
Yolanda yang tahu Bara berbalas pesan dengan anak pak Musri yang kemaren malam di temui menjadi sedikit cemberut.
"Ayuk kita berangkat," ajak Bara sambil menggandeng tangan Yolanda.
Yolanda mengikuti langkah Bara sambil bergandengan tangan menuju basemen.
Kali ini mereka akan berbelanja menggunakan mobil Bara sambil melancarkan skill menyetirnya biar semakin terbiasa.
"Kita mau belanja dimana sayang..?." tanya Bara yang melihat Yolanda hanya terdiam saja.
"Terserah mas Bara..," sahut Yolanda sedikit cemberut.
"Duuh...kok ngambek.., emang apa yang aku lakukan sih..?, aku kan cukup profesional....... cuma menyimpan nomernya untuk bisnis saja." batin Bara.
"Kita belanja di mall X & X ya..sekalian mas Bara mau beli perlengkapan melukis," kata Bara.
Yolanda hanya menganggukkan kepalanya.
Mobil masih melaju dengan stabil hingga sampai di tempat yang di tuju.
Setelah mencari tempat parkir yang dirasa sesuai Bara menghentikan mobilnya dan turun dari kendaraan nya.
Yolanda masih terdiam namun tak secemberut tadi, bahkan saat Bara menggandengnya Yolanda malah memeluk lengan Bara.
Keduanya memasuki mall besar dan terlengkap tersebut.
Mereka mengambil troli belanja dan langsung menuju ke tempat kebutuhan pokok dahulu.
Memilih berbagai bahan kebutuhan pokok mulai dari daging segar hingga sayuran yang nantinya bisa di simpan di lemari pendingin.
Setelah selesai keduanya menuju lain tempat.
"Sayang ..aku mau mencari minyak wangi dulu...ya.. soalnya sudah habis," kata Bara sambil mendorong troli belanja nya di ikuti Yolanda yang berjalan di sampingnya.
"Iya mas..sekalian aku mau beli pembalut, takut kehabisan di apartemen," sahut Yolanda yang sudah mulai ceria kembali.
Mereka berkeliling mencari dimana bagian display parfum berada, biasanya di sana juga ada beberapa kebutuhan pribadi lainnya berada seperti sabun, deterjen dan juga pembalut wanita.
"Eeh...ketemu Yolanda cantik di sini...," sebuah suara mengagetkan Bara dan Yolanda yang masih melihat lihat barang barang yang di pajang di sana.
Seketika Bara dan Yolanda menolehkan kepalanya ke arah suara itu berasal.
"Kak..Leon ..," sapa Yolanda dengan datar.
Tampak seorang pemuda perlente tampak tersenyum dengan muka kurang ajar.
Mendengar Yolanda memanggil nama "Leon" barulah Bara tersadar siapa lelaki di depannya itu.
Namun Bara masih bersikap biasa.
"Ooh..ini toh..pemuda kampung yang di bayar itu, untuk pura pura jadi penjaga mu..," kata Leon dengan sikap merendahkan.
"Jaga ucapanmu kak..," kata Yolanda seketika mendengar ucapan Leon itu.
"Lho bukankah memang seperti itu..kan..kenyataannya..?," sahut Leon kembali.
Bara masih terdiam karena memang tak salah apa yang di ucapkan lelaki itu.
__ADS_1
Yolanda yang mulai jengkel kemudian menggandeng tangan Bara untuk di ajak pergi dari sana.
Tapi Leon kemudian memegang tangan Yolanda.
"Mau kemana cantik..??, kok buru buru...?"
Yolanda mencoba melepaskan cengkraman tangan Leon.
"Lepaskan..kak..tanganku..!,"
Leon masih nekat mencengkeram tangan Yolanda.
"Aku yang akan mengantarnya.. pulang..kau pergilah..," kata Leon sambil memandang Bara dan mengibaskan tangannya tanda mengusirnya.
Bara memandang Yolanda untuk mengetahui ekspresi sesungguh nya dari Yolanda.
Nampak gadis itu benar benar meringis kesakitan karena tangannya di cengkeram Leon.
