Aku Lebih Mencintaimu

Aku Lebih Mencintaimu
Eps 82 Kemarahan Tuan Hendrawan


__ADS_3

Yolanda pulang ke rumah utama keluarga Hendrawan Santosa sore itu.


Semua pegawai di sana tampak membungkukkan badan ketika Yolanda melewati nya.


"Kok sepi pada kemana..?," tanya Yolanda kepada kepala pengurus rumah tangga....pak Man nama lengkapnya Mardiman.


"Nyonya baru saja keluar Nona muda.."


"Terus papa kemana..?," tanya Yolanda.


"Maaf Nona muda... bukankah jam segini tuan Hendrawan masih di kantor..," kata pak Man yang malah bingung dengan pertanyaan Yolanda.


"Upss...," Yolanda menutup mulutnya, dirinya yang lupa kalau tadi ijin tak masuk kerja jadi malu sendiri.


"Baiklah pak Man saya akan ke kamar dahulu," sahut Yolanda sambil berjalan naik ke kamar nya.


"Silahkan Nona Istirahat.., apakah ada sesuatu yang perlu saya antarkan ke kamar Nona..?," tanya Pak Man dengan sopan dan sedikit membungkuk.


"Tidak usah pak Man.. beritahukan saja seandainya nanti aku ketiduran saat makan malam," sahut Yolanda.


''Baik Nona..," kata pak Man kemudian membungkukkan badan.


*


Sesuai janjinya sore itu Bara nampak mengemasi hasil lukisannya.


"Waah...sudah lumayan banyak juga ya," gumam Bara sambil menata lukisan berbagai ukuran tersebut.


"Memangnya Om Jhon pulang jam berapa ya..?," kembali Bara bergumam lalu mengambil ponselnya mencoba menghubungi Om Jhon.


"Selamat sore Om..," sapa Bara sopan sebelum memulai percakapan nya.


"Hai..Bara, baru saja Om mau menelpon mu.."


"Kamu ada di mana..?."


"Sudah di apartemen Om.. baru menata lukisan, Om Jhon ada di mana..?."


"Sudah di lobi bawah apartemen," sahut Om Jhon.


"Aku akan langsung ke apartemen mu," sahut Om Jhon sebelum menutup telponnya.


"Iya...Om...," sahut Bara.


Kembali Bara menata beberapa lukisan dan mengikatnya hingga menjadi beberapa tumpuk ikatan.


Sudah ada beberapa tumpukan karya lukisan yang sudah di tali menjadi beberapa bagian.


Ting tong..


Ting tong...


Mendengar ada suara bel di apartemen Bara bergegas menuju ruang depan sambil membawa beberapa lukisannya tumpukan lukisan yang sudah di talinya.


Cekleek..


Bara membuka pintu..


"Haaah..??."

__ADS_1


Berdiri di depan pintu apartemen tuan Hendrawan dengan beberapa pengawal nya.


"T.ttuan.. Hendrawan..??," sapa Bara masih dengan kaget, lalu mengambil tangan tuan Hendrawan untuk di ciumnya.


Tuan Hendrawan hanya terpaku menatap Bara kemudian langsung masuk tanpa di persilahkan.


"Mana Yolanda...??," tanya tuan Hendrawan begitu di dalam apartemen dan para pengawal berada di luar ruangan.


Pandangan tuan Hendrawan mengitari ruang tamu apartemen tersebut, dan berhenti di tumpukan lukisan Bara.


Memandang sejenak ke lukisan tersebut sambil tersenyum sinis.


"Mm..nnon Yola sudah pulang ke rumah t..ttuan..," sahut Bara tergagap.


"Apa...yang sudah kau lakukan padanya hingga dia bisa menurut padamu..hah..??," kata tuan Hendrawan.


"Hah..?? lha..memang apa yang aku lakukan padanya... maksudnya.. ngedukun...??atau pakai jampi jampi..?? ishh....tuan, aku hanya mencintai dengan tulus .. menyayangi nya sepenuh hatiku... ya meskipun kini kami sudah.."melakukan itu"... karena kami saling merasa memiliki."


"Kenapa diam ..hah..?."


"M.mmaksud tuan apa..?," tanya Bara masih tergagap.


"Kenapa sekarang Yolanda berbeda.. bahkan tadi pagi sempat bolos kerja," kata tuan Hendrawan lagi.


"Saya..tak memperlakukan apapun, saya hanya mencintainya dengan tulus tanpa embel-embel apapun," kata Bara memberanikan diri berkata.


"Apaa...?? CINTAA..??."


"Kau sudah melanggar syarat perjanjian yang telah kau tanda tangani..," bentak tuan Hendrawan sedikit keras.


