
Keduanya masih menikmati suasana malam kota itu bagai sepasang remaja yang sedang kasmaran dan jatuh cinta.
Menaiki motor keliling kota menikmati suasana, meskipun hanya berputar putar tak terlalu jauh berkendaranya.
"Bagaimana kalau kita ke taman kota..? ," usul Bara kepada Yolanda yang masih memeluk dengan erat dari boncengan motor nya.
"Aku ikut mas Bara saja." sahut Yolanda sambil mengeratkan pelukannya hingga tubuh nya menempel erat di punggung "suami"nya.
**
POV Yolanda
Hari Jum'at seperti ini, biasa Opa Santosa pasti mengontrol semua perusahaan kami.
Seperti biasa week end ini beliau pasti menginap di rumah, kemudian berbincang dengan kami anak dan cucunya.
Hubungan kami memang harmonis, Opa sangat menyayangi kami anak-anak dan cucunya.
Bahkan Opa juga nampak menyayangi mamaku, seperti anakknya sendiri.
Tak jarang Opa juga membelikan hadiah kepada mama pada saat saat event tertentu seperti ulang tahun pernikahan maupun ulang tahun pertambahan usia.
Opa tak pernah membedakan antara papa dan mama, bahkan dahulu mama juga di beri kesempatan untuk memimpin salah satu anak perusahaan Opa, setelah mama merengek ingin menjadi wanita karir.
Tapi akhirnya Mama menyerah, ternyata baginya lebih enak menjadi istri seorang pengusaha tanpa bersusah payah dan terbebani dengan masalah perusahaan.
Ya.. memang ku akui sih, kadang kala sebagai manusia kan ada jenuhnya juga jika kita tak ada tekad yang kuat dalam mengerjakan sesuatu.
"Loh kamu kok ada di sini..?," tanya Opa kepada ku.
Saat itu aku sudah pulang dari perusahaan tempat ku bekerja.
Aku masih bingung mau menjawab apa, karena ada mama di sana.
"Memangnya Bara ikut ke sini..?," tanya Opa lagi.
Aku menggeleng pelan.
"Sebentar lagi Yola ke apartemen kok Papi..," kata mama yang tak enak kepada Opa Santosa.
"Mungkin dia kangen rumah ini," kata mama lagi menutup nutupi.
Opa hanya mengangguk.
"Kamu sudah bersuami, jangan pergi lama lama...sudah sana kembali ke apartemen..," usir Opa kepadaku.
Aku bersorak gembira dalam hati.
Sudah beberapa hari aku tak ketemu dengan babang Bara.
__ADS_1
"Ngapain juga tuh anak enggak nelpon aku...., kadang aku juga heran...apa yang punya rasa kangen cuma aku saja...? hampir lima hari kami berpisah enggak pernah sekalipun dia menghubungiku...., paling kalau aku yang telpon dia baru nampak senang berbicara denganku.., tapi herannya dia enggak pernah telpon duluan."
Aku bersiap kembali ke apartemen, mama hanya memandangiku.
Aku tahu jika tak ada Opa pasti mama langsung berteriak kepada ku untuk melarangku ke apartemen menemui babang Bara.
Hatiku sangat senang sekali karena akan bertemu dengan babang Bara, sampai sampai debaran jantungku terasa hingga ujung tanganku.
"Ya Allah...beginilah rasanya jatuh cinta..?, jujur... meskipun banyak orang mengatakan aku cantik dan anak sultan tapi aku tak pernah tertarik ...maksudku jatuh cinta beneran seperti saat ini, dahulu aku mungkin hanya terobsesi dengan Leon dan setelah itu aku selalu menjaga hati dari yang lain, karena sudah di jodohkan dengannya.
Aku bingung mau kasih hadiah apa padanya, kan aku juga ingin di sanjung nya.
"Ahaaa.."
Aku mendapat ide, kan kemaren pas pak Bandi ngantar aku... kami sempat cerita cerita, katanya pak Bandi pernah antar babang Bara ke kota asalnya, dari hasil percakapan itu aku menangkap salah satu informasi makanan kesukaan babang Bara.
