
POV Bara
Sehabis sholat isya aku menelpon ibu di kampung, sudah lama enggak dengar suara ibu dan bapak.
Entah kenapa tiba -tiba rasa kangen ini muncul begitu saja.
"Ada apa ..ya..? apa bapak sakit..? atau ibu yang sakit..? kok aku tiba -tiba ingin menelponnya."
Aku pun segera menelpon bapak dan ibu di kampung.
"Assalamualaikum..," sapaku kepada orang tuaku.
Ternyata yang mengangkat nya ibu, kami pun bertegur sapa dan bercerita sejenak sebelum bapak akhirnya yang mengambil alih telpon itu.
Entah kenapa perasaan ku menjadi tak enak karena bapak ngomong nya agak berbelit-belit.
Apalagi ibu tadi bahkan menyinggung Jasmine anak pak lurah...
Ku akui Jasmine memang cukup cantik dan merupakan bunga desa di kampung, tapi bagiku....dia bukan tipe ku sama sekali dan aku tak pernah ada rasa sedikitpun meskipun Jasmine kerap memberi banyak kebaikan padaku saat sekolah dulu.
Aku teringat Jasmine sering memberi tumpangan saat sekolah, bahkan dia sering menghampiri ku ke rumah hanya agar aku bisa nebeng motor nya.
Aku kira bapak ngomong berbelit karena butuh biaya lagi sebab beliau sakit atau ibu yang sakit..
Tapi ternyata tidak...bukan itu penyebab nya.
Jujur...aku makin berdebar..dan bertanya tanya..ada...apa..?
Hingga akhirnya bapak mengatakan apa maksud dan rencana beliau yaitu mau menjodohkan aku dengan Jasmine.
Duaaarrr...!!
Bagai di sambar petir aku mendengar hal itu, hampir saja handphone yang ku pegang jatuh seandainya aku tak buru buru mencengkeram nya kembali.
"A.a..aapa..pak..?," sahutku tergagap.
"Pokoknya besok minggu depan pulanglah nak..kita bicarakan semua nya baik baik..ya...," kata bapak sebelum obrolan kami selesai.
Aku terduduk lemas di kursi sofa depan TV
Ya Allah apa yang mesti aku lakukan..?
Memang benar..saat ini aku sudah menikah..tapi rumah rumahan ini hanya dalam tenggang waktu satu tahun, karena hanya pernikahan sandiwara yang di gagas tuan Hendrawan.
Dan lagi tak ada dukungan kedua orang tuanya untuk menuju pernikahan yang sesungguh nya ..karena kita terlalu jauh berbeda ..bagai langit dan bumi.
Namun yang menguatkan, suport dan dukungan Opa kepada kami berdua sangat luar biasa, membuatku seakan menjadi sosok suami yang sebenarnya.
Juga sikap dan perhatian non Yola kepadaku sungguh membuatku terbuai.
__ADS_1
Belum pernah aku seumur hidup begitu dekat dengan wanita, bukan hanya fisik kami namun juga hati kami meskipun tak pernah kami berucap cinta satu sama lain.
Sejujurnya dari hatiku yang paling dalam aku mulai menyukai.., eeh..bukan menyukai..., tapi mencintai dan menyayangi non Yola..segenap jiwaku.. meskipun masih aku tahan.. karena takut aku kecewa.
Aku masih terduduk di sofa dengan pikiran yang masih saling berbantahan.
Antara kenyataan yang aku hadapi dengan harapan harapan yang ingin ku gapai.
**
Adzan subuh membangunkan Bara dari tidurnya.
Semalam Bara memang tidur di sofa seperti kebiasannya kalau libur.
Apalagi semalam Bara tak bisa tidur dengan nyenyak karena rencana yang sudah di utarakan bapaknya kepadanya.
Sebenarnya bukan salah keluarga Bara juga, karena setahu mereka Bara masih kuliah sambil bekerja di kota.
Selama ini juga Bara tak pernah membawa seorangpun gadis ke rumah, jadi wajar bila kedua orang tua nya berniat menjodohkan anakknya dengan anak pak lurah yang merupakan atasan pak Darmais di kelurahan.
Setelah sholat subuh Bara membuat sarapan pagi untuk dirinya sendiri sambil menonton acara TV.
