
Bara bersama papa Hedrawan dan Opa Santosa sudah berada di dalam ruang rapat.
Semua orang menatap ke arah ketiga nya yang barusan masuk dan masih berjalan, mungkin bagi yang belum mengenal Bara akan bertanya tanya," Siapa sih dia..?."
Pandangan mata Bara memutari ruangan tersebut, ingatannya kembali disaat dahulu dia menjadi asistennya asisten seorang asisten.
Bibirnya sedikit di tarik melebar, membentuk sebuah senyuman.. jika mengingat masa sulit itu.
"Pagi pak Beni, pak Budiman..," sapa Bara begitu melihat kedua bekas atasannya tersebut, membuat ke dua orang itu terkejut karena selama ini mereka belum tau jika tuan Hendrawan sudah berdamai dengan menantunya tersebut.
"E.eeh..pagi ttuan muda..eeh .pak Bara..," balas keduanya yang jadi tergagap dan salah tingkah sambil membungkuk kan badannya dan tersenyum kecut.
Bara menghampiri keduanya dan menjabat tangan mereka berdua.
"Nggak usah terlalu formal pak..," sahut Bara sambil tersenyum kepada keduanya.
Kedua orang tersebut ikut tersenyum, Aah..anak ini tak berubah masih tetap sopan dan menghargai orang tua."
"Bagaimana kabar T.tuan muda eeh..p.pak Bara..?."
"Alhamdulillah..pak..baik.."
"Bagaimana dengan pak Beni dan pak Budiman..?."
"Baik ..juga pak...," sahut keduanya hampir bersamaan lalu tersenyum.
Bara ikut tersenyum dengan bermacam arti, melihat kedua bekas atasannya itu kini kikuk berhadapan dengannya.
Bara masih terus berjalan hingga bertemu dengan pak Jauhari dan Bu Ratna.
Bara kemudian menghampiri dan menjabat tangan pak Jauhari, yang juga kaget..karena lupa lupa ingat.
"Siapa ya..kayak pernah lihat pemuda tampan ini??."
Tapi tidak dengan Bu Ratna, dia langsung tersenyum lebar begitu melihat Bara yang masih sopan dan tetap mau menyapa dirinya yang hanya seorang manager di kantor cabang.
"Eeh..aku enggak nyangka ketemu lagi sama.. Dik..e.eh..pak Bara," sahut Bu Ratna tersenyum senang dengan keramahan Bara yang masih tetap sama seperti dahulu.
"Aish...mbak Ratna ini...bisa saja ," kata Bara setelah dekat, dengan bahasa informal.
"Kan kita masih mitra di jual beli lukisan," sahut Bara mengingatkan.
Bu Ratna tersenyum mengangguk dengan senang melihat Bara tidak berubah, masih tetap sopan dan humble.
"Bara...!."
Panggil papa Hendrawan ke arah Bara yang masih bertegur sapa dengan beberapa orang.
"Iya Pa..," jawab Bara membuat semua yang ada di ruang itu terkejut, apalagi yang tadi tidak tahu siapa pemuda tersebut.
"Ooh..anak Owner..??."
"Sini dekat papa dan Opa..," kata tuan Hendrawan sambil melambaikan tangan nya.
Bara langsung bergegas menuju kursi yang ada di depan, setelah meminta ijin kenalannya begitu mendengar perintah papa Hendrawan.
Berjalan lalu duduk disudut meja yang berbentuk Oval tersebut, di sebelah papa Hendrawan dan Opa Santosa.
Para asisten dari masing masing direktur masih duduk di baris kedua menunggu direktur nya mempresentasikan hasil kegiatan perusahaannya, begitupun dengan Belinda.
Rapat pun di mulai, ada sedikit ketegangan dari rapat tersebut yang di akibatkan oleh penurunan omset di beberapa anak cabang perusahaan salah satunya dari Santosa Propertindo.
Namun ada pula yang bahkan melebihi omzet pendapatan seperti Sant Otomotif.
"Dari laporan ini bisa di lihat bahwa pergerakan grafik pendapatan Sant Otomotif mengalami kenaikan, dan kenaikan yang selanjutkan bisa di lihat nanti pada grafik bulan bulan berikutnya."
__ADS_1
Bara mempresentasikan laporannya dari Sant Otomotif di rapat tersebut dengan lancar dan jelas.
Begitu juga dengan laporan perencanaan dan kegiatan dari perusahaan cabang tersebut Bara laporkan dengan Baik.
"Terus apa yang bapak lakukan untuk menangani masalah rekanan yang tidak kompatibel dengan kita..?."
Salah satu dewan direksi bertanya kepada Bara, permasalahan dengan PT Usaha Makmur.
"Berdasar MoU dari peraturan perjanjian, jika mereka masih terus di luar ekspektasi maka kita akan menggantikan dengan rekanan yang lainnya untuk meningkatkan daya saing."
Semua jawaban termasuk rencana rencana Bara membuat decak kagum para direktur lain yang lebih senior.
Terobosan terobosan yang Bara lakukan membuat semuanya menganga tak percaya, dan di akhir presentasi semua bertepuk tangan memuji kinerja Bara yang tadi sempat sebagian orang memandangnya dengan remeh.
"Waah...ternyata hebat juga, aku kira dia menjadi direktur karena menantu dan cucu owner."
Papa Hedrawan terlihat tersenyum senang dengan presentasi Bara, terlihat sekali kepiawaian mengelola sebuah perusahaan.
"Bara memang hebat, tak salah anakku Yola terpikat dengannya."
Akhirnya rapat tersebut selesai dengan beberapa catatan bagi perusahaan cabang yang bermasalah seperti Santosa Propertindo saat ini.
