
Pagi itu, Bara kembali di sibukkan dengan pekerjaannya.
Beberapa laporan hasil kerjanya sudah di siapkan dalam file khusus.
Juga beberapa hal dari perencanaan sudah mulai di kerjakan nya.
Laporan laporan dari para pekerja lapangan juga sudah di susunnya dalam berkas yang terpisah antara satu proyek dan proyek lainnya.
"Bro..makan di kantin bawah yuuk," ajak Bondan serta Tomy dan Saiful.
"Bentar lagi..nih.., tinggal menyimpan data data di fail." sahut Bara.
"Alaah..rajin amat kayak mau jadi menantu yang punya perusahaan aja..," sahut Saiful menimpali Bondan.
Bara hanya tersenyum mendengar guyonan teman temannya.
"Emang aku menantu yang punya perusahaan..kok..tapi menantu yang tak di anggap menantu kontrak."
Mengingat itu senyum Bara jadi kecut.
"Eeh...di tunggu tunggu...malah senyum senyum gak jelas," sahut ketiganya.
"Udaah...kalian..ke kantin duluan..aku nanti nyusul," sahut Bara akhirnya.
Ketiga temannya akhirnya berangkat duluan ke area kantin perkantoran.
Sebenarnya di sekitar perkantoran itu juga banyak tempat makan yang enak dan nyaman, cuma ya..mesti mahal harganya.
Bara masih dengan membawa bekal dari rumah, sudah keluar dari ruang kerjanya.
Biasanya dia memakan bekal tersebut di ruangannya, namun sesekali juga di bawanya ke kantin langganan teman kantornya, soalnya disana bebas.
Ada area bebas merokoknya, meskipun Bara sendiri tak merokok, tapi di sana lah banyak teman teman nya berada.
Maka nya kantin tersebut menjadi idola para "smokers" istilahnya Bondan dan teman temannya.
Bara sudah berdiri di depan lift dengan kotak makan yang di jinjingnya, seorang pemuda tampan dengan badan atletis dan macho membawa sekotak makanan yang mirip rantang kecil itu cukup menarik perhatian gadis gadis.
Namun bagi Bara..semua di acuhkan nya..toh bekal nya lebih sehat daripada jajan di luaran.
Ting !
Pintu lift sudah terbuka, di dalam sudah nampak tiga orang gadis cantik, salah satunya gadis yang tadi pagi bertabrakan dengan nya.
Semua gadis menatap ke arahnya, termasuk gadis yang bertabrakan dengan nya.
Melihat gadis yang di tabraknya ada di sana Bara tersenyum dengan sopan.
__ADS_1
Dalam sekejap terjadi kehebohan kecil di dalam lift tersebut.
"Sstt...itu cowok yang aku ceritakan..," bisik gadis yang di tabrak Bara tadi pagi.
"Bener beib...ganteng banget," seru gadis yang satu.
"Iya..badannya bagus..banget," seru yang satunya lagi.
Ketiganya masih berbisik-bisik dan bergerombol di pojokan lift berseberangan dengan pojok Bara.
"Cowok mana sih...?," tanya salah satu dari gadis itu sambil masih berbisik-bisik pelan.
"Tadi kan lantai tiga berarti anak Santosa dong," sahut gadis yang di tabrak Bara tadi pagi.
"Udah..kejar aja beib.., kakakmu enggak jadi sama pemilik Santosa nanti kamu yang malah jadian sama orang nya... Santosa," kata salah satu gadis itu kepada Clarissa sambil cekikikan.
Rupanya tadi pagi yang bertabrakan dengan Bara adalah Clarissa anak kedua dari Tony Wijaya.
"Huuh..," sungut Clarissa pura pura cemberut..padahal hatinya berdebar debar saat teman teman nya menggodanya.
"Bukan tipe ku..Nes," kata Clarissa pura pura kepada Agnes sahabat nya, padahal dalam hatinya Clarissa paling menyukai cowok seperti type Bara, karena selama ini di hidupnya hanya melihat ulah kakaknya yang suka gonta-ganti perempuan membuatnya begidik ngeri bila nanti mendapat jodoh seperti kakaknya.