Bara kemudian melepaskan troli belanja yang tadi di dorong nya.
Menghampiri Leon dan tanpa banyak berkata Bara mendorong dada Leon dengan kedua lengannya.
"Lepaskan...!!," sentak Bara.
Membuat Leon terhuyung terdorong ke belakang dan melepaskan tangan Yolanda.
"Jangan macam macam ya kamu anak kampung..!," teriak Leon yang terlihat gusar.
Bara memeluk Yolanda yang sudah menangis, kejadian itu menjadi pusat perhatian bagi pengunjung lainnya.
"Maaf bapak bapak...tidak boleh ada keributan di sini," kata beberapa satpam mall tersebut, melerai kedua orang yang nyaris baku hantam itu.
"Awaas...kau...!!," kata Leon nampak mengancam Bara, sambil pergi meninggalkan tempat tersebut.
Setelah kepergian Leon pihak keamanan mall pun membubarkan diri untuk kembali ke pos masing masing.
Yolanda masih nampak sedikit terisak, sambil memegangi tangan nya.
Bara memeriksa tangan gadis itu, dan memang nampak sedikit jejas di sana.
Bara nampak menyesali keterlambatan sikapnya.
"Dasaar...bodoh...! aku tak bisa menjaga istriku sesuai apa yang sudah aku tanda tangani dalam perjanjian."
Bara mengelus pergelangan tangan itu masih nampak memar di sana.
"Masih sakit..?," tanya Bara pelan.
Yolanda menganggukan kepalanya.
Meskipun masih sakit tangannya namun Yolanda mengajak Bara meninggalkan tempat tersebut untuk mencari barang kebutuhan lainnya.
Semua kebutuhan sudah di dapatkan.
Tak lupa Bara membeli obat cream yang bisa mengobati jejas jejas di pergelangan Yolanda.
Sampai di kasir Bara berniat membayar semua belanjaan, namun Yolanda sudah menyodorkan kartu ATM nya kepada kasir di sana.
__ADS_1
Setelah selesai pembayaran keduanya menuju ke parkiran mobil.
Drrt.. drrt...
Telpon genggam Bara nampak berbunyi, diambilnya dari saku celana nya.
"Siapa..?," tanya Yolanda.
"Eeh..Opa..," kata Bara nampak kaget karena Opa yang menelponnya, kemudian menggeser tombol hijau.
"Halo.. Opa.. ," sapa Bara.
"Kamu ada di mana..?," tanya Opa.
"Baru belanja kebutuhan harian Opa, ini sudah mau pulang."
"Belanjanya.. di mana..?."
"Mall X & X."
"Cepat pulang....Opa tunggu," kata Opa lagi.
"Ada apa...?," tanya Yolanda begitu Bara sudah Mematikan sambungan telponnya.
"Opa menunggu kita di apartemen," sahut Bara.
Keduanya kemudian bergegas menuju tempat mobilnya terparkir.
"Ada apa ya...Opa berkunjung ke apartemen..??."
Tak sampai setengah jam mobil Bara sudah sampai di apartemen.
Keduanya bergegas naik ke lantai apartemen yang di tempati Bara.
Bara membuka apartemen nya di sana sudah nampak Opa duduk di ruang tamu di temani para penjaganya.
Begitu Bara dan Yolanda datang para penjaga itu kemudian keluar dan berjaga di luar apartemen.
Bara menyambut tangan Opa dan menciumnya, begitupun Yolanda yang mengikuti apa yang Bara lakukan.
"Sebentar Opa.., saya menyimpan belanjaan sebentar," pamit Bara.
Opa menganggukkan kepalanya, sedangkan Yolanda masih di ruangan itu menemani Opa sambil mengobrol.
"Bagaimana hubunganmu dengan Bara..?," tanya Opa Santosa.
"Baik Opa,.."
"Apakah kau bisa menerimanya menjadi suami mu yang sebenarnya..?."
Yolanda hanya sedikit mengangguk dan tersipu.
Opa Santosa tersenyum melihat reaksi cucunya tersebut.
____________
Tetep baca ya....dan tinggalkan.. jejak....
__ADS_1