Aku Lebih Mencintaimu

Aku Lebih Mencintaimu
Eps 141 Insiden setelah Wisuda


__ADS_3

Di dalam kamar mandi itulah Clarissa menumpahkan semua sakit yang ia rasakan.


"Tuhan...kenapa ini terjadi ..? disaat aku benar benar jatuh cinta dia malah sudah di miliki orang lain, kenapa orang baik yang aku cintai, aku harapkan menjadi milikku ternyata milik orang."


Clarissa merutuk dalam hatinya, menangis di kamar mandi tersebut hingga beberapa saat dan merasa puas.


Cekleek..!!


Setelah sekian lama Clarissa berada di kamar mandi tersebut akhirnya dia keluar juga.


Di luar sudah nampak sosok Rio, lelaki yang selama ini mengejar ngejarnya.


"Ada apa..?." Tanya Rio begitu melihat Clarissa matanya sembab dan lama di dalam kamar mandi, karena dari tadi Rio menguntitnya.


"Bukan urusanmu..!." Dengan sengal Clarissa menjawabnya dan berniat berlalu dari sana.


"Clarissa..!!," teriak Rio memanggil nya karena Clarissa akan terus berlalu tak menghiraukan nya.


"Apa..kekuranganku..?."


"Apa aku kurang kaya..?, di banding anak itu..? apa aku kurang tampan..?," teriak Rio makin menjadi.


Clarissa berhenti sesaat menoleh, lalu menghampiri Rio.


"Coba kau tanyakan pada dirimu sendiri..? apa kekuranganmu jika di bandingkan pria yang ku sukai..," kata Clarissa sambil menunjuk ke arah dada dan kepala Rio.


"Jangan munafik..kakakmu saja seperti itu..aku sama dengannya.."


Clarissa memandang Rio sedikit melotot kan matanya.


"Pintar..kau.!!, justru itulah kekuranganmu..meski aku satu darah dengan kak Leon tapi aku dan dia tak sama."


"Jika kau sama dengannya berarti kau bukan tipe ku..dan tak akan mampu menandingi lelaki yang kuinginkan."


Dengan kemarahan nya Clarissa meninggalkan Rio yang masih mematung menatap Clarissa.


"Akan aku hancurkan lelaki yang kau idamkan..!!," teriak Rio sebelum Clarissa menjauh, namun Clarissa hanya melambaikan tangan seakan berkata"Masa bodoh".


Rio hanya meninju udara sambil berteriak keras karena frustasi.


"Aaaaaarrh...!!."


**


Rio adalah anak salah satu pengusaha di kota tersebut, sama seperti Leon yang suka berpesta dan hura hura karena merasa kecukupan materi.


Sudah lama dia menaruh hati dengan Clarissa karena dahulu mereka adalah teman semasa SMA.


Bahkan saat Clarissa kuliah di luar negeri pun tak jarang Rio berkunjung ke sana hanya untuk melihat gadis yang di sukainya.


Setelah kini Clarissa memutuskan pulang ke tanah air, rasa ingin memiliki Clarissa makin membuncah.


Dengan berbagai cara dia lakukan untuk menarik perhatian gadis nya namun semua itu sia sia, hingga akhirnya dia tahu apa yang menyebabkan gadis pujaannya menolaknya, sosok laki laki bernama "Bara" yang berkali kali di lihat nya seakan bermesraan dengan nya.


"Awaas kau bangsat..aku akan menghancurkanmu..memangnya kamu siapa..?."


Dengan wajah penuh amarah Rio meninggalkan tempat tersebut.


**


"Sayang sebentar lagi giliran fakultas ku..kita bersiap masuk ke dalam ya," kata Bara menggandeng istrinya dan mengajak kedua orang tua nya.


"Hati hati melangkahnya," kata Bara sambil melihat gaun panjang yang di pakai istrinya, takut nyerimpet.


Pak Darmais dan Bu Romlah berjalan di belakangnya dengan sangat bangga sekali.


Sedangkan Misye dan Della tetap di sana karena jatah yang masuk ruang utama maksimal tiga orang.


Setelah mencarikan tempat duduk yang sesuai dengan nomor di undangan, Bara lalu meninggalkan mereka untuk bergabung dengan para Wisudawan yang duduk di tempat terpisah.


Acara demi acara berlangsung dengan khidmat.


Hingga tibalah saat Bara mewakili mahasiswa lainnya maju memberikan pidato, sebagai perwakilan mahasiswa berprestasi.


Semua bertepuk tangan sepanjang mendengar pidato yang sangat berbobot dari Bara.


"Terakhir aku ucapkan terima kasih kepada kedua orang tuaku, Istriku, kedua mertua ku dan seluruh keluarga ku juga teman kerabat yang tak mungkin saya sebutkan satu persatu, tanpa bantuan kalian semua saya bukan apa apa."

__ADS_1


"Wassalamu'alaikum."


Kata Bara menutup pidatonya, diiringi dengan tepuk tangan semua hadirin.


**


Acara Wisuda sudah selesai, Yolanda nampak bangga dengan suaminya.


Dia selalu menggandeng tangan sang suami seakan tak ingin melepaskannya.


"Seyuum...," teriak Misye yang memegang tongkat tongsis mengarahkan telponnya.


"Lagi.. lagi..dek..teriak Yolanda sambil berfoto menggunakan ponselnya.


Semua tertawa senang berfoto bersama dengan latar belakang tulisan wisuda.


"Sudah..Ayuk kita pulang..," kata Bara kepada istrinya dan keluarga nya.


Mereka berjalan menuju tempat perkirakan masih dengan bercanda riang kecil.


Misye dan Della bahkan mengambil beberapa foto mereka berdua di spot spot yang ada di kampus itu.


Yolanda tersenyum memandang kedua adiknya yang terlihat gembira sekali saat proses pengambilan foto yang menurut mereka sangat bagus.


"Del.. sudah..sudah banyak tuh fotonya..," teriak Bu Romlah kepada dua anak gadis nya, saat keduanya bahkan tak mau berhenti berfoto di beberapa tempat.


"Sekali lagi Bu..!," teriak Misye sambil bergaya yang terlihat lucu.


Mereka sudah tiba di tempat parkir dimana mereka memarkirkan mobilnya tadi.


Seperti tadi Bara bersama istrinya memimpin di depan di ikuti mobil yang di supiri pak Bandi baru mobil pengawal di belakang.


Yolanda nampak senang bersandar di lengan suaminya yang sedang menyetir.


Tampak Yolanda tersenyum senyum sendiri sepanjang perjalanan.


"Kenapa..?." tanya Bara sambil mengusap lembut rambut Istrinya yang menempel di lengan kirinya.


"Aku jadi geli jika teringat Clarissa.."


"Mas Bara kenal sama Clarissa..?," tanya Yolanda sambil menegakkan tubuhnya lalu menatap suaminya.


Bara hanya menganggukkan kepalanya.


"Kenapa dengannya ..? kok membuatmu senyum senyum..sayang..?," tanya Bara masih dengan pandangan fokus ke depan.


"Beberapa kali kita ketemu selalu saja ngomongin suami ku.."


"Maksudnya mas Bara..?," tanya Bara sambil menautkan alisnya.


"Bukan..," lalu Yolanda tergelak.


Suamiku yang orang desa, jelek, kampungan, tua dan miskin.. pokonya yang jelek jelek deh..," kata Yolanda sambil terkekeh.


"Tapi tadi saat tahu suamiku mas Bara malah kayak syok banget..dia nya," kata Yolanda lagi sambil tersenyum senang.


"Mungkin karena suamiku ganteng, muda dan tak terkesan kampungan dia sampai kayak nelan biji Kedondong, mukanya pucat.," Yolanda tergelak tertawa sendiri.


Bara ikut tersenyum mendengar perkataan istrinya.


"Memangnya kamu sudah lama kenal Clarissa sayang..?." tanya Bara kepada istrinya sambil mencium pucuk kepala Yolanda, saat mobil berhenti di lampu merah yang terkenal paling lama di kota itu.


