
POV Opa Santosa
Aku ijinkan kedua cucu dan cucu menantuku untuk meninggalkan Mansion ku meskipun sebenarnya aku sangat khawatir.
Dengan berat hati akhirnya aku ijinkan karena memang mereka punya kepentingan terutama cucu menantu ku yang memang membutuhkan alat alatnya untuk berkarya.
Banyak sebab yang membuatku menjadi mengkhawatirkan mereka, selain kedua orang tuanya ingin selalu memisahkan mereka, juga cucuku sedang mengandung cicit buyutku...aku takut terjadi apa apa padanya.
Akhirnya tanpa sepengetahuan mereka aku tetap mengutus para pengawal ku untuk selalu mengawasi jika ada hal hal yang di luar dugaan.
"Kamu tahu apa yang mesti dilakukan ..," pesanku kepada beberapa pengawal suruhanku tersebut.
"Siap tuan besar ..kami mengerti..!," sahut keempat pengawal tersebut.
Akhirnya aku sedikit lega saat para pengawal sudah mengawal mereka.
Namun aku kembali was was saat mendapat kabar ada keributan di mall dimana mereka berbelanja, ingin rasanya aku langsung menuju ke sana untuk melindungi cucu cucuku.
Tapi akhirnya aku tersenyum setelah mendapat kiriman video dari salah satu pengawal yang merekam kejadian itu.
Aman...ternyata cucu menantu ku benar benar melindungi istrinya, dan kulihat dia menghajar seseorang yang nampak kesakitan.
Dan orang itu tak berani lagi mendekati keduanya sampai akhirnya mereka berdua meninggal kan tempat keributan.
Aku makin kagum dengan cucu menantu ku, anak yang baik, taat beribadah, tak bertingkah macam macam kayak anak jaman sekarang, bertanggungjawab....dan banyak talenta lagi.
Bahkan sampai kini aku masih tak percaya jika dia bisa berteman dengan Jhonson sahabatku..dan membuka usaha bersamanya...
komentarku tentang cucu menantuku ...pemuda yang luar biasa.. memang tepat untuk cucuku yang juga luar biasa.
**
Bara sudah meninggalkan tempat pertengkarannya dengan Leon, menunggui istrinya yang lagi menikmati eskrim cup yang kini sudah tak dingin lagi sambil duduk di kursi sebuah food court yang ada di mall tersebut.
"Emangnya masih enak sayang..?."
Yolanda mengangguk kemudian menyuapkan eskrim yang sudah di sendoknya kepada suaminya.
"Cobain aja ..mas..."
"Aaaa..," kata Yolanda memberikan suapan kepada suaminya.
"Amm...mmm...enak juga meski sudah tak terlalu dingin," sahut Bara sambil mengecap ngecapkan lidahnya.
" Malahan bagus... enggak bikin pilek sayang...," kata Bara lagi setelah merasakan es krim tersebut tak terlalu dingin di mulutnya.
Selesai menikmati eskrim itu keduanya kembali berjalan menuju ke tempat dimana alat alat lukis di pajang dan di jual.
__ADS_1
Bara dan Yolanda sudah sampai di bagian outlet alat alat lukis, setelah membeli beberapa keperluan yang di butuhkan keduanya pun langsung meninggalkan mall tersebut.
Semua belanjaan nampak menggunung karena kebanyakan yang di beli adalah media kanvas yang sudah berbentuk persegi, selain juga perlengkapan yang lain.
**
Tuan Hendrawan yang masih di kantor, sedikit teringat percakapannya dengan bapaknya Bara.
Bahwa Bara selain kerja, kuliah juga mempunyai ketrampilan yang luar biasa di bidang melukis..bahkan kini lukisannya di jual belikan.
Ada sedikit penasaran di hati tuan Hendrawan, " Seberapa bagus sih..? hasil lukisannya...?."
Hingga tuan Hendrawan iseng iseng browsing di dunia Maya melihat lihat dan ternyata memang ada Lukisan Arjuna Satya Sambara terpasang di sana.
Semua lukisan nampak menakjubkan bagi tuan Hendrawan sehingga tanpa sadar makin timbul kekaguman di hatinya kepada Bara, meskipun masih dia simpan semua itu rapat rapat.
Di ambil ponsel nya, di tekan nomor pak Darmais yang kemarin sempat di simpannya.
"Assalamualaikum..," sapa tuan Hendrawan.