Apalagi setelah melihat Bara yang membawa bekal, menandakan cowok rumahan banget, membuat Clarissa makin kesengsem.
Kehebohan itu berhenti saat lift sudah sampai di lantai satu.
"Bye..bye..," goda Monica salah satu teman Clarissa yang lain kepada Bara seolah Clarissa yang berkata.
"Ish..apaan sih Mon.!!. malu aku," gerutu Clarissa sambil mencubit lengan kedua sahabat nya itu.
"Auuw.." sahut Agnes dan Monica yang di cubit Clarissa, kemudian ketiga gadis cantik itu cekikikan.
Bara hanya menggeleng kan kepala melihat ketiga gadis yang akhirnya berpisah karena berbeda tujuan tersebut.
Bara Sampai di tempat makan dan nongkrong teman teman nya.
"Woii..ku kira kau tak akan datang kemari," sahut Bondan sambil melambai ke arah Bara.
Bara tersenyum dan berjalan ke arah teman teman nya berada.
**
Di tempat lain di mana Yolanda bekerja, masih meneliti laporan keuangan perusahaannya.
Yolanda memang bekerja di bagian keuangan perusahaan itu, dimana dia menjadi Direktur keuangan di perusahaan pusat, meneliti semua keuangan dari beberapa perusahaan anak cabang dari Santosa Group.
Bersama dengan tim nya dia mengawasi semua pergerakan keuangan semua anak cabang Santosa Group.
__ADS_1
"Bu..ini ada laporan dari keuangan anak cabang..," kata salah satu sekertaris Yolanda yang bernama Diana.
"Taruh di situ dulu..nanti aku teliti, oh iya.. apakah sudah di teliti pak Johan..?," tanya Yolanda yang masih menandatangi berkas yang sudah di teliti nya.
"Hari ini pak Johan malah belum datang Bu..," sahut Diana lagi.
"Lho apakah istrinya masih sakit..?, bukankah kemarin minggu sudah pulang dari Rumah Sakit."
"Iya..sih..Bu.., tapi pagi belum ada kabar lagi," jawab Diana lagi.
"Ya..sudah... kamu taruh saja di situ nanti aku yang akan menelitinya," kata Yolanda lagi.
Pak Johan adalah salah satu orang kepercayaan tuan Santosa, usianya di atas papa Yolanda yaitu tuan Hendrawan.
Karena kepercayaan Opa Santosa maka pak Johan di tempatkan satu divisi dengan Yolanda untuk membimbing dan mengarahkan nya.
"Oh..ya..dari anak cabang yang mana laporan keuangan itu..," tanya Yolanda kepada Diana yang sudah akan keluar dari ruangan Yolanda.
"Dari Santosa Propertindo Bu..," jawab Diana yang kemudian berhenti dan menghadap ke arah Yolanda lagi.
"Ya..sudah kamu boleh keluar..nanti aku panggil bila sudah selesai," kata Yolanda lagi, kemudian Diana berbalik dan keluar dari ruangan direktur keuangan itu.
Setelah kepergian sekertaris nya kemudian Yolanda kembali serius menghadapi berkas berkas nya.
Tok..tok..tok..
"Masuk.."
Cekleek..
''Maaf Bu Yola..saya.. terlambat..," kata pak Johan yang ternyata baru tiba.
Yolanda yang sangat mengenalnya tak mempermasalahkan hal itu, karena pak Johan adalah orang yang tertib dan disiplin.
"Apa ada masalah pak Johan..?," tanya Yolanda.
"Ya.. Bu tadi pagi istriku sempat mengeluhkan sakit di perutnya lagi."
"Ya..sudah kalau memang harus operasi kenapa di tunda tunda pak..?," kata Yolanda.
"Apa bapak mau ijin hari ini..? Yolanda menawarkan.
"Tak usah Bu.., anak saya yang perempuan sudah tiba tadi dari kota sebelah, dan tadi sudah saya pesan bila perlu ke rumah sakit...langsung saja nanti saya akan menyusul ke rumah sakitnya," kata pak Johan lagi.
___________
Selamat membaca ..jangan lupa tinggalkan jejaknya....
__ADS_1