
Malam itu mereka masih mengobrol di taman samping mansioan.
"Kamu kok bisa tahu Bara dan Yolanda di sini dari siapa..?," tanya Opa Santosa setelah semua kembali duduk.
Tuan Hendrawan tersenyum sedikit kikuk, kemudian mulai bercerita.
"Aku sudah lama Pi ..mencari keberadaan Bara dan Yolanda.."
"Semua sudah ku datangi tapi tak juga ku temukan anak anakku..," kata Hendrawan.
"Lalu aku mengajak Bandi salah satu sopirku yang pernah mengantar Bara dan Yolanda ke kampung halaman Bara.."
"Disana aku ketemu ayah Bara pak Darmais, kami mengobrol lama bahkan hingga di ajak keliling dan di tunjukkan dengan proyek yang di gagas Bara.."
"Aku juga ikut tertarik dengan semua ide ide Bara setelah melihat hasil sementara saat itu."
"Karena sebagian proyeknya saat itu tertunda maka aku sedikit membantu agar lekas terlaksana proyek wisata mandiri tersebut.," kata Papa Hendrawan.
Bara tersenyum mendengar cerita itu.
"Iya pa..niat Bara masih menunggu lukisan yang lain terjual baru mau kirim dana ke kampung..," sahut Bara pelan, memotong cerita papa Hendrawan.
"Tapi Bapak kemarin bilang papa sudah mengirim uang untuk menyelesaikan proyeknya," kata Bara lagi.
Tuan Hendrawan mengangguk mendengar perkataan Bara.
"Oh..jadi yang memberitahu keberadaan Bara dan Yolanda di sini ayah Bara..?," tanya Opa.
"Iya..Pi..," sahut papa Hendrawan.
"Memangnya kamu tak malu datang ke kampung..?, padahal kan kamu sudah mengusir anaknya..?," sindir Opa lagi.
"Maaf Pi... kami memang keliru saat itu ..," kali ini Nursanti yang menyahut karena suaminya tak juga menjawab sambil menunduk tampak menyesal.
"Apa kamu juga sudah tahu.. kalau anak dari sahabat mu itu kini di tangkap polisi..?," kata Opa lagi dengan tajam.
"Iya...Pi..sudah...," sahut Hendrawan dan Nursanti pelan.
"Hampir saja keluarga ini kena aib, jika jadi menikah kan Yolanda dengan anak itu," kata Opa masih dengan sedikit ada rasa jengkel.
"Tapi aku kan sudah membatalkannya Pi..bahkan mengganti nya dengan menantuku sekarang..," kata papa Hendrawan ngeyel sedikit bangga dengan pilihannya.
"Halaaah..," Opa tersenyum miring mendengar perkataan anaknya tersebut.
Tuan Hendrawan hanya cengar cengir di hadapan ayahnya.
Obrolan itu terhenti saat pelayan rumah tangga menghampiri mereka.
"Tuan makan malam sudah siap.."
"Oh.. iya..kami akan ke sana..," kata Opa.
**
Mereka sudah duduk di meja makan, dengan Opa duduk di ujung meja sedangkan Bara dan Yolanda di sebelah kiri, papa Hendrawan dan mama Nursanti di sebelah kanan.
Yolanda mengambilkan nasi untuk Opa.
"Segini Opa..?," tanya Yolanda.
Opa mengangguk, sambil menunjuk lauk yang di inginkannya.
Yolanda mengambilkannya sesuai permintaan Opa nya.
__ADS_1
Lalu Yolanda memberi kesempatan mama mengambilkan nasi untuk papa Hendrawan dan mama sendiri, setelahnya baru mengambilkan nasi untuk suaminya.
"Mau lauk yang mana...mas..?
"Ini aja sayang...sama itu..," tunjuk Bara ke arah lauk pauk nya.
Papa Hendrawan dan mama Nursanti hanya memandang sambil tersenyum melihat anaknya yang kini terlihat makin dewasa.
"Bara kau pimpin doa sebelum makan," kata Opa kepada Bara, setelah semua makanan siap di piring masing masing.
Bara pun memimpin doa sebelum makan, dan merekapun mulai menikmati hidangan nya.
Sambil makan mereka masih bercakap ringan.
"Sekarang kamu kerja dimana Bara..?," tanya Papa Hendrawan.
"Bara aku suruh megang Sant Otomotif setelah Iskandar pensiun," Opa yang malah menjawab pertanyaan papa Hendrawan.
"Sudah hampir sepuluh hari ini pa..aku kerja di Sant Otomotif," kata Bara menjawab pertanyaan papa Hendrawan.
Papa Hendrawan menganggukan kepalanya.
**
Di galeri, Om Jhon makin senang melihat perkembangan usahanya yang kian maju tersebut.
Selain pak Karmin kini dia mempunyai tangan kanan lainnya yaitu Tarjo.
"Waah... Jo...ternyata hasil pembuatan taman mu lumayan oke lho..," puji Om Jhon kala itu.
"Makasih tuan atas pujiannya..," sahut Tarjo.
Kini setiap sudut yang pantas di jadikan taman, di buat lah menjadi taman oleh Tarjo.
Aneka bunga di tanam juga, untuk makin memperindah halaman gedung galeri tersebut, semua itu di bantu dengan Tatik yang rajin merawat dan menyiramnya.
Tarjo dan teman teman kini punya penghasilan tambahan, sebagai juru parkir jika malam tiba.
