
"Wah...Bagus sekali hasil nya," seru Opa saat pagi itu melihat hasil lukisan Bara yang hampir jadi.
"Sampai jam berapa memangnya semalam..?."
"Habis Opa istirahat, Bara langsung istirahat juga kok Opa.. takutnya subuh malah enggak bisa bangun jika terlalu malam," jawab Bara sambil merangkul istrinya yang masih terlihat kedinginan, karena sudah di suruh ke dalam yang hangat tapi tak mau...pinginnya selalu bersama terus.
Ketiganya masih duduk bertiga di taman itu menikmati indahnya pagi sambil menikmati secangkir teh hangat.
"Kamu nggak buat minuman..?,"' tanya Bara kepada Yolanda yang masih diam saja.
"Masih mual mas kalau terlalu pagi...nanti aja kalau sudah siang sedikit....biasanya rasa mualnya sudah berkurang," sahut Yolanda sambil merapatkan baju hangat nya karena saat itu masih sangat pagi.
Bara menangguk mendengar jawaban istrinya.
"Mas..."
"Hmm.."
"Aku kok tiba -tiba pingin main di Empang ya mas...kayak waktu panen ikan itu..," kata Yolanda pelan sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya, Bara melingkarkan tangannya sambil menutupi ujung kaki istrinya yang di tekuk keatas sofa dengan ujung pakaian istrinya yang panjang... agar mengurangi hawa dingin.
"Empang mana..?," tanya Opa yang terlihat tertarik.
"Empang di desa Bara Opa.."
"Ooh..," Sahut Opa
"Besok kalau ada waktu kita main ke desa lagi..," sahut Bara, "sekalian lihat proyek kita..sudah sejauh apa pengerjaannya."
Yolanda menganggukkan kepalanya.
Opa melihat kedua cucunya," Proyek Apaan sih..?, Opa jadi pingin melihatnya juga."
Bara menerangkan apa yang di gagasnya dengan sesekali Yolanda menimpali hingga gagasan itu terlihat nyata di benak Opa.
"Waah...Opa jadi kepingin ikut ke desa mu.."
"Kapan kapan kita ke sana Opa..jika Opa berkenan..," kata Bara.
**
"Pah...ini kopi susu nya..," kata Nyonya Nursanti kepada suaminya.
"Makasih mah..."
"Apakah sudah ada titik terang keberadaan anakmu..?."
"Belum...," sahut tuan Hendrawan yang kini tak terlalu antusias mencari lagi karena dirinya yakin Yolanda bersama Bara.
"Cari lagi dong Pah..," rengek Nyonya Nursanti kepada suaminya.
"Iya nanti papa cari," jawab tuan Hendrawan dengan asal.
Nyonya Nursanti mencecap minumannya sambil menarik nafas panjang.
"Pah.."
"Hemm.."
"Si Leon sekarang rajin ke panti loh pah.. sering berbagi di sana," kata Nyonya Nursanti pelan agar suaminya tertarik.
"Baguslah...dari pada uang di hambur hamburkan enggak jelas," sahut tuan Hendrawan sekenanya.
"Ish..papah..ini, jangan gitu dong Pah..anak itu sudah mulai berpikiran dewasa sekarang.."
Tuan Hendrawan hanya terdiam pura pura memainkan ponselnya.
Pikiran nya teringat kejadian kemarin saat pak Darmais menelponnya
Flash back on.
"Assalamualaikum..pak.."
"Waalaikumssalam..," balas tuan Hendrawan.
__ADS_1
"Mau memberitahukan pak jika transferan Bapak sudah sampai..."
"Syukurlah....Alhamdulillah.."
"Tapi kenapa banyak sekali pak..?."
"Kan proyek nya juga besar pak, biar segera rampung dan bisa di operasikan obyek taman wisata edupark itu..," sahut tuan Hendrawan.
"Kami jadi takut pak..," balas pak Darmais, kecemasan nampak terdengar dari suara nya.
"Takut..? takut kenapa pak..?."
"Takut tak amanah pak...menyelewengkan dana," sahut pak Darmais.
