Aku Lebih Mencintaimu

Aku Lebih Mencintaimu
Eps 48 Keluarga Tony Wijaya


__ADS_3

Suasana yang sepi di apartemen siang itu di gunakan oleh Bara untuk membuat lukisan.


Bila pas mood bagus seperti saat ini membuat sebuah karya memang terasa mudah...semua serba enak aja.


Dan bila sudah asyik Bara dalam berkarya kadang sampai lupa waktu.


Dengan berbagai metode pembuatan terciptalah sebuah lukisan pemandangan alam sebuah hutan dengan sungai kecilnya.


Meskipun belajar otodidak dengan guru keseniannya semasa di kampung, Bara mampu menggunakan berbagai teknik untuk menggambar, bukan hanya kuas tapi bahkan ada teknik menggambar dengan pisau kecil yang juga bara kuasai.


Dengan teknik menggambar seperti itu, lukisan nampak seperti tiga dimensi sehingga makin elok di pandang.


Lukisan pemandangan alam yang sangat indah, dengan di dominasi warna hijau dan sedikit pencahayaan di lukisan serta gambaran sungai dengan riaknya itu, terlihat sangat natural dan alami.


Terkadang Bara sendiri yang melihat juga tak percaya bisa menciptakan lukisan seindah ini.


"Yaaap... Alhamdulillah.. akhirnya...jadi juga..sebuah lukisan," gumam Bara sambil melihat lihat dari kejauhan hasil karyanya.


"Waah...bagus banget," kembali Bara bergumam memuji hasil karyanya sendiri sambil di lihat lihatnya lagi.


Siang itu menjadi moment untuk Bara dalam berkarya.


**


Di sebuah rumah mewah tempat tinggal keluarga Tony Wijaya.


Nampak Tony Wijaya sedang bersitegang dengan istrinya.


"Kamu itu terlalu memanjakan anakmu ma.., lihat sekarang ...di saat anak lainnya sudah mengambil alih jabatan orang tuanya memimpin perusahaan..dia malah hanya menghamburkan uang tanpa mengerti susahnya cari uang," kata Tony Wijaya yang kesal melihat kelakuan Leon anakknya.


"Sabaar...pa...mungkin karena Leon berpikir masih muda, belum mau konsentrasi dengan karirnya," sahut Dewinta menenangkan suaminya.


"Anak laki laki kok malah kalah sama adiknya yang perempuan, coba lihat adiknya...Clarisa malah sudah bisa berkarir dengan baik di perusahaan kita," kata Tony Wijaya.


Dewinta ibu Leon hanya bisa diam tak berani membantah apapun yang di keluhkan suami nya.


Sebenarnya kesalahan bukan hanya ada di mereka berdua yang terlalu memanjakannya tapi juga kepribadian si Leon yang memang sejak kecil nakal dan liar.


Sebenarnya pernah di coba oleh Tony Wijaya, agar Leon anaknya mempunyai rasa tanggung jawab, untuk memegang salah satu usahanya, namun hasilnya malah terjadi penurunan omzet perusahaan dan target tak terpenuhi... akhirnya perusahaan itu kembali di pegang oleh nya.


"Biar nanti aku akan bicara baik baik dengan anakmu, semoga dia bisa berubah," kata Dewinta kembali menenangkan suaminya sambil mengoleskan selai di roti yang menjadi sarapan Tony Wijaya sebelum berangkat ke kantor.


"Urus..anak itu aku sudah pusing memikirkan nya...sudah di jodohkan sama anak hendrawan yang jelas jelas anak baik baik malah bergaul enggak jelas sama perempuan gak jelas..," kata Tony Wijaya lagi sambil menggigit roti yang di sodorkan istrinya di piringnya.


"Ya..pa..nanti coba akan aku bujuk anak itu agar mau berubah, aku juga sedang berusaha mendekatkan lagi anakmu dengan anak mas hendrawan," kata Dewinta lagi kembali menenangkan suaminya.

__ADS_1


"Terserah... pokoknya aku sudah malas mengurusi anak yang tak bisa di atur,...sudah memalukan ku di depan keluarga Hendrawan," sahut Tony Wijaya.


"Udaah...papa mau ke kantor dulu Ma.." Tony Wijaya masih terlihat gusar.


"Ya..pa...hati hati.."


**


Pagi itu Bara sudah bersiap berangkat ke kantor.


Semua perlengkapan sudah di siapkan termasuk bekal makanannya.


