"Nama istri saya saja pak," sahut Bara.


Hingga akhirnya "fix " sudah ditetapkan nama pemilik tanah tersebut Yolanda.


Setelah selesai urusan di notaris, mereka pun sudah kembali pulang ke rumah.


Bara masih berbincang dengan bapaknya sambil menyetir, sedangkan Yolanda asyik berbalas pesan dengan Misye yang sudah memposting hasil cetak foto yang langsung di belikan bingkainya.


"Sertifikat nya jadinya berapa bulan pak..?."


"Biasanya antara satu hingga tiga bulan, nanti kalau sudah jadi...pasti bapak di hubungi," kata Pak Darmais.


Mobil Bara pun sudah memasuki pekarangan rumahnya tak terlalu lama.


Nampak Bu Romlah sudah bersiap mau bergotong royong memasak di tempat hajatan.


"Ibu mau kemana..?," tanya Yolanda.


"Ibu mau bantu bantu tempat orang hajatan..," sahut Bu Romlah tersenyum kepada menantunya.


"Yola boleh ikut enggak Bu..?, tapi Yola enggak bisa kerja di dapur.. cuma pingin lihat lihat saja sambil mengobrol sama tetangga," kata Yolanda ragu ragu dan tersenyum kikuk.


Bu Romlah sangat senang sekali, dia ingin menunjukkan pada para tetangga keadaan menantu nya yang sebenarnya, karena selama ini Bu lurah sudah menebar fitnah kalau Bara anaknya di paksa menikah di kota karena menghamili anak orang.


Yolanda sangat senang di perbolehkan ikut ibu mertua nya, selama ini dirinya hanya melihat kegiatan memasak bersama di hajatan hanya dari tayangan layar kaca...maklum di kotanya tak ada acara seperti itu.


**


Di rumah pak Kohar dan Bu Kohar, orang tua Tatik yang hanya berjarak beberapa rumah dari rumah pak Darmais sudah banyak orang berkumpul..terutama ibu ibu, karena pagi itu kegiatan nya banyak masak memasak.


Meskipun yang punya hajat sebenarnya anak dari pak Kohar dan Bu Kohar, namun karena mereka masih menumpang di rumah orang tuanya akhirnya... ya seperti Bu Kohar yang punya gawe.


Tratak atau tenda untuk hajatan sudah di dirikan sejak kemarin.


Dan untuk kaum laki laki baru nanti malam akan ada kumpul kumpul...menyemarakkan hajatan.


"Eeh..Bu Romlah...mari Bu ..," kata Bu Kohar ibunya Tatik dengan ramah dan menyalami Bu Romlah dan Yolanda.


Semua orang memandang ke arah Bu Romlah terutama ke... Yolanda yang dari penampilan saja sudah jauh berbeda..sangat cantik.


"Waah...Non cantik siapa..?," tanya Bu Kohar dengan penuh penasaran.


"Ooh..ini istri nya Bara, kemaren baru pulang...," kata Bu Romlah dengan bangga karena selain cantik juga semua bisa lihat menantunya tak hamil besar seperti tuduhan Bu lurah.


Sesaat suasana menjadi gaduh dengan kasak kusuk.


"Waah... cantiknya..pantesan si Bara menolak Jasmine ...lha ini lebih cantik..," kata si A.


"Iya...terus perkataan Bu lurah juga tidak benar....perutnya aja ramping gitu... kok di bilang hamil ...," sahut si B menimpali


"Namanya juga Bu lurah.. sakit hati.. ya ngomong nya sekena nya.....bahkan... cenderung memfitnah..," sahut si C akhirnya menyimpulkan.


"Nak Yola duduk di sini dulu...aja," kata Bu Romlah sambil mngambil dan membawa aneka sayur ke dekat menantunya, yang nantinya akan di potong potongnya.

__ADS_1


"Eeh..non Yola..ikut kesini juga ya..," sahut Tatik menyapa Yolanda yang nampak mengobrol dengan orang orang di sekitar nya.


"Iyaa..mbak Tatik..pingin lihat kegiatan ibu ibu..sambil berkenalan, soalnya di tempat ku ..sudah enggak ada," sahut Yolanda tersenyum ramah.


Pembawaan Yolanda yang ramah ternyata menarik orang orang mendekat ke arahnya dan bertegur sapa serta bersenda gurau.


**


Di tempat lain di Lingkungan sekolah SMP Bara juga sudah mulai terlihat keramaian.


Tenda tenda sudah mulai di dirikan oleh pekerja dari persewaan.


Kursi kursi juga sudah berdatangan.


"Berapa jadinya peserta yang bisa hadir di reuni besok," tanya Revan sebagai ketua panitia.


"Hampir semua bisa hadir," sahut Dimas.


"Tinggal mantan pacar Vivi..tuh.. yang masih ambigu..," goda Dimas kepada Vivi gadis tercantik di sekolahan itu.


"Ish..amit amit..mantan apaan..?, ngimpi deh dia mau ngedapetin aku," sahut Vivi sambil tersenyum miring.


"Beneran..nggak mau...??."


"Hiii..amit amiiitt...," seru Vivi kembali.


**


Sementara itu di rumah tuan Hendrawan terlihat gusar.


Kemarahannya sudah tak lagi bisa di tahan, anaknya semalam tidak pulang kerumahnya.


Di susul ke apartemen tak ada orang...sepi..tak ada kehidupan.


"Kemana Yolanda..? di telpon sengaja tak di angkat, di apartemen tidak ada..bahkan seperti nya mereka dari kemarin tak pulang ke apartemen, apa mungkin ke kampung pemuda itu..? atau ke tempat lain..?."


Berbagai kemungkinan hadir di pikiran tuan Hendrawan.


"Bandi mana...??," teriak tuan Hendrawan kepada pengawalnya.


"Sebentar Tuan..akan saya panggil.," kata pengawal tersebut berlari ke arah mess pegawai.


Tak berapa lama pengawal itu pun kembali ke hadapan tuan Hendrawan dengan muka pucat.


"Maaf tuan..pak Bandi baru cuti pulang ke kampungnya," kata pengawal itu.


Braak..!!


"Dasaar siaaal..!!," teriak tuan Hendrawan sambil menggebrak meja.


Semua nampak ketakutan pagi itu, tuan mereka marah marah tak karuan sejak semalam.


Nyonya Nursanti yang juga kemarin habis ketemu Leon sebenarnya juga sedang sangat meradang, apalagi setelah Leon membagikan sebuah video dimana menantu kampung nya itu bertingkah dengan jalang di apartemen, membuatnya makin terbakar.


Namun semua itu di tahannya begitu sang suami terlihat.... marah besar, takutnya semakin dia menunjukkan video tersebut suaminya makin naik pitam...dan akan membahayakan kesehatan sang suami yang punya penyakit darah tinggi.


"Sabaar..ya..Pah..," kata Nursanti meskipun dirinya juga sedang terbakar amarah.


"Awaas..kau..anak kampung.."


____________


**Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya....


Baca juga karya lainku

__ADS_1


* Sang Pengacau (silat)


* Jagoanku ternyata CEO (roman**)


__ADS_2