Tuan Hendrawan hanya tertawa kecil.
"Saya percaya sama pak Darmais.. tak mungkin kan mengacaukan proyek yang di gagas anak sendiri.."
"Terimakasih pak atas kepercayaan nya, saya berjanji bakalan membuat pembukuan dan pencatatan yang rapi dan jelas..," kata pak Darmais dengan serius.
Tuan Hendrawan kembali tertawa kecil.
"Terserah pak Darmais saja.."
Flash back Off.
Tuan Hendrawan masih mengobrol ringan di ruang tengah dari rumah utama tersebut bersama istrinya, hingga tiba waktunya sarapan pagi karena sebentar lagi akan berangkat ke kantor.
**
Pagi Hari Om Jhon yang datang ke galeri sedikit kaget karena sudah terhidang pisang goreng hangat dengan kopi di meja biasa tempatnya bersantai jika di belakang gedung tersebut.
"Eeh..kok sudah ada pisang goreng hangat..?."
"Iya..Tuan kan semalam istri ku datang dari kampung, kemarin Bara berpesan kalau kesukaan tuan Johnson pisang kepok, jadi aku suruh istri ku bawa pisang asli dari kampung tuan," jawab Tarjo sambil tersenyum.
Om Jhon mengangguk mendengar perkataan Tarjo, sambil duduk di kursi dan mengambil pisang goreng tersebut dengan garpu yang di sediakan.
"Amm...manis alami..," sahut Om Jhon sambil mengunyah makanan tersebut.
"Belum tuan...nanti mau saya kerjakan lagi setelah tugas utama saya selesai."
Tarjo menjawab sambil membersihkan beberapa barang yang sudah di keluarkan nya tadi.
**
Sementara itu di kantor Santosa Propertindo bekas kantor Bara masih membahas beberapa permasalahan salah satunya tak tercapainya target bulanan dari perusahaan tersebut.
"Kita bulan ini mengalami penurunan target penjualan di banding dua tiga bulan yang lalu," kata Pak Jauhari direktur Santosa Propertindo anak cabang dari Santosa Group.
"Bagaimana tanggapan Bu Ratna..tentang masalah ini..?, karena bagian marketing yang paling berperan di sini..."
"Maaf Pak..kami mengakui setelah kepergian pak Bara..terobosan terobosan yang kita lakukan di bagian marketing terasa kurang mengena ke konsumen," jawab Bu Ratna dengan lesu.
"untuk bulan depan kami akan bekerja lebih keras lagi pak," janji Bu Ratna kepada direktur cabang tersebut.
"Ya..Bu..kita semua juga akan melakukan evaluasi..mungkin ada yang salah atau kurang pas dalam pekerjaan kita di bulan bulan terakhir ini," sahut pak Jauhari direktur cabang Santosa Group tersebut.
Siang itu di bagian pemasaran masih terlihat sedikit tegang, karena target yang tak terpenuhi membuat kepala bagian di sana yaitu Bu Ratna sedikit sensitif, dan itu menjadi bahan obrolan anak buahnya saat mau istirahat siang.
"Gara gara...target tak terlampaui.. kita lagi yang kena sasaran..mesti lembur lah..lebih giat turun ke lapangan...nyari konsumen lah."
"Belum lagi membuat brosur dan menyebarkannya...waah..makin ribet," gerutu Bondan, Saiful dan Tomy.
"Iya...nambah nambahin kerjaan saja..," omel si Bondan.
Ketiganya sudah mengantri di depan lift lumayan lama, sambil pada ngomel ngomel tak jelas.
Ting..
Pintu lift terbuka...nampak di dalam hanya berisi tiga perempuan cantik, segera saja ketiga anak pemasaran itu meloncat masuk, terutama Bondan yang paling duluan sambil cengar-cengir tak jelas.
Semua masih terdiam di dalam lift hingga lift terbuka...karena sudah sampai di lantai satu
__ADS_1
Rombongan Bondan segera berjalan ke kiri, sambil tampak mereka kasak kusuk.
Sedangkan rombongan gadis gadis yang ternyata Clarissa, Agnes dan Monica berjalan ke kanan.