Karena mau menggunakan motor lagi, Bara mengambil jaket dan semua yang sudah di siapkannya sebelum turun ke basemen.


"Semua sudah siap...kini saatnya berangkat..," kata Bara pelan.


Bara keluar dari apartemen nya, sambil berjalan tak lupa Dia berdoa agar selalu di beri kemudahan dan keselamatan dalam bekerja.


Tak butuh waktu lama bagi Bara untuk sampai di kantor tempatnya bekerja, karena menggunakan motor sehingga bisa salip sana sini seenaknya.


Sampai di parkiran seperti biasa masih sepi karena Bara selalu datang paling awal.


Gedung perkantoran tujuh lantai milik perusahaan Santosa Group yang sebagian juga di sewakan untuk kantor perusahaan lain itu mulai ramai ketika sudah memasuki jam kerja.


Blok lantai tiga memang di khususkan untuk karyawan dari salah satu cabang Santosa Group tersebut.


Sedangkan lantai lain di sewakan untuk berbagai perkantoran.


"Pagi mas Bara...," sahut salah satu petugas parkir di sana.


"Pagi pak Parmin," balas Bara sambil tersenyum.


"Masih pagi kok sudah datang mas..?," sapa pak Parmin.


"Iya pak..males ikut berjubelan bisa kesiangan," jawab Bara sambil tersenyum.


"Pak Parmin....emang enggak bantu bantu istri kok malah sudah siap disini."


Istri pak Parmin memang jualan di salah satu warung di cafetaria pusat perkantoran itu.


"Sudah ada anak yang bantu bantu kok mas...jadi bapak langsung aja di sini." sahut pak Parmin kemudian.


"Ya..udah..saya naik dulu pak, mau siap siap dulu," kata Bara pamit kepada petugas parkir khusus karyawan Santosa Group tersebut.


Memang untuk karyawan dari Santosa Group di sediakan tempat parkir khusus yang tak bersamaan dengan karyawan dari perusahaan lain, karena kalau perusahaan lain parkirnya di kelola pihak swasta jadi harus membayar.

__ADS_1


Bara sudah masuk di gedung perkantoran itu, masih menunggu lift ke ruangan nya.


Karena tergesa-gesa sebab tadi di ajak mengobrol dengan pak Parmin tanpa sengaja Bera bersenggolan dengan seorang wanita yang membawa beberapa berkas.


Braak..!!


''Hei...!! apa kamu tak punya mata..jalan main tabrak tabrak saja..!!," teriak wanita..tepatnya gadis tersebut.


"M.mmaaf..mbak ..," kata Bara meminta maaf sambil ikut membantu memunguti ceceran berkas berkas tersebut.


Gadis tersebut masih nampak marah dan cemberut, meskipun berkas berkas itu sudah di bereskan semua.


"Maaf ya... mbak ..," kata Bara lagi setelah keduanya masuk di lift yang sama.


Gadis itu hanya memandang Bara.


"Lantai Berapa mbak..? ," tanya Bara yang ingin membantu memejetkan lantai ruangan gadis tersebut, setelah dirinya memejet tombol tiga.


Namun gadis tersebut tak menyahut tapi langsung memencet tombol lima, sambil memandang Bara dengan kesal.


"Lho..aku kan sudah...minta maaf, sudah bantu menata berkasnya kembali ..tapi masih saja galak gadis ini."


"Mari mbak..duluan..maaf ya..," Bara masih sopan pamit keluar dari lift sambil meminta maaf kembali.


Gadis itu hanya memandang Bara sampai Bara jengah sendiri.


"Hiiii...cantik cantik kok galak...."


Bara mengusap tengkuknya begidik ngeri sendiri sambil berjalan ke ruangan nya.


"Woii...bro..ngapain ...? lihat hantu..?," sebuah suara jahil dari mulut rempong Bondan terdengar mengagetkan Bara.


"Sialan kau ngagetin aja," spontan Bara mengumpat..karena benar benar kaget.


"Mimpi apa kau...berangkat pagi pagi sekali..," kata Bara kembali setelah kagetnya hilang.


"Huuh..sengaja bro...daripada di rumah di omeli mama aku," kata Bondan sok sokan ..padahal biasanya manggil nya emak.


"Hehehehe..," Bara tertawa mendengar keluhan rekan kerja nya.


__________


**Selamat membaca..masih stay..kan...?


Minta dukungan nya..ya**....

__ADS_1


__ADS_2