"Waalaikumssalam..," jawab pak Darmais.
"Maaf dengan siapa ini ya pak..?," tanya pak Darmais dengan sopan, karena memang belum menyimpan nomor tuan Hendrawan.
"Saya Hendrawan Ayahnya Yolanda pak..," kata Tuan Hendrawan.
Pak Darmais nampak kaget karena di telpon oleh bapaknya Yolanda tersebut.
Pak Darmais dengan sopan berkata jujur.
"Tidak apa apa pak.." sahut tuan Hendrawan sambil tersenyum ramah.
Kemudian kedua orang tua itu mengobrol banyak dengan berbagai topik pembicaraan.
Dan salah satu dari hasil percakapan itu tuan Hendrawan malah akan membantu mengelontorkan dana agar semua rencana pembangunan tempat wisata mandiri beserta mansion hunian tersebut segera selesai dan bisa di operasikan.
"Saya minta nomer rekening pak Darmais..nanti akan saya transfer sejumlah uang agar proyek itu segera rampung," kata tuan Hendrawan sebelum menutup sambungan telponnya.'
**
Om Jhon masih menatap Tarjo yang masih bekerja bersih bersih di belakang bangunan itu.
"Tuan..tanaman ini saya bersihkan ya..nanti saya ganti dengan pohon pisang biar terlihat rindang," kata Tarjo meminta ijin kepada om Jhon, sambil membersihkan pohon pohon di belakang bangunan galeri tersebut.
"Ya...bersihkan saja, sekalian sama pohon akasia itu boleh kamu tebang...," sahut Om Jhon sambil memberikan petunjuk.
Halaman galeri yang sangat luas itu memang banyak di tumbuhi berbagai tanaman, di bagian belakang tampak beneapa tanaman perdu yang selama ini tak terurus hingga terlihat rimbun.
__ADS_1
Dengan kedatangan Tarjo maka tempat itu mulai di bersihkan dan di rapikan.
"Anak itu memang rajin tuan..," puji pak Karmin begitu sampai di dekat tuan Jhonson.
"Semoga saja tak berubah...," sahut Om Jhon pelan.
Karena hari sudah sore maka tuan Jhonson memanggil Tarjo agar istirahat.
"Jo...Tarjo.. istirahat sini sudah sore..," teriak Om Jhon.
Tarjo lalu menghentikan pekerjaannya dan duduk di bawah om Jhon yang duduk di kursi.
"Minum dulu..," tawar Om Jhon kepada Tarjo.
"Gimana..?, sudah telpon istrimu..?."
"Belum tuan..."
"Loh..kok belum..?, telpon saja biar bisa segera kemari..jadi kamu tak kepikiran balik kampung terus," sahut Om Jhon.
"Iya...tuan..nanti akan saya telpon."
**
Mendekati maghrib Bara sudah sampai kembali ke mansion utama.
Opa Santosa senang cucu cucunya sudah kembali.
"Banyak kali belanjaannya..," kata Opa yang melihat beberapa perlengkapan melukis yang Bara beli.
"Iya ..Opa soalnya peralatan lama masih saya simpan di galery kalau pas main main kesana mungkin bisa di gunakan.., jadi ini banyak beli alat baru lagi..," jawab Bara sambil tersenyum.
"Terus tadi sempat berbincang juga sama Om Jhon jika program kerja dari galeri itu, salah satunya yaitu sedikit memberikan demonstrasi kepada adik adik siswa sekolah nanti pas study tour jadi memang mesti beli alat baru untuk di rumah karena yang di sana harus di tinggal."
Opa makin kagum dengan program Jhonson dan Bara yang menurut nya merupakan terobosan yang bagus.
"Ya...sudah perintah kan saja para pekerja untuk menata dan menyimpannya di mana kamu bisa berkarya dengan nyaman..," perintah Opa.
Lalu beberapa pekerja membantu Bara membawa semua perlengkapan melukis itu ke beranda samping, di mana di sana ada ruang kosong dekat taman yang biasa buat bersantai.
"Iya...pak taruh aja di situ ..pak," perintah Bara.
"Iya tuan muda."
Setelah semua perlengkapan tertata rapi, Bara kemudian menyusul istrinya ke kamar untuk mandi dan bersiap sholat Maghrib.
___________
__ADS_1
**Happy reading...
Jangan lupa tinggalkan jejaknya**...