"Kenal lah...dari kecil malah.."


"Teman SD.?."


Yolanda menggeleng.


"SMP..?," kembali Yolanda menggeleng.


"SMA..?." Yolanda kembali menggeleng," Clarissa adiknya Leon," kata Yolanda akhirnya sambil tersenyum.


"Oh..adik Leon..?, kok beda..ya..?," pelan Bara bergumam.


"Beda..?, memang mas Bara kenal akrab dengannya ..?," tanya Yolanda penuh selidik.


Bara tersenyum menggeleng dengan pelan, "Hanya beberapa kali saja ketemu saat mas Bara masih di kantor Santosa Propertindo."

__ADS_1


"Oh..aku kirain ..," sungut Yolanda sedikit terlihat cemburu.


"Kirain apa sayang..?, ragu sama mas Bara..?," sahut Bara menggoda istrinya.


Yolanda menatap suaminya melihat kejujuran di sana, lalu menggeleng.


"Aku percaya sama mas Bara seperti mas Bara mempercayaiku," kata Yolanda tersenyum.


Bara pun tersenyum kembali mengecup pelan pipi istrinya, lalu mulai menjalankan mobilnya kembali karena lampu sudah hijau.


Mobil melaju dengan pelan karena mobil pak Bandi dan pengawal terjebak kemacetan traffic light.


"Duuh..mereka terjebak lampu merah sayang..," kata Bara sambil menatap kaca spion mobilnya dengan dahi sedikit berkerut.


Yolanda menatap wajah suaminya yang nampak sedikit berbeda.


"Ada apa mas..?.," tanya Yolanda melihat suaminya yang sesekali melirik ke arah kaca spion.


"Kayaknya dua mobil itu di belakang kita terus deh sayang.."


Yolanda lalu ikut mengawasi lewat kaca spion tengah.


Bara mempercepat laju mobilnya, tampak dua mobil itu juga mempercepat lajunya.


Bara memperlambatnya, mobil itupun ikut melambat.


Yolanda mulai terlihat panik.


"Mas...," pelan Yolanda bergumam sambil meremas tangannya sendiri.


"Tenang sayang mas Bara akan menjaga jarak sampai para pengawal mendekati kita," sahut Bara menenangkan istrinya.


Namun belum berhenti Bara berucap menenangkan istrinya, salah satu mobil itu sudah menyalip dan tiba tiba berhenti menghadang mobil Bara.


Tampak enam orang keluar dari dua mobil tersebut salah satunya Rio, lelaki yang sangat menggilai Clarissa.


"Keluar..kau..!!," teriaknya sambil menggembrak kap mobil Bara.


Bara yang merasa tak punya urusan dengan anak itu kaget.


"Apaan sih..maksud ni anak..?," gumam Bara mencoba mau keluar, namun di cegah Yolanda.


"Mas jangan keluar..!, aku takut ..," pelan Yolanda berkata dengan tubuh gemetaran.


"Kalau tak keluar aku hancurkan mobil ini ..!!," teriak Rio makin kalap.


"Sayang..biar mas Bara hadapi apa maunya ni anak, kamu di dalam saja."


Akhirnya Bara keluar setelah menenangkan istrinya.


Begitu Bara keluar tanpa berkata apapun Rio langsung menghantam Bara.


Bouugh...!!


"Rasakan bangsaat..!!.," teriaknya Rio dengan amarahnya, menghantam perut Bara.


Tak terima diperlakukan seperti itu Bara langsung membalas nya.


Ceproot..!!


Pukulan tangan kanan Bara mendatar di wajah Rio yang langsung moncrot mengalirkan darah dari hidungnya.


Teman teman Rio langsung mengeroyok Bara, membuat Yolanda menjerit jerit ketakutan dan keluar dari mobilnya.


__________


**Bagaimana nasib Bara dan istrinya..?


Apakah keduanya bisa selamat..?


Bagaimana dengan kandungan Yolanda..?


Nantikan chapter berikutnya...


Jangan lupa jejak nya..


Terimakasih kakak**...

__ADS_1


__ADS_2