"Aku bisa menuntut mu..dan menyeretmu ke dalam jeruji besi bila aku mau...," kata tuan Hendrawan lagi tapi kali ini sedikit menurun nada nya.


Bara mengikuti tuan Hendrawan dengan menunduk dan tetap menghormati.


"Camkan itu," kata tuan Hendrawan sebelum pergi tapi dengan nada yang sudah biasa tak segalak yang tadi.


Bara mengangguk tanpa suara, bahkan tetap mengambil tangan tuan Hendrawan dan menciumnya.


Sedangkan tuan Hendrawan hanya menurut saja.


*


POV tuan Hendrawan


Aku berangkat dari kantor menuju ke apartemen anak itu dengan hati yang panas, ingin rasanya ku hajar anak itu.


" kuraang ajaaaar...sudah berani macam macam dengan anakku..tak tahu diri sekali anak itu.. membawa efek buruk saja."


Ku pencet bel apartemen nya dengan perasaan marah yang meluap luap.


Cekleek


Beberapa saat pintu terbuka, kulihat anak itu terkejut dengan kedatangan ku.


"T.ttuan Hendrawan..?," sapanya kepadaku dengan sopan.


Bahkan anak itu mengambil tanganku kemudian menciumnya sebagai tanda bakti.


Seketika rasa marahku mereda, entah kenapa bila melihat anak tersebut yang penuh dengan sopan santun kemarahan ku tiba tiba menurun.

__ADS_1


"Mana Yolanda..?," tanya ku dengan nada ku stel galak sambil aku melihat apa yang di bawa anak itu.


Haah..?? lukisan...?? waah...bagus bagus juga.. tapi tetap ku pasang wajah garang ku, bahkan aku keluarkan senyum smirk agar dia makin takut padaku.


Eeh... kata nya Yolanda sudah pulang.


Kesempatan itu aku buat memarahi anak tersebut, bahkan aku ancam biar dia menjauh dari anakku Yolanda.


Jujur aku bimbang...satu sisi aku sedikit kagum dengan anak muda ini, namun masak iya...anakku berjodoh dengan pemuda ..ini...., tidak... tidak...aku tidak rela...,belum rela.. ,keluarga Santosa menikahi pemuda semacam ini ."


Aku marahi anak itu, aku tanya apa yang sudah di lakukannya sehingga anakku Yolanda mau nurut kepadanya, atau mungkin ada sesuatu yang aku tak tahu.. sehingga Yolanda anakku yang biasanya sangat cuek dan acuh terhadap laki laki kini malah seakan terjerat.


Aku membuat rencana "pernikahan kontrak" ini juga karena selama ini anakku tak pernah melirik dan acuh kepada laki laki, cuma setahu ku dia dulu tertarik sama "Leon anak bajingan" itu, tapi tak ku sangka anakku kini malah terjerat dengan pemuda ini..huh..menyebalkan.


Akhirnya aku pulang dari apartemen yang di tinggali anak itu, dengan penuh ancaman agar dia menjauh dari Yolanda anakku


*


Bara menghela nafas panjang setelah kepergian tuan Hendrawan.


Hatinya sedikit perih mendengar ancaman tersebut.


"Yaa...aku hanyalah remahan...yang tak pantas dengan non Yola.." batin Bara dengan lemas.


Belum jauh tuan Hendrawan berjalan, mungkin malah tadi berpapasan dengan Om Jhon dan Bara belum menutup pintu apartemen nya ketika Om Jhon datang.


"Baraa..," seru Om Jhon ketika Bara mau menutup pintu apartemen nya.


"Eeh..Om Jhon," sahut Bara dengan wajah masih tersisa kegundahan.


"Baru aja ada tamu too..," tanya Om Jhon.


Bara mengangguk dengan lesu.


Om Jhon melihat wajah Bara yang nampak sedih.


"Apakah ada masalah..?."


"Masuk dulu Om..," kata Bara pelan.


"Om Jhon mau minum apa..?," tanya Bara setelah Om Jhon masuk dan duduk di kursi tamu.


"Apa aja deh.."


"Soda dingin mau..?."


"Ok..gak pa pa.''


Bara berlalu dari ruang tamu dan berjalan ke arah dapur dimana kulkas nya berada, mengambil satu kaleng minuman dan di bawa ke depan.


"Di minum Om..," kata Bara menawarkan.


"Cerita lah..pada Om Jhon...mungkin kegundahan hatimu akan berkurang ," kata Om Jhon ketika melihat Bara yang masih terlihat galau.


"Aku akan cerita pada Om Jhon, dan ku harap Om Jhon tidak berubah sikap..setelah mendengar cerita ku," kata Bara dengan lesu.


__________


**Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya...

__ADS_1


Eid Mubarak 1442 H**...


__ADS_2