Yaap....aku belikan aja makanan kesukaannya, lagian babang Bara bukan orang yang jahat, selama ini aku tahu kebaikan hatinya, dia akan menghargai apapun pemberian orang lain tanpa memandang mahal tidaknya benda itu, tapi dari ketulusan si pemberi...kan aku tulus..membelikan makanan kesukaan babang Bara.
Itulah ceritanya kenapa aku bisa di perbolehkan mama ke apartemen dan menginap di sana.
**
Bara masih mengajak Yolanda berkeliling kota dengan motornya, kemudian berhenti di taman kota untuk sekedar duduk dan mengobrol seperti pasangan lain yang ada di sana.
"Beneran nanti mau nginap di apartemen..?," tanya Bara yang kesenengan.
Yolanda mengangguk.
Yolanda mengangguk lagi.
Bara terdiam sambil berpikir.
"Tumben..nyonya Hendrawan nggak melarang non Yola ke apartemen...nginep lagi."
"Kok diaam....memangnya mas Bara tidak suka bila aku bobok di apartemen..?."
"Enggak gitu juga sayaang.., cuma lagi mikir aja, kok bisa nyonya besar ijinin kamu nginap di apartemen..?." sahut Bara yang masih terheran heran.
Keduanya masih duduk di kursi yang memang banyak tersebar di taman tersebut.
Sambil menikmati suasana malam yang tampak cerah dengan bertaburan bintang dan bulan yang mulai mengecil seperti sabit, mereka berdua mengobrol dan memakan jajanan yang banyak di jajakan di sana.
Yolanda menyenderkan kepalanya di dada Bara yang bidang sedangkan tangan Bara melingkar di pinggang nya.
"Non Yola....," panggil Bara karena tak mendengar suara gadis yang masih berada di dekapan nya.
"Kok Non lagi...sih manggilnya..," sungut Yolanda.
"Eeh...iyaa, emm.. sayaang... kok bisa kamu di ijinkan bobok di apartemen sih..?," tanya Bara sedikit ragu.
__ADS_1
"Udaah ah enggak usah di bahas masalah itu,.. enggak penting," sahut Yolanda.
"Enggak gitu, takutnya nanti kamu kena marah .., Aku kan jadi tak enak."
"Nggak papa kok, yang penting aku malam ini ingin bobok di apartemen sama mas Bara." sahut Yolanda lagi
"Bobok berdua....?," teriak Bara kaget.
Yolanda mengangguk.
"Ja...jangan..non..eh..ssa..sayang aku takut lepas kendali ," kata Bara jujur tergugup.
Yolanda tersenyum...senang dengan godaannya yang berhasil itu.
"Kan aku lagi ..dapet...," sahutnya dengan tersenyum senang.
"Ish...iiyaa..yaa.."
Bara melihat jarum jam di tangan kirinya.
"Kita pulang ya..., udah makin malam."
Yolanda menganggukkan kepalanya kemudian melepaskan diri dari pelukan Bara.
Mereka tiba di apartemen hampir jam sebelas malam.
Keduanya sudah berganti pakaian yang lebih simpel karena mau tidur.
"Mas...," teriak Yolanda dari dalam kamarnya.
"Apa...?," sahut Bara mendekat ke pintu kamar tak berani memasuki nya.
"Sini..," kembali Yolanda memanggilnya.
Ragu Bara memasuki kamar itu, namun akhirnya masuk juga.
"Pijiti kaki aku,....di elus saja jangan keras keras mijitnya," kata Yolanda.
Bara menurut kemudian naik ke kasur dan mulai memijit..eeh.. mengelus kaki mulus Yolanda.
Makin mengusap kaki itu Bara makin tidak tenang... pikirannya sudah tak karuan.
Makin naik pijitannya hingga paha Bara makin berkeringat dingin.
Hingga akhirnya terdengar dengkuran halus gadis itu, Bara pun segera menyelimutinya lalu bergegas ke luar dan mandi air dingin biar otak "ngeres" nya bersih lagi.
Beberapa saat Bara pun sudah keluar dari kamar mandi dan tertidur di depan TV, karena baginya lebih enak tidur sambil menonton TV bila pas weekend seperti ini.
___________
__ADS_1
Masih...baca kan...?
Jangan lupa jejaknya ..say...