Bahkan mereka kerap mendapat nasi goreng, mie goreng maupun mie rebus dari para penjual makanan tersebut yang di perbolehkan masuk ke halaman gedung.
"Bose...mau apa nih..?," tanya penjual makanan keliling tersebut kepada Tarjo yang pas tugas jagain motor.
"Terserah sampeyan seng penting iklhas...," sahut Tarjo sambil tersenyum.
"Ya..mesti ikhlas lah...lah di sini mesti ramai pembeli, itung itung bayar jasa kebersihan..," kata penjual makanan tersebut.
Bahkan Om Jhon kini sering menginap dan bermalam di sana, setelah salah satu kamar di perbaiki dan fasilitas nya di perlengkap, karena di banding apartemen di sini lebih marak sehingga membuat Om Jhon senang dan terhibur.
**
Pagi itu Bara mengantar lukisannya yang sudah jadi, sedikit kaget mendapati Om Jhon sudah nampak di sana.
Duduk duduk di depan bekas kamar nya sambil menikmati kopi dan makanan kecil.
"Lho..Om..kok sudah ada di sini, ini kan masih pagi banget..?," sapa Bara kaget, yang datang sampai di galeri sebelum jam tujuh pagi tersebut.
"Hehehe...," Om Jhon malah terkekeh senang melihat Bara.
"Sekarang Om sering tinggal di sini..," sahut Om Jhon.
"Dunia yang kita ciptakan di sini sudah nampak hidup," kata Om Jhon lagi.
"Kalau malam kayak pasar malam di sini..kamu sekali kali harus ke sini lagi..istrimu pasti suka.."
__ADS_1
Bara gantian tertawa mendengar perkataan Om Jhon.
Mereka masih berbincang ketika Tarjo berteriak teriak dari jauh sambil datang menghampiri.
"Weeh...Bosque ..wes teko..," sahut Tarjo yang datang mendekat.
Bara dan Tarjo tos beradu tangan, lalu bersalaman.
"Mau ngantar lukisan..," kata Bara sambil menunjuk ke mobilnya kepada Om Jhon dan Tarjo.
"Jo..ambil..," kata Om Jhon kepada Tarjo.
"Siap tuan..," kata Tarjo lalu bergerak ke arah mobil Bara dan mulai mengambil beberapa lukisan tersebut.
"Om mau numpang mandi, mau berangkat kerja..," kata Bara karena memang sengaja berangkat pagi pagi dengan pakaian bebas, karena mau mandi dan berganti baju kerja di galeri.
Om Jhon hanya tersenyum memandang Bara berjalan ke arah bekas kamar nya.
Tarjo sudah selesai dengan memindahkan Lukisannya ke dalam gudang sebelum di fisnising ( pigura) bersamaan dengan Bara yang sudah selesai berpakaian dengan jas mahalnya.
"Wah..ganteng banget ..kerja dimana sekarang..?," tanya Om Jhon melihat penampilan Bara yang nampak makin gagah, keren dan tampan.
"Wah...Iyo.. bagus tenan Kowe bro..," sahut Tarjo ikut nimbrung.
"Kerja di tempat Opa Om...," sahut Bara sambil tersenyum.
"Syukurlah..," kata Om Jhon sambil tersenyum senang melihat pemuda di depannya sudah terlihat lebih mapan.
"Oh ya..Jo kamu nanti mulai kursus nyetir aja..biar tambah komplit kemampuanmu..nanti biar aku yang bayarin biayanya," kata Bara.
"Nyari pas luang enggak ganggu kerja...ni uangnya buat kursus loh ya...jangan buat macem macem," kata Bara lagi sambil menyerahkan segepok uang kepada Tarjo.
"Oh..ya bener itu Jo...," sahut Om Jhon setuju sekali, karena nanti Tarjo bisa antar dan jemput lukisan baik dari tempat Bara maupun ke pelanggan.
"Makasih ya Bosque...kamu memang sahabat ku paling Joss," sahut Tarjo sambil menyimpan uang yang di beri oleh Bara.
"Kalau sisa ...?," tanya Tarjo sambil menunjuk uangnya.
"Ya ..buat kamu beli rokok..," sahut Bara sambil tersenyum.
Om Jhon tersenyum melihat ke akraban Bara dan Tarjo.
**
Bara sudah sampai di kantor perusahaan tempat nya bekerja.
Permasalah keluarga yang bisa di katakan selesai membuat raut wajah Bara makin cerah.
Hal tersebut makin membuat aura yang terpancar di wajahnya makin terlihat cemerlang, membuatnya makin tampan saja.
Banyak gadis gadis dan wanita di kantornya yang makin terpesona oleh ketampanan Bara.
Tapi bagi Bara hal seperti itu sudah tak menggoyahkannya, sudah kebiasaan bagi Bara yang sejak muda selalu ngejomblo karena tak mudah tergoda wanita, apalagi kini ada bidadari di rumahnya yang makin membuatnya acuh dan tak menganggap keberadaan wanita di luaran.
"Pagi pak Bara..," sapa resepsionis yang ada di depan lobi tersenyum samanis mungkin.
"Pagi..," balas Bara dengan sopan dengan sedikit senyuman.
Membuat para gadis di sana bersorak kegirangan melihat senyuman direktur muda nya.
"Waah..ganteng banget.." gumam para wanita itu.
Bara yang tak pernah menanggapi semua itu hanya berlalu langsung menuju ke ruang kantornya.
__ADS_1
__________
Happy reading....