
Malam itu Bara kembali ke kamar dimana dulu dia pernah tinggal bersama dalam satu kamar dengan Yolanda untuk pertama kalinya di rumah utama itu.
Bara jadi teringat saat pertama dulu masuk kamar tersebut, membuatnya tersenyum karena sepahit apapun itu kenangan tetaplah indah apalagi jika itu berhubungan dengan orang yang kita sayangi
"Kenapa senyum senyum...mas...?," tanya Yolanda melihat suaminya dengan sedikit heran.
"Mas Bara ingat pertama di kamar ini.."
"Apa yang di ingat..?.," tanya Yolanda sambil bergelayutan manja di lengan suaminya.
"Ada gadis cantik bangeet.. tapi galak..," goda Bara kepada Yolanda.
"Ish...Mas Bara..jahat..," sungut Yolanda sambil mengerucutkan bibirnya hingga nampak menggemaskan.
"Padahal aku ingatnya enggak seperti itu.."
"Terus kamu ingatnya apa sayang..?.," tanya Bara memeluk pinggang istrinya.
"Aku ingat bila malam ada yang mijiti kakiku kalau pas pegel seperti saat ini.."
Yolanda berkata sambil tersenyum senyum...mengingatnya.
"Ya sudah...nanti mas Bara pijitin kakinya karena dari sore udah nemani mas Bara..terus," kata Bara sambil makin mengeratkan pelukannya.
Yolanda makin senang dan bermanja-manja.
"Tapi ada syaratnya.."
"Apa..?," tanya Yolanda.
Bara mendekatkan bibirnya ke telinga istrinya dan membisikkan sesuatu.
"Ihh..mesum..," pekik Yolanda namun juga terlihat senang.
**
Pagi hari Nursanti sudah bangun memerintahkan para pekerja dapur memasak yang spesial untuk makan pagi itu.
Para pekerja yang sudah mendengar kabar jika nona muda sudah kembali ke rumah utama itu juga turut gembira.
Pagi itu mbok Mar juga nampak senang, karena anak majikan yang selalu di asuhnya sejak bayi kini sudah kembali ke rumah utama dalam keadaan sehat bahkan tengah berbadan dua.
Bara sejak subuh sudah bangun dari tidur nya, bahkan sudah sholat berjamaah di mushola keluarga di mana para pekerja juga sholat berjamaah di sana.
"Tuan Muda..," sapa beberapa pekerja di sana.
Bara mengangguk dengan tersenyum setiap membalas sapaan para pekerja.
Bara yang dahulu pernah tinggal di rumah itu hampir satu minggu namun sama sekali tak keliling rumah itu kini nampak takjub dengan pemandangan rumah tersebut.
"Ehh..di belakang ada taman juga gasebo ternyata..," gumam Bara sambil berjalan ke taman belakang tersebut.
Taman yang sangat indah dengan rumput Jepang yang nampak rapi deselingi aneka tanaman yang bisa di hias dan di bentuk sedemikian rupa, ada beberapa kursi besi dengan ornamen ukiran yang sangat cantik dan juga lampu hias yang jika malam pasti nampak mempesona.
"Bagus juga penataan taman ini," pelan Bara berkata sambil tetap berjalan sambil berolahraga.
Bara sengaja tak berolahraga berat takut banyak berkeringatan karena habis itu akan makan pagi bersama kedua mertuanya, tak enak kan jika berkeringatan, mau mandi lagi juga malas.
Seorang pelayan datang lari lari ke arahnya, menghampirinya dengan sedikit membungkuk kan badannya.
"Maaf tuan makan pagi sudah siap.."
"Aku akan kesana .. terimakasih.."
Bara berkata dengan tersenyum ramah kepada pelayan tersebut, sambil berjalan ke arah rumah utama.
**
Di meja makan nampak Hendrawan dan Nursanti serta Yolanda sudah bersiap.
"Maaf Pah...mah.. Bara sedikit terlambat..," kata Bara yang tak enak ternyata semua sudah menunggu di meja makan.
"Enggak apa apa ..mama dan Papa juga barusan kok," sahut Nursanti tersenyum ke arah Bara yang merasa bersalah.