Di beritakan di sebuah TV swasta di acara infotainment bahwa akan ada pameran kesenian(seni lukis), bertaraf nasional yang sebentar lagi di adakan.
Bahkan pada puncak acara tersebut akan di siarkan di sebuah saluran televisi swasta nasional, di mana di acara itu akan di ulas para pelukisnya dan juga hasil lukisannya beserta harga dari lukisan tersebut.
Dan antusiasme yang di tunjukkan baik peserta maupun penonton yang berpartisipasi dan menyaksikan dari tahun ke tahun makin meningkat.
Bara yang menyaksikan tayangan tersebut sampai ternganga melihat sekilas cuplikan yang di tampilkan dari tayangan tahun lalu.
Bahkan di sana di kabarkan ada beberapa karya yang sangat di minati hingga harga salah satu karya itu di luar batas pemikirannya.
"Ya Allah ..semoga aku bisa terpilih dan ikut pameran itu..dan semoga karya karyaku bisa terjual seperti karya karya maestro tersebut."
Melihat tayangan tersebut seakan ada sebuah lecutan baginya untuk membuat karya lukis yang lebih baik lagi.
Sehabis sarapan Bara berniat mandiin si Neneng habis itu akan berniat berkarya lagi.
Kadang suasana sepi dan sendiri seperti ini menimbulkan banyak ide bagi dirinya.
Di akuinya terkadang kalau pas tak ada inspirasi dan kemauan, untuk membuat sebuah karya akan sangat sulit, namun bila pas ada inspirasi seakan tak bisa berhenti untuk berkarya dan berkarya..aneh nggak ya...
Bara keluar dari apartemen nya menuju basemen untuk mandiin si Neneng.
Disana di sebelah motornya sudah nampak bapak tua yang juga mencuci motor gedenya.
Tatapan mata keduanya sesaat bertabrakan.
Sebagai orang yang lebih muda Bara menganggukkan kepalanya untuk memulai tanda bertegur sapa.
__ADS_1
Orang tersebut akhirnya mengangguk dan tersenyum.
"Pagi Om..," sapa Bara meskipun nampaknya usia Bapak itu hampir sepantaran Opa Santosa.
"Pagi..." sahut Bapak tersebut.
Meskipun sudah tua bapak tersebut terlihat masih bugar dan sehat.
Mungkin juga karena gaya hidup nya ya...buktinya di usianya sekarang masih suka motor gede.
Padahal banyak orang yang sudah setua ini kalau naik motor malah masuk angin..hehehe..
"Tinggal di apartemen ini juga ya..?," suara berat pria tua tersebut mengagetkan Bara.
Bara tersenyum dan mengangguk.
"Iyaa..Om.."
"Di lantai berapa..?."
"Lantai 20..Om..," sahut Bara lagi.
"Lho..kok nggak pernah ketemu...ya.... kita..?."
"Baru kurang dari dua bulan kok Om... tinggal ...disitu," sahut Bara.
"Namanya siapa ...?, kenalkan aku Johnson..biasa di panggil Om Jhon," kata pria tua yang masih gagah itu memperkenalkan diri.
Bara menyambut uluran tangan dari Om Jhon tersebut.
"Bara om...lengkapnya Sambara," kata Bara.
Kemudian keduanya sudah terlibat percakapan yang akrab, seperti ada persamaan antara keduanya yang bisa langsung "klik" saat bercerita tentang sesuatu.
Om Jhon ini ternyata juga tinggal di lantai 20 sama seperti Bara.
Beliau tinggal seorang diri disana semenjak istrinya meninggal, itu menurut cerita Om Jhon kepada Bara.
Sedangkan kedua anak anaknya tinggal di luar negeri.
Menurut pengakuan Om Jhon anaknya sudah pada berkeluarga dan menetap di luar negeri.
"Bahkan mungkin cucu perempuan ku seusia kamu..," kata Om Jhon.
"Sama siapa kamu tinggal di lantai itu...?."
"Sendiri Om...tapi kadang ada temannya juga," kata Bara sedikit membuka diri nya, namun tak jujur sepenuhnya.
__________
__ADS_1
Selamat membaca...jangan lupa jejaknya...ya...dan dukung terus karya.. author...