**
"Pa..Opa.. Bara mau minta ijin ke kampus dulu habis rapat ini nanti," kata Bara kepada mertua dan Opa Santosa.
Opa Santosa yang sudah di beritahu oleh Bara hanya mengangguk saja sambil tersenyum.
"Ada acara apa..?," papa Hedrawan bertanya karena rencananya dia mau mengajak Bara berkeliling kantor pusat untuk di kenalkan ke khalayak ramai siapa dirinya" menantu sang owner".
"Mau mengambil undangan wisuda pa..," sahut Bara sambil menata beberapa berkas sebelum di berikan kepada Belinda yang juga ikut membantu menata berkas berkas tersebut.
"Mm..ya sudah kalau begitu, jam berapa sih..?."
"Oh... kalau begitu kita nanti keliling kantor sebentar ya..., papa mau mengenal kan kamu kepada semua pegawai di sini, paling sebentar saja kok," kata papa Hedrawan sambil tersenyum.
"Ya..Pa.."
Opa Santosa hanya tersenyum miring melihat Hendrawan anaknya yang kini malah makin getol mengakui Bara sebagai menantu nya.
"Huh..dulu saja nolak nolak..sekarang..hmm."
"Mbak semua berkas nanti di bawa kembali ke kantor ya..aku tidak bisa datang ke kantor hari ini."
"Baik pak..," Belinda mengangguk sedikit menanggapi perkataan atasannya tersebut.
"Tolong jika ada schedule hari ini di cancel dulu."
"Untuk hari ini sudah saya kosong kan kok pak, karena akan ada pertemuan di sini.," sahut Belinda yang ternyata sudah mengantisipasi semuanya.
"Hmm."
Belinda menatap direktur tampannya tersebut saat menanggapi perkataan nya.
"Duuh...bos emang ganteng banget apalagi jika dilihat dari dekat."
"Sudah mbak.."
"Eeh..i.iya..pak..," sahut Belinda yang sesaat hilang fokus Karena memandang sang Menantu Owner tersebut.
Sambil memberesi nya Belinda jadi tersipu, meski Bara tak sedikit pun menyadarinya.
Belinda mengambil semua berkas dan mohon diri kembali ke kantor cabang yaitu di Sant Otomotif.
Semua direktur cabang sudah membubarkan diri kembali ke asal masing-masing.
__ADS_1
**
"Pi..aku mau mengajak Bara keliling dulu, papi mau langsung pulang ke mansion apa mau ke rumah utama..?."
"Ngapain aku buru buru ke mansion kedua cucuku masih disini..," sungut Opa yang merasa Bara kini di rebut perhatiannya oleh Hendrawan anaknya.
"Lha..Hendra kan cuma tanya Pi.., kok papi.malah sewot.."
Papa Hedrawan berkilah melihat papinya sedikit cemberut kepadanya.
"Sudah..sudah..sana cepat keliling kantor dan perkenalkan" menantu" mu itu," kata Opa Santosa sambil menekankan kata menantu sedikit menyindir Hendrawan.
Papa Hedrawan hanya tersenyum saja mendengar ulah Papi nya.
**
Tuan Hendrawan sudah berkeliling dari satu divisi ke divisi yang lain memperkenalkan Bara kepada semua orang.
"Ini menantuku..suami Direktur keuangan Pusat, Yolanda anakku, saat ini menjadi direktur di Sant Otomotif," begitu kata Hendrawan di setiap divisi.
Semua mengangguk menunduk mendengar ucapan CEO tersebut.
Semua menyalami Bara begitu di perkenalkan.
"Kamu harus belajar terus karena nanti kamulah yang akan memimpin perusahaan ini bersama Yolanda dan anak anak kalian nantinya," kata Papa Hendrawan di sela sela perjalanan mereka.
"Iya..Pa.."
Merekapun berkeliling kantor pusat tersebut sambil mengobrol kan banyak hal, mulai dari masalah perusahaan hingga masalah pribadi.
"Oh..ya..bagaimana kabar proyek di kampung ya..?."
Tiba -tiba papa Hendrawan mengalihkan topik ke masalah di kampung Bara.
"Lah..kan malah papa yang sering berhubungan dengan bapak di kampung, Bara malah belum sempat memonitor lagi.."
Papa Hedrawan tersenyum mendengar ucapan Bara.
"Kalau sudah jadi obyeknya papa pingin keluarga kita bisa berkunjung ke desa mu, kita anggap saja liburan, karena mama mu kepingin sekali berkunjung kesana."
Akhirnya tuan Hendrawan mengatakan tujuan menanyakan kesiapan mansion di kampung, karena ingin berlibur sekeluarga.
Bara menoleh ke arah papa mertuanya, dengan tatapan kaget mendengar pengakuannya jika mama Nursanti berkeinginan ke kampung.
"Emm..nanti Bara akan cek kalau begitu Pa.."
Ada sedikit kepanikan di hati Bara, takut jika ada sesuatu yang kurang di proyek pekerjaan di kampung, karena kini papa mertuanya sudah menggelontorkan banyak dana.
"Kamu santai saja...kalau memang belum siap papa juga tak memaksa kok."
Tuan Hendrawan yang mengetahui kekhawatiran menantu nya sedikit menenangkannya.
Bara sedikit tersenyum kecut kekhawatiran di wajahnya terbaca papa mertuanya.
Mereka masih berkeliling dan mengobrol santai selayaknya bapak dan anak, sehingga membuat semua yang memandangnya seakan-akan tidak percaya jika keduanya pernah saling berseberangan...terutama tuan Hendrawan sih...
_____________
**Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya...
Baca juga karya lainku...
* Sang Pengacau
* Jagoanku ternyata CEO**
__ADS_1