Setelah semua makanan tersedia di depan masing masing, merekapun makan setelah sebelum nya berdoa.
"Bagaimana pekerjaanmu..?," tanya Hendrawan di tengah menikmati sarapannya.
"Baik pa..semua berjalan lancar..berkat pengalaman Bara menjadi asisten pak Beni dan pak Budiman..," sahut Bara sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.
__ADS_1
"Oh..iya kamu dulu pernah jadi asisten papa," sahut Hendrawan, mengiris daging dengan pisau sebelum menikmatinya.
"Papa dengar tempat yang kau tinggalkan (Santosa Propertindo) dalam laporan triwulan kemaren mengalami penurunan," kata Hendrawan.
"Benarkah pah...? Bara malah enggak tahu, padahal waktu Bara di sana kita malah sempat dapat bonus, karena peningkatan penjualan..?."
Hendrawan menganggukan kepalanya.
"Mungkin besok senin undangan rapat para direktur cabang di kantor pusat akan sampai ke tempat mu, di sana nanti kita bahas beberapa laporan dari semua cabang Santosa group..," kata Hendrawan kepada Bara.
Mereka kembali berbincang sambil sarapan, namun kini sudah berganti topik pembicaraan.
"Sayang...kapan kalian periksa kandungan..? mama pengen juga memeriksakan kandunganmu..," kata Nursanti sambil menambahkan lauk ke piringnya.
"Hampir satu bulan yang lalu mah..," jawab Yolanda.
Nursanti tersenyum mendengar berita tersebut.
"Bagaimana kalau nanti sore kita ke dokter..?, melihat perkembangan baby twins..?.," usul Nursanti kepada keduanya sambil melihat ke arah suaminya yang nampak antusias juga.
Bara dan Yolanda mengangguk.
"Boleh mah..,Yola juga pingin melihat perkembangan baby twins."
"Jam berapa Ma..? nanti periksa nya..?," tanya Bara.
"Habis sholat ashar saja..dekat kok dari sini.."
"Itu juga teman mama kumpulan..," kembali Nursanti berkata.
"Memangnya mas Bara mau kemana..? kok tanya jam segala..?."
"Cuma mau ke galeri melihat perkembangannya, kemerin om Jhon mengajak pagi ini ke sana saat jam kantor.."
"Ooh.."
"Galerinya ada di mana sih..?."
"Di jalan XX pah.."
"Di jalan XX..?, sama destinasi wisata Arts Museum sebelah mananya..?."
"Haah..jadi pelukis yang sering di bicarakan itu kamu..?," kata Papa Hendrawan makin kaget.
"Bara malah enggak tahu kalau sering di bicarakan pah..," sahut Bara pelan sambil tersenyum sedikit kikuk.
"Iya..kan sekarang lagi terkenal museum seni itu, bahkan di gandeng dinas pariwisata menjadi salah satu destinasi paket wisata di kota ini..," malah Hendrawan yang menerangkan.
Nursanti juga mengangguk karena dia juga ikut dalam kelompok ibu ibu pejabat di kota tersebut.
"Ya..sudah kamu berangkat saja ke galeri...nanti sore baru kita periksa," sahut mama Nursanti sambil membereskan sisa makanan di bantu pelayan rumah tersebut.
"Iya mah.."
**
Di galeri Om Jhon masih berbincang dengan manager Arts Museum yang bernama pak Bambang.
"Bagaimana..laporannya sudah siap..?."
"Sudah tuan Jhonson."
"Kita tunggu Bara..habis itu kita rapat untuk laporan triwulan ini..," kata Om Jhon.
"Baik tuan.."
Om Jhon kembali keruang belakang karena museum sudah mulai buka.
Akhir weekend biasanya pengunjung akan membludak.
Tarjo bertugas sebagai tukang bersih bersih jika selesai baru merangkap sebagai juru parkir di tempat tersebut.
Sengaja oleh Om Jhon masalah parkir tidak di sewakan kepada rekanan, karena harapannya uang parkiran bisa di manfaatkan oleh pekerja di sana untuk meningkatkan kesejahteraan mereka jika di kelola dengan baik.