"Eeh...mas..mas..!," teriak Clarissa.
"Bener kan aku bilang apa...dari tadi mereka melirik ke arahku...pasti tertarik dengan ketampanan ku..," bisik Bondan dengan kepedean tingkat tinggi kepada Saiful dan Tomy.
Keduanya hanya nyengir mendengar perkataan Bondan kali ini.
"Ada..apa ya...mbak cantik..?," kata Bondan mulai bergaya kaya artis petentengan merasa di panggil gadis cantik tersebut.
"Emm...Bara kok enggak pernah kelihatan sih...kemana emangnya..?," tanya Clarissa yang sudah tak bisa menahan rindu nya karena hampir satu bulan tak pernah ketemu.
Mendengar ternyata gadis itu malah menanyakannya Bara...Bondan langsung lemes, apalagi kedua temannya Tomy dan saiful nampak mengejeknya sambil cekikikan.
"Bara yang mana ya...?," kata Bondan pura pura bego.
"Bara yang tinggi, putih dan ganteng itu loh..," sahut Clarissa mulai jengkel melihat pemuda di depannya malah pura pura bego dengan pandangan mata jelalatan ke arahnya.
"Ooh...Bara yang itu.," sahut Bondan seakan baru ingat.
"Memangnya ada berapa Bara..selain yang genteng dan sopan itu..," sungut Clarissa lagi.
"Udah..keluar..," sahut Bondan dengan cepat karena gadis tersebut malah mengacuhkannya.
"Makasih...," sahut Clarissa sewot langsung berbalik meninggalkan Bondan yang masih saja liar matanya.
"Keluar...? babang tamvan Bara.. keluar...?."
Batin Clarissa berkecamuk, dengan pikiran kosong dan harapan yang terburai.. nampak sedih.
"Gimana beb...?.," tanya Agnes.
"Bara sudah keluar dari pekerjaan nya..," kata Clarissa pelan.
"Padahal selama ini aku semangat kerja di sini..karena berharap selalu bertemu dengannya..," kembali Clarissa bergumam pelan tak lagi bersemangat ke kantin perkantoran tersebut.
Agnes dan Monica mengusap punggung Clarissa menenangkan.
"Sabaar...ya.., siapa tahu nanti ketemu di kampus.., kan katanya kalian satu kampus..," hibur Monica.
"Iyaa..tapi kan kita sudah mau selesai kuliahnya...," Clarissa berkata pelan seakan hilang harapan.
Sementara itu Bondan yang di tinggalkan begitu saja masih saja bersungut-sungut.
"Dasar cewek gak ada akhlak...di beritahu Bara sudah keluar malah sewot..," gerutu Bondan yang malah di ketawai Tomi dan Saipul.
"Hehehe...habisnya mata elu...kayak orang lapar...jelalatan..," teriak Tomi yang di sambut gelak tawa Saipul.
"Sompreeet..kalian..!."
**
Di mansion Yolanda masih bermanja manja dengan suaminya.
Mereka serasa bulan madu aja..selalu santai tak memikirkan apapun.
Kemana mana berdua mulu, ke beranda depan, ke taman samping, di kamar, bahkan mandi pun terkadang Yolanda inginya selalu bareng....alhasil.....mandinya tambah.....lama karena enggak mungkin kan cuma mandi doang.
"Mas sini...," ajak Yolanda yang sudah masuk ke bathtub.
"Tapi mas Bara enggak mau kalau cuma nyemplung doang ke bathtub..," goda Bara sambil tersenyum senang karena keinginannya ya seperti itu.
"Dasar mesum...," seru Yolanda.
"Lah..terus apa gunanya mas Bara selalu ikut kemana mana..?."
"Kan itu kemauan dedek bayi...,"
Bara tak memperdulikan gerutuan istrinya setelah melepas pakaiannya langsung ikut masuk ke Bathtub dan mulai melancarkan serangannya...yang membuat Yolanda jadi blingsatan.
_____________
__ADS_1
**Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya...jejaknya....wkwkwk...
Makash**....