
"Mas ..baju ganti nya sudah aku siapkan di sini ya nanti," seru Yolanda karena Bara sudah mau masuk ke dalam kamar mandi.
"Iya..sayang..," balas Bara sedikit kencang juga.
Yolanda yang sekarang tak lagi sama dengan yang dulu, kini baginya kegiatan menciptakan masakan di dapur merupakan kesenangan tersendiri baginya meskipun juga masih di bantu koki dapur.
Ternyata kini hobi barunya adalah membuat kreasi masakan.
Seperti pagi itu dia ingin membuat olahan nasi goreng kambing seperti yang sudah di pelajari nya beberapa waktu ini.
Pagi ini papa Hedrawan dan mama Nursanti juga bersiap balik ke rumah utama karena juga banyak kegiatan bagi keduanya.
**
Bara sudah rapi, tinggal menyisir rambut dan mengencangkan dasinya.
Rambut sudah disisirnya dan dasinya dibiarkan seadanya karena masih akan sarapan dulu.
Bara turun ke lantai satu dimana ruang makan ada di sana.
"Papa sama Mama nanti balik ke rumah utama," kata mama Nursanti kepada Bara yang baru tiba di meja makan.
"Iya..mah, nanti weekend kita menginap di sana lagi.., karena sabtunya ada pertemuan di galeri," Bara menjawab perkataan mama Nursanti sambil menatap istrinya yang tengah ikut mengatur penataan makanan di meja
"Memangnya Opa nggak di ajak..?," sungut Opa begitu tiba di meja makan dan sedikit mendengar pembicaraan mama Nursanti dengan Bara.
"Pastilah Opa di ajak.., pokoknya dimanapun Yola dan mas Bara berada Opa pasti kami ajak," kata Yolanda sambil tersenyum dan merangkul Opa nya.
Opa yang kini merasa sepi jika tak ada cucu cucunya itu tersenyum mendengar jawaban Yolanda cucunya.
Semua sudah berada di meja makan kini, sambil menikmati menu makanan yang disajikan, mereka sedikit berbincang sambil makan.
**
Di galeri, kembali nampak berbenah karena rencana hari Rabu akan ada rombongan istri duta besar dari negara lain.
Rombongan yang akan di dampingi ibu ibu pejabat dan pengusaha itu memang berencana keliling kota melihat destinasi wisata yang ada karena memang salah satu agenda dari setiap kunjungan ke suatu wilayah atau daerah pasti ada agenda pengenalan budaya lokal.
"Jo..Tarjoo...!," teriak Om Jhon yang turut membantu mengawasi para pekerja berbenah di galeri.
"Ya..tuan..," sahut Tarjo yang masih berbenah, lalu menghentikan kegiatan nya dan menghampiri Om Jhon.
"Nanti sore ambil lukisan di tempat nya Bara, soalnya sudah banyak yang terjual...."
"Besok kalau hari Rabu ada kunjungan malah Arts Museum terlihat kosong ..kan lucu...," kata Om Jhon lagi.
Tarjo yang sudah mahir menyetir memang bertugas mengantar barang ke pelanggan yang menginginkan jasa pengantaran.
Dan karena saat ini lukisan khusus "for sale" juga sudah banyak yang terjual maka Tarjo di minta Om Jhon mengambil nya.
"Alamat nya di mana ya tuan..?."
"Nanti sore aku kasih tahu.."
"Ya..tuan...nanti saya sekalian ajak Tatik biar bisa keliling kota ya tuan..?.," kata Tarjo meminta ijin kepada Om Jhon.
"Boleh lah..," sahut Om Jhon yang membuat Tarjo bersorak kegirangan karena bisa mengajak istrinya kerja sambil jalan jalan.
**
Flashback on.
Bara yang baru tiba di ruang kantornya, masih dengan serius menandatangani beberapa berkas yang di sodorkan Belinda.
Tiba tiba ponsel nya berdering membuatnya sedikit terganggu.
Drrt...drrt..
__ADS_1
"Cck.."
Diambilnya ponsel tersebut, dan seketika senyumnya terkembang, rupanya Om Jhon yang menelpon
"Halo..?," sapa Bara begitu tahu yang menelpon Om Jhon.
"Eh.. Bara ..om sedang bingung nih.."
"Memang ada apa Om..?."
"Ini masalah besok Rabu.."
"Ada apa dengan hari Rabu Om..?," tanya Bara yang belum menyadari maksud dari perkataan Om Jhon.
"Hari Rabu itu ada kunjungan wisatawan dari luar negeri..," sahut Om Jhonon.
"Ooh..istri para duta..?."
"Iya..betul, lah terus permasalahan nya lukisan yang kategori "For Sale'' sudah banyak yang habis."
"Emm ..."
"Om jadi bingung masak Arts Museum isinya cuma itu itu saja," sahut Om Jhon lemas.
"Kalau begitu suruh saja Tarjo ambil lukisan di rumah Opa ku Om," kata Bara sambil tertawa kecil karena suara Om Jhon yang makin lemas terdengar lucu bagi Bara.
"Memangnya sudah ada lukisan yang siap kemas..?."
"Ada Om..banyak malah..."
