
Bara dan teman temannya sudah selesai makan di cafe AAA sebelum jam 15.00 an.
Karena itu akhir pekan dan juga karena target bulan tersebut sudah jauh terlampaui maka semua dapat dispensasi untuk pulang awal setelah makan dari cafe tersebut.
Sebelum berangkat ke kampung nya tak lupa Bara, kembali menelpon istrinya, memberitahukan perihal keberangkatannya.
"Assalamualaikum..." sapa Bara.
"Waalaikumssalam..ada apa mas..?."
"Mas Bara mau pamit..berangkat pulang ke kampung..,"
"Iya..hati hati.."
"Iya.." kata Bara pelan.
"Pokoknya mas Bara harus segera balik ke sini bila urusan selesai..," kata Yolanda.
"Pasti sayang...''
''ingat...jangan lupa pesenku...mas Bara sudah punya istri.. jangan macam macam," kata Yolanda mulai posesif.
"Iya..sayang..tak..akan, aku akan bicarakan dengan keluarga ku semua dengan baik baik," sahut Bara.
"Ya udah hati hati, jangan ngebut," pesan Yolanda sebelum menutup telponnya.
"Ya.. assalamualaikum.."
"Waalaikumssalam.."
Bara langsung memacu mobilnya menuju kota asalnya tepatnya desa di mana kedua orangtuanya tinggal.
Untuk menghibur sepi Bara menghidupkan musik selama perjalanan.
Sebuah lagu dari Rinto Harahap yang di rilis ulang oleh group band Armada, menemani perjalanan nya.
Dan dengan pelan Bara pun ikut menyanyikan salah satu lagu kesukaan nya tersebut.
(kalau dulu kita tak bertemu..
tak kan pernah kurasakan artinya rindu...
kalau kita dulu tak kenalan
tak kan pernah ku rasa kan jatuh cinta...)
Sebuah syair yang menurutnya sangat pas dengan suasana hatinya.
Jarak tempuh kurang lebih enam ratus kilometer itu biasa di tempuh dalam waktu lima sampai enam jam.
Sengaja Bara tak menginjak gas dengan ekstrim, lagian tak usah keburu kan enggak ada sesuatu yang akan di kejar nya.
Bara berangkat sekitar jam empat Sore dari kota tempat nya berkarir dan menurut perkiraannya akan sampai di rumah kurang lebih jam sembilan malam.
Hanya tiga jam setengah lebih sedikit ternyata mobil Bara sudah sampai di pintu keluar tol kota asalnya.
"Eeh...cepetan juga ya.., waah.. ternyata aku menginjak gas dalem juga," gumaman Bara seorang diri.
__ADS_1
Dari pintu tol menuju desanya masih satu jam lagi, karena desanya ada di pinggiran.
Tak lupa Bara mampir di supermarket yang di lalui untuk membeli sedikit oleh oleh untuk keluarga di kampung.
Setelah urusan di supermarket selesai kembali Bara melajukan mobilnya menuju ke arah desa nya.
**
Di kampung Bara, Bapak dan ibu masih bersantai di beranda depan rumahnya.
Mereka masih mengobrol sambil menemani Bu Romlah ibunya Bara, yang masih menunggui warungnya.
"Kapan pak anakmu mau pulang..?," tanya Bu Romlah kepada suaminya.
"Mungkin besok Sabtu Bu.., coba besok pagi mau bapak hubungi..jadi apa enggak anakmu pulang ke sini..," sahut pak Darmais ayah Bara.
"Ya..kalau besok pulang dari sana pagi mungkin malam baru sampai, soalnya Bis yang di tumpangi nya kan biasanya mampir mampir di terminal kota yang di lalui jadi makin lambat..," kata Bapak lagi.
"Ya...mending pakai angkutan umum dari pada naik motor seperti dahulu, sudah badan capek ..besoknya mesti balik lagi, meskipun sebenarnya lebih cepat sih," kata Bu Romlah.
"Ya..terserah Bara saja lah..besok mau naik apa yang penting nyaman dan selamat tak ada kendala..," kata Pak Darmais.
"Semoga bisa lekas pulang soalnya enggak enak menggantung terlalu lama perihal perjodohan dengan Jasmine," kata bapak pelan.
"Misye..! Della....!," panggil Bu Romlah kepada dua anak gadisnya yang ada di dalam masih menonton TV.
"Ya..Bu..," sahut keduanya.
"Bantu ibu menutup warung..sudah mau jam sembilan," perintah bu Romlah kepada kedua anak gadis nya tersebut.
Warung sudah tertutup dengan rapat dan aman, setelah anak dan istrinya masuk pak Darmais menutup pintu rumahnya.
Belum juga rapat pintu tertutup, terdengar deru mobil memasuki rumah mereka.
Pak Darmais tak menghiraukannya paling paling tamu tetangga nitip parkir di sana, karena biasanya juga begitu.
"Siapa sih pak malam malam nitip mobil..?," tanya Bu Romlah yang juga sedikit keheranan.
"Enggak tahu Bu..mungkin keluarga Bude Sarmini dari kota," kata Bapak.
"Ehh...tapi mobilnya bagus banget pak...enggak mungkin keluarga Bude Sarmini..," kata Misye yang melongok dari jendela.
"Iya pak.. bagus dan gagah sekali mobilnya, mana di dekatkan dengan pintu rumah kita lagi, kan biasanya kalau nitip mobil parkir di dekat pohon melinjo depan sana," kata Della menyahut perkataan kakaknya.
Bara turun dari mobil Barunya yang nampak gagah tersebut.
"Pak..bapak...! kayaknya... kak..Bara..," sahut Misye mengagetkan pak Darmais.
"Iya pak...beneran kak Bara," sambung Della kegirangan melihat kakaknya datang.
Kedua adiknya kemudian membuka pintu yang masih di pegang pak Darmais yang masih terpaku di tempatnya.
"Kak Bara...!!," seru kedua adiknya berlari keluar rumah menyambut kakaknya.
Bara tersenyum menyambut adik adiknya yang langsung merangkulnya.
"Widiih..kakak...hebat..pulang pulang bawa mobil...," seru Della kegirangan.
__ADS_1
"Ini bawa...," kata Bara menyerahkan oleh oleh yang di bawanya kepada kedua adiknya tersebut.
"Asiik....kakak bawa oleh-oleh..," kembali Della berseru.
Kedua adiknya berebut membawa barang bawaan Bara.
Bu Romlah dan pak Darmais masih terpaku di depan pintu.
"Assalamualaikum..Bapak....Ibu," sapa Bara kepada kedua orang tuanya.
Bapak dan ibu tergagap tersadar dari lamunannya.
"Waalaikumssalam..eeh..Bara...ini kamu nak..?," kata Bu Romlah yang masih kaget melihat kedatangan anaknya.
Begitupun dengan pak Darmais yang masih terpaku tak percaya.
"Iya..Bu ..pak..emang siapa lagi," kata Bara terkekeh melihat keterkejutan kedua orang tuanya.
Kemudian Bara menyambut tangan keduanya dan menciumnya.
Bapak dan ibu memeluk Bara kemudian tertawa senang.
Pintu rumah yang semula akan di tutup kemudian di buka lagi, apalagi di depan ada mobil Bara.
Suasana rumah langsung terasa meriah, lebih hidup lagi.
"Bara mandi dulu pak..Bu..," pamit Bara.
Bara pun mandi agar memulihkan kesegaran tubuhnya.
Selesai mandi Bapak Ibu malah sudah berada kembali di beranda bersama adik adiknya, mereka masih melihat dan mengawasi mobil Bara.
Makanan yang Bara beli sudah terhidang di sana beserta minuman hangat.
"Terlihat...gagah sekali mobil yang di bawa kakak," kata Misye sambil mengitari mobil tersebut.
Meskipun hanya tersedia empat tempat duduk tapi di bagasi belakang sebenarnya masih cukup untuk satu baris kursi lagi.
Bara datang menghampiri keluarga dengan tubuh yang sudah segar.
Dengan pakaian yang di belikan Yolanda pas berbelanja dahulu, Bara makin terlihat tampan.
"Waah..kakak ku ganteng banget..," kata Misye yang tak bisa menyembunyikan kekagumannya kepada Kakaknya.
"Kan sudah lama kakak mu...ganteng," kata Bara menimpali perkataan adiknya.
"Iyaa...kakak.. sekarang makin cakep," kata Della menimpali Misye kakaknya.
Semua bercanda dengan sangat riang, meskipun malam makin larut namun mereka enggan untuk tidur, seakan rasa kangen di hati mereka belum terpuaskan
__________
Dukung karyaku ...ya...
Tinggalkan jejaknya....
Makasih.....
__ADS_1