Sebuah mobil sport mewah nampak memasuki halaman museum tersebut.
"Ayoo..terus lurus...eh..jangan masuk masuk ..itu khusus...pemilik pak..!," teriak Tarjo yang sedang memberi aba aba, ketika mobil sport mewah itu malah masuk ke bagian parkir khusus.
"Apaan sih...? Jo..?," goda Bara sambil membuka kaca mobilnya.
__ADS_1
"Weleeh...tak kiro sopo Bosque..," sahut Tarjo.
"Cck...mobil gonta ganti..aku jadi bingung," kata Tarjo sambil garuk-garuk kepalanya.
Bara turun dari mobilnya menghampiri Tarjo, kemudian tos.
"Aku kira siapa tadi..habisnya mobil ganti mulu," sungut Tarjo masih sambil garuk-garuk kepala.
Bara hanya tersenyum saja.
"Gimana..? udah latihan setir mobil..?."
"Sudah..daftar sih kemarin terus latihan satu jam.."
"Uangnya sisa banyak..," kata Tarjo sambil cengengesan.
"Ya..itu buat membuat SIM..nanti sisanya baru buat kamu...," sahut Bara tersenyum.
"Iya..itu kursusnya juga mengurusi pembuatan SIM dan sudah aku bayarkan satu paket sekalian, tapi uangnya masih sisa banyak..," kata Tarjo lagi.
Bara mengangguk..," buat belanja kamu dan Tatik..," sahutnya.
"Yeess..!!," Tarjo bersorak kegirangan mendapatkan uang tambahan yang banyak.
"Ya..sudah aku masuk dulu ya..," pamit Bara sambil berjalan masuk dan mencari Om Jhon.
**
Bara sudah berada di ruangan bersama Om Jhon dan pak Bambang selaku manager Arts Museum.
Pak Bambang menjabarkan kegiatan selama ini dan rencana rencana ke depannya termasuk agenda dengan dinas pariwisata.
"Dalam bulan ini nanti akan ada para wisatawan dari luar negeri yang akan kemari," kata pak Bambang menerangkan.
"Terus yang dari dinas pendidikan bagaimana..?," tanya Om Jhon.
"Untuk dinas pendidikan minggu besok sudah mulai tuan, di awali anak anak dari sekolah xxx.."
"Untuk anak anak sekolah nanti kita jadwalkan tiap Senin dan Selasa di mana pengunjung umum sedikit berkurang," kata pak Bambang lagi.
Setelah penjabaran program program, saatnya laporan hasil pendapatan.
"Pendapatan selama triwulan ini sekian.. dari uang masuk dan penjualan lukisan, juga pendapatan dari kerjasama kita dengan dinas terkait sekian..dan bla..bla...bla..."
"Itu dana yang masuk..ke kita..," kata Om Jhon.
"Bagianmu sudah aku transfer kan sesuai pembagian yang sudah kita bicarakan dulu..," sahut Om Jhon.
Bara hanya mengangguk.
"Nanti kamu cek ya.."
"Terima kasih Om..," kata Bara kepada Om Jhon.
Bara yang selalu penuh inovasi setelah mendengar laporan pak Bambang, kemudian mengajukan usulan.
"Bagaimana kalau di sini jangan hanya lukisan saja yang di pajang..?," kata Bara.
"Maksud kamu..?."
"Kita bisa menambahkan karya karya yang lain, seperti seni kriya," usul Bara.
"Tapi yang masuk standar kita, jangan asal ," kata Bara lagi.
"Om setuju..," kata Om Jhon sambil tersenyum senang.
"Kalau Om setuju aku akan menghubungi teman teman komunitas..nanti aku sendiri yang akan menyeleksi sebelum sampai di meja Om Jhon," seloroh Bara.
Om Jhon hanya tertawa mendengar guyonan Bara.
"Om percaya sama seleramu.."
Semua tertawa di rapat yang serius tapi santai tersebut.
_____________
**Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya...
Happy reading**...
__ADS_1