"Waah syukur lah kalau begitu..," sahut Om Jhon nampak kegirangan dan bersemangat.
"Oh iya Om sekalian Bara mau bilang nanti Selasa barang barang dari seni kriya akan datang, tolong sampaikan kepada pak Bambang atau pak Poernomo agar jangan lupa menghitung dan mencatatnya," kata Bara yang makin membuat Om Jhon bersorak kegirangan.
"Waah... besok Rabu makin komplit galeri ini..!!," teriak Om Jhon kesenangan.
Bara hanya tertawa saja dari seberang.
**
Sore hari selepas sholat ashar Tarjo sudah berganti baju sedikit rapi.
"Mas Tarjo mau antar lukisan..?," tanya Tatik sedikit keheranan, biasanya mengantar lukisan pasti pagi hari karena beberapa pembeli di kumpulkan jadi satu jadi tak bolak balik, biar tak membuang waktu dan tenaga juga bensin.
"Mau ikut enggak..?," goda Tarjo kepada istrinya.
"Kemana..? emang boleh..?."
"Ada deeeh.."
"Ihh..mas Tarjo," Tatik memasang wajah cemberut nya.
"Ambil lukisan.."
"Halaaah..cuma ambil lukisan kok ajak ajak," gumam Tatik sambil mematikan kompor di dapur umum tersebut.
"Ambilnya ke tempat Bara.. dan non Yola," sahut Tarjo lagi ," Sekalian silaturahmi.."
Mendengar perkataan suaminya Tatik jadi tertarik .
"Ke tempat Bara dan non Yola..?."
Tarjo tersenyum dan mengangguk.
Tatik langsung berlari memeluk suaminya..
"Ikuuutt.., boleh ya..? mas... Tarjo suamiku yang ganteng.." rengek Tatik sambil merajuk.
__ADS_1
Entah kenapa kalau kita di tempat rantau ketemu teman baik serasa saudara sendiri, seperti itulah Tarjo, Tatik dan Bara.
Mereka sudah seperti saudara sendiri, apalagi bagi Tarjo dan Tatik, Bara dan Yola sudah merupakan dewa dan penolongnya.
Tarjo mengangguk," Bolehlah... makanya cepetan ganti bajunya," sahut Tarjo masih memeluk istrinya.
"Piye to mas..disuruh ganti baju kok badan ku masih saja di peluk..," gumam Tatik tersenyum.
"Hehehe...mas Tarjo jadi lupa soalnya sudah seminggu enggak di jatah..," kata Tarjo sambil cengengesan namun melepaskan istrinya dari pelukan nya.
"Uuh.." Tatik hanya mengerucutkan bibirnya lalu berjalan ke arah kamar nya berganti baju yang lebih pantas.
**
Tarjo masih menyetir mobil box nya, sudah berada di wilayah alamat yang Om Jhon berikan.
"Jalannya sudan benar..jalan ini, tapi mana rumahnya ya dek..?," kata Tarjo kebingungan.
"Apa telpon Bara saja mas.."
"Oh..iya..ya.., piye to aku... kok malah lupa," kata Tarjo sambil menepuk jidatnya.
Tarjo menghentikan mobil nya, lalu merogoh ponselnya dan menghubungi Bara.
"Assalamualaikum..Bose.."
".."
"Aku sudah di jalan xx tapi rumahmu yang mana..?
".."
"Oh...rumahnya yang depannya ada gerbang besar no xx..warna hitam agak menjorok ke dalam..?., Ok Bose.."
".."
"Gimana mas..?," tanya Tatik sedikit khawatir.
"Tenang saja dik..bener jalan ini, nanti bantu mas Tarjo lihat nomor xx ya..gerbang warnanya hitam sedikit menjorok ke dalam," kata Tarjo yang pada istrinya.
"Iya..mas.."
"Tarjo lalu kembali menghidupkan mesin mobilnya dan maju menuju arahan Bara.
"Mas..itu nomer xx," kata Tatik sedikit mengagetkan Tarjo yang masih menyetir.
"Lah..itu kan kayak hotel apa kantor..dek.. masak rumah sebesar itu..??," kata Tarjo sedikit ragu.
"Apa kita tanya saja mas..," kata Tatik yang juga ragu.
**
Tarjo dan Tatik sudah berada di halaman rumah super mewah tersebut.
Mereka sudah bertanya kepada penjaga dan memang benar Bara dan Yolanda tinggal di sana, bahkan tadi sudah di telpon kan oleh penjaga gerbang langsung kepada Bara mengecek kebenaran tamunya.
Kini keduanya sudah di perbolehkan masuk.
"Mas..ini rumah apa istana..kok seluas ini..?."
"Tapi kamu sendiri tadi dengar Bara tinggal nya di sini.."
"Cck..cck..rumah kok kayak gini mewahnya..," pelan Tatik sambil geleng-geleng kepala nya.
Keduanya masih kebingungan sambil tolah toleh ketika Bara nampak keluar sambil melambaikan tangan nya.
"Joo..Tiikk...sini..," teriak Bara kepada suami istri yang menjadi sahabatnya itu.
__ADS